Vichai Srivaddhanaprabha, Manusia 5.000:1

Selasa, 06 November 2018 10:42 WIB
Vichai Srivaddhanaprabha, Manusia 5.000:1

Vichai Srivaddhanaprabha. Foto: Getty Images

Pekan ini adalah hari yang akan terus dikenang oleh penggemar klub sepak bola Inggris Leicester City. Pemilik klub, Vichai Srivaddhanaprabha, akan dikebumikan di kota kelahirannya, Bangkok, Thailand. Ia akan dikenang sebagai manusia 5.000:1.

Baca juga : Rakyat Thailand Tuntut Pemerintah Hentikan Tinju Anak

Vichai bukan orang Thailand pertama yang menginvestasikan uangnya untuk membeli klub sepakbola di Inggris. Mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra dulu pernah tercatat sebagai pemilik mayoritas saham Manchester City.

Tapi Vichai adalah orang Thailand pertama yang menghadirkan keajaiban di Negeri Ratu Elizabeth. Dua tahun lalu, ia membawa klub yang nyaris terdegradasi untuk ‘menyumpal mulut’ mayoritas rumah judi sepak bola.

Baca juga : Claudio Ranieri Kembali ke Liga Inggris

Penampilan impresif yang mereka tunjukkan di awal-awal musim 2015/2016, malah dijawab dengan bursa taruhan 5.000:1. Artinya, mayoritas rumah judi saat itu meyakini, Leicester hanya punya 1 kesempatan untuk menang, dari total 5.000 peluang yang ada.

Sebuah misi yang mustahil, biasanya menggunakan perbandingan 100:1 atau 500:1. Bisa dibayangkan bagaimana mungkin menaklukkan misi dengan prediksi 5.000:1?

Baca juga : Leicester Berhasil Persembahkan Kemenangan untuk Vichai

Perbandingan itu wajar. Bahkan tiga klub besar seperti Liverpool, Arsenal, atau Tottenham Hotspurs tidak mampu mewujudkan mimpi mereka menjuarai Premier League dalam satu dekade terakhir. Sejak 2005, hanya Manchester United, Manchester City, dan Chelsea yang mendominasi koleksi trofi tertinggi di kompetisi sepak bola Inggris.

Siapa lah Leicester City saat itu. Klub yang baru memulai musim keduanya di Premier League, setelah menjadi yang terbaik di divisi Championship musim 2013/2014. Menjalani musim pertamanya saja, The Foxes hanya berjarak 6 poin dari klub yang terdegradasi.

Dilihat dari kedalaman skuat, Leicester pun tidak istimewa. Nilai seluruh pemain inti mereka, bahkan kalah dengan satu pemain Manchester City, Kevin de Bruyne. Mereka punya Riyad Mahrez, Jamie Vardy, N'Golo Kanté, dan Sinji Okazki, yang dulu belum menjadi siapa-siapa.

Para pemain Leicester City. Foto: Getty Images

Tapi akhir musim mereka mencatatkan sejarah yang mungkin sulit untuk diulangi dalam beberapa musim ke depan. Leicester mengunci gelar juara pada pekan ke-36, ketika peluit panjang pertandingan Chelsea Vs Tottenham Hotspurs ditiup wasit. Hasil imbang 1-1 membuat Leicester tidak mungkin terkejar lagi di pucuk klasemen.

Musim 2015/2016, anak asuh Claudio Ranieri finis dengan raihan 81 poin. Hanya 3 kali kalah dalam 38 kali pertandingan.

Bukan hanya rumah judi yang dibuat gigit jari. Mantan pesepak bola yang kini menjadi komentator terkenal di inggris, Gary Lineker, pun harus dibuat malu sebab ia berjanji akan tampil hanya bercelana dalam di sebuah siaran televisi, jika Leicester juara Premier League. Semua orang tertawa saat Lineker benar-benar mewujudkan mimpinya.

Hal serupa juga menimpa mantap pemain Tottenham Hotspurs, Mido. Ia yakin Tottenham mampu mengungguli Leicester di akhir musim. Nyatanya, Mido harus mencukur habis rambutnya karena Leicester juara.

Pemecatan Ranieri

Ketika sebuah tim sukses menjadi juara, sosok yang paling disorot adalah pelatih. Claudio Ranieri memang sosok bertangan dingin yang mampu mempertahankan konsistensi permainan anak asuhnya. Ia membuat semua pelatih seperti kebingungan, bagaimana cara mengalahkan Leicester musim 2015/2016.

Tapi pelatih 67 tahun itu dipecat musim berikutnya, sebab penampilan Leicester yang jauh dari status sebagai juara bertahan. Pada pertengahan musim 2016/2017, Leicester bahkan nyaris kembali ke zona degradasi.

Sebuah keputusan harus diambil oleh manajemen. Memberanikan diri untuk memecat Ranieri. Semua orang menghujat keputusan Vichai. Gary Lineker menyebut Vichai sebagai bos yang tidak bisa berterima kasih.

“Kami sudah melakukan yang terbaik. Masalahnya tak cuma satu, mungkin ada sejuta hal yang bisa kita lakukan agar klub bertahan. Hormati keputusan saya," kata Vichai saat itu.

Keputusan itu tidak sepenuhnya baik. Di akhir musim setelah pemecatan Ranieri, Leicester hanya mampu finis ke-12. Musim lalu, mereka pun hanya naik dua peringkat ke posisi 10. Tapi hasil akhir musim tidak menurunkan derajat Leicester sebagai salah satu tim elit di inggris.

Kedekatan Vichai dengan Pemain Leicester

Satu-satunya yang hilang dari Leicester pasca-Ranieri adalah kemampuan untuk menaklukkan tim-tim besar seperti Manchester United, Arsenal, Chelsea, atau Liverpool. Selain itu, mereka tetap menjadi yang terbaik dari deretan tim papan tengah.

Yang mengejutkan banyak orang, Leicester mampu mempertahankan banyak pemain bintang mereka hingga saat ini. Hanya N’Golo Kante yang pindah ke Chelsea pada musim 2016/2017. Disusul Riyad Mahrez yang menerima pinangan City awal musim ini.

Selebihnya, mereka mempertahankan pemain-pemain yang menjadi incaran banyak klub seperti Kasper Schmeichel, Jamie Vardy, Wes Morgan, atau Shinji Okazaki.

Kemampuan menahan banyak bintangnya tidak lepas dari peran Vichai. Vichai adalah bos yang dikenal sangat dekat dengan para pemain. Vichai tidak segan untuk menemui para pemainnya dan berdiskusi.

Jamie Vardy, dalam sebuah wawancara dengan Sky Sport mengatakan, saat ini adalah pekan yang sulit dalam hidupnya. Ia kehilangan sosok bos yang sudah seperti keluarga bagi semua orang di Leicester.

“Tidak peduli siapa Anda, dia akan selalu meluangkan waktu untukmu. Ia selalu tersenyum. Itu adalah hal-hal yang tidak akan terlupakan. Ia ingin selalu berada di sini, dan terlibat dalam skuat,” kata vardy.

Di mata Vardy, Vichai adalah seorang pemilik klub sepak bola yang tidak hanya memikirkan bisnis. Ia selalu mendorong para pemain untuk menang. Mewujudkan misi yang mustahil bagi sebagian orang.

Syukur, kemenangan berhasil mereka persembahkan saat melakoni laga perdana usai Vichai tewas. Leicester menang 1-0 atas tuan rumah Cardiff akhir pekan ini. Para pemain bisa terbang ke Bangkok, Thailand, untuk memberikan penghormatan terakhir di pemakaman Vichai.

“Saya benar-benar senang karena kami menang. Rasanya seperti menang di final. Saya pikir semua orang sudah tenang saat ini,” kata penjaga gawang Leicester Kasper Schmeichel.

Schmeichel mengenang pertemuan terakhir dengan Vichai, sesaat setelah bermain imbang melawan West Ham, ketika Vichai hendak meninggalkan lapangan untuk pergi ke helikopter.

“Saya melambaikan tangan kepada dia. Itu bukan ingatan yang bagus, tapi akan selalu aku ingat.”

Bukan hanya pemain dan keluarga besar Leicester city di Inggris. Masyarakat Thailand juga merasa kehilangan yang mendalam. Vichai sudah membawa Negeri Gajah Putih menjadi sangat terkenal di Leicester.

Begitupun sebaliknya, Leicester bukanlah klub yang digandrungi di Thailand. Mayoritas suporter bola di sana lebih senang mendukung tim besar seperti Manchester United atau Chelsea. Tapi begitu Vichai datang, basis suporter Leicester membludak.

BBC Sport melaporkan, seluruh jersey Leicester ludes terjual di Bangkok ketika tim itu memastikan diri sebagai juara Premier League. Banyak fans klub lain yang juga membeli jersey Leicester. Mereka bangga karena orang Thailand bisa sukses di tengah kompetisi sepak bola Inggris yang ketat.

“Sebagai seorang suporter sepak bola, saya merasa ngeri. Timnya menang dan ada foto dia tergantung di stadion. Ini membuktikan bahwa orang bisa melakukan itu,” kata Panupong Sribunpong, seorang fans Leicester yang hadir ke pemakanan Vichai.

Ucapan belasungkawa dari para pendukung Leicester City. Foto: Getty Images

Vichai adalah seorang pengusaha sukses di Thailand. Ia pendiri dan pemilik perusahaan King Power Duty Free, sebuah toko ritel bebas bea terbesar di Thailand. Majalah Forbes merilis Vichai sebagai orang terkaya ke-5 di Thailand, dengan total kekayaan £3,82 miliar.

Ia juga punya hubungan baik dengan para pejabat di sana. Bahkan, nama belakangnya saat ini, Srivaddhanaprabha, adalah pemberian Raja Bhumibol Adulyadej pada tahun 2012. Nama kelahirannya adalah Vichai Raksriaksorn.

Dengan kekayaannya, Vichai berhubungan pertama kali dengan Leicester pada tahun 2007, ketika King Power menjadi sponsor jersey. Tiga tahun kemudian, ia merogoh koceknya sebesar £39 juta untuk membeli saham mayoritas Leicester pada 2010 dan menghabiskan lebih dari £100 juta untuk memperkuat skuatnya.

Sejak menjadi owner Leicester, pria kelahiran Bangkok, 4 April 1958, itu sering mendatangkan biksu dari Thailand untuk memberkati stadion mereka. Vichai memang dikenal sebagai seorang penganut Buddha yang taat.

Kemarin, ia dimakamkan di kuil Kuil Buddha Thepsirin, Bangkok. Ia akan istirahat di sana untuk selamanya. Diantar oleh para pemain, staf pelatih, dan suporter Leicester city. Orang-orang yang pernah ia antarkan menaklukkan misi 5.000/1.

(Januardi Husin\Sasmito Madrim)
Share:


Berita Terkait

Rakyat Thailand Tuntut Pemerintah Hentikan Tinju Anak

Claudio Ranieri Kembali ke Liga Inggris

Komentar