Muhammad Fajrintio

Pemuda Sinarmas, Pelopor Cassette Jockey Dari Jakarta

Minggu, 27 Mei 2018 15:03 WIB
Pemuda Sinarmas, Pelopor Cassette Jockey  Dari Jakarta

Ajiz membawa 80 kaset pita setiap pentas (foto: Hartanto Ardi Saputra)

Pemuda Sinarmas merupakan nama panggung pria bernama Muhammad Fajrintio, 25 tahun, saat menjadi Cassette Jockey (CJ). Berbeda dengan Disc Jockey (DJ), seorang CJ akan memainkan musik yang bersumber dari kaset pita yang biasanya berisi tembang-tembang lawas. Musik yang dimainkan dengan cara menggabungkan beberapa playlist ternyata mampu menjadi sebuah ragam kearifan lokal di era modern.

Muhammad Fajrintio merupakan penggagas berdirinya Pemuda Sinarmas. Pria yang lebih akrab disapa Ajiz itu mampu menyajikan tembang lawas Indonesia yang terdapat pada kaset pita, menjadi musik alternatif yang mudah diterima generasi muda jaman sekarang.

Sederet lagu karya musisi Indonesia ternama era 1980 hingga 1990-an seperti Benyamin Sueb, Chrisye, Fariz RM, Gombloh, dan masih banyak lainnya, mampu disajikan secara apik oleh Ajiz. Lewat kepiawaiannya, lagu-lagu tersebut masih enak di dengar higga kini.

“Tantangannya adalah menyajikan lagu-lagu lawas dalam bentuk modern sehingga mudah diterima generasi sekarang," ujar Ajiz, saat ditemui di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (24/5).

Secara definisi, Cassette Jockey atau disingkat CJ merupakan profesi yang hampir mirip dengan Disc jockey (DJ). Bedanya, kata Ajiz, terletak pada media musik yang digunakan. Jika DJ bersumber dari media disc, maka musik CJ berasal dari media kaset pita.

"Kaset pita bisa saja menjadi artefak seperti piringan hitam karena ditinggalkan industri musik. Tetapi saya menampilkannya dengan cara modern," kata Ajiz.

Pria kelahiran Jakarta, 18 November 1992 itu menceritakan bagaimana awalnya ia melakoni profesi sebagai CJ. Bermula dari hobinya mengumpulkan kaset pita. Ia rajin berburu dan membeli kaset-kaset bekas saat masih Sekolah Menengah Atas (SMA) di Labschool Cinere, Depok, Jawa Barat.

Muhammad Fajrintio, pelopor cassette jockey di Indonesia (ilustrasi: Christopher)

"Mulanya itu cuma dari hobi ngumpulin kaset pita lagu-lagu jadul. Itu saya lakukan sejak jaman masih sekolah," ujarnya.

Anak dari pasangan Sukristiono, 60, dan Siti wahyuni, 58, itu kemudian iseng memenggal lagu-lagu dalam kaset pita untuk disambung antara satu lagu dengan lagu lainnya. Gabungan lagu tersebut lalu disimpan ke dalam kaset pita yang masih kosong.

Ternyata cara itu justru mengasah bakat Ajiz memadu penggalan-penggalan lagu. Dengan menggunakan peralatan sederhana seperti tape recorder, ia kemudian membuat kreasi sambungan dari banyak lagu membentuk melodi yang enak didengar.

"Cara menggabungkannya standar sih, cuma pakai tape recorder. Tetapi diperlukan insting untuk menciptakan gabungan yang selaras," ujarnya.

Ajiz mengaku rajin menyambangi pasar barang loak untuk berburu kaset pita. Salah satunya berada di kawasan Jatinegara dimana banyak penjual ragam kaset pita berisi lagu-lagu lawas.

"Di pasar loak justru bertemu banyak kolektor kaset pita. Ada interaksi satu sama lain. Akhirnya saling bertukar kaset dan memiliki materi lagu beragam," ujar pria yang sempat kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Menurut Ajiz, di Indonesia banyak kolektor kaset pita yang sempat menjadi media arus utama permusikan di dunia. Setiap tahun pada 17 Oktober, para penggemar kaset pita di seluruh dunia merayakan Cassette Store Day (CSD). Pada hari itu dipertemukanlah local record store, musisi dan fans-nya, serta tentunya para penggemar kaset pita. Di Indonesia, salah satu kota yang masih rutin menyelenggarakan CSD adalah Yogyakarta.

"Kaset pita masih meninggalkan kenangan yang dalam bagi banyak orang," kata Ajiz.

Ajiz mengaku saat ini memiliki beberapa koleksi kaset pita yang sangat langka. Salah satunya adalah band Trans yang digawangi Addie MS. Selain itu ada juga album musikal band Gipsy dan Guruh Soekarnoputra.

Menurut Ajiz, kelangkaan sebuah kaset tergantung pada jumlah kaset pada album tertentu yang dirilis seorang musisi. Musisi yang hanya merilis 100 kaset, maka kaset tersebut akan langka dikemudian hari.

"Ada juga itu albumnya Iwan Fals yang langka. Harga per kasetnya jutaan rupiah," ujarnya.

Perburuan kaset pita yang dilakukannya tak pernah sia-sia. Saat ini Ajiz memiliki setidaknya 3.000 kaset pita yang sebagian besar merupakan lagu Indonesia dari berbagai genre, mulai disco, pop rock, jaipong, dangdut, dan funkot.

“Karena koleksi kaset sudah banyak, saya berpikir untuk bagaimana menampilkannya kepada khalayak. Untuk apa menyimpan kaset sebanyak itu apabila tidak diperdengarkan," ujarnya.

Akhirnya Ajiz pun menemukan medium untuk mengenalkan tembang-tembang lawas tersebut dengan pendekatan modern. Caranya dengan memutar kaset pita yang telah diberi sentuhan efek elektrik seperti yang lazim dilakukan seorang DJ.

Berbekal peralatan sederhana seperti tape decks, mixer, dan alat untuk memberikan efek penting meningkatkan suara, Ajiz menyajikan lagu Indonesia tempo doeloe bagi khalayak generasi sekarang. Menurutnya, banyak keterbatasan kaset pita untuk dapat menghasilkan kualitas audio yang baik. Namun, keterbatasan itulah yang justru merangsang kreativitas seorang seniman.

Ajiz berhasil memadukan jenis musik disco Indonesia, pop rock, jaipong, dangdut, dan funkot menjadi racikan yang apik. Panggung hiburan pertama yang digebrak oleh penampilannya yakni di Pasar Santa, kawasan Jakarta Selatan.

"Awalnya mau pentas itu bingung harus pentas di tempat yang seperti apa. Kalau mau masuk ke bar atau club malam kan nggak cocok," cerita Ajiz.

Dalam sekali pementasan, dia dapat membawakan penggalan lagu dalam kaset pita hingga 30 lagu. Perpaduan lagu jadul dari banyak genre musik itu membuat pendengarnya bernostalgia.

Kaset pita meninggalkan banyak kenangan (foto: Hartanto Ardi Saputra)

“Saya biasa membawa 80 kaset pita kalau sedang pentas. Semuanya diputar tapi nggak satu album full,” kata Ajiz.

Pada pentas perdananya, respon publik luar biasa. Ia pun semakin yakin Cassette Jockey dengan tembang-tembang lawas Indonesia masih relevan untuk diputar di era modern.

Bagai gayung yang bersambut, Ajiz pun selanjutnya diminta tampil di festival makanan Ubud di Pulau Bali pada 15 April 2018. Di hadapan ratusan turis mancanegara ia menampilkan lagu-lagu lawas Indonesia. Musik yang ia tampilkan merupakan gabungan playlist dari beragam genre mulai dari pop Indonesia, dangdut klasik, dan disco Indonesia. Hasilnya, ia mendapat sambutan hangat dari para turis mancanegara.

"Turis-turis sangat terkejut akan instrumen-instrumen musik Indonesia. Dan mau tidak mau harus diakui bahwa masyarakat luar negeri itu menganggap musik dangdut sebagai identitas Indonesia," ujarnya.

Salah satu lagu yang dibawakan Ajiz saat tampil di Ubud adalah lagu karya Roy Sewot. Ia adalah musisi yang pernah mempopulerkan lagu-lagu barat yang dikemas dalam instrumen musik dangdut. Atau lagu Don't Leet Me Down karya the Beatles dibuatkan versi jaipong. Ternyata banyak turis asing yang menyukainya.

Ajiz menilai kaset pita dapat digunakan sebagai media untuk mengarsipkan lagu. “Bahkan kaset bisa mengarsipkan lagu-lagu etnik yang berasal dari kebudayaan suatu daerah," ujarnya. Namun dia juga mengakui media kaset memiliki kekurangan saat digunakan sebagai media jockey karena output suara yang dihasilkan menjadi bising. Namun kendala itu dapat diatasi dengan menggunakan alat penunjang.

Kaset pita menawarkan keanekaragaman lagu apalagi banyak lagu yang direkam dalam kaset pita belum dikonversi dalam bentuk digital (MP3). "Bahkan banyak juga yang tidak kita temukan di channel YouTube atau digital lainnya,” ujarnya.

Ajiz mengatakan akan tetap konsisten mendalami lagu-lagu Indonesia lawas, sesuai nama kelompok musiknya, Pemuda Sinarmas yang inspirasinya berasal dari toko-toko klasik yang menggunakan nama yang hampir mirip di tiap kota.

"Saya terinspirasi dengan nama-nama jadul dan nggak banget di jaman sekarang tapi masih bertahan oleh waktu. Maka saya namai Pemuda Sinarmas," imbuhnya.

(Hartanto Ardi Saputra\Rin Hindryati)
Share:


Komentar