Penggerebekan di AS: Anak-anak Itu Dilatih Untuk Menyerang Sekolah

Kamis, 09 Agustus 2018 12:24 WIB
Penggerebekan di AS: Anak-anak Itu Dilatih Untuk Menyerang Sekolah

Polisi AS selamatkan11 anak-anak yang menderita kelaparan di sebuah kompleks terpencil (foto:geophart daily)

Seorang pria ditahan kepolisan Amerika Serikat (AS) menyusul ditemukannya 11 anak-anak yang menderita gizi buruk di sebuah kompleks terpencil di kawasan gurun negara bagian New Mexico. Tempat tersebut diyakini sebagai pusat latihan menembak. Anak-anak tersebut dilatih menembak untuk kelak melakukan serangan terhadap sekolah, demikian menurut laporan sejumlah media di AS.

Menurut laporan jaksa, lelaki yang diketahui bernama Siraj Ibn Wahhaj itu melatih beberapa anak-anak yang berusia antara satu sampai 15 tahun tentang bagaimana menggunakan senjata.

Wahhaj adalah satu dari dua pria bersenjata lengkap yang ditangkap di tempat kejadian saat polisi melakukan penggerebekan kompleks terpencil pada Jumat (4/8) lalu. Tiga perempuan, diyakini sebagai para ibu dari anak-anak itu, sempat ditahan tetapi kemudian dibebaskan, seperti diwartakan BBC.

Polisi juga mengatakan telah menemukan potongan mayat seorang anak laki-laki pada Senin (8/8). Menurut laporan Taos News itu adalah bagian tubuh anak Wahhaj, Abdula-Ghani Wahhaj berusia 3 tahun, yang dinyatakan hilang.

Wahhaj dituduh menculik anaknya sendiri dari rumahnya di Georgia pada Desember lalu. Saat pencarian bocah itulah, polisi kemudian menemukan petunjuk yang mengarah pada kompleks tersebut. Menurut laporan sang ibu, anak ini menderita kejang yang menurut Wahhaj perlu disembuhkan lewat upacara eksorsisme atau pengusiran setan.

Jaksa penuntut Timothy Hasson mememinta agar Wahhaj ditahan tanpa uang jaminan.

Siraj Ibn Wahhaj (foto: mirage news)

“Dia sangat berbahaya bukan saja bagi anak-anak yang ditemukan di kompleks itu tapi juga ancaman bagi seluruh komunitas karena kepemilikan senjata api dan niatnya menggunakan senjata-senjata api tersebut untuk kekerasan dan tujuan melawan hukum,” kata Hasson seperti tertulis dalam dokumen pengadilan.

CNN melaporkan dokumen tersebut juga memuat peringatan bahwa jika ia dibebaskan dari tahanan dengan uang jaminan, maka terdakwa kemungkinan besar akan melakukan tindakan kriminal karena mereka telah merencanakan dan mempersiapkan diri untuk melakukan serangan ke sekolah.

Polisi mengatakan mereka telah mengetahui kompleks itu sejak beberapa waktu sebelumnya tetapi harus menunggu surat perintah penggeledahan sebelum melakukan penggrebekan, karena para penghuni "kemungkinan besar bersenjata berat dan dianggap kalangan ekstremis dari paham Islam tertentu".

Mereka menggeledah lokasi itu setelah mendapat pesan yang isinya: "Kami kelaparan dan butuh makanan dan air."

Tidak jelas bagaimana orang-orang itu sampai berada di lokasi itu.

Seorang polisi yang ikut menemukan anak-anak ini menggambarkan kondisi mereka, “layaknya pengungsi dari negara dunia ketiga yang hidup bukan hanya tanpa makanan dan air bersih, tetapi juga tidak beralas kaki dan mengenakan pakaian compang-camping.”

Sheriff Taos County, Jerry Hogrefe mengatakan kepada ABC News bahwa anak-anak itu dalam keadaan kelaparan, kehausan, dan sangat kotor.

Di lokasi itu tidak ditemukan air minum, dan makanan (foto: Independent)

"Saya sudah menjadi polisi selama 30 tahun. Dan saya tak pernah melihat yang seperti ini. Tak bisa dipercaya," katanya.

"Mereka begitu kurus, tulang rusuk mereka menonjol, kesehatan mereka begitu parah dan dalam keadaan ketakutan."

Di lokasi itu tidak ditemukan air minum, dan makanan yang ada hanya beberapa butir kentang dan sekotak beras, kata polisi.

Siraj Wahhaj bersenjatakan senapan serbu AR-15 dan empat pistol saat polisi menggerebek mereka. Menurut media di New York, ayah Wahhaj, Imam Siriaj Wahhaj adalah seorang tokoh muslim yang berpengaruh di Brooklyn dan dikenal sebagai salah satu pemimpin Muslim paling dihormati di AS.

Ia pernah bersaksi di persidangan Omar Abdel-Rahman, dalang pemboman Gedung WTC di New York pada  Februari 1993.  

Sebelumnya, pada 1991, ia menjadi muslim pertama yang memimpin doa pembuka di hadapan paralemen AS.

(Rin Hindryati\Rin Hindryati)
Share:


Komentar