Tingkatkan Produksi Beras, Pemerintah Inisiasi Program Digitalisasi Pertanian

Senin, 09 Juli 2018 19:05 WIB
Tingkatkan Produksi Beras, Pemerintah Inisiasi Program Digitalisasi Pertanian

Ilustrasi penggunaan teknologi dalam kegiatan pertanian (antara)

Pemerintah Indonesia meluncurkan program digitalisasi pertanian di provinsi Jawa Barat yng berpotensi meningkatkan produksi beras hingga 20 %.  Proyek ini kini sedang diujicoba kepada para petani di sembilan kabupaten di provinsi itu sesuai keinginan  Presiden Jokowi untuk meningkatkan produksi makanan lokal di Indonesia.

Baca juga : Harkitnas, Reformasi, dan Penaklukan Gelombang Digitalisasi

“Tujuan program ini adalah mentransformasi sektor pertanian, yang sampai saat ini masih tradisional menjadi lebih moderen dan mengajarkan para petani untuk menjadi wirausahawan di bidang pertanian”, kata Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro di Jakarta, Senin (9/7).

Dalam beberapa tahun terakhir, produksi beras dalam negeri mengalami penurunan. Pada 2015, misalnya,  dihasilkan 5,34 hektar beras per hektar. Namun pada 2017, produksi itu menyusut menjadi 5,15 ton. Kondisi inilah yang menyebabkan pemerintah harus mengimpor beras hingga 1 ton,  selain untuk mengontrol harga makanan pokok itu di pasaran.

Baca juga : Lahan Terus Menyusut, Pemkab Bantul Siapkan Perda Lahan Pertanian Pangan

Perangkat lunak yang digunakan dalam proyek digitalisasi ini  dibuat oleh PT Telekomunikasi Indonesia. Program ini akan mengumpulkan data petani dan lahan pertanian yang dapat meningkatkan proses distribusi pinjaman bersubsidi untuk petani. Aplikasi ini juga akan dipakai untuk mengasuransi padi yang mereka tanam.

Selain itu, di masa depan, perangkat lunak ini juga akan dibangun ke arah pengembangan pemasaran, termasuk aplikasi yang langsung menghubungkan ke pasar baik dari sisi produksi maupun distribusi. Dengan demikian, setiap petani tidak saja dapat membeli pupuk dan pestisida secara daring. Tetapi juga dapat menjual produk pertanian, seperti padi.

Direktur Digital & Strategic Portfolio Telkom David Bangun,   menyebut aplikasi ini juga memiliki kemampuan memprediksi segala sesuatu ihwal kualitas dan kuantitas produksi pertanian.  Potensi ini dapat terwujud ketika seluruh data yang dibutuhkan tercukupi  sehingga perangkat lunak ini dapat memperkirakan ceruk pasar yang dapat diisi oleh produk-produk pertanian yang dihasilkan petani.   

Sementara, terkait dengan proyek ini, Wahyu juga akan mengunakan 9 kantor yang terdapat di 9 kabupaten itu untuk melatih petani seturut metode pertanian moderen, seperti memfasilitasi distribusi langsung ke pemasok hasil pertanian dan penjualan langsung produk-produk itu Perum Bulog. Bila berhasil bukan tak mungkin cakupan proyek ini akan diperluas.

“Jika model ini terbukti menguntungkan petani, kami akan menerapkannya di beberapa kantung  produksi beras di Indonesia,  maka cakupan proyek ini tak hanya terbatas pada beras, tetapi juga ragam pangan lainnya,” pungkas Wahyu. (Reuters)

(Teguh Vicky Andrew\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar