20 Tahun Reformasi [Penggalan ke-3: seri Melawan Lupa]

Penyaksi 600-an Mayat Gosong di RSCM

Selasa, 15 Mei 2018 08:00 WIB
Penyaksi 600-an Mayat Gosong di RSCM

Mayat gosong menggunung (foto: Kaskus)

Jakarta, 15 Mei 1998 atau tepat 20 tahun silam. Sejak pukul 10.00 aku bersama dua sejawat pewarta,  Arnaud Dubus (wartawan Prancis yang berbasis di Bangkok) dan Rin Hindryati (jurnalis The Asian Wall Street Journal biro Jakarta), menyusuri jejak kekerasan di lintasan Cawang-Pasar Senen. Jakarta masih lumpuh betul. Tak ada kendaraan yang lewat sehingga kami menapak saja. Kala itu aku masih menjadi wartawan majalah D&R.

Baca juga : Skenario Amuk Massa untuk Melumpuhkan Jakarta

Sebagai catatan, D&R yang diawaki anak-anak muda, giat mewartakan ihwal gerakan mahasiswa jauh sebelum pendudukan gedung MPR-DPR berlangsung. Kami rajin menurunkan hasil liputan reporter sendiri di Yogya, Solo, dan Lampung. Sejak 1997 di tiga kota ini unjuk rasa mahasiswa yang bersekutu dengan massa rakyat telah intens. Aksi mahasiswa marak di Jakarta dan kota lain barulah setelah tragedi Trisakti, 12 Mei 1998.

Di simpang Pramuka-Matraman tengah hari 15 Mei 1998 itu kami bertiga dicegat beberapa warga setempat. “Wartawan ya?” kata seorang dari mereka. Sebelum kami menjawab mereka sudah menarik tangan Arnaud. Kami terpaksa mengikuti mereka.

Melewati puing-puing (foto CNN Indonesia)

Ke lorong sempit dan remang-remang di belakang kios-kios tukang ketik yang terletak di persis simpang Pramuka kami dibawa. Di sana mereka bercerita saling menimpali. Intinya, beberapa orang telah ditembak mati di sana, sehari sebelumnya. Mereka memperlihatkan jejaknya: rolling door kios yang  bolong-bolong diterjang peluru, selongsong, serta genangan dan ceceran darah di lantai yang telah mengering dan menghitam.

Kami bertiga mengamati tilas kekerasan itu. Benar, eksekusi telah berlangsung. Kalau melihat banyaknya darah yang berceceran, korban kemungkinan beberapa. TKP ini masih terjaga kendati police line tak ada.

“Setelah kejadian kagak ade orang yang berani masuk ke sini,” kata seorang pria kurus berumur 50-an tahun. “Kite nungguin wartawan sedari kemaren tapi kagak ada yang dateng. Itu sebabnya ente kite cegat.”

Aku lega mendengar ucapan itu. Ternyata niat mereka baik, kataku dalam hati.

Dua anak muda kemudian memunguti selongsong dan memasukkannya ke kantong. Seorang remaja mencoba menghilangkan beberapa tetesan darah di lantai dengan menggosok-gosokkan ujung sendal jepitnya. Pria kurus itu menegor. “Jangan diilangin...ntar biar aparat ngeliat semuanye.”  

Aku bertanya siapa yang telah mengeksekusi, siapa para korban,  dan kemana jenazahnya. Jawaban mereka? Tak kenal baik pelaku maupun korban. Yang pasti para pelaku yang bertubuh tegap dan berkepala cepak itu cepat menghilang. Jenazah kemudian dibawa pergi oleh orang-orang tak dikenal selang beberapa jam. Beberapa warga melihatnya, tapi tak satu pun dari mereka yang berani mendekat apalagi campur tangan.

Petarung jalanan (foto: Normantis)

Rin menerjemahkan cerita itu ke dalam bahasa Inggris, untuk Arnaud. Ia juga membahasa-Indonesia-kan pertanyaan Arnaud untuk warga. Seperti biasa, kawan Prancis ini langsung mencatat dan mencatat.

Di lorong yang mulai gelap itu sungguh kami bertiga merasa terteror. Betapa tidak? Digiring setengah paksa oleh massa, dan sesampai di sana  diperhadapkan pada jejak maut. Kami dikondisikan pula untuk menyimak apa saja yang mereka kisahkan.

“Sudah Beh...sudah kami catat,” ucapku sembari menunjuk ke arah Arnaud. “Nanti kami beritakan.” Aku berujar ke lelaki kurus yang tampaknya merupakaan sesepuh mereka.

“Jangan lupa ye, kudu ente beritain,” seorang sepuh bertubuh agak gempal mendikte. Aku dan Rin mengangguk saja. Ya, agar urusan kami dengan mereka lekas beres.   

Kami bertiga cepat-cepat angkat kaki dari sana. Kami menyusuri jalan menuju Salemba dengan perasaan yang bercampur aduk.  Rasa sesal menyusup di hatiku. Ya....tak satu pun dari kami bertiga yang membawa kamera. Lokasi kekerasan itu tak bisa kami abadikan; sayang betul. Betapa berharganya sebuah alat penjepret! Dalam perjalanan itu sempat-sempatnya sebuah kenangan buruk mengusikku. 

Sewaktu mau berangkat ke Paris dan London tahun 1995, aku membeli kamera SLR Nikon berkelas dengan mengutang ke koperasi kantorku, Bisnis Indonesia.   Di sebuah pasar loak keren dan ramai di Paris—di sana dijual aneka persenjataan dari pelbagai masa—tas kamera yang kuselempangkan telah dirogoh kawan kriminal berkulit hitam. Salah satu dari mereka—ia bertubuh jangkung dan di wajahnya ada tanda:  barut luka memanjang—terlebih dulu menabrakku  dan menyundut baju flanel kotak-kotak yang kupai. Tentu saja aku berang. Di saat kami berdua adu mulut dalam bahasa yang tak nyambung—aku ngomong Inggris,  ia bercakap Prancis—itulah mitra kriminalnya beraksi. Tustel berikut film Fuji berwarna isi 36 raib. Sial betul rasanya kala itu. Hasil jepretanku di beberapa spot menarik di Paris lenyap sudah. Lantas, selama beberapa hari di London aku tak bisa lagi menjepret.  Tak hanya itu. Sepulang ke Jakarta aku harus mencicil setahun penuh utang ke koperasi.  Gajiku yang dipotong cukup besar saban bulan untuk Nikon yang belum seminggu kupakai. Ah, ingatan  pahit itu bisa-bisanya mengganggu lagi.

Mayat Menggunung

Kami bertiga menapak ke Salemba di sore 15 Mei 1998. Waktu di depan Center Culturel Francais (CCF) selintas aku melihat sebuah ambulans melaju tanpa membunyikan sirene. Kendaraan itu berbelok ke kiri ke samping Fakultas Kedokteran UI. Tak sampai tiga menit berselang ambulans lain muncul dengan modus serupa. Ganjil betul gerakannya. Aku meminta kedua kawanku memperhatikannya. Benar: ambulans silih datang dan pergi tanpa membunyikan sirene. Kami putuskan untuk mengikuti kemana kendaraan itu pergi.

Massa yang terhasut (foto: Kaskus)

Rupanya isi kendaraan itu dibongkar di sebuah ruangan berukuran agak besar di kamar jenazah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Aku cukup akrab dengan tempat ini. Ketika kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Salemba [baru sebentar di sana aku sudah dop-out], aku menjadi penghuni gelap di Asrama UI Pegangsaan Timur (PGT).  Selama tinggal di asrama PGT aku dan sesama anak baru acap kelayapan; ke Ancol antara lain kami bertualang.  Kalau terlambat bangun padahal ada kuliah pagi, aku akan lewat jalur kamar mayat RSCM biar lekas sampai di kampus.

Di ruangan jenazah itu plastik-plastik hitam berpanjang selengan orang dewasa yang diturunkan. Seperti permen raksasa bentuknya. Di kedua ujungnya terdapat ikatan dengan tali rafiah.  Di atas ubin, plastik itu sudah menggunung. Waktu kutanya sudah berapa jumlahnya, seorang petugas mengatakan 600-an. Asalnya dari mal-mal di kitaran Jakarta yang dijarah dan dibakar. Yang paling banyak, ucap dia, dari Yogya Department Store, Klender, Jakarta Timur.

Saking banyaknya, jenazah-jenazah itu ditumpuk begitu saja di lantai laksana kayu bakar untuk membuat api unggun raksasa. Sebagian plastik pembungkus berkoyakan sehingga terlihat bahwa jasad-jasad  itu sudah serupa arang. Begitupun, ada saja yang masih berbentuk. Batok kepala, tulang rusuk, serta tangan dan kaki berjemari, terutama.  Bayi juga ada.

“Apa sih yang lu cari...dari tadi buka-buka melulu!” Seorang petugas menghardik dua remaja yang mengambil tempat di pojok  kiri ujung. Ketika kami masuk kedua anak berseragam SMP ini sudah ada di sana. Mereka sibuk memeriksa jenazah di plastik bolong. Rajin keduanya bergerak dari sudut yang satu ke yang lain.

Seakan tak gentar (foto: SCMP)

Aku mendekati kedua remaja ketika sang petugas yang galak sudah pergi. Dengan nada bersahabat aku bertanya apa yang mereka cari. Sambil menyeka keringat di dahi dengan ujung lengan baju salah seorang dari mereka menjawab. “Nyari adik saya...” Suaranya lirih.

Aku bertanya apa yang terjadi pada adiknya. Seperti berikut  ini cerita dia. Tampaknya ia meramu informasi  dengan memasukkan versi dari sejumlah saksi mata.

