Sisi Lain Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa (2)

Minggu, 24 Juni 2018 20:21 WIB
Sisi Lain Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa (2)

Penghuni Panti Al-Fajar Berseri Ujang Dadang Darmadi (law-justice.co/rimba)

Ujang Dadang Darmadi (45 tahun) sedang duduk belunjur menghadap layar televisi 17 inchi, Kamis (21/6). Raut wajahnya tampak termenung kosong. Ia bukan sedang menonton siaran televisi. Sebab, siang itu kondisi televisi dalam keadaan mati. Lelaki paruh baya itu hanya bercermin memandangi raut wajahnya pada layar kaca televisi.

Baca juga : Puskesmas Cilandak Jaksel Ciptakan Inovasi e-Jiwa

Pria yang akrab disapa Ujang itu merupakan salah satu penghuni panti rehabilitasi disabilitas mental, bernama yayasan Al-Fajar Berseri. Yayasan swasta ini berdiri di tengah permukiman penduduk yang beralamat di Kampung Pulo Poncol, RT 04, RW 37, Desa Sumber Jaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Ujang sudah lima tahun menghuni panti rehabilitasi tersebut. Berdasarkan catatan yayasan Al-Fajar Berseri, kisah Dadang bermula ketika menjadi korban penipuan bisnis beras pada 2012. Dulunya, ia merupakan seorang tuan tanah yang bergerak dalam dunia pertanian padi di kecamatan Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat.

Baca juga : Kusir Delman Pendiri Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa (I)

“Kalau nama lengkap saya Ujang Dadang Darmadi. Tapi ada juga manggil saya Ujang Dadang Iskandar. Malah ada juga yang manggil Ujang saja. Saya jadi bingung sebenarnya nama asli saya yang mana,” ujar lelaki kelahiran Majalengka, 6 April 1971 itu kepada law-justice.co, Kamis (21/6).

Bisnis jual beli beras dan penggilingan padi mengantarkan Dadang hidup sebagai orang berkecukupan. Ia pernah ibadah umrah bersama keluarganya ke tanah suci Mekah, Saudi Arabia.

Baca juga : Gangguan Jiwa Dipasung

Namun akibat salah dalam bersepekulasi dan terkena tipu, Dadang menjadi linglung. Ia mengalami stres. Keluarga Dadang yang kewalahan mengurusnya, akhirnya memutuskan menitipkan Ujang di yayasan Al-Fajar Berseri.

“Ini saya kepingin mudik pulang ke Majalengka. Tapi katanya di sana situasi sedang gawat, tidak kondusif,” kata Dadang.

Sebenarnya tingkat kestresan yang dialami Dadang tergolong ringan. Dadang mendapat keleluasaan beraktifitas di dalam yayasan Al-Fajar Berseri. Ia bukan pasien yang harus dikurung dalam sel rehabilitasi atau dipasung menggunakan rantai.

Pengurus yayasan menyatakan Dadang tidak membahayakan orang lain jika dikembalikan ke tengah masyarakat. Oleh karenanya, pada tahun 2016 Dadang dikembalikan pada keluarganya di Majalengka, Jawa Barat. 

Namun akibat perilaku diskriminatif dari masyarakat dan keluarga, Dadang kemudian memilih kembali dan tinggal di dalam yayasan karena krisis kepercayaan.

“Di sana (kampung halaman) mau ngapain. Lebih enak hidup di sini (dalam yayasan),” tutur Dadang.

Yayasan Al-Fajar Berseri merantai penyandang disabilitas mental yang akut untuk menghindari hal yang berbahaya bagi orang di sekelilingnya. Foto: Rimba

Hal yang sama juga dirasakan oleh Muhammad syaifullah. Pria berusia 21 tahun ini masuk ke Yayasan Al-Fajar Berseri pada tahun 2013. Ia dikirim oleh keluarganya karena mengalami stres berat.

Pria kelahiran Cirebon 17 September 1996 itu dulunya merupakan pendekar yang belajar ilmu kebatinan di Cirebon. Namun karena terlalu ambisius dalam mempelajari ilmu kebatinan, jiwanya menjadi goyah. Syaiful juga sering mengajak adu fisik dengan siapa saja yang ada di hadapannya.

Tingkat kesetresan yang dialami Syaifullah tergolong sedang. Oleh sebab itu pengurus Yayasan mengembalikan Syaifullah pada keluarganya di Cirebon. Namun karena tidak mendapat kepercayaan dari keluarga dan masyarakat di kampung halamannya, ia kembali ke yayasan.

Syaifullah mengaku betah hidup di dalam yayasan. Ia menemukan keluarga baru yang dapat menerima keberadaannya seutuhnya. “Jenuh dan nggak ada aktifitas di rumah. Kalau di sini (Yayasan Al-Fajar Berseri) jadi banyak kegiatan misalkan bantu-bantu nyapu, membangun rumah, dan mencuci piring. Di sini juga banyak teman,” ujarnya.

Pengurus Yayasan Al-Fajar Berseri, Marsan Susanto, 46, menjelaskan penghuni panti rehabilitasi memiliki latar belakang yang beragam. Para penghuni, kata Marsan, ada yang mengalami gamngguan jiwa karena urusan domestik rumah tangga. Faktor ini misalnya karena peristiwa putus cinta, perceraian, korban kekerasan seksual, faktor ekonomi, pengaruh obat-obatan terlarang, dan masih banyak sebagainya.

Menurut Marsan, orang yang mengalami gangguan jiwa bukan hanya diderita dari latar belakang keluarga orang yang berpendidikan rendah. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa pasien yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi dengan gelar sarjana.

Para penderita gangguan jiwa juga ada yang berprofesi sebagai guru sekolah, aparat negara, dan pegawai negeri sipil (PNS).  Beberapa di antara mereka ada juga yang fasih menguasai bahasa asing, seperti bahasa Inggris.

“Jadi salah apabila masyarakat itu memandang bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa selalu dari latarbelakang keluarga miskin dan berpendidikan rendah,” kata Marsan.

Dari latar belakang pasien yang beragam itu, pengurus yayasan Al-Fajar Berseri memberikan pendekatan pendampingan yang berbeda. Misalnya, dalam menangani pasien perempuan maka pendampingnya juga harus perempuan.

Hal itu agar pasien perempuan terjaga kesehatannya misalkan dalam masa menstruasi atau haid. Sebab mendampingi penyandang gangguan jiwa yang sedang mengalami haid tersebut memiliki kerumitan tersendiri. Pasien yang sering hidup di jalanan biasanya tidak terbiasa menggunakan pembalut.

Mereka kadang merasa risih, kemudian membuang pembalut itu. oleh karenanya, pengurus yayasan memiliki solusi bagi penyandang gangguan jiwa perempuan dengan cara memodifikasi pembalut wanita.

Cara tersebut yakni dengan menggunakan kain tebal yang mudah menyerap air. Cara ini pernah diterapkan sebelum adanya pembalut pabrikan. Agar pembalut tidak gampang lepas, maka diikat dengan tali raffia dengan cara seperti ikat pinggang.

“Nah perihal haid ini awalnya cukup merepotkan. Banyak pasien yang tidak nyaman dengan pembalut pabrikan, begitu pakai langsung dilepas lagi. Sampai kadang darah haidnya berceceran di lantai-lantai,” ujarnya.

Begitu halnya dalam mencuci pakaian sehari-hari. Pada mulanya Marsan mencuci semua pakaian kotor milik pasien. Namun seiring jumlah pasien yang banyak, maka ia mencoba mengajak pasien penyandang gangguan jiwa yang hampir sembuh untuk ikut membantu.

Mendayagunakan pasien, kata Marsan, juga merupakan bentuk terapi alami agar seseorang merasa memiliki tanggung jawab. Ia juga memberikan kesibukan kepada para pasiennya melakukan kegiatan sehari-hari seperti menyapu halaman, membantu keamanan, memasak di dapur, dan ikut membantu distribusi makanan kepada pasien lain.

Meski demikian, Marsan mengakui bahwa pelayanannya masih jauh dari sempurna. Beberapa pasien bahkan ada yang meninggal di dalam tempat rehabilitasi. Dalam kurun tahu 2018 ini saja sudah ada 17 orang pasien yang meninggal. Rinciannya pada Januari sebanyak 4 orang, Februari 6 orang, Maret 3 orang, April 3 orang, dan Mei 1 orang.

Menurut Marsan, sebagian dari mereka meninggal karena mengalami sakit kronis dan faktor usia. Beberapa pasien bahkan ada yang diantar keluarganya dalam kondisi sakit dan sudah lanjut usia.

“Nah saya ini kalau ada pasien yang sakit kronis ikut sedih juga. Soalnya kalau saya bahwa ke Puskesmas juga akan ditolak. Makanya anak saya sekolah di ilmu perawatan dan kebidanan agar mengentaskan maslah ini,” ujar Marsan.

Para pasien yang meninggal tersebut kemudian dikembalikan kepada pihak keluarga. Namun apabila pihak keluarga enggan mengurus jenazah, maka yayasan Al-Fajar Berseri menguburkan di tempat pemakaman umum sekitar.

Rencananya, marsan akan membeli tanah kosong khusus untuk dijadikan tempat pemakaman penyandang gangguan jiwa. Hal itu lantaran pihaknya sering mendapat penolakan dari pihak pengelola makam jika hendak megubur jenazah pasiennya.

“Selain itu, ongkos pemakaman di TPU itu mahal. Satu jenazah bisa memakan biaya kurang lebih Rp. 1 juta,” ujarnya.

Walaupun demikian, yayasan Al-Fajar Berseri juga terbukti mampu menyembuhkan pasien hingga kembali pulang kepada keluarga masing-masing. Berdasarkan catatan pengurus, ada sebanyak 48 orang pasien yang berhasil disembuhkan dan pulang kepada keluarga sejak Januari sampai Juni 2018.

Namun, banyak juga pasien yang telah disembuhkan memilih tetap tinggal di  Yayasan Al-Fajar Berseri. Ada banyak faktor penyebabnya, misalnya mereka tidak mengingat identitas dirinya, mereka bingung bagaimana harus memulai kehidupan baru, dan mereka tidak mendapat kepercayaan dari masyarakat untuk kembali membaur.

“Makanya saya sekarang sedang merintis usaha ternak kambing dan pembesaran kambing. Ini nanti yang ngurus biar mantan pasien yang sudah sembuh tapi tidak diterima oleh keluarganya kembali,” ujarnya.

Atas dedikasinya tersebut, Marsan dianugrahi award oleh salah satu televisi swasta Indoneisa pada maret 2018. Ia mendapat gelar sebagai Kick Andy Hero 2018.

(Hartanto Ardi Saputra\Sasmito Madrim)
Share:


Berita Terkait

Puskesmas Cilandak Jaksel Ciptakan Inovasi e-Jiwa

Kusir Delman Pendiri Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa (I)

Gangguan Jiwa Dipasung

Komentar