RPTRA: Dicintai Warga, Digusur Pemerintah

Jumat, 14 September 2018 15:25 WIB
RPTRA: Dicintai Warga, Digusur Pemerintah

Wahana bermain anak di RPTRA Biru Laut, Kelapa Gading, Jakarta Utara (foto: law-justice.co/ Teguh Vicky Andrew)

Anak-anak, boleh jadi masuk ke dalam kategori kaum “terpinggirkan” di negeri ini. Contohnya banyak, mudah dilihat di sekeliling kita. Dengarkanlah mereka menyanyikan lagu-lagu percintaan dengan begitu fasih, karena tidak ada lagi perusahaan rekaman yang mau memproduksi album anak. Kurang untung, mungkin begitu pikir para pebisnis itu.

Baca juga : Ruang Terbuka Hijau Hanya Komoditas Politik, Pemda DKI Tidak Punya Komitmen

Ruang terbuka atau tempat yang aman untuk mereka bermain juga sangat sedikit, dibanding 10,37 juta jiwa (data BPS 2017) jumlah penduduk Jakarta. Anak-anak bermain bola di tepi jalan raya, bukanlah pemandangan baru. Di jalan kasar yang tidak rata di area pemukiman hingga pinggiran pasar, mereka bermain sepatu roda, juga otoped.

Kadang mereka terlihat bergerombol di warung kelontong, mengerubungi telepon selular yang berisi berbagai macam permainan daring; idealnya anak-anak ini berada di ruang baca yang nyaman dan membaca buku-buku bermutu.

Baca juga : Pemkot Jakpus Resmikan RPTRA Satu-satunya di Senen

Namun, di tengah minimnya sarana tumbuh kembang anak yang representatif,  Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Gubernur Jakarta tahun 2017, mengeluarkan kebijakan yaitu memanfaatkan lahan dengan membangun Ruang Terbuka Ramah Anak (RPTRA).  Kehadiran RPTRA di tiap kelurahan di Jakarta, ibarat oase kecil yang menyejukkan. Fasilitas ini setidaknya mampu mengumpulkan anak-anak yang “berceceran” di jalan.

Law-justice.co belum lama ini berkunjung ke dua lokasi RPTRA yaitu Biru Laut di Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Taman Sawo di Cipete, Jakarta Selatan. Secara umum, dua lokasi ini termasuk yang terbaik, karena fasilitasnya masih terpelihara dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Baca juga : Devisit RPTRA, Jakarta Selatan Bangun 5 RPTRA Tahun Ini

RPTRA Biru Laut, Jakarta Utara

Memasuki RPTRA Biru Laut, suasana teduh langsung terasa. Barisan pohon rindang yang menjulang dan hamparan rumput yang terawat, tampak  mengitari ruang publik berbentuk persegi panjang itu. Beragam tanaman tumbuh dengan subur di dalam lahan seluas 1.750 meter persegi ini, yang berlokasi di kompleks Gedung Walikota Jakarta Utara.

Suasana asri taman, mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak untuk menghabiskan waktu di tempat ini. Sore itu, sekelompok anak sekolah dasar tampak melakukan pemanasan di lapangan yang terdapat di dalam RPTRA Biru Laut. Didampingi oleh seorang pelatih, mereka tampak antusias melakukan peregangan dan berlari-lari kecil mengitari lapangan.

Sementara itu, di sisi lain, puluhan anak melakoni beragam aktivitas yang berbeda. Ada yang bermain sepeda, berlari-lari,  atau sekadar berjalan-jalan di atas paving block. Beberapa anak yang lain memilih menekuni buku bacaan di sebuah perpustakaan kecil yang terdapat di dalam sebuah gedung di area RPTRA.

Ruang perpustakaan RPTRA Biru Laut (foto: law-justice.co/ Teguh Vicky Andrew)

Bangunan itu memiliki beragam fungsi. Ruang kerja pengelola letaknya bersebelahan dengan perpustakaan yang berisi buku-buku bacaan sumbangan suku dinas pemerintahan setempat, dan beberapa kedutaan negeri sahabat. Persis di depan kedua ruangan itu, terdapat semacam teras besar yang difungsikan sebagai pusat aktivitas warga seperti latihan tari untuk anak-anak dan senam pernafasan  bagi lansia.

RPTRA Biru Laut dibuka setiap hari dari pukul 6 pagi hingga pukul 10 malam. Namun, keramaian baru terlihat siang hari, pada jam sekolah usai, dan makin banyak yang datang menjelang sore.  Pada hari libur, antara Jumat hingga Minggu, para pengunjung dapat bertahan hingga larut malam, biasanya untuk bermain futsal.

“Kecuali hari Senin dan Kamis, tempat ini biasanya ramai. Tapi paling ramai Sabtu Minggu. Kebanyakan yang datang anak-anak SD, jarang anak SMP paling satu-dua. Biasanya kalau SMP itu biasanya yang bukan warga sini. Di sini, anak-anak bermain bola, membaca di perpustakaan, atau karena ada jadwal latihan tari mereka juga berlatih di tempat ini,” jelas Torang, seorang pengelola. 

