Polemik GOR Bulungan, Ini Penjelasan Panglima Laskaru

Rabu, 13 Juni 2018 23:17 WIB
Polemik GOR Bulungan, Ini Penjelasan Panglima Laskaru

Rezza Shidqi (Baju Batik) urun rembuk bersama aktivis bulungan, di GOR Bulungan, Jakarta, Selatan. Foto: law-justice.co/Dodo

Panglima Laskar Krukut Luhur (Laskaru) Rezza Shidqi hadir mewakili Pembina Utama Laskaru, Sandiaga Uno, terkait polemik perombakan GOR Bulungan, Jakarta Selatan.

Baca juga : Jokowi: Asian Games Beri Energi Perjuangan Palestina

Sebagaimana dimuat dalam berita law-justice.co sebelumnya, para aktivis bulungan menolak keras rencana Pemprov DKI yang akan menutup ruang terbuka atlit menjadi tempat kuliner.

Dalam berita tersebut para aktivis menyampaikan bahwa rencana itu adalah perintah langsung Sandiaga UNO, informasi itu berdasarkan ucapan Kepala Gelanggang Remaja, Jakarta Selatan, dalam sebuah pertemuan dengan sejumlah aktivis.

Baca juga : Amnesty Internasional: 77 Orang Tewas Ditembak Jelang Asian Games

Panglima Organisasi Laskaru yang dibina langsung oleh Sandiaga itu, pada Rabu (13/6) malam menjumpai para aktivis dan urun rembuk mencari solusi perombakan GOR yang tetap mengedepankan kelestarian lingkungan hidup.

Usai pertemuan tersebut, law-justice.co melakukan wawancara langsung dengan Rezza Shidqi, terkait polemik yang menyebut-nyebut nama Sandiaga Uno itu.

Baca juga : Di Hari Kedua Asian Games, Indonesia Hadapi Hongkong di Cabang Sepak Bola

Berikut ini petikan wawancara law-justice.co yang selanjutnya disingkat LJ, dengan Rezza Shidqi.   

LJ: Apakah benar merubah ruang terbuka atlit menjadi ruang bisnis adalah perintah langsung Wagub Sandiaga Uno?

Rezza: Dari apa yang sudah saya jajaki bersama dengan Pak Wagub terkait lingkungan hidup, salah satunya soal perombakan-perombakan GOR itu harus mengedepankan ke arifan lokal.

Kearifan lokal disini yakni, harus betul betul mengajak komunikasi, tidak saja para pelaku UKM, tetapi juga masyarakat, yang kaitannya dengan menempatkan lingkungan hidup sebagai alas dasar pembangunan.

Jadi Wagub menurut saya, tidak akan pernah memerintahkan kepada jajarannya untuk mengeksekusi tanpa melibatan masyarakat secara langsung.
 
Jadi perlu ditegaskan lagi kepada para SKPD pelaku kuasa anggaran maupun kuasa pelaksanaan, harus betul-betul bersinergi dengan masyarakat, jadi nggak ada lagi moment-moment nasional ini dijadikan moment kepentingan pemprov sendiri, padahal ini sebenarnya untuk kepentingan masyarakat.

Jadi tidak tepat jika Pak Wagub dibilang mengatakan seperti itu, saya yakin itu bukan perintah Pak Wagub.

LJ: Apakah ada rencana untuk mengkonfrontir pernyataan Kepala Gelanggang?

Rezza: Saya rasa menjadi penting untuk mengkonfrontir pernyataan kepala Gelanggang bulungan, karena itu merugikan nama baik Pak Wagub, karena selama ini belum pernah saya rasa Pak Wagub kasih perintah seperti itu, apalagi terkait lingkungan.

Sebelum saya menemui kawan-kawan aktivis malam ini, saya telusuri informasi dilapangan, sepertinya memang kepala gelanggang selalu mengatasnamakan perintah Pak Wagub,  padahal Wagub sangat konsen untuk menjaga kelestarian budaya dan lingkungan hidup, kan Pak Wagub juga jelas menolak reklamasi, ini juga harus dibuktikan kepada masyarakat bahwa pak wagub juga punya konsep yang bagus, untuk bagaimana mengelola gelanggang olahraga, apalagi ruang terbuka hijau.

Dan kita sama-sama tahu, bahwa pemerintah DKI saat ini masih punya banyak hutang untuk areal terbuka hijau, sekitar 20 persen, jadi ngga mungkin dia perintahkan menghilangkan areal terbuka hijau itu.

LJ: Bagaimana soal dugaan pencatutan nama Sandiaga Uno?

Rezza: Terkait pencatutan nama, saya rasa ini harus dikasih peringatan yang tegas dari pimpinan kepada jajarannya, agar tidak lagi terbangun opini-opini yang jelek terhadap pimpinan kita di Pemprov DKI dan menyudutkan.

Karena pak wagub sendiri sudah menjaga nama baik pemprov DKI sedemikian rupa jangan sampai dirusak oleh oknum-oknum pemerintah, oknum-oknum SKPD, yang hanya mementingkan kepentingan pribadi.

LJ: Sejauh mana perkembangan pertemuan yang dilakukan dengan perwakilan Aktivis Bulungan.

Rezza: Saya rasa konsep kawan-kawan aktivis bulungan, baik itu pelaku UKM maupun Aktivis lingkungan hidup sudah sangat bagus, mereka sangat terbuka sekali untuk memberikan ruang negosiasi terkait pelestarian lingkungan hidup itu sendiri.

Kita sama-sama tahu Laskaru dan Pemprov DKI baru saja mendeklarasikan program naturalisasi, nah konsep yang ditawarkan kawan-kawan aktivis bulungan itu sama dengan program naturalisasi, yakni yang ada dipertahankan yang tidak ada dibuat.

Lebih keren lagi, para aktivis juga setuju kok masukan-masukan dari pemerintah terkait ruang terbuka Hijau, termasuk juga soal penataan, mereka juga setuu untuk di tata pengelolaannya, buat saya ini sinergi yang sangat bagus antara Pemprov DKI dengan masyarakatnya dan juga pelaku usaha.

LJ: Apakah proyek perombakan itu akan dilanjutkan?

Rezza: Terkait eksekusi perombakan ini harus dijajaki dulu komunikasinya, agar proses pembangunan terus berjalan tanpa harus ada yang dirugikan.

Terutama usaha kita bersama untuk menyukseskan Asian Games 2018, sebab itu pestanya masyarakat Jakarta khususnya dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya.

Sebagai catatan juga, kedatangan saya kesini mewakili pembina Utama Laskaru, juga karena wujud penolakan soal kabar yang menyebut pohon-pohon disini akan dibabat habis jadi kantin, saya juga tegas menolak itu bersama Bang Sandi .
 

(bap79\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar