Salamuddin Daeng, Pakar Keuangan

Pemerintah Tambah Utang Dengan Bunga Berganda

Kamis, 08 November 2018 15:28 WIB
Pemerintah Tambah Utang Dengan Bunga Berganda

Utang Indonesia naik (Foto: Aktual)

Banyak spekulasi bahwa rupiah menguat pekan ini karena ada pemilu sela di Amerika Serikat, mungkin juga benar. Tetapi rupiah tidak hanya memguat terhadap USD, tapi juga terhadap SGD, terhadap Euro, terhadap Pound, terhadap dolar Autralia.

Baca juga : Utang Rp.700 M ke Pemerintah, Bolt Gugat di Pengadilan

Ternyata minggu ini ada uang masuk besar ke dalam ekonomi indonesia.Tapi jangan lupa sumbernya dari utang, penerbitan Bond ugal-ugalan, berikut transaksi minggu terakhir ;

1. Diterbitkannya surat utang global bond pertamina sebesar Rp. 11,2 triliun, dari target penerbitan surat utang senilai 10 miliar dolar dengan bunga 6,5 % atau sekitar Rp. 150 triliun.

Baca juga : INDEF Ingatkan Pemerintah Soal Ancaman Inflasi Akhir Tahun

Dengan diterbitkan surat utang sebesar Rp. 11,5 tersebut maka global bond Pertamina sampai saat ini mencapai Rp. 141,7 Triliun.

2. Diterbitkannya surat utang PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), dalam dolar AS dan Euro. Perusahaan milik negara menerbitkan US $ 1 miliar dan EUR500 juta (US $ 575 juta), atau total $ 1,58 miliar. Obligasi dolar AS sebesar $ 500 juta memiliki tenor 10 tahun dan 3 bulan dengan bunga setara dengan 5,37 persen. Sebear $ 500 juta dengan tenor 30 tahun dan 3 bulan dengan bunga setara dengan 6,25 persen. Eurobond sebesar EUR500 juta dengan jangka waktu 7 tahun dengan bunga setara dengan 2,875 persen.

Baca juga : Sri Mulyani Minta Perbankan Perbaiki Tata Kelola

Dengan tambahan surat utang tersdbut ditambah utang global sampai 2017 sebesar $ 22 miliar, atau Rp. 330 triliun, maka utang PLN mencapai Rp.457 triliun.

3. Yang paling menggila adalah dierbitkanya surat utang pemerintah dengan coupon rate 11.625% senilai 2 miliar dolar atau sekitar Rp. 30 triliun.

Ini adalah bunga surat utang terbesar dalam sejarah Indonesia dan mungkin di dunia saat ini.
Bond pemerintah ini mendesak diduga karena pemerintah dalam tahun 2018 dan 2019 harus bayar utang jatuh tempo Rp 810 triliun, sehingga mau memasang bunga super tinggi bagi siapapun pembeli surat utang negara.

Jika menambah utang BUMN dan utang pemerintah sebanyak-banyaknya dijadikan cara untuk memperkuat rupiah, maka akan menjadi malapetaka bagi bangsa dan negara Indonesia.

(Muhammad Mu'alimin\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar