Gita Laras Widyaningrum - National Geographic

Pemimpin Sekte Sesat dan Serangan Gas Sarin, Shoko Asahara

Minggu, 08 Juli 2018 19:36 WIB
Pemimpin Sekte Sesat dan Serangan Gas Sarin, Shoko Asahara

Shoko Asahara. Foto: Tuesmo Times

Shoko Asahara yang merupakan pendiri sekte hari kiamat Aum Shinrikyo, berhasil membujuk pengikutnya untuk menyebarkan gas sarin di kereta bawah tanah Tokyo pada 1995. Serangan tersebut membunuh 13 orang dan membuat ribuan terluka.

Shoko Asahara, pemimpin aliran sesat dan dalang di balik serangan gas sarin yang mematikan di Tokyo, dieksekusi mati pada Jumat (6/7), setelah 22 tahun dipenjara.

Dengan rambut dan janggut panjangnya, pria buta ini dianggap sebagai pemimpin yang karismatik. Ia juga pembicara yang handal. Inilah yang membuat Asahara berhasil menarik puluhan ribu orang untuk menjadi pengikutnya.

“Asahara sangat pandai mencuci otak,” kata Kimiaki Nishida, profesor psikologi sosial di Rissho University, Tokyo.

“Ia menjerat anak-anak muda yang merasakan kekosongan di tengah masyarakat Jepang,” imbuh Nishida.

Kepada para pengikutnya, Asahara mengatakan bahwa dia akan membantu mereka untuk mendapatkan kekuatan Tuhan dengan beberapa pelatihan. Selain itu, ia berjanji akan menciptakan “dunia baru” setelah  peristiwa Armageddon – yang diprediksi terjadi pada 1997.

Hobi melakukan kekerasan

Asahara lahir dengan nama Chizuo Matsumoto pada 2 Maret 1955. Kedua orangtuanya merupakan pembuat tikar di Yatsushiro, prefektur Kumamoto, Jepang.

Ia mulai memanggil dirinya dengan nama Asahara pada 1980-an, ketika sekte Aum didirikan.

Asahara diterima di sekolah asrama untuk anak-anak tunanetra ketika berusia enam tahun. Sejak saat itu, ia sudah memiliki reputasi sebagai perisak.

“Bagi Asahara, kekerasan seperti hobi. Sekali marah, tidak ada yang bisa menghentikannya,” ujar teman sekelas Asahara.

Di usia ke-19, Asahara meninggalkan sekolah setelah lulus kualifikasi sebagai ahli akupuntur.

Anggota Aum Shinrikyo melakukan meditasi di depan foto guru mereka, Shoko Asahara.
Getty Images
Anggota Aum Shinrikyo melakukan meditasi di depan foto guru mereka, Shoko Asahara.

Penglihatannya yang buruk membuat Asahara tidak bisa meneruskan ke sekolah kedokteran. Pria tersebut juga gagal mendapat izin belajar hukum di University of Tokyo.

Pada 1978, ia menikahi Tomoko dan memiliki empat anak perempuan serta dua anak laki-laki.

Empat tahun kemudian, Asahara bermasalah dengan hukum. Dia ditangkap dan didenda karena menjual obat terlarang untuk pelatihan akupunturnya di timur Tokyo.

Setelah peristiwa tersebut, Asahara memutuskan untuk bertapa. Ia bepergian ke India dan membaca buku-buku agama, sebelum akhirnya menjadi instruktur yoga, dua tahun kemudian.

Asahara mengaku mendapat pencerahan di Himalaya, lalu mulai berkhotbah dan mencampurkan berbagai macam ajaran dengan buatannya sendiri.

Mengacaukan pemerintahan

Pengikut Asahara mengatakan bahwa gurunya yang sering memakai piama Tiongkok tersebut, memiliki kekuatan ekstra (indra keenam) dan mampu melayang di udara selama beberapa jam.

Pada 1990, Asahara gagal dalam pemilihan parlemen. Setelah itu, ia menjadi ganas.

Aum Shinrikyo mulai mengembangkan senjata kimia. Pada 20 Maret 1995, mereka menyebarkan gas sarin di beberapa titik di kereta bawah tanah Tokyo, selama jam sibuk pagi hari.

Dilansir dari Kompas.com, diketahui bahwa pada hari itu, lima tim kecil dari sekte keagamaan Aum Shinrikyo -- yang masing-masing terdiri dari dua orang -- masuk ke dalam beberapa kereta bawah tanah di stasiun Kasumigakesi.

Mereka lalu melepas gas sarin yang berbahaya ke udara. Setelah menggunakan obat penangkal racun kesepuluh orang tersebut pun kabur.

Sementara itu, para penumpang yang berdesakan di dalam kereta mulai dibutakan dan mengalami kesulitan bernapas lalu berebut mencari pintu keluar.

Akibat dari serangan itu 13 orang tewas, sebanyak 5.500 orang dirawat di rumah sakit dan beberapa dari mereka dalam kondisi koma.

Sebagian besar korban sembuh dari dampak gas sarin itu, tetapi sebagian lainnya menderita dampak permanen pada paru-paru, mata, dan sistem pencernaan.

Banyak pihak menyatakan, aksi itu dimaksudkan untuk merusak stabilitas Jepang sehingga Asahara dapat menggantikan perdana menteri yang berkuasa kala itu.

Shoko Asahara alias Chizuo Matsumoto didakwa hukuman mati pada 2004. Namun, pada 2012 eksekusinya ditunda karena penangkapan baru terhadap anggota sekte Aum Shinrikyo.

Hidup Asahara akhirnya usai hari ini. Ia menjalani hukuman matinya dengan cara digantung.

 

(Sobri\Editor)
Share:


Komentar