Rita Serena Kalibonso, pengacara-aktifis perempuan

Tak Menyerah Meski Kanker Mendera

Rabu, 11 Juli 2018 13:40 WIB
Tak Menyerah Meski Kanker Mendera

Ceria Rita Serena Kalibonso (foto: P. Hasudungan Sirait)

Kesehatannya mendadak merosot setelah usianya lewat setengah abad. Entah mengapa ususnya kemudian menjadi acap melilit. Waktu itu ia baru saja mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi terkait batas usia perkawinan yang ada di Undang-Undang Perkawinan. Di UU itu batas usia perempuan yang boleh menikah 16 tahun; sedangkan laki-laki 18 tahun. Ia dan kawan-kawannya di Yayasan Kesehatan Perempuan menganggap usia itu masih terlalu muda. Mereka pun menyoalnya.

Rasa sakit yang tak terperikan membuat ia lantas memeriksakan diri. Jawaban dokter ahli penyakit dalam yang menanganinya sungguh tak pernah ia bayangkan. Ia  menderita kanker getah bening! Terhuyung dia laksana petinju yang dagunya dihajar keras upper-cut lawan.

Sebagai aktifis berjam terbang panjang, sebentar saja ia larut dalam kubangan galau.  Ia mematut diri untuk mengerti akar masalah yang tengah mendekap. Jawaban lekas disimpulkannya. Menurutnya, pola hiduplah pangkal perkara. Berbelas tahun ia terlalu keras bekerja sehingga kurang mengindahkan tubuh yang butuh istirahat yang cukup dan asupan sehat-bergizi.

Bersemangat selalu (foto: P. Hasudungan Sirait)

Ingin sembuh,  ia lantas menjalani  pengobatan yang intensif di RS Dharmais, Jakarta. Terapi kemo dijalaninya setiap 3 minggu sampai 8 kali.

 “Kemo itu kayak ngeboom. Jadi tubuh kita mesti kuat. Nggak boleh nggak fit. Kena flu saja nggak boleh. Pengobatannya berat banget. Saya praktis tidak mengerjakan apa-apa lagi kemudian; sibuk berobat saja,” tuturnya.  

Sebenarnya saat baru menjalani kemo ia masih saja mengurusi  pekerjaan sebab judicial review di MK tak bisa diabaikan. 

“Meski sudah dikemo saya masih bersidang. Banyak yang pangling karena saya memang make rambut palsu. Ada yang bilang, ‘Gaya Rita kok lain sekarang’. Mereka nggak tahu saya sedang sakit,” ucapnya sambil tersenyum. 

Dua bulan sesudah kemo ke-8 ternyata ia masih harus menjalani operasi. Pasalnya masih ditemukan noktah di tubuhnya.  “Untunglah sesudah operasi,  tinggal cek sekali 2-3 bulan, kadang dengan CT scan.”

Ingin wal’fiat kembali, sejak awal perempuan lajang bertanggal lahir 27 Desember 1961  berusaha tabah dan sepenuh hati menjalani pengobatan. Kakaknya, seorang dokter, setia mendampinginya. Si sulung bahkan memutuskan untuk pensiun dini agar bisa bertekun mengurusi dia.   

Hasil perjuangan keras itu ternyata tak percuma. Rita Serena Kalibonso dinyatakan dokter sembuh.  “Sudah 5 tahun sejak kemo saya survive. Nggak ditemukan lagi tumor.“

Begitupun,  sampai sekarang ia masih rutin memeriksa kesehatan. Sekali 3 bulan ia berkonsultasi ke dokter dan saban tahun men-CT scan tubuh. Tujuannya untuk memastikan bahwa semuanya baik adanya.

Tentu saja Rita yang memang sejak kecil tak suka berpangku tangan kembali bergiat sebaik kesehatannya berangsur-angsur pulih. Seperti sebelumnya, kegiatan kesehariannya masih saja  seabrek. Bedanya sekarang, ia telah mementingkan rehat dan keterjagaan asupan tubuh.

Mengurusi Perempuan 

Rita Serena Kalibonso anak Jakarta,  meski dia berdarah campuran. Opa-nya (kakek) orang Ambon, ber-fam Kalibonso. Oma-nya (nenek) orang Belanda. Setelah pensiun sebagai pegawai pemerintah di zaman Bung Karno, sang Opa memboyong keluarganya ke Belanda. Anaknya beberapa,  tapi yang lelaki hanya ayah Rita.

Setia memperjuangan hak kaum perempuan (foto: P. Hasudungan Sirait)

Lelaki Ambon itu ternyata tidak cocok dengan cuaca negeri kincir angin. Sebentar saja ia sudah sakit-sakitan dan berpulang di sana.  Keluarganya memutuskan untuk tetap berdiam di Belanda. Belakangan hari hanya ayah Rita yang kembali ke Indonesia. Di Jakarta ia kemudian  bekerja di perusahaan Philips Ralin dan menikah dengan perempuan Minang. Anak mereka 4 perempuan dan 1 lelaki. Rita anak ke-2.

Pendidikan ke-5 bersaudara ini aneka. Si sulung menjadi dokter anestesi. Rita, sesuai cita-citanya semenjak kecil,  sarjana hukum. Yang nomor 3  dokter gigi (orthondentis), dan  nomor 4 akuntan lulusan UI. Si bungsu lulusan ITB jurusan Teknik Perminyakan. Ia kini menjadi ahli teknologi informasi. Dalam hal iman pun mereka majemuk. Begitupun, mereka tetap dekat satu sama lain sebab sama-sama menghormati pilihan pribadi.  

Selulus dari UI, Rita bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Mantan Komandan Batalyon Resimen Mahasiswa (Menwa) UI ini menjadi dekat dengan dunia gerakan pro-demokrasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) setelah menjadi bagian dari lembaga yang didirikan Adnan Buyung Nasution (Bang Buyung) dkk. Soalnya, sebagai pengacara ia acap mendampingi para aktifis yang sedang bermasalah karena dituduh menentang penguasa. Ia, umpamanya, menjadi pengacara pegiat Aliansi Jurnalis Independen (AJI)—Ahmad Taufik, Eko ‘Item’ Maryadi, dan Danang Kukuh Wardoyo—yang ditangkap dan dipenjarakan pada Maret 1996. Ketiganya kemudian mendekam di bui Orde Baru sekitar 3 tahun.

Di LBH Jakarta Rita menjadi Kepala Bidang Operasional merangkap kepala kantor  pada 1986-1996. Di sana juga ia bertransformasi menjadi aktifis perempuan yang berkiprah total.

Di tahun 1995 ia bersama 5 rekannya sesama anggota Yayasan Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan—Nursyahbani Katjasungkana, Purnianti, Siti Farida Mochtar, Satsia Ulfa Sahabi, dan Dhanie Muktiwhardhani—mendirikan Mitra Perempuan.  Ikut juga bergabung dengan mereka seorang senior yang juga pegiat terkemuka: Ade Rostina Sitompul (Bu Ade). 

 “Waktu itu belum ada lembaga yang khusus melakukan pendampingan terhadap perempuan korban kekerasan, termasuk korban perkosaaan. Padahal jumlah kasusnya cukup tinggi. Akhirnya kita bikinlah Mitra Perempuan,” jelas Rita.

Woman Crisis Center, begitulah hakekat Mitra Perempuan. Sejak 1993 sebenarnya sudah ada organisasi bernama Rifka Annisa di Yogyakarta. Mengadvokasi perempuan juga mereka tapi khusus ummat Islam. Adapun Mitra Perempuan, cakupannya lintas batas primordial. Menyediakan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan, itulah tujuan keberadaannya. Lembaga ini juga melakukan sosialisasi dan penyadaran soal keadilan gender. Untuk itu semua mereka mengerahkan para relawan.

Masih di tahun 1995, Rita Kalibonso bersama 6 rekannya sesama pengacara perempuan—termasuk  Nursjahbani Katjasumgkana, Tumbu Saraswati, dan Apong Herlina—mendirikan LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), di Jakarta. Kini LBH APIK yang masih dipimpin Nursjahbani sudah bercabang di banyak kota.

Rita harus meninggalkan Indonesia di tahun 1996. Pasalnya ia beroleh beasiswa British Chevening Award. Di Sheffields, Inggris, ia setahun mendalami ilmu hukum.

Sepulang ke Tanah Air ia berfokus di jalur gerakan perempuan; LBH ditinggalkannya.

Ternyata pada 12 -15 Mei 1998 Jakarta dan beberapa kota lain sontak diamuk kaum perusuh. Di tengah prahara itu aksi perkosaan massal kaum perempuan terjadi. Rita dan aktifis lainnya yang bergabung dalam jejaring relawan kemanusiaan (Tim Relawan) yang dikoordinasikan Romo Sandyawan Sumardi giat mengurusi para korban termasuk yang digagahi paksa. Mitra Perempuan, organisasi yang diurusi Rita sepenuh waktu sepulang dari bersekolah di Belanda,  menjadi salah satu unsur utama dari Tim Relawan.  

Dalam sebuah pertemuan khusus, kaum aktifis perempuan mendesak Presiden BJ Habibie agar serius menangani kasus perkosaan massal tersebut.  Masih di tahun 1998, Presiden RI ke-3 itu kemudian membentuk Komisi  Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Profesor Saparlina Sadli (Bu Sap) yang menjadi Ketua; Rita Serena Kalibonso Wakilnya.

Mitra Perempuan sejak awal aktif menopang Komnas Perempuan. Tempat dan fasilitasnya, di Jl. Tebet Barat Dalam IV/B,   mereka pinjamkan sebelum lembaga negara ini memiliki kantor sendiri.

Asa yang tak kunjung pupus (foto: P. Hasudungan Sirait)

Tak kurang dari 4,5 tahun Rita menjadi komisioner di Komnas Perempuan. Saat masih berdinas di sana ia ikut membidani Yayasan Kesehatan Perempuan (berdiri 2001). Berfokus pada kesehatan reproduksi, semula ia merupakan forum saja.

Di tahun 2010 berdiri ASEAN Commission on The Promotion of Protection on The Right of Women and Children. Anggotanya 10 negara. Rita Serena Kalibonso terpilih menjadi wakil Indonesia di sana sejak April tahun itu. Di Sekretariat ASEAN, Jakarta, ia bergiat hingga 2014. Selama setahun terakhir bekerja di sanalah ia sakit dan menjalani pengobatan kanker.

Seperti sebelum divonis menderita kanker getah bening 5 tahun silam, sekarang pun kegiatan Rita tak habis-habis.  Selain menggeluti isu perempuan, saat ini  ia juga menjadi pengurus nasional di Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).

Rita Serena Kalibonso memang seorang aktis tulen. Di saat menjalani terapi kemo yang maha berat pun ia tak kunjung menyerah. Memberdayakan perempuan Indonesia dan menegakkan hak-hak mereka merupakan urusan yang kelewat penting bagi dia. Sebab itulah sampai sekarang pun ia tak kunjung lelah meski telah berkecimpung di lapangan yang satu ini  berbilang 3 dekade.  

(Rin Hindryati\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Komentar