Menelisik Telkom Group, Tulisan-4

Telkom Group Lambat dan Gagap dalam Transformasi Digital

Jumat, 11 Januari 2019 12:42 WIB
Telkom Group Lambat dan Gagap dalam Transformasi Digital

GraPARI, gerai yang selalu ramai. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Banyak diuntungkan pemerintah lewat regulasi, begitulah Telkom Group sekian lama. Ketentuan soal pembangunan dan pengelolaan jaringan bersama antar-operator (network sharing) dan tarif interkoneksi, misalnya. Tujuannya adalah agar Badan Usaha Milik Negara ini tetap mengeduk untung besar. Korporasi ini pun meraksasa dan mengemuka di antara plat merah. Begitupun, belakangan ini mereka ternyata kian tersudut dan kelimpungan. Penyebabnya? Bukan ulah sesama operator semata melainkan  sepak-terjang pengusik ‘dari dunia lain’.

Baca juga : Tak Ingin Jadi Penonton, Menkominfo Dorong Pemuda Kuasai Robotik

Setelah gangguan (disruption) muncul dari para pelaku usaha yang mengandalkan aplikasi internet— Google, YouTube, WhatsApp, Amazon, Apple, Yahoo, dan yang lain yang bersebutan  over the-top (OTT)—perusahaan-perusahan layanan telekomunikasi (telco)  seperti Telkom Group ibarat pengembang-operarator jalan tol yang harus terus berinvestasi besar untuk mendapatkan hasil yang semakin berkurang.  

Baca juga : Aksi Korporasi PT Telkom Justru Membebani dan Kalah Bersaing

Aneka layanan. (Foto: P. Hasudugan Sirait)

Mereka mesti terus menanamkan modal yang tak tanggung-tanggung guna melapang-panjangkan lintasan tol (dalam hal ini: bandwith atau pipa data) sebab konsumen ingin melaju bebas hambatan kendati kendaraan yang lalu-lalang di sana kian membanyak. Kalau saja investasi itu menghasilan return yang besar  mereka akan senang-senang saja. Nyatanya tak demikian.  ‘Uang receh’ belaka yang mereka dapatkan.

Baca juga : “Konflik Kepentingan Dirut PT Telkom Alex Sinaga Tinggi”

Pada sisi  lain, operator yang aktif ada 5 di Indonesia (padahal di Cina, negara berpopulasi terbanyak di dunia, 2   saja)—sehingga perang tarifnya sampai berdarah-darah. Tak seperti di zaman monopoli atau oligopoli dulu, kini, setelah kemunculan OTT,  telco tak bisa lagi mendikte pasar. Tak hanya di negeri kita demikian melainkan di segenap belahan bumi.  

Adapun para ‘pengusik’ itu (OTT), mereka  seperti penyewa yang membangun tempat rehat (rest area), hotel, pusat hiburan, show room, atau bengkel  di sepanjang sisi jalan tol. Merekalah yang paling banyak mendapatkan penghasilan dan untung kendati pengeluarannya tidak berarti dibanding pembangun-pemilik-pengelola lintasan. Sebatas uang sewa, biaya, operasional, gaji pegawai, dan pajak saja pengeluaran mereka.  

Dalam  network sharing, jelas  telco  dirugikan. Mereka membangun dan mengoperasikan banyak infrastruktur, termasuk BTS, satelit, dan jaringan transmisi. Dengan demikian beban biaya yang mereka tanggung sangat besar.  Trafik jaringan naik hingga lebih dari 90%,  sementara  pendapatan yang dihasilkannya paling 10%. Sementara OTT tak perlu mengeluarkan uang untuk menghadirkan infrastruktur; mereka cukup menyewa saja ke telco. Sangat ironis, bukan?

Kelincahan menjadi penentu. (Foto: P. Hasudunga Sirait)

Agar penghasilannya sepadan dengan pengeluarannya, telco harus lekas bertransformasi sehingga tidak menjadi penyedia pipa data semata. Kalau menggunakan analogi jalan tol tadi, seperti yang dilakukan OTT penyewa fasilitas itu, mereka bisa menghadirkan rupa-rupa bisnis di sana. Untuk itu mereka harus selalu  giat mencari tahu apa saja kebutuhan khalayak yang berkendara di lintasan.

Bila tak asing bagi mereka, layanan itu bisa mereka tangani sendiri. Kalau itu  di luar kompetensinya, mereka bisa bekerjasama dengan OTT.  Sejumlah perusahaan telco sudah melakukan hal seperti ini di belahan dunia lain dan hasilnya menggembirakan mereka. AT&T, SKT, NTT, Siemens, Telefonia, Orange, dan Verizon Wireless (Arthur D Little,  2016). Seharusnya jawara Indonesia, Telkom Group, melakukan hal serupa.

Beyond Telco

Telkom Group sesungguhnya sejak awal telah membaca tanda-tanda zaman. Telkomsel, terutama.  Begitu teknologi 3G muncul tahun 2005,  perusahaan ini langsung mencanangkan konsep  ‘King of Digital’ yakni menjadi penguasa di darat (lewat kabel serat optik), laut (melalui marine cable), dan udara (berkat satelit dan seluler).

Saat Alex Janangkih Sinaga menjadi orong nomor 1  di sana (2012-2014), ia tetap mengedepankan konsep ‘King of Digital’ (hingga hari ini pun demikian). Sebagai sosok yang visioner, dia juga acap bicara soal change (perubahan)  agar perusahaan lebih dari sekadar  penyedia layanan telekomunikasi (beyond telco).  

Kemudian,  masih waktu masih memimpin Telkomsel, ia rajin bicara soal disruption (usikan terhadap telco oleh perusahaan-perusahaan berbasis aplikasi). Kala itu Skype, Twitter, Facebook, BlackBerry Messenger, Instagram, WhatsApp, dan yang lain sudah semakin populer termasuk di negeri kita.

Tiap unit di Telkomsel disuruhnya membuat program untuk menyahuti disrupsi. Jadi, seperti kata seorang petinggi di korporasi ini, Alex Sinaga sesungguhnya lebih dulu mewacanakan konsep disrupsi daripada seorang Rhenald Kasali, konsutan bisnis yang kemudian menulis buku tentangnya.  

Tabel Tahun kelahiran OTT

Sumber: European Commission (2016).

Seiring keadaan yang mulai memberat, Telkom Group  mengambil sejumlah langkah untuk mentransformasikan dirinya menjadi perusahaan digital. Seperti telco di seluruh dunia, mereka rajin melakukan aksi korporasi berupa pembelian perusahan rintisan dan akuisisi korporasi yang ranah bisnisnya masih berdekatan. Mereka juga menghadirkan inkubator bisnis sendiri serta divisi yang mengurusi produk digital yang mereka hasilkan. Divisi Digital Services (DDS), misalnya,  bertugas mengeksplorasi produk-produk yang bisa dijual ke pasar.

Seperti kata Direktur Enterprise & Business Service Telkom Dian Rachmawan, untuk menyahuti tren digitalisasi yang berbasis teknologi Revolusi Industri 4.0, Telkom sejauh ini telah memiliki tak kurang dari 25 perusahaan. Segmen yang digelutinya adalah enterprise, government, dan small medium business (IndoTelko, 16/11/2018).  Bersebutan high end market, segmen ini sangat menjanjikan, dengan perkiraan petumbuhan rata-rata 19% dalam 5 tahun ke depan. 

Telkom Group, dalam penglihatan ekonom The Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Abra Talattof,  sudah mulai bergeser dari bisnis konvensional yang mengandalkan infrastruktur serta layanan suara dan sms. Mereka sudah masuk ke bisnis keuangan digital dan bisnis data. Juga bisnis Tv Wifi (IndiHome) dan internet kabel yang memang dibutuhkan rumah dan kantor.

“Telkom sudah memiliki T-Cash sehingga dari handphone pelanggannya bisa membayar transaksi di Indomaret atau  Tokopedia. Penggunaan e-money-nya justru lebih potensial dibandingkan dengan perbankan. Jadi Telkom masih punya peluang yang besar,” kata Abra Talattof.

Mereka juga memiliki Blanja.com.  Berdiri pada 17 September 2012 sebagai buah koloborasi Telkom Group dengan eBay, perusahan marketplace terbesar dunia yang juga pemimpin industri mobile commerce.

Telkom Group termasuk lekas tanggap terhadap zaman yang berubah dramatis akibat kemajuan teknologi digital. Kendati demikian mereka terbilang lambat dalam menunggangi gelombang zaman sehingga peranjakannya belum jauh meski telah belasan tahun  menata diri. Lihatlah: produk-produk digitalnya belum ada yang ‘meledak’ di pasar. Tidak juga T-Cash, Blanja.com, IndiHome, atau LangitMusik.

