20 Tahun Reformasi [Penggalan ke-2: seri Melawan Lupa]

Skenario Amuk Massa untuk Melumpuhkan Jakarta

Minggu, 13 Mei 2018 14:27 WIB
Skenario Amuk Massa untuk Melumpuhkan Jakarta

Merusuh dan menjarah (foto: Liputan6)

Jakarta 13 Mei 1998  atau tepat 20 tahun lalu.  Sehari sebelumnya mahasiswa Trisakti—Hafidin Royan, Heri Hertanto, Elang Mulia Lesmana, dan Hendriawan Sie—tewas dihajar peluru aparat yang menembaki kampus dari arah jalan layang.    

Baca juga : Penyaksi 600-an Mayat Gosong di RSCM

Di halte dekat kampus Trisakti, Grogol, pagi itu (sekitar pk. 07.00) aku mendengar kenek dan sopir bus PPD berseru-seru.  “Bis terakhir....bis terakhir…ayo cepat naik, ayo... ini bis terakhir!”

Semula seruan itu kuabaikan. Tapi karena mereka tetap bersuara senada di saat kendaraannya telah bergerak perlahan pun,  aku menjadi penasaran. Aku lantas naik ke bus itu dari pintu depan. Penumpangnya setengah saja. Setelah menempelkan pantat di atas kap mesin berjok merah di sampingnya, ke sopir aku bertanya mengapa dia bilang “Ini bis terakhir”.

“Orang kantor PPD barusan nyuruh  kami pulang secepatnya ke pool. Katanya Jakarta rusuh mulai siang ini,” jawab sang pengemudi.

“Siapa yang mau merusuh?” tanyaku.

“Nggak tau. Perintahnya itu aja: secepatnya pulang ke pool.”

Ada-ada saja orang PPD ini; siapa yang mau merusuh di Jakarta,  pikirku. Di halte berikutnya, di dekat kantor Walikota Jakarta Barat,  aku turun dan kembali ke kampus Trisakti dengan menapak. 

Amuk massa lekas merebak (foto: Kabarnews)

Sejak subuh aku dan dua reporterku di  majalah D&R  berada di kampus Trisakti. Pasalnya kami mendapat kabar  bahwa pagi sekali akan ada jenazah mahasiswa yang dibawa ke luar kota untuk dimakamkan. Kami tak mau kehilangan momen. Ternyata terlambat juga kami sebab tak sempat melihat rombongan Pangdam Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin yang datang melayat ke sana; mereka baru saja pergi tatkala kami tiba.  

Ujaran sopir dan kondektur itu segera beringsut dari kepalaku. Acara perkabungan dari pagi hingga siang itu—untuk melepas jenazah mahasiswa—yang memenuhi pikiranku.

Sejak pk. 09.00 parkiran kampus anak-anak kaum berada tersebut telah menjadi tempat lautan manusia. Banyak tokoh penting yang menyempatkan diri berorasi di sana. Adnan Buyung Nasution, WS Rendra, dan Megawati, di antaranya. Yang terakhir ini menjadi orang yang sangat dinanti oleh massa dan ternyata yang paling lat juga datangnya; setelah tiba, entah ke mana dulu,  baru sejam kemudian ia  tampak dan berbicara di depan khalayak.

Begitu prosesi perkabungan dimulai, kaum provokator beraksi di pinggir pagar untuk menarik keluar massa dari kampus. Aku memperhatikannya.  Penampilan mereka macam-macam. Ada yang berpakaian kasual dan ada juga yang berdandanan dandy’ a la eksekutif muda. Yang letoy ada;  pun yang tegap-tegap.  Model kaum pengangguran dengan koran di saku kantong belakang, juga banyak. Sungguh sebuah gado-gado.

Melihat pembawaannya yang tidak alami atau tak spontan aku menyimpulkan bahwa mereka bukanlah massa rakyat biasa; waktu itu aku  langsung teringat pada intel-intel yang sering nongkrong di gedung Komnas HAM Latuharhary atau YLBHI Diponegoro. Jelas, yang sedang mereka lakukan lewat aksinya yang sensional dan provokatif adalah penggalangan massa.

Para korlap mahasiswa bekerja keras di dalam kampus membentengi agar rekan-rekannya tak terpancing keluar. Siapa pun orang kampus yang mendekat ke pagar akan mereka sweeping.

Gagal menarik keluar mahasiswa, para provokator mulai berulah. Marka jalan di luar kampus mereka goyang-goyang secara demonstratif. Setelah merubuhkan penunjuk jalan mereka mulai mencegati dan mendorong-dorong mobil. Dengan melambai-lambaikan tangan,  tak lupa mereka mengajak keluar mereka yang di kampus. Begitupun,  acara perkabungan terus berlanjut dengan khidmat. Kalau saja para korlap tak bekerja keras niscaya akan lain ceritanya.

Pembakaran di mana-mana (foto: Kaskus)

Untuk lebih menarik perhatian massa, provokator yang kian membanyak mencoba menyerang Citraland (sekarang Mal Ciputra). Aparat keamanan yang berlapis-lapis di sana kemudian membendung dan menghalau mereka. Mundur, mereka bergerak ke arah Tomang sembari mengajak siapa saja bergabung.

Di saat yang sama di hp-ku bermunculan sms dari pengirim yang tak jelas. Isinya, permukimanan kaum Tionghoa di Jakarta Barat sudah rusuh. Dari kantor majalah kami aku juga mendapat pesan senada. Kata orang kantor, sejumlah stasiun radio yang mereka monitor menginformasikan hal itu.

Acara perkabungan berakhir. Jenazah dibawa pergi oleh ambulans ke makam masing-masing. Kuputuskan untuk kembali ke kantor. 

Isu berbiak sporadis. Setiba di kantor,   di Jl. Proklamasi (kelak menjadi markas Tempo setelah majalah itu boleh terbit lagi), kami berupaya mengkonfirmasinya. Ternyata semua isapan jempol belaka. Provokator rupanya sudah memanfaatkan pelbagai saluran informasi.

Selepas maghrib-lah  prahara mulai melanda beberapa titik di Ibukota. Penjarahan dan pembakaran berlangsung, sasarannya properti Tionghoa. Kami mengirimkan reporter tulis dan fotografer ke sejumlah lokasi. Sepanjang malam sejumlah stasiun radio terus-menerus mewarta hal yang serba menyeramkan; sebagian informasi itu adalah apa yang kini kita kenal sebagai hoax.

Esoknya, 14 Mei, Jakarta benar-benar lumpuh akibat ulah perusuh. Pembiaran terjadi; aparat keamanan entah ke mana.

Di sepanjang lintasan Cawang-Senen di tanggal 14 ini aku dan Rin [wartawan The Wall Street Journal] menyaksikan bagaimana kerusuhan direbakkan. Selalu ada provokator yang mengarahkan massa agar menjarah dan merusak. Potongan orangnya dan modus operandi-nya  sama dengan yang di depan kampus Trisakti itu. Merekalah yang memulai sweeping  orang Tionghoa.

Di  fly-over  Cawang, misalnya, kami melihat mobil-mobil dihentikan. Pelakunya mencari orang bermata sipit. Kalau sasaran ditemukan orang malang itu akan mereka seret-seret, baik yang laki-laki maupun perempuan. Di saat yang sama kendaraannya mereka rusak dengan menabrakkannya ke sisi kiri-kanan jalan. Mencontoh, massa pun melakukan hal serupa. Histeria meraja.  Sungguh kegilaan yang mengerikan!

Menyaksikan anarkhisme berbalutkan rasisme itu jiwaku sangatlah meronta. Tapi di saat yang sama aku sadar tak bakal kuasa melakukan hal kecil apa pun untuk mencegah massa yang sudah menggila.  Di tengah histeria massa itu wajah orang-orang Tionghoa yang kuhormati muncul di kepalaku: Soe Hok Gie, Yap Thiam Hien, Arief Budiman, Ariel Heryanto,  Ong Hok Ham, Melly G. Tan, Rudy Hartono, Liem Swie King, Ivana Lie, Lukman Setiawan [bosku dulu di koran Bisnis Indonesia], Kwik Kian Gie, Surya Chandra.... Pula konco-koncoku di Aliansi Jurnalis Independen (AJI)—para  fighter yang sangat mencintai Indonesia: Stanley Adi Prasetyo (kini Ketua Dewan Pers), Ignatius Haryanto, Andreas Harsono, Lenah Susanti...

Massa kian menyemut Di fly-over Cawang dan di bawahnya. Keadaan sungguh sudah kacau. Mendadak terdengar deru sejumlah kendaraan berat. Lantas, suara tembakan memecah beberapa menit. Massa blingsatan menyelamatkan diri.

Saat itu aku dan Rin berada di bawah fly-over. Melihat tentara berdatangan sembari menembaki secara sporadis, kami, seperti halnya orang banyak, merapat dengan pasrah ke dinding seng di kiri jalan menuju simpang Jl. Dewi Sartika. Kami berdua ketakutan dan gemetaran; hanya bisa berpasrah pada nasib.

Suasana sontak menjadi hening. Selang sekitar 2 menit seorang berbicara menggunakan toa. Aku menoleh. Komandan tentara itu rupanya. Ia dikawal pasukan berposisi siap tembak dengan senapan laras panjang. Di belakang mereka tampak barisan serdadu dan deretan truk perangnya. Komandan itu memerintahkan agar massa segera bubar. “Kalau masih ada yang mengacau akan kami tembak di tempat!” tegas dia.

Lekas saja massa yang menyemut dan menggila itu cair. Semua turut perintah.

Korban berjatuhan (foto: Cinakawkaw)

Aku dan Rin melangkah gontai ke arah  simpang Jl. Dewi Sartika. Keningku berpeluh dingin. Aku merasa rohku kembali lagi setelah beberapa menit terbang.

Ke Kampung Melayu kami menuju. Kendaraan sama sekali sudah bersih dari jalanan.  Toko mebel, bengkel,  kios, atau warung di sepanjang Jl. Otto Iskandardinata (Otista) tak satu pun yang berbuka. Tulisan ‘milik Muslim’ atau ‘pribumi’ tertera di beberapa bangunan. Tak seperti biasanya, lengang betul kawasan ini. Kota mati, itulah sebutan yang tepat untuk menyimpulkan potret  suasana. Di luar pagar SD Katolik Santo Vincentius tersaji air minum. Di atas meja kecil bertaplak ada kendi berisi air bening serta setumpuk gelas plastik   baru. Air minum itu untuk siapa saja pelintas yang dahaga. Tampaknya belum ada yang menenggak air kendi.

Di kitaran terminal Kampung Melayu suasana begitu kontras. Keadaan sedang kacau betul. Konsentrasi massa ada di beberapa tititk.

Kami berdua menyaksikan aksi penjarahan dan pembakaran. Sebuah toko elpiji di samping terminal termasuk yang mereka sasar. Massa menyemut di sana untuk menonton. Setiap tabung elpiji meledak akan terdengar dentuman keras. Tak lama berselang di udara akan terlihat lidah api yang membubung laksana menjilat langit. Warnanya kombinasi biru-hijau merah. Saban dentuman memecah massa akan berteriak, bertepuk, dan berjingkrak kegirangan. Seperti menonton pesta kembang api di akhir tahun saja lagak-laku mereka. Beberapa orang bahkan berpelukan macam pemain Teletabis.

Di beberapa tempat berlangsung penjarahan. Para provokator sibuk menggiring massa untuk mengambili apa saja dari dalam toko atau kios. Mereka selalu mencontohkan lebih dahulu bagaimana caranya.

Penjarahan

Walaupun dijaga marinir, toko buku Gramedia Matraman, tak luput dari serbuan perusuh. Di luar gerbangnya kami melihat dua jenazah yang ditutupi dengan koran. Aku tergetar. Di antara semua Gramedia yang ada di muka bumi, yang di Matraman inilah favoritku. Sejak aku tinggal di Jakarta, 1989, acap betul aku ke sana. Tujuannya? Ya berburu bacaan, termasuk terbitan lawas.

Perkantoran menjadi sasaran (foto: Tionghoainfo)

Menyaksikan bangunan ini dirusak—kendati tak begitu parah—hatiku pun miris.  Tapi, nanti,  aku jauh lebih terpukul melihat Slipi Plaza musnah di tangan para penjarah. Aksi itu merenggut puluhan nyawa.  Bagaimana aku tidak masygul? Selama beberapa tahun bekerja di  Bisnis Indonesia  ke sanalah aku saban hari melonggarkan pikiran. Toko buku Grafiti (milik kelompok Tempo) yang di  basement sungguh aku suka. Sulit kubayangkan di gedung yang tak seberapa besar ini bisa terpanggang puluhan orang.

Sederetan dengan Gramedia Matraman, gerai Fuji Film di Jl. Matraman Raya juga diamuk massa. Di jalan raya di depannya, beberapa orang tewas terkapar.

Petang sudah lampau. Kami berdua berlabuh di kantor D&R di  Jl. Proklamasi.  Di sana aku dan kawan-kawan membahas perkembangan situasi. Aku bertugas di desk politik; wajar kalau sepanjang prahara aku harus intens berkoordinasi dengan para reporter termasuk dari desk lain.  

Selepas maghrib 14 Mei 1998 aku dan beberapa anak D&R  bergerak dari kantor ke Glodok, Kota. Kijang tua milik kantor yang kami naiki. Rin ikut serta.

Sejak dari Harmoni barikade kawat berduri menghempang di jalan. Kalau ada barikade pasti ada pos penjagaan. Petugasnya berposisi siap tempur. Pos yang satu dan yang lain tidak sama satuan penjaganya. Pos pertama misalnya Kostrad, kedua Marinir, ketiga Paskhas, keempat Brimob....Begitu selalu. Akibatnya kami harus melapor dan diperiksa di setiap pos. Pula harus dipandu dalam perjalanan. Artinya,  tulisan besar ‘Pers’ yang kami lengketkan di kaca depan mobil tidak cukup mujarab.

Kami menyaksikan Glodok yang menjelang hangus total. Nyala api terlihat di banyak bangunan. Di sepanjang jalan kami kerap bersua dengan  orang-orang yang pulang dengan hasil jarahan. Kaum miskin kota, umumnya  mereka.

Sepasang orang dewasa, menapak berbaris dengan seorang perempuan remaja, seorang bocah lelaki,  dan dua kanak-kanak perempuan.Tampaknya mereka satu keluarga. Bawaan mereka benda-benda berat yang nilai rupiahnya  rendah. Karpet besar, meja dan kursi  plastik, serta tangga aluminium,  itu antara lain yang mereka gotong.

Titik api di banyak tempat (foto: Jakartadaily)

Aku sempat berpikiran: betapa naifnya  mereka. Kalau menjarah mengapa tidak sekalian yang mahal tapi enteng?  Kamera, TV, komputer, kompor gas, pisau lipat buatan Swiss (Swiss Army), atau  beberapa kotak pulpen Parker dan Mont Blanc, misalnya? Toh risikonya sama saja. Tapi segera pula aku menjawab sendiri di dalam hati: sebelumnya kapan pula orang seperti mereka berkesempatan masuk mal sehingga bisa membedakan mana barang mahal mana yang tidak?  Wajar saja kalau mereka beranggapan bahwa kian besar barang ya makin mahal.

Sekeluar dari Glodok yakinlah aku sepenuhnya bahwa Jakarta telah luluh lantak hanya dalam 2 hari. Kabar terjadinya perkosaan di sejumlah tempat, belum sempat kuverifikasi. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi di Ibukota?

Kuingat sepak-terjang perusuh sejak pagi hari perkabungan di kampus Trisakti. Mereka giat menggalang massa dengan pelbagai cara dan mengarahkannya untuk merusuh dan menjarah. Jelas mereka serba terlatih dan bekerja sangat sistematis.  Pasti mereka bukan  sembarangan orang. Aku yakin mereka sedang menjalankan skenario besar untuk melumpuhkan Jakarta. Amuk massa mereka ciptakan demi sebuah tujuan utama yang entah apa itu.

(P. Hasudungan Sirait\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Berita Terkait

Penyaksi 600-an Mayat Gosong di RSCM

Komentar