Selain kegiatan anak-anak, orang dewasa juga diperbolehkan melakukan aktivitas di tempat ini seperti arisan warga hingga penyuluhan Keluarga Berencana (KB)

RPTRA Biru Laut  diresmikan pada 30 Oktober 2016. Sebelumnya, ruang publik ini adalah taman bermain tanpa bangunan. Adelis (75) seorang warga mengatakan, dulunya area Biru Laut minim penerangan sehingga kerap digunakan sebagai tempat untuk bertransaksi narkoba.

Setelah bersalin rupa menjadi, Adelis pun rajin mengikuti kegiatan di Biru Laut.  Ia menganggap kehadiran RPTRA ini sangat penting bagi anak-anak karena menyediakan fasilitas untuk bermain sepakbola, membaca di perpustakaan, ataupun berlatih menari.

Teras untuk melakukan berbagai kegiatan di RPTRA Biru Laut (foto: law-justice.co/ Teguh Vicky Andrew)

Sebagai pengurus, Torang juga melihat dampak positif kehadiran PRTRA bagi anak-anak. Dengan beraktivas di ruang publik, anak-anak dapat melakukan beragam kegiatan di luar ruangan. Mereka dapat berinteraksi dengan warga lain dan tidak terjebak pada permainan digital di gawai yang kini merebak di masyarakat.  Selain itu, aktivitas mereka juga dapat dipantau oleh para pengelola sehingga risiko perundungan yang kerap terjadi di ruang publik dapat diminimalisir.

Meskipun demikian, Torang mengatakan masih terdapat kekurangan dalam RPTRA Biru Laut ini. Salah satunya penerangan yang minim pada malam hari, sehingga kegiatan tidak bisa dilakukan maksimal, terutama di area lapangan futsal.

Selain itu, perawatan tanaman yang ada di kawasan ini juga terkendala alat. Torang mengaku ia terpaksa  merogoh kocek pribadi untuk membeli alat penyiram  air otomatis yang difungsikan sehari dua kali.

Di samping melakukan perawatan, pengelola ternyata juga melakukan pencatatan administrasi, mengatur jadwal, melayani dan mengawasi aktivitas warga, hingga membuat laporan kepada pihak kelurahan. Itulah sebabnya mereka kerap kali  harus meminta pertolongan PPSU yang sejatinya hanya bertanggungjawab pada kekbersihan di luar RPTRA ini.

Saat ini terdapat enam staf pengelola RPTRA  Biru Laut. Mereka dibagi dalam dua kelompok berdasarkan dua waktu giliran kerja, mulai pukul 6 pagi hingga 2 siang dan dari pukul 2 siang hingga 10 malam. Masing-masing staf pengelola ini bekerja selama 8 jam dan mendapat jatah libur selama satu hari dalam sepekan. Pengaturan jadwal, dilakukan oleh koordinator pengelola RPTRA setiap satu bulan sekali.

RPTRA Taman Sawo, Jakarta Selatan

Lokasinya berada di jalan Damai Raya, Cipete Utara, Jakarta Selatan. RPTRA Taman Sawo ini fasilitasnya boleh dibilang lengkap, dari perpustakaan berpendingin yang memiliki koleksi sekitar 4000 buku, ruang serbaguna, masjid, wastafel untuk mencuci tangan, hingga jalur refleksologi untuk para lansia.  Selain itu, ibu-ibu PKK sekitar juga memanfaatkan fasilitas ini untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti membuat kerajinan tangan dan masak-memasak; yang hasilnya dijual di koperasi yang ada di RPTRA ini.

Rahma Saridjo (42) anggota PKK Cipete Utara, Kebayoran Baru, dengan hasil kerajinan tangan ondel-ondel dari sampah daur ulang yang dibuat di RPTRA Taman Sawo (foto: law-justice.co/ Hartanto Ardi Saputra)

Rata-rata pengunjung yang datang seharinya berkisar 700 orang. Di akhir pekan jumlahnya berlipat, bisa mencapai 2000 orang. Banyaknya kegiatan yang diadakan di Taman Sawo menjadi daya tarik masyarakat untuk berkunjung. Juga fasilitas olahraga yang mumpuni, mampu menyedot anak-anak muda maupun orangtua untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.

Warga yang aktif, juga memberikan prestasi di berbagai ajang perlombaan baik tingkat kota adminitrasi Jakarta Selatan dan Provinsi DKI Jakarta. Sejak RPTRA Taman Sawo berdiri pada 31 MEI 2016, sudah memiliki 18 piala. Diantaranya, dari juara Senam Lansia yang sudah dua tahun ini berturut-turut mendapat peringkat dua di tingkat Provinsi DKI Jakarta,  dan juara Perpustakan RPTRA terbaik Jakarta Selatan.

Mohamad Yonan, Lurah Cipete Utara sekaligus pembina RPTRA Cipete Utara, mengatakan, Taman Sawo dalam pengelolaannya juga berkerja sama dengan berbagai pihak. Diantaranya dengan pengurus Bank Sampah yang mengajarkan pengunjung untuk mendaur ulang sampah agar bisa dimanfaatkan di RPTRA. Misalnya membuat pot dari ban bekas.

Mohamad Yonan, Lurah Cipete Utara dan pembina RPTRA Cipete Utara (foto: law-justice.co/ Hartanto Ardi Saputra)

Karena kegiatan ini, Taman Sawo beberapa kali didatangi pejabat dan tamu luar negeri, seperti wakil walikota Tokyo, pemerintah kota Guangzhou, jurnalis dari  New Delhi, India. Di mata asing, RPTRA dianggap bagus karena bisa menjadi pusat berbagai kegiatan masyarakat. Bahkan pengurus RPTRA ada yang merangkap sebagai guru les pelajaran bagi anak-anak dan itu semua itu diberikan gratis. Konseling keluarga pun bisa dilakukan di sini. Bagi Yonan, keberadaan RPTRA sangat penting bagi masyarakat terutama yang berada di pemukiman padat.

Pengurus RPTRA itu digaji sesuai UMP menggunakan APBD yang dialokasikan melalui kelurahan. Namun, untuk biaya renovasi dan pemeliharaan, dananya sangat minim.  Akibatnya, pengurus harus mencari dana dari pihak ketiga. Beruntung BPJS Ketenagakerjaan Kecamatan Kebayoran Baru, bersedia menggelontorkan dana sekitar Rp85 juta untuk biaya perawatan RPTRA. Menurut Yonan, kerjasama tersebut sudah di konsultasikan dengan pimpinan yaitu Suku Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Jakarta Selatan.

Dibanding RPTRA lain, Taman Sawo memiliki keistimewaan sendiri. RPTRA ini memiliki apotik hidup yaitu lahan yang ditanami berbagai tanaman mulai dari sirih, jahe, jinten, andelem, dan pecah beling. Masyarakat bebas mengambil tanaman di apotik hidup ini.

Untuk menyediakan benih tanaman, Taman Sawo menjalin kerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Selatan. Di lahan apotik hidup ini, pengelola juga menanam cabai, kangkung, bayem, kucai, sawo, mangga, dan pepaya.

Keistimewaan lain dari RPTRA ini, adanya kolam gizi seluas empat meter dan kedalaman air sekitar dua meter. Di dalamnya ditebar benih ikan seperti nila, lele, dan gurami. Hasil dari kolam gizi dan apotik hidup tersebut selain bisa dikosumsi oleh masyarakat sekitar, juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan Posyandu yang ada di sana.

Dahlia, salah seorang pengurus mengatakan, dulunya Taman Sawo jarang dikunjungi orang. “Untuk dapat 70 pengunjung sehari saja, susah banget,” katanya. Namun sejak pengelola melakukan berbagai usaha, seperti apotik hidup dan kolam gizi, memberdayakan ibu-ibu PKK, menggerakkan koperasi, memperbanyak kegiatan olahraga, masyarakat pun mulai melirik RPTRA ini, dan mulai datang berkunjung.

Endang Rahayu (55) tengah asik melakukan olahraga voli di lapangan RPTRA Taman Sawo, sore itu. Ia bersama belasan ibu-ibu RW 02 Kelurahan Cipete Utara rutin berlatih voli  seminggu dua kali.

Ia mengatakan, pada awalnya warga Cipete Utara jarang yang melakukan olahraga di RPTRA  Taman Sawo. Keadaan tersebut berubah saat pihak kelurahan melakukan pengembangan sarana olahraga. Lapangan berukuran 9 x 7 meter tersebut diubah menjadi lapangan multi fungsi bisa digunakan olahraga bulu tangkis, voli, futsal, senam, dan basket. “Dulunya sepi di sini, tapi sekarang kami malah harus berbagi jadwal dengan kelompok lain. Pengennya sih tiap sore bisa voli di sini,” ujarnya.

Meskipun RPTRA banyak memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama generasi muda, namun keberadaannya sebentar lagi hanya tinggal sejarah. Ganti gubernur, ganti kebijakan.

Meli Budiastuti, Plt Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman DKI Jakarta mengatakan, pembangunan RPTRA akan dihentikan pada 2019. Anies Baswedan, Gubernur DKI saat ini, akan menggantinya dengan Taman Maju Bersama, meskipun hingga kini masih belum jelas konsepnya. "Nanti dicek dulu ya.. Jumlahnya puluhan? Iya," jawab Anies saat ditanya mengenai perkembangan taman yang digagasnya itu.  

Reporter: Teguh Vicky Andrew, Hartanto Ardi Saputra, Januardi Husin 

(Tim Liputan Investigasi\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar