Perkawinan Usia Anak (Tulisan 2)

Pernikahan Usia Belia, Solusi Hindari Zina?

Jumat, 03 Agustus 2018 10:25 WIB
Pernikahan Usia Belia, Solusi Hindari Zina?

Ilustrasi (foto: NU online)

Fenomena nikah muda bukanlah hal baru di tanah air. Berbagai suku di Indonesia, memang memiliki budaya menikah di usia belia, dilestarikan turun-temurun. Tradisi ini nampak menonjol di beberapa daerah di Indonesia, seperti Indramayu, Madura, Pulau Kodingareng di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat hingga Dusun Jorong Mawar, Tanahdatar di Sumatera Barat.

Baca juga : Gerakan Pro Nikah Muda Baiat 500an Remaja

Dengan berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, pemahaman bahwa menikah muda itu wajib hukumnya, seharusnya sudah bisa ditinggalkan. Sebab, jika dilihat dari segi kesehatan, ekonomi dan pendidikan, pilihan tersebut sangat berisiko. 

Menurut psikolog Aully Granshinta, perubahan peran dari anak yang tidak memiliki tanggung jawab, kemudian menjadi dewasa (bertanggung jawab pada diri sendiri) dan kemudian menikah (bertanggung jawab pada orang lain) adalah proses yang harus dilalui.

Baca juga : Nikah Muda Gerogoti Bonus Demografi Indonesia

Jika ada yang terlewat, tentunya menjadi mengagetkan. Konsekuensinya, anak akan kesulitan beradaptasi dengan peran barunya, yaitu memiliki tanggung jawab pada orang lain. Perkawinan jenis ini mudah terjadi konflik, termasuk di dalamnya masalah ekonomi, yang akhirnya menyebabkan perceraian.

Meskipun dampak negatif menikah muda, sudah jelas di depan mata, kenyataannya, di abad 21 ini, mengikat janji di usia belia, tidak dianggap hal yang kuno, bodoh dan patut ditinggalkan.

Baca juga : Dampak Buruk Internet pada Anak Ancam Bonus Demografi

Propaganda Nikah Muda di Media Sosial

Jika sebelumnya pernikahan dini dilandasi oleh faktor budaya, di zaman modern ini, menikah muda dilatarbelakangi oleh keyakinan agama. Tujuan utamanya tidak lain untuk menghindari zina.

Propaganda ini kian giat dilakukan oleh pihak-pihak yang menyakini bahwa nikah muda lebih banyak manfaatnya dibanding mudaratnya. Mereka bergerak massif di berbagai media sosial seperti @gerakanmenikahmuda dan @indonesiatanpapacaran. Kedua akun ini memiliki ratusan ribu follower dan pengikutnya bertambah sekitar 2000 orang per hari, sejak dibuat pada September 2015.

Kartu anggota "Indonesia Tanpa Pacaran" (foto: Facebook)

Sejenis dengan akun tersebut, gerakan Jomblo Sampai Halal juga meramaikan kampanye nikah muda ini. Meski di media sosial pengikutnya cuma puluhan orang, tapi tujuannya sama, mengajak kaum muda untuk menikah di usia belia, dengan dalih menghidarkan zina.

La Ode Munafar, inisiator gerakan Indonesia Tanpa Pacaran dan Gerakan Menikah Muda, punya pandangan sendiri mengenai berpacaran. Ia berpendapat, masa pengenalan dua anak manusia untuk saling memahami itu, dianggapnya merusak generasi muda. Munafar mengklaim telah melakukan riset mengenai pacaran.

“Anak muda menghabiskan waktu pacaran antara 48 hingga 72 jam dalam sebulan. Menurut  saya, itu bukan waktu yang sedikit. Nah, karena itu banyak permasalahan yang terjadi. Kedewasaan bilologis anak muda jauh lebih cepat dibanding kedewasaan aqlia. Contohnya, anak kelas lima SD bisa menghamili anak SMP, kejadian di Tulungagung kemarin. Oleh sebab itu, gerakan Menikah Muda hadir sekaligus dengan Indonesia Tanpa Pacaran. Visinya, sebagai media untuk menyadarkan generasi muda,” jelasnya kepada law-justice.co, Jumat (27/7/18).

Munafar menekankan bahwa kedua akun medsosnya itu adalah media penyadaran, bukan sebagai mak comblang. “Penyadaran tentang apa? Tentang masalah pemahaman agar anak muda tidak saja dewasa secara biologis, tapi juga dewasa secara pemikiran. Nah, Gerakan Menikah Muda dan Indonesia Tanpa Pacaran hadir agar generasi muda berbuat tidak berdasarkan dorongan biologis saja, tetapi juga dipengaruhi oleh pemahamannya. Kalau bahasa Islamnya, mungkin keimanannya, gitu ya…” kata Munafar.

Ia merasa yakin betul, bahwa perzinahan bisa dihindari dengan menikah di usia muda. Menurutnya, apa yang ia lakukan itu adalah dakwah. “Menurut saya, dakwah itu tidak hanya diatas mimbar. Dakwah juga bukan hanya tugas seorang kiai, tetapi bisa dilakukan oleh siapa saja. Apalagi saat ini zamannya sosial media, maka kita harus bisa memanfaatkannya untuk memperluas jangkauan bagi generasi muda, agar tahu pemahamannya mengenai nikah muda ini.”

Selain gencar menyosialisasikan gerakannya di media sosial, Munafar juga aktif menggelar acara off air. Minggu lalu, gerakan Indonesia Tanpa Pacaran cabang Tangerang diluncurkan di Masjid Al-Jabar, Karawaci yang dihadiri sekitar 500 orang pelajar Sekolah Menengah Umum (SMU).

Peserta peluncuran "Indonesia Tanpa Pacaran" cabang Tangerang, Minggu (29/7/18) (foto: law-justice.co/ Hartanto Ardi Saputra)

Faturahman, ketua panitia penyelenggara dalam sambutannya mengatakan, latar belakang dibentuknya gerakan Indonesia Tanpa Pacaran cabang Tangerang karena banyaknya taman kota yang dibangun pemerintah kota Tangerang, disalah gunakan oleh remaja sebagai tempat pacaran.

“Banyak taman kota dibangun oleh pemerintah Tangerang tapi disalahgunakan untuk maksiat. Para remaja sering pacaran di taman-taman. Kegelisahan itu membuat kami mencari gerakan untuk memberantas pacaran,” ujar Faturahman.

Ia berjanji, gerakan Indonesia Tanpa Pacaran cabang Tangerang akan menyelenggarakan kajian-kajian agama yang menolak praktik pacaran di kalangan remaja. Sebagai gantinya, anjuran untuk segera menikah adalah solusinya.

Nikah Muda Demi Hindari Zina

Menanggapi gencarnya ajakan menikah muda, Anggia Ermarini, Ketua Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) mengaku tidak setuju dengan hal itu. “Anak umur 14 tahun seharusnya masih bermain. Tapi kemudian diberi tanggung jawab yang besar, apakah bisa? Dia harus bisa berkomunikasi dengan suami, mertua. Lalu ada nilai-nilai yang harus ditransfer pada anaknya. Menikah bukan sekedar halal dan haram, “ tukasnya.

Anggia melihat, landasan kampanye menikah dini adalah soal agama, bahwa tidak boleh berzinah. Ia mengatakan, “Landasan agama memang lagi tren, lagi naik daun, jadi lifestyle. Seorang anak tokoh yang menikah di usia 14, di blow-up di media sosial. Ngawur itu.”

Persoalan zina  jika dilihat dari segi spiritual, menurut Budi Wahyuni dari Komisioner Komnas Perempuan, hanya sebagian kecil dari kesehatan sosial. “Bagaimana soal psikis, tidak mereka pikirkan. Saya tidak menggurui soal Islam, tapi menurut saya, keyakinan yang menyesatkan juga perlu dilawan,” kata Budi.

Kampanye nikah muda, bagi kalangan moderat dipandang akan sangat merugikan negara khususnya generasi muda. Namun, Prof. Euis Sunarti, Guru Besar Ketahanan Keluarga Institut Pertanian Bogor (IPB) memiliki pertimbangan sendiri mengenai fenomena ini.

Sebagai ahli keluarga, Euis berpendapat bahwa justru agar keluarga berketahanan, dibutuhkan kesiapan pernikahan. Kesiapan itu bukan hanya aspek biologis, tapi aspek lain yang lebih penting. Ia mengatakan, semakin muda usia, semakin sulit diperoleh kesiapan menikah, tapi bukan berarti tidak mungkin.

“Misalkan ia dibesarkan di keluarga baik-baik, tapi orangtuanya melihat lingkungan  nggak aman buat sang anak karena banyak perilaku seks yang menyimpang. Umur 16 tahun, sudah akil balik, orangtua ingin menikahkan anaknya, tapi bertanggung jawab. Itu kan hak orangtua juga,” ujar Euis.

Ia berharap, usia pernikahan akan semakin ideal, tapi jangan ditutup peluang untuk keluarga-keluarga yang mau melindungi anaknya. “Kalau usia pernikahan ditutup dengan UU Perkawinan, tapi kita nggak ngapa-ngapain, nggak melindungi anak-anak kita dari pornografi, terus nggak boleh menikah di usia 16 tahun. Dengan begitu akan semakin banyak remaja yang tidak menikah tapi melakukan hubungan seks di luar nikah. Bukankah itu tidak kita inginkan?” lanjut Euis.

