Pemerintah Berkomitmen Dapat Mencapai Target Bauran Energi 23% Di 2025

Jumat, 14 September 2018 12:30 WIB
Pemerintah Berkomitmen Dapat Mencapai Target Bauran Energi 23% Di 2025

Ignasius Jonan jadi panelis utama pada The 2nd World Parliamentary Forum di Bali, Rabu (12/9) (foto: ESDM)

Meski mengaku pelaksanaan kebijakan Energi Baru Terbarukan (EBT) masih menghadapi sejumlah kendala, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan pemerintah terus melakukan percepatan dalam mencapai target bauran energi.

"Indonesia masih komitmen terhadap pencapaian EBT dalam bauran energi sebesar 23% pada 2025," kata Jonan saat menjadi panelis utama pada The 2nd World Parliamentary Forum di Bali, Rabu (12/9), seperti dilansir laman resmi kementerian ESDM, Jakarta (13/9).

Hal ini merupakan wujud dari janji Indonesia pada dunia internasional untuk terlibat aktif dalam perubahan iklim. Hasil Conference of the Parties (COP) ke-21 tahun 2015 tentang perubahan iklim yang tertuang dalam Paris Agreement dijawab pemerintah Indonesia dengan pelaksanaan berbagai kebijakan mengenai EBT.

Jonan mengatakan, hingga Agustus 2018, sudah ada 70 kontrak terkait pengembangan listrik EBT dengan 4 diantaranya sudah beroperasi, 23 memasuki tahap konstruksi, dan 43 lainnya masih menyelesaikan proses financial closing.

Di hadapan para delegasi, Jonan menyebutkan perkembangan kapasitas terpasang dari pembangkit EBT hingga pertengahan tahun 2018. Sebanyak 140 Mega Watt (MW) bertambah dari panas bumi, 94,1 MW dari tenaga surya, mikrohidro dan angin serta bioenergi menyumbang 18 MW.

"Tentu yang penting dilihat adalah pertumbuhan dari pembangkit dan bagaimana dukungan dari perlemen Indonesia," imbuhnya.

Guna mengoptimalkan pemanfaatan EBT, Jonan melakukan pembaruan kebijakan dengan menyasar sektor transportasi melalui program mandatori B20. "Tantangan sekarang bukan pada pembangkit melainkan pada sektor transportasi," tegas Jonan.

Sementara itu di Jakarta, anggota Dewan Energi Nasional Sonny Keraf mengatakan Jumat (14/9) pembangunan pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) suatu keniscayaan demi kemandirian bangsa sekaligus solusi dalam mitigasi perubahan iklim global.

"Semua harus duduk bersama mencari solusi. EBT tetap dibangun tetapi mitigasi dampak lingkungannya harus dilakukan sejak perencanaan awal sampai seluruh masa operasi sehingga tidak terjadi dampak lingkungan yang dikhawatirkan," katanya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/9). Dia juga meminta lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menentang pengembangan pembangkit listrik EBT agar berpikir komprehensif, tidak hanya pada aspek konservasi lokal.

Menurut mantan Menteri Lingkungan Hidup periode 1999-2001 itu, pembangkit listrik EBT yang paling potensial dikembangkan di Indonesia adalah tenaga air selain tentunya panas bumi.

"Pembangkit lisrik tenaga surya dinilai sulit diandalkan dalam skala besar sementara pembangkit listrik tenaga bayu menghadapi kendala tekanan angin yang tidak stabil," katanya.

(Rin Hindryati\Rin Hindryati)
Share:


Komentar