Sasmito Madrim

Terkadang, Kita Telah Menciptakan Musuh Tanpa Kita Sadari

Rabu, 16 Mei 2018 10:42 WIB
Terkadang, Kita Telah Menciptakan Musuh Tanpa Kita Sadari

Ilustrasi. Foto: wallcoodotnet

Seorang teroris sadar dan hatinya luluh tatkala diperlakukan polisi yang menangkapnya dengan manusiawi dan melihatnya beribadah (salat) sama sepertinya. Sementara pejuang kemanusian berubah menjadi pendukung kelompok radikal tatkala tidak ada satupun rekannya menolong saat kesulitan keuangan. Sebab hanya kelompok radikal itulah yang memberi tumpangan hidup ketika di titik nadir.

Baca juga : BPIP: Orang Baru Kenal Agama Mudah Terpapar Radikalisme

Kedua tokoh fiksi di atas telah menemukan titik balik masing-masing dalam kehidupannya. Titik balik kehidupan manusia seperti itu terkadang didorong oleh masyarakat di sekitarnya tanpa sadar dan tanpa disengaja. 

Hal senada juga pernah terlontar dalam adegan pembuka Iron Man 3 yang tayang pada 2013. "Terkadang, kita telah menciptakan musuh tanpa kita sadari," ucap Tony Stark (Robert Downey Jr) dalam adegan tersebut.

Baca juga : Subuh, Densus 88 Pindahkan 3 Napiter Lapas Madiun ke Nusakambangan

Dalam film tersebut, musuh Iron Man yakni ilmuwan nyentrik Aldrich Killian (Guy Sebastian) yang semula baik kemudian berubah total hanya karena Tony Stark tidak memenuhi janjinya bertemu di atas atap hotel dalam waktu lima menit.

Killian dalam film tersebut yang menunggu menit demi menit hingga pesta kembang api pergantian tahun baru akhirnya merasa dendam kepada Tony Stark hingga kemudian terus mengembangkan pengetahuannya yang nantinya menjadi lawan tangguh Iron Man.

Baca juga : Abu Sayyaf Bebaskan Tiga Sandera Asal Indonesia

Tiga kisah di atas menurut saya penting menjadi perhatian dalam merespons serangan terorisme yang terjadi belakangan ini. Khususnya di sejumlah lokasi di Surabaya, Jawa Timur yang telah menimbulkan belasan korban jiwa dan puluhan lainnya luka-luka.

Saat kejadian, sontak, perasaan marah, kutukan datang dari seluruh penjuru negeri. #terorisjancuk khas Surabaya juga ikut bermunculan di sejumlah medsos beberapa hari. Tidak ada yang salah dengan respons tersebut, sangat manusiawi sekali.

Hanya pascapengeboman tersebut, tentu perlu kita berpikir lebih mendalam lagi. Utamanya dengan belajar dari tiga cerita fiksi di atas supaya kita tidak menciptakan musuh kita bersama tanpa kita sadari.

Setidaknya ada beberapa catatan penting menurut saya dari respons yang tidak tepat terhadap rangkaian teror di Surabaya, Jawa Timur. Pertama publikasi nama dan gambar anak terduga pelaku teroris yang masih hidup baik melalui beberapa media. Utamanya penyebaran melalui media sosial yang sulit dikontrol ketimbang media massa yang sudah memiliki kode etik sendiri dalam pemberitaan.

Di facebook, saya menjumpai publikasi nama dan gambar anak terduga pelaku teroris dibungkus dengan cerita kemanusiaan polisi yang menyelamatkan anak tersebut. Pemilik akun tersebut tidak sadar, bahwa postingan miliknya dapat membuat masyarakat lain melihat dan mengetahui dengan jelas anak terduga pelaku teroris tersebut. Hal tersebut tentunya akan membuat kehidupan sang anak menjadi sulit ketika kembali ke masyarakat. 

Dampak yang mungkin dirasakan dari anak tersebut akibat terbongkarnya identitasnya antara lain bisa berupa bullying, diskriminasi, pengucilan dan mungkin kekerasan balik dari orang-orang yang merasa tidak suka dengan kekerasan yang dilakukan orang tua anak tersebut.

Jika kondisi tersebut yang terjadi, maka potensi anak tersebut untuk menarik diri dari masyarakat dan kembali masuk ke lingkaran kelompok teroris bukan tidak mungkin terjadi. Tentu ini kerugian bagi bangsa Indonesia jika bibit-bibit terorisme terus bermunculan. Karena salah respons seperti ini juga bukan pertama yang terjadi.

Kedua, tudingan yang tidak perlu kepada kelompok lain tanpa bukti yang kuat pascaserangan bom. Satu di antaranya yaitu kepada kelompok Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sudah dibubarkan pemerintah menyusul keluarnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Sejumlah akun di media sosial mencoba mengkait-kaitkan antara rangkaian teroris dengan kekalahan gugatan HTI di pengadilan tata usaha negara (PTUN) beberapa waktu lalu. Tentu tudingan ini hanya asumsi belaka dan tidak berdasar. Bukannya merangkul eks anggota HTI yang juga merupakan warga Indonesia, justru menyudutkan mereka dalam beberapa peristiwa.

Kondisi tersebut juga bisa jadi memicu eks anggota HTI berbalik menjadi musuh bangsa ini ketika terus didorong berseberangan dengan masyarakat lainnya. Tentu hal ini tidak diinginkan kita semua, termasuk eks anggota HTI yang belum diketahui berapa jumlah pastinya. Namun jika terlihat dari dokumen yang beredar saat pembubaran sekitar 1.300 eks anggota HTI setidaknya merupakan orang-orang penting di negeri ini. Profesi mereka beragam mulai dari pegawai negeri sipil, TNI/Polri, sampai akademisi.

Ketiga yaitu ketakutan dan kebencian berlebihan terhadap orang-orang yang diidentikkan dengan Islam atau Islamophobia. Poin ketiga ini memang terasa agak lucu, sebab sebagian besar penduduk Indonesia merupakan muslim.

Islamophobia tersebut setidaknya terlihat dari aktivitas sejumlah akun di media sosial yang mengambil diam-diam perempuan yang berjilbab dan bercadar. Bahkan kemarin, seorang perempuan bercadar diturunkan dari sebuah bus di salah satu terminal di Tulungagung Jawa Timur. Tindakan tersebut dilakukan setelah ada penumpang yang melaporkan ke petugas Dishub setempat yang merasa was-was dengan keberadaan perempuan bercadar itu di dalam bus.

Gejala Islamophobia juga terus mengalami peningkatan di negara-negara lain. Mengutip Aljazeera, riset Citizen's Platform Againts Islamophobia (PCI) menyebut ada 950 kejadian serangan kepada sejumlah umat muslim dan masjid sepanjang 2017 di Jerman. Sementara di Spanyol ada 500 kejadian yang menyasar masjid, perempuan dan anak-anak.

Ketakutan yang berlebihan ini tentu bisa berdampak kepada diskriminasi-diskriminasi terhadap kelompok-kelompok Islam yang dicurigai. Dan kembali kepada cerita fiksi di atas, bukan tidak mungkin secara tidak sadar kita akan mencipatakan musuh bersama dari ketakutan dan kebencian yang berlebihan ini.

Lalu apa yang harus kita lakukan selain mengutuk aksi terorisme yang marak belakangan ini? Pepatah kuno “Lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan” tentu paling tepat menjawab pertanyaan ini.

Pertama, pemerintah tentu di samping melakukan operasi penindakan terhadap terorisme juga melakukan langkah-langkah pencegahan terhadap aksi terorisme. Tapi yang tidak kalah pentingnya yaitu menyalakan lilin-lilin di tempat kegelapan atau bibit-bibit radikalisme.

Antara lain memberikan jaminan pendidikan yang baik kepada warganya agar tidak terpapar materi radikal, memastikan semua warganya mendapat pekerjaan yang layak sehingga tidak mudah tergoda melakukan aksi kekerasan, meminimalisir bibit-bibit kelompok radikal dengan merawat anak-anak jalanan di seluruh Indonesia. Memangkas habis penduduk miskin di Indonesia, memeratakan pendapatan dan sumber daya alam secara merata ke warga Indonesia dan lain sebagainya.

Tentu banyak sekali porsi yang bisa diambil pemerintah untuk memastikan tidak ada lagi bibit-bibit terorisme di Indonesia. Dan yang tak kalah pentingnya dengan memanusiakan pelaku-pelaku dan keluarga teroris secara manusiawi. Termasuk kepada anak cucunya yang masih hidup.

Sementara masyarakat, sebagai manusia bisa dapat saling membantu sebisa mungkin, minimal dalam lingkup terdekatnya supaya tidak berpaling ke kelompok radikal seperti cerita fiksi di atas. Kepedulian di lingkup kecil keluarga inilah yang bisa berbuah kepedulian pada tingkat wilayah RT/RW terkecil hingga nasional.

Namun jika pemerintah dan masyarakat berbuat sebaliknya, bukan tidak mungkin bibit-bibit terorisme akan terus tumbuh di bumi Indonesia meski pemberantasan terhadap terorisme dilakukan. Dan bukan tidak mungkin akan terus bertambah korban jiwa di kedua belah pihak. 

Seperti yang dibilang Mahatma Gandhi, "Jika mata dibayar dengan mata, maka seluruh dunia akan buta".

(Sasmito Madrim\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar