STH Indonesia Jentera, Kampus Para Pembaru Hukum

Kamis, 09 Agustus 2018 08:01 WIB
STH Indonesia Jentera, Kampus Para Pembaru Hukum

Foto: instagram jenteralawschool

Siapa menyangka, di antara gedung pencakar langit di Kuningan, Jakarta Selatan terdapat kampus yang didirikan sejumlah tokoh dan praktisi hukum terkemuka Indonesia. Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera namanya.

Lembaga Pendidikan ini menempati lantai 1 Menara Puri Imperium. Bangunannya cukup megah dengan pelataran panjang. Sepi namun nyaman.

Kita akan merasa masuk ke pusat perbelanjaan ketika membuka pintu kaca gedung. Cukup naik tangga sekali, kita akan disambut kampus mungil menawan di salah satu sudut di dalam menara apartemen.

Pendirinya terdiri dari berbagai macam latar belakang. Mulai akademisi, praktisi, aktivis hingga mantan pejabat tinggi di Republik ini. Tidak hanya perorangan, lembaga bernama Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) juga ikut membidani kelahiran kampus STH Indonesia Jentera.

PSHK merupakan tempat para ilmuwan hukum lulusan Universitas Indonesia mengabdikan diri dalam kegiatan penelitian. Dari pikiran mereka lah, STH Indonesia Jentera berdiri dengan gelora pembaruan hukum Indonesia yang menyala-nyala.

Segaris dengan pemikir pendidikan dari Brazil Paulo Freire, dikenal dengan metode pedagogi-nya dalam mengajar, STH Indonesia Jentera mencoba terapkan kurikulum yang lebih menghargai keaktifan mahasiswa. Secara dialektis, egaliter, demokratis, pembelajaran diselenggarakan secara inklusif.

Di dalam kelas, jumlah pelajar tidak lebih dari 20 orang sehingga memungkinkan pembelajaran lebih intensif. Pada saat kegiatan belajar mengajar (KBM) tiap individu diwajibkan untuk bertanya, lebih bagus lagi berani mendebat dosen, tentunya disertai dengan data dan fakta.

Dalam setiap perkuliahan, mahasiswa didorong untuk aktif menyampaikan pendapat, berdiskusi, serta menganalisa kasus, peraturan, dan putusan untuk mendapatkan pengalaman bagaimana teori-teori hukum diaplikasikan. Metode belajar yang digunakan berupa studi kasus, diskusi, presentasi, games online, kunjungan, role play, dan proyek, baik proyek pribadi maupun bersama.

Jentera juga menggunakan learning management system secara online bernama Apollo (Academic and Personal Learning System Online). Dengan fasilitas ini, mahasiswa dapat mengakses bahan pelajaran dan tugas kuliah, juga berdikusi dengan dosen secara online dari mana saja. Di luar kelas, mentor akan memfasilitasi kelompok-kelompok belajar untuk memperdalam pemahaman mahasiswa terhadap suatu mata kuliah.

Wakil Ketua II STH Indonesia Jentera Bidang Kemahasiswaan Erni Setyowati saat ditemui Law-justice.co di kampus pada Senin (6/8/18) menuturkan, banyak orang merasa dapat pelajar lebih sedikit ketika kuliah dan lebih banyak belajar telah ketika lulus.

Menurutnya, kecenderungan tersebut semestinya dibalik. Melalui Jentera inilah, orang harus memanfaatkan masa belajar saat kuliah. Mahasiswa tidak hanya dicekoki teori tapi juga ditunjukkan kenyataan di lapangan.

’’Di sini dosennya juga seorang praktisi. Biar tak ada kesenjangan antara teori dan praktiknya di dunia nyata,’’ kata Peneliti PSHK ini.

Di mata kuliah Hukum dan Masyarakat, mahasiswa diberi tugas untuk membuat paper. Mereka diminta terjun ke lapangan untuk menganalisa dan terlibat langsung dalam persoalan masyarakat, misalnya dalam kasus penggusuran Bukit Duri. Di situ mahasiswa dituntut untuk tahu persoalannya apa, aturan hukumnya bagaimana, apa hak-hak warga tergusur dan seharusnya pemecahan kasusnya seperti apa. Kepedulian sosial inilah nilai yang ditekankan Jentera.

Wakil Ketua II STHI Jentera Bidang Kemahasiswaan Erni Setyowati. Foto: law-justice.co/Muhammad Mu'alimin

Dinamakan Jentera, supaya lulusannya menjadi roda pembaru hukum di Indonesia. Hukum sendiri tidak bisa lepas dari keadilan dan hak asasi manusia (HAM). Menyadari pentingnya dua nilai ini dalam membangun negara hukum, Jentera hadir menanamkan prinsip kebebasan berpendapat dalam pembelajarannya.

Dilengkapi Danlev Library, yang diambil dari nama seorang Indonesianis asal Amerika Serikat, Prof Daniel S Lev. Selain diberi gelar pendiri kehormatan, Danlev dikenal sebagai guru dari banyak para ahli hukum Indonesia. Koleksi buku referensi hukum dari dalam dan luar negeri, cukup lengkap di perpustakaan ini.

Dalam kebijakan resminya, STH Indonesia Jentera menyediakan dua jenis program scholarship, yaitu beasiswa Jentera (umum) dan beasiswa Munir. Beasiswa umum diperuntukkan untuk lulusan SMA yang berprestasi minimal nilai rata-ratanya 7,00 dan berasal dari luar Jabodetabek. Sedangkan beasiswa yang diambil dari tokoh pejuang HAM Munir Said Thalib, dikhususkan bagi mereka yang aktif dibidang kepedulian hak dasar masyarakat misalnya aktivis pembela kaum tertindas atau penggerak LSM (Social Movement Organizations). Niatnya, supaya aktivis tersebut memiliki pengetahuan hukum yang cukup untuk mendukung advokasi sosialnya.

Salah seorang penerima beasiswa regular dan kini menjabat Ketua BEM STH Indonesia Jentera Andrie Yunus menceritakan kepada Law-justice.co pada Kamis (2/8/18), meski baru menerima mahasiswa tahun 2015, prestasi mahasiswa kampus ini terbilang gemilang.

’’Waktu itu klub debat baru terbentuk dan pertama kalinya ikut kompetisi di Padjadjaran Law Fair, Unpad. Di antara puluhan kampus hukum, kami berhasil tembus 4 besar,’’ tuturnya bangga.

Kampus yang didirikan mantan Jaksa Agung Marsillam Simanjuntak, bekas Komisioner KPK Chandra M Hamzah dan pemikir hukum Prof Mardjono Reksodiputro ini, sangat mengedepankan pentingnya mahasiswa peduli kemanusiaan. Selain dicekoki ilmu-ilmu hukum, siswa juga didorong ikut aksi-aksi sosial.

’’Pada saat mau ikut aksi tapi bentrok dengan kuliah, kita izin, dosen mempersilakan ikut aksi. Waktu itu dosennya malah minta kita ikut cor kaki di depan Kedutaan Besar Jerman untuk mendukung petani Kendeng menolak pabrik semen,’’ ujar lelaki asal Sukabumi itu.

Ketua BEM STHI Jentera Andri Yunus. Foto: law-justice.co/Muhammad Mu'alimin

Meski belum ada yang lulus, karena kegiatan akademiknya baru berjalan pada 2015. Lulusan terbaik nantinya akan diprioritaskan untuk magang di lembaga rekanan yang kebanyakan milik pendiri STH Indonesia Jentera.

Sederet institusi yang memiliki kerja sama keprofesian misalnya Assegaf Hamzah & Partners (AHP) Law Firm, Lubis Ganie Surowidjojo (LGS) Law Firm, Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK), Hukumonline.com, dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.

(Muhammad Mu'alimin\Sasmito Madrim)
Share:


Komentar