Produk digital mereka yang paling termashyur adalah T-Cash, yang diluncurkan Telkomsel ke khalayak luas pada   2007. Di penghujung 2018 pengguna aplikasi ini sekitar 10 juta orang. Ternyata sekarang ia sudah disalip Go-Pay (milik Go-Jek) yang baru hadir untuk publik di awal 2018.

“Mengerikan, memang. Tapi begitulah OTT seperti kelompok Go-Jek: mereka sangat agresif,” ucap Iryan Ali Herdiansyah, periset-pengamat bisnis yang giat memantau dunia telco.   

Begitu perkasa pun induknya, ternyata Blanja.com sampai hari ini tidak lebih popular dari saingannya: Bukalapak, Blibli, Lazada, JD.ID, Shopee, atau Bhineka.

“Harusnya Blanja.com agresif sehingga bisa menjadi unicorn [perusahaan digital yang valuasinya US$ 1 miliar] baru,” kata Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi.

Selain LangitMusik, Telkom Group juga menghasilkan movie cool. “Itu lebih payah lagi karena sudah layu sebelum berkembang,” lanjut Iryan Ali Herdiansyah, anak muda yang bersama Yuswohady ikut menulis buku Marketing to the Middle Class Muslim (terbit tahun 2014).

T-Cash, Blanja.com, IndiHome, atau LangitMusik, dan yang lain adalah produk untuk  ritel. Produk yang dirancang untuk  enterprises pun sama. Kemampuan yang kurang untuk membangun dan menawarkan ekosistem digital istimewa ke dunia korporasi-lah kendalanya.

Agar Tak Punah

Manajemen Telkom Group, termasuk Telkomsel, sampai kini masih bersentuhan  telco betul. Mind-set digitalnya belum mengemuka sehingga pembawaannya masih serba canggung dan tanggung. Produk digitalnya dihasilkan sekadar pelengkap saja—bukan sebagai karya unit bisnis baru— dengan tujuan untuk mempertahankan pelanggan. Pada sisi lain mereka masih bergantung betul ke Telkomsel, anak perusahaan yang selama ini menyumbang 60-80% pendapatan kelompok.

Transformasi digital lebih merupakan persoalan budaya korporasi daripada teknologi. Ia sangat membutuhkan kelincahan (agility). Agar lincah harus melibatkan lebih banyak kaum muda yang ber-mind-set digital.

 “Bisnis telekomunikasi ini kan sekarang mengarah ke digital. Jadi memang butuh orang-orang muda yang paham dengan teknologi digital.  Kebanyakan pejabat di Telkom sekarang usianya sudah  di atas 45 tahun,” ucap Heru Sutadi.

Mulai dari direktur inovasi, orang marketing dan network, menurut dia, sebaiknya kaum muda. “Kalau kita lihat  sekarang mereka yang di Telkom Group rata-rata di atas 50-an tahun. Pola bisnis kita sekarang berubah. Orang-orang yang berusia 35 tahun itu lagi matang-matangnya. Bisnis-bisnis digital sekarang dikuasai umur-umur segitu.  Harus out of the box. Ada pendekatan-pendekatan baru.”

Meski termasuk menyadari sejak awak perubahan zaman yang begitu dramatis akibat usikan para pemain dari wilayah lain yang mengadalkan aplikasi, Telkom Group teryata lambat dan gagap dalam menempatkan diri.  Akibatnya kejayaan mereka mulai menjauh.

Seorang petinggi mereka, seperti kata narasumber,  sebenarnya sudah mengingatkan di forum-forum internal tentang kemungkinan buruk ini 5 tahun silam. Ia mengatakan kepada para anak buahnya bahwa korporasi raksasa ini akan menjadi dying company [perusahaan yang sekarat] kalau saja tidak lekas melakukan transformasi digital.

Berubah atau punah, itulah pilihan untuk Telkom Group saat ini. Tak akan sampai punah tentu, sebab milik negara. Terlepas dari itu, jika saja cepat berubah, sangat mungkin mereka akan menjajarkan diri dengan, kalau bukan melampaui,  superstar Indonesia sekarang: Gojek, Bukalapak, Traveloka, dan Tokopedia.

Laporan: Januardi Husin, Teguh Vicky Andrew, Nikolaus Tolen

(Rin Hindryati\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Berita Terkait

Komentar