Pendapat Munafar tidak jauh beda dengan Euis. Menurutnya, kasus perzinahan di Indonesia banyak sekali. Ia mengatakan, hal itu terbukti dari banyaknya aborsi yang terjadi setiap tahun.  “Penelitian dari Universitas Gajah Mada (UGM) mengatakan, tiap tahun ada 2,5 juta tindak aborsi di Indonesia. Kalau anak muda yang aborsi, sudah pasti penyebabnya perzinahan. Menurut saya itu masalah yang besar. Jadi anak muda sekarang harus diedukasi, bagaimana mereka seharusnya menjauhi zina muda,” ujar Munafar.

Nikah Muda, Bencana bagi Bonus Demografi

Menikah muda bukanlah satu-satunya cara untuk menghindari perzinahan. Karena, dengan melakukan ikatan perkawinan di usia belia, fase penting yang seharusnya dilalui anak, seperti melanjutkan pendidikan, terlewatkan. Belum lagi persoalan kesehatan.

Budi Wahyuni mengungkapkan, banyak kasus perdarahan saat kehamilan yang dialami anak-anak yang sudah menikah. Belum lagi banyaknya kontribusi perceraian akibat nikah muda. Selain itu, bayi yang lahir dengan berat badan di bawah normal juga tinggi. Semua itu adalah bagian dari dampak yang dihasilkan dari pernikahan dini.

Tahun 2030, Indonesia akan mengalami bonus demografi. Definisi bonus demografi, menurut Prijono Tjiptoherijanto Ketua Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) adalah jumlah usia kerja yaitu 15 sampai 60 tahun, lebih besar dari usia non kerja. Artinya, dengan bonus demografi, negara memilik stok banyak angkatan kerja.

“Tapi nanti angkatan kerja ini, dijamin dapat pekerjaan tidak? Kalau cuma jadi pengangguran, maka bonus demografi akan menjadi bencana yang serius,” jelas Prijono.

Hal senada juga dikatakan Bhima Yudhistira Adhinegara, peneliti dan ekonom dari INDEF. Menurutnya, bonus demografi harus berkualitas, generasi muda harus bisa berwirausaha dan memilili  jenjang pendidikan yang bagus agar bisa diterima kerja.

“Kalau  dia nikah muda, menikah di bawah umur, padahal di masa itu  harusnya dia bisa sekolah lagi lebih tinggi, jadi  terhambat kan...Itu berarti kualitas dari bonus demografinya bisa  menurun. Juga semakin  kurang produktif. Harusnya dia bisa bekerja di sektor  ekonomi, walaupun  sekarang  ada yang bilang kerja di  rumah juga  bisa, buka toko online misalnya.  Tapi kalau ingin lebih berkualitas,  ya harus nikah di umur yang diperbolehkan,  agar bisa mempersiaplan mental  untuk masa depan lebih bagus, “ kata Bhima.

Fenomena nikah muda gaungnya begitu kencang di berbagai media sosial. Komnas Perempuan mengaku sudah melakukan kampanye untuk menekan ajakan nikah muda melalui twitter dan facebook. Namun, Budi mengatakan, kampanye tersebut memang terkendala dengan lebih dominannya faktor agama yang diyakini para kaum muda tersebut.

“Kecenderungan ingin jadi orang baik-baik indikatornya gampang, perempuanlah yang jadi penjaga gawangnya. Perempuan baik-baik selaput daranya utuh, perempuan baik-baik tidak melawan, tidak zina, perempun baik-baik nikah muda. Bagaimana orang tidak kepengen jadi perempuan baik-baik? Bahkan pengalaman saya sebagai Konsuler remaja, kecenderungan laki-laki memilih pacarnya itu perempuan-perempuan yang berkerudung. Tidak salah kan? Tapi apa yang ada dibalik itu? Supaya perempuan nurut sama dia, tidak banyak tuntutan. Nah kalau sudah mematok seperti itu bagaimana coba? Ya kembali lagi, patriarki lagi kan?” kata Budi.

Dampak dari masalah nikah muda memang berlapis-lapis. Jika pemerintah tidak cepat tanggap menghadapi fenomena ini, ancaman berupa menurunnya kualitas manusia akan muncul dari gerakan ini. Bonus demografi yang seharusnya bisa dirasakan manfaatnya, pada akhirnya hanya menjadi ledakan penduduk yang tidak terkendali.

Reporter: Januardi Husin, Vicky Teguh Andrew, Hartanto Ardi Saputra, Muhammad Mualimin

 

 

 

 

 

(Reko Alum\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Gerakan Pro Nikah Muda Baiat 500an Remaja

Nikah Muda Gerogoti Bonus Demografi Indonesia

Dampak Buruk Internet pada Anak Ancam Bonus Demografi

Komentar