Saat Mahasiswa Bangkit, Kemana Arah Pendulum Aksi Demo Kali Ini..

Jumat, 14 September 2018 17:26 WIB
Saat Mahasiswa Bangkit, Kemana Arah Pendulum Aksi Demo Kali Ini..

Demo Mahasiswa Menuntut Presiden Jokowi Turun Dari Kekuasaannya (Ist)

Setelah dianggap “terlelap” cukup lama, akhirnya aksi mahasiswa Indonesia kembali menunjukkan jati dirinya. Mereka mulai bergerak menunjukkan eksistensinya sebagai generasi muda yang menjadi pengontrol jalannya pemerintahan yang dianggap telah melenceng dari rel yang seharusnya. Pergerakan mahasiswa belakangan ini dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sempat menyentuh angka Rp 15.000.

Baca juga : Blunder dan Metamorfosis Politik Kyai Ma'ruf Amin

Puluhan ribu mahasiswa Universitas Islam Riau, Universitas Lampung dan dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Sumatera Selatan turun ke jalan dan menduduki gedung DPRD Provinsi setempat. Mereka menggelar demo dengan membagikan selebaran protes keras terhadap pemerintah, mulai Kamis (6/9) sampai Jumat ini (14/9). Aksi terakhir terjadi Jumat (14/9) di depan Istana Negara, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus Jabotabek berdemo menuntut mundur Presiden Jokowi.

Aktivis mahasiswa  mengatakan, anjloknya nilai tukar rupiah akan membuat harga kebutuhan pokok di berbagai wilayah tanah air menjadi tak terbendung. Terlebih lagi bahan baku impor yang menggunakan dollar sebagai nilai tukar akan naik, berimbas kepada inflasi terhadap negara. Seperti halnya bahan baku pembuatan BBM dan juga produk pangan seperti tempe, bahan pokok, dll.

Baca juga : Indonesia Dorong AS Selesaikan Krisis Rohingya

Aksi mahasiswa Unsri Palembang diikuti oleh Sejumlah mahasiswa dari perbagai perguruan tinggi  yang tergabung dalam Alian  Badan Eksekutif Mahasiswa se-Sumatera Barat (BEM-SB) menggelar unjuk rasa  bertajuk 'Aksi Cinta Rupiah' . Mereka mendesak keseriusan pemerintah menyelamatkan nilai rupiah yang semaki terpuruk.Mereka memulai aksi demo ke gedung DPRD Sumbar sekitar  pukul 10.00 WIB, Senin (10/9/2018). 

Ternyata aksi serupa juga terjadi diberbagai wilayah lain di Indonesia diantaranya di Pulau Sulawesi dan beberapa perguruan tinggi di Pulau Jawa. Yang paling fenomenal adalah aksi ribuan mahasiswa dari Universitas Islam Riau (UIR), yang melakukan aksi demonstrasi di DPRD Riau, Senin (10/9) sore. Tak hanya aksi di depan gedung, massa aksi juga meringsek masuk ke dalam gedung. Bahkan, mereka juga menggelar sidang rakyat di ruang rapat paripurna DPRD Riau.

Baca juga : Akademisi Minta Publik Pertanyakan Program Capres-Cawapres

Dalam sidang rakyat itu, massa menilai Presiden Joko Widodo telah gagal dalam kepemimpinannya.“Sudah dua puluh tahun reformasi dan rakyat belum sejahtera. Jelas rezim ini sungguh sangat memprihatikan. Kami sebagai mahasiswa menilai setelah dua puluh tahun, demokrasi dalam kepemimpinan gagal yang sedang dibangun Jokowi,” kata Koordinator Lapangan, Guntur Yurfandi, Senin (10/9).

Mahasiswa Sebaga Agen Perubahan

Ketika mahasiswa sudah mulai turun kejalan, itu suatu tanda mereka sedang menjalankan perannya yaitu sebagai agen perubahan. Karena sudah sejak lama mahasiswa memang telah berperan sebagai agen penggerak perubahan itu.Mahasiswa selalu disebut-sebut sebagai pelopor perubahan, perubahan sistem, perubahan kehidupan yang berasal dari keterpurukan menuju kehidupan bangsa yang lebih baik.

Dalam hal ini, mahasiswa sudah menunjukkan perannya dalam Sumpah Pemuda, Proklamasi, Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi. Semua moment ini merupakan bukti kekuatan para pemuda Indonesia, yaitu mahasiswa sebagai tonggak perubahan kehidupan bangsa.

Perubahan disini maksudnya adalah suatu tindakan yang membawa suatu keadaan dari kondisi yang kurang baik menjadi kondisi yang lebih baik dan yang sudah baik menjadi lebih baik lagi. Pemikiran-pemikiran yang individualisme dari mahasiswa seharusnya dibuang dan beralih kepada pemikiran sosial dengan mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mahasiswa yang memiliki gejolak dan semangat luar biasa, harus berani mengungkapkan pendapatnya apabila tidak sesuai dengan apa yang mereka anggap benar. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan penguasa sepatutnya mahasiswa amati dan tidak acuh. Mahasiswa harus menjadi generasi yang cerdas dan tidak diam begitu saja ketika masyarakatnya bergeming. Mahasiswa harus berkontribusi untuk negeri ini disaat masyarakat tertindas.  Mahasiswa harus berada di garda terdepan dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. .

Mentalitas bangsa berada ditangan mahasiswa dimana mahasiswa sebagai golongan terpelajar pendorong terwujudnya peningkatan kualitas bangsa yang lebih baik. Seandainya mahasiswanya kurang tanggap  oleh suatu hal, mahasiswa akan tergerus oleh jaman dan dibodohi oleh kalangan elit saja. Pemikiran-pemikiran yang individualisme dari mahasiswa seharusnya dibuang dan beralih kepada pemikiran sosial dengan mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mahasiswa yang bertoleransi dan berjiwa sosial terhadap lingkungan sekitar dalam era globalisasi ini sangat dibutuhkan oleh bangsa ini. Sesuai falsafah hidup bangsa yaitu Pancasila sila ke 3 mahasiswa dituntut bersatu menjadi satu kesatuan dan tidak terpecah-pecah. Inilah cara ampuh mengatasi kekuasaan elit yang melakukan tindakan yang tidak mendengarkan aspirasi rakyat dan kebijakan yang melanggar undang-undang.

Jika mahasiswa bersatu sesuai sumpah pemuda kekuasaan elit akan takut, takut akan digulingkan!. Sebab dengan titik darah penghabisan dan cucuran keringat mahasiswa tanpa menyerah turun ke jalan untuk menyuarakan aksinya. Walaupun harus ada kekerasan seperti kerusuhan Mei 1998, mahasiswa menuntut adanya perubahan. Niscaya, kalau mahasiswa bersatu padu untuk negeri ini, mungkin negara ini akan bangkit dari keterpurukan.

Momentum Perubahan

Saat ini sesungguhnya banyak momentum yang bisa dimanfaatkan oleh  mahasiswa untuk menjalankan fungsi agent of change-nya ditengah isu isu strategis yang berkembang akhir akhir ini. Dibidang penegakan hukum dan korupsi misalnya, kinerja Pemerintah dinilai masih buruk. Indikasi gagalnya Pemerintah Jokowi-JK dalam menegakan hukum bisa dilihat dari belum terungkapnya kasus-kasus besar.

Seperti pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir, kasus Novel Baswedan, skandal bailout Bank Century, BLBI dan kasus-kasus besar lainnya. Masih banyak penegakan hukum yang belum selesai. Sementara itu semakin  banyaknya koruptor yang tertangkap menandakan bahwa korupsi masih marak.

Dibidang ekonomi selama 3,5 tahun pemerintahannya, dianggap gagal. Indikasinya, tidak ada satupun janji kampanye Jokowi-JK yang ditepati dibidang ekonomi. Mulai dari janji menolak utang dari luar negeri, sampai swasembada pangan. Yang terjadi justru sebaliknya utang luar negeri terus bertambah dan ketersediaan pangan di Indonesia dipasok impor.

Impor beras yang terjadi beberapa waktu terakhir ini cenderung semakin meningkat. Hal ini menjadi ironis ketika sebagian besar petani sedang melakukan panen raya, pemerintahan justru melakukan impor. Impor juga dilakukan bukan hanya beras tapi juga garam, jagung, kedelai, bahkan cangkul juga harus di impor.

Begitu juga dengan lapangan kerja yang dirasakan sulit didapati. Ditambah pula beredarnya isu banyaknya tenaga kerja asing, khususnya dari negara China, menambah panjang kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah Jokowi-JK. Kehidupan dirasakan masyarakat semakin sulit dengan naiknya harga berbagai macam komoditas. Ekonomi cenderung makin menurun dan pertumbuhan ekonomi tak pernah mencapai angka double digit seperti yang telah dijanjikan.

Kemiskinan tidak teratasi dengan optimal. Jumlah penduduk miskin pada September 2016 sebanyak 27,76 juta orang (10,70 persen), menurun 0,25 juta orang dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2016 yang sebesar 28,01 juta orang (10,86 persen). Ini merupakan pencapaian yang buruk. Dalam setahun pemerintah hanya mampu mengurangi kemiskinan 250 ribu orang.

Sementara APBN Indonesia mencapai 2000 triliun. Pengurangan kemiskinan jauh dibandingkan pertumbuhan jumlah penduduk dan angkatan kerja. Data terakhir menunjukkan angka kemiskinan makin turun tapi turunnya angka kemiskinan itu terjadi karena adanya perubahan indikator mereka yang masuk kategori miskin yaitu masyarakat yang berpenghasilan dibawah Rp. 13.000 per hari.

Di tengah kekayaan alam yang melimpah namun rakyatnya masih terluka dan sulit untuk mendapatkan sepeser uang, juga merupakan momentum mahasiswa sebagai agent of change  negeri ini. Bangsa ini tidak boleh dipandang oleh bangsa lain sebagai bangsa hina bahkan diinjak-injak harkat dan martabatnya oleh para penguasa.

Makanya mahasiswa harus bisa mewujudkan generasi yang lebih baik dan menjadi  negara yang beradab. Tugas perkembangan dan perubahan bangsa ditangan  mahasiswa di negeri ini. Jangan sampai peran mahasiswa sebagai agent of change itu digantikan oleh emak emak yang akhir akhir ini dipandang lebih tanggap memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Karena itu dengan mengkaji secara kritis berbagai ketimpangan yang saat ini terjadi, mahasiswa bisa segera bergerak untuk menjalankan misi agent of change-nya. Karena kalau ada berbagai ketimpangan menyeruak di depan mata lalu mahasiswa diam saja maka masyarakat akan bertanya-tanya; ada apa dengan gerakan mahasiswa kita?. Semoga saja mahasiswa segera bangkit dari tidur panjangnya pasca reformasi 1998 untuk mengisi perjuangan dan pengorbanan para mahasiswa pahlawan reformasi yang telah gugur mendahului kita pada gerakan reformasi 1998.

 

(Ali Mustofa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Blunder dan Metamorfosis Politik Kyai Ma'ruf Amin

Akademisi Minta Publik Pertanyakan Program Capres-Cawapres

Komentar