Jopie Lasut (1941-2018)—Tulisan ke-1

Pemberontak yang Tak Kunjung Lelah

Selasa, 02 Oktober 2018 19:39 WIB
Pemberontak yang Tak Kunjung Lelah

Jopie Laput (berpeci) merekam tokoh buruh Muhtar Pakpahan. (Foto: Tabloid Detik)

Kebon Sirih, Jakarta, 4 Juli 1994. Ratusan orang yang berunjuk rasa di halaman Gedung Dewan Pers sejak pagi,  sudah tak tampak. Kami, segelintir saja, menjadi orang terakhir yang tersisa di sana. Akhirnya kami juga beranjak.

Saat hendak mendekati pintu gerbang,  ia berhenti dan memutar badan. “Sebentar…” ucapnya.

Kami berhenti. Mata kami mengikuti dia yang menapak ke arah sederet mobil yang parkir menghadap pagar, di pekarangan depan Gedung Dewan Pers. Ia menghampiri Volvo biru, mobil terbagus yang ada di sana.

“Buk! Buk! Buk!” Sembari mengepit alat perekam yang diselempangkan,   kaki diayunkannya. Sepatu botnya menghajar sekerasnya pantat Volvo. Tentu saja kami terperanjat.

Dengan wajah puas ia melangkah mendekati kami yang masih terperangah. Kening yang berkeringat disekanya dengan lengan pendek kemeja.

Jopie Lasut merekam Meirizal Zulkarnain yang berorasi. (Foto: Tabloid Detik)

Kenapa mobilnya, Bang?” ucap seorang kawan.

“Itu mobil kapitalis yang menjadi antek Soeharto!” jawab dia. “Biar yang punyanya tau rasa!”

Aku tak sempat bertanya ke dia: Bang Jopie Lasut. Soalnya sebuah Bajaj yang lewat di depan pagar sudah dicegatnya. Setelah melambai dengan gayanya yang khas, tubuhnya yang tinggi besar menyesaki kendaraan oranye beroda tiga buatan India, segera menghilang.

Sepeningggal dia kami—antara lain Meirizal Zulkarnain, Satrio Arismunandar, dan Dhia Prekasha Yoedha—langsung menyingkir ke Jl. Sabang dengan menapak. Di sana kami menenangkan perut yang sudah lama bergolak.

Aku masih sangat penasaran. “Volvo tadi punya siapa?” tanyaku sambil melangkah.

“Punya Pak Jakob (Jakob Oetama, bos Kompas-Gramedia Grup, KKG).

“Kok Bang Jopie sentimen betul ke Pak Jakob?” lanjutku.

“Itu sudah lama…ceritanya panjang,” jawab Yoedha.

“Yang pasti mulai besok kami akan getahnya. Mungkin bukan hanya anak Kompas, tapi semua kawan kita yang di Grup KKG,” ucap Satrio Arismunandar.

Yoedha, Satrio, Bambang Wisudo, dan Salomo Simanungkalit  merupakan kawan kami yang saat itu menjadi wartawan di Kompas. Lenah Susianty, Ati Nurbaity, dan Andreas Harsono di The Jakarta Post. Sedangkan di majalah Jakarta-Jakarta ada Stanley Adi Prasetyo (sekarang Ketua Dewan Pers) dan Heru Hendratmoko. Ya, sebagai bagian dari Grup KKG mereka kemungkinan akan terimbas oleh ulah Bang Jopie Lasut. Seperti kata pepatah lama: seorang makan cempedak, semua kena getahnya.

Sungguh,  tidak ada skenario khaos dalam unjuk rasa kami yang melibatkan ratusan orang hari itu. Aksi damai yang kami rancang. Tujuannya? Menolak pembredelan Tempo, Editor, dan Detik (terjadi pada 21 Juni 1994). Hari itu protes kami tujukan ke Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat yang berkantor di kompleks Dewan Pers, di Jl. Kebon Sirih.

Sebuah delegasi beranggota 5 orang (Meirizal dan aku, termasuk) menemui Ketua PWI Pusat, Bang Sofjan Lubis dan kawan-kawannya di kantor mereka di lantai atas. Sementara kami berdialog dengan para petinggi organisasi tersebut,  massa campuran yang unsurnya antara lain wartawan, aktifis pro-demokrasi dan HAM, seniman, budayawan, dan mahasiswa terus berunjuk rasa di halaman bawah. Untuk meyemarakkan suasana, digelar happening art, di samping orasi oleh pelbagai kalangan penolak pemberangusan media massa. Pentolan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), Bang Muchtar Pakpahan,  termasuk yang tampil.

Bang Jopie Lasut—ia berpeci dan berpakaian serba hitam—sedari pagi sibuk menjalankan tugasnya sebagai reporter radio Hilversum, Belanda.  Alat perekam (mereknya Marrantz kalau bukan Sony) selalu ia fungsikan [lihat potret (karya fotografer Detik) saat ia merekam ujaran Muhtar Pakpahan dan kawanku sesama wartawan Bisnis Indonesia, Meirizal Zulkarnain].

Tak seperti yang kami perkirakan, dialog kami dengan para petinggi PWI Pusat  ternyata jauh dari keras dan menegangkan. Bang Sofjan Lubis yang menjadi juru bicara mereka senantiasa menyahuti kami dengan  bersahabat meski ucapan kami terkadang sangat pedas. Semangat kolegial ia jaga.  

“Mengapa PWI membenarkan dan melegitimasi pembredelan Tempo, Editor, dan Detik?” sergahku.

“Kami bisa apa….walaupun sesungguhnya prihatin….Saudara sendiri kan tahu posisi kami serba salah sekarang. Kami harus ikut pemerintah.”

“Kalau begitu apa dong guna PWI….sekarusnya kan melidungi wartawan,” seorang kawan menimpali.

“Sudah saya bilang tadi: posisi kami serba salah…kalau kawan-kawan nggak senang ya terserah…”

“Berarti PWI nggak ada gunanya,” lanjut kawanku itu.

“Terserah penilaian Anda. Kalau nggak senang bikin aja organisasi sendiri.”

“Ya, kami akan segera membuat organisasi sendiri. Terimakasih,” ucapku. Itu memang sedang kami kerjakan.

Kami segera turun meninggalkan kantor mereka.

Begitu melihat kami,  massa langsung mendaulat kami untuk naik ke panggung. Berhubung panggung darurat itu kecil,   Meirizal saja yang naik. Ia berorasi di dampingi Santoso Iskak, wartawan Forum Keadilan yang sebelumnya reporter di Bisnis Indonesia. Ucapan Bang Sofjan Lubis bahwa PWI tak berdaya, dikumandangkan Meirizal. Pula perkataan agar kami membentuk organisasi sendiri saja.

Hadirin  menyahutinya dengan gegap gempita. Teriakan-teriakan yang melaknat Menteri Penerangan Harmoko [diplesetkan menjadi singkatan: ‘hari-hari omong kosong’] dan rezim Ode Baru terdengar. Begitupun, keadaan tetap tentram. Sama sekali tak ada aksi kekerasan, pun saat massa bubar dengan berpencar.

Pasukan keamanan yang berjaga di luar–-termasuk tentara dan polisi yang bersenjata lengkap, sebagian berpasangan menunggangi sepeda motor trail—tidak bertindak represif. Tak seperti yang kami khawatirkan, Peristiwa Jakarta Berdarah pada 27 Juni 1994 ternyata tidak berulang.

Aksi  unjuk rasa menolak pembredelan yang terjadi 6 hari sebelumnya,  berlangsung pada 27 Juni 1994. Pasukan Operasi Bersih menghalau massa yang terus membanyak, dengan kekerasan. Pentung rotan antara lain yang mereka gunakan. Salah satu yang menjadi korban mereka adalah perupa-aktifis terkemuka, Semsar Siahaan. Tulang kakinya remuk sehingga putra Mayor Jenderal (purnawirawan) Ricardo Siahaan (orang dekat Presiden Soeharto di awal Orde Baru, ia pernah menjadi atase militer di Yugoslavia) pincang selamanya.

Demonstrasi kami pada 4 Juli 1994 untuk menyoal PWI Pusat 100% berjalanan damai kalau saja Bang Jopie Lasut tidak bermanuver di menit terakhir. Insiden penyepakan Volvo yang hanya disaksikan segelintir orang itu ternyata berbuntut cukup panjang.

Beberapa hari berselang, Satrio Arismunandar dipanggil sang bos besar. Saat bermuka-muka berdua, Pak Jakob Oetama mencurahkan isi hatinya. “Apa salah saya sehingga Bung Jopie begitu marah ke saya?” Satrio menirukan ucapan co-founder koran Kompas yang juga sesepuh dan donatur utama PWI.    

Sebagai orang baik yang tak mau memperkeruh suasana, jawaban Satrio adalah:   “’Nggak tau, Pak. Nanti saya tanyakan.’ Tentu gua nggak akan sampaikan ucapan Bang Jopie Lasut, “ Itu mobil kapitalis yang menjadi antek Soeharto!”

Bayar

Malam Minggu kemarin (29 September 2018) aku bersua dengan sahabat sejati Bang Jopie Lasut: Bang Jus [baca: Yus] Sumadipradja. Kami sama-sama menghadiri resepsi pernikahan putri Meirizal Zulkarnain, Meta, di Bidakara, Jakarta. Ia tampak segar. Batik yang dikenakannya membuat kegagahannya mencuat.

Lama tak bersua, kami langsung