Adiknya itu laki-laki, masih SD. Sekolahnya tak jauh dari rumah mereka yaitu di kitaran Yogya Department Store, Klender.  Sepulang dari sekolah, sang adik dan kawan-kawannya dihadang sekelompok orang dewasa di depan mal Yogya. Mereka disuruh mengambil apa saja dari pusat pertokoan itu tanpa harus bayar. Untuk meyakinkan,  orang-orang dewasa itu pun mencontohkan. Mereka masuk mal dan kemudian keluar dengan membawa macam-macam barang termasuk TV dan tape recorder.  Mereka mengajak kanak-kanak itu ikut serta mengambili barang secara cuma-cuma. Tergiur, anak-anak itu pun itu masuk. Asap kemudian membubung dan mereka terjebak serta terpanggang di dalam.

Bulu kudukku berdiri mendengar kisah itu. Arnaud Dubus pun kukira demikian, sebaik ia menyimak terjemahan versi Inggris dari Rin yang tergetar.

Menyasar perusuh (foto: Nasional kompas)

 Aku bertanya lagi ke remaja itu: bagaimana ia akan bisa mengidentifikasi jenazah adiknya.

“Bisa Oom...adikku pakai dua cincin di jarinya,” ucap dia dengan yakin.

Rupanya sedari tadi ia dan kawannya mencari jenazah bercincin dua di jari manis. Dalam pencarian itu  terkadang plastik pembungkus pun mereka sobek. Rupanya sang petugas yang pemberang memperhatikannya.  

Mendadak bau busuk menyengat. Arnaud yang lebih dulu menciumnya. Hidung Prancis-nya yang mancung ternyata lebih peka dibanding hidung Melayu-ku. Ia lantas mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya dan menutup hidung. Rin melakukan hal yang sama.

Si  petugas pemberang yang sedari tadi lalu lalang menurunkan jenazah mendadak  berhenti persis di sebelahku.

“Kok pake selampe segala? Ini mah bau sate; nooo....yang bau bangke ....,” sembari mendelik ia menunjuk ke arah ruangan sebelah. Nada ucapnya sudah lebih ramah.  Ia memberi syarat supaya aku mengikuti dirinya. Aku menurut.  

Ruang sebelah itu berukuran sekitar 5x7 meter.  Di sana, di atas tempat tidur dorong, terbujur setengah lusin jenazah. Semuanya masih utuh, sama sekali tak ada yang gosong. Lobang ada di setiap jasad; jumlahnya minimal satu. Dari liang-liang  itu keluar darah. Itulah yang menetes dan berceceran di tempat tidur serta di lantai; sudah hitam dan kering. Dua mayat itu sobek panjang di bagian perutnya sehingga ususnya  terburai. Memang benar: jenazah di ruangan inilah sumber bau amis itu. Beberapa ekor lalat hijau  tampak berpesta pora di permukaan usus yang mbrudul

Di ruangan  ini sang petugas galak yang kemudian kupanggil dengan sebutan Babeh itu menjelaskan: yang terbujur adalah para preman; mereka ditembak aparat saat kerusuhan merebak. 

Selama kami di kamar mayat, sekitar satu jam, ambulans bermuatan terus berdatang. Si Babeh bilang masih banyak lagi jenazah di mal-mal. Uh....sungguh cerita horor.

Dengan perasaan yang luar biasa tertekan kami bertiga pun bergegas meninggalkan gunungan jenazah yang semakin meninggi dan meluas di kamar mayat RSCM.

Kehilangan nafsu bicara, kami melangkah gontai menuju Pasar Senen. Mengingat ratusan jenazah gosong dan usus yang terburai kerongkongan ini serasa kerontang selama di perjalanan. Kami mencari tempat minum di sepanjang lintasan. Nihil;  tak ada orang yang berdagang. Bukannya pintu yang terkuak, tulisan ‘Milik Muslim’ atau ‘Pribumi’ dalam ukuran besar yang terpampang di depan sejumlah toko dan warung.

Di dalam Pasar Inpres Senen yang lengang ternyata ada kehidupan. Lima lelaki Batak asyik main kartu di sana; ada yang bertanggal dada dan ada yang berkaos singlet. Beberapa dari mereka kakinya di atas kursi.  Di meja tampak gelas-gelas dan piring kecil yang sarat dengan puntung rokok. Dunia luar yang sedang kacau dan tegang seakan tak bersangkutan dengan mereka. Sebuah pemandangan yang kontras!

Marinir dielukan massa (foto: DW)

Di sebelah para lelaki itu ternyata ada warung kopi sasetan; pemiliknya seorang Sunda. Kami melepaskan dahaga dan penat di sana. Cairan kopi murahan yang membasahi kerongkongan, untuk sesaat bisa mengurangi derita batin kami.  Mengembalikan ingatan ke hari-hari yang mencekam pada dan sebelum 15 Mei 1998,  itu yang kami lakukan di warkop kaum jelata.  Sedikit saja kalimat yang kami keluarkan sebab lidah serasa kelu.

Kopi kami akhirnya tandas namun 600-an mayat gosong tak kunjung beringsut dari kepala.  Kenangan itu ternyata tak  pupus oleh peranjakan hari, minggu, atau bulan. Bahkan ia tetap benderang hingga detik ini, setelah 20 tahun lampau. Rupanya ia telah mengabadi.

(P. Hasudungan Sirait\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Berita Terkait

Skenario Amuk Massa untuk Melumpuhkan Jakarta

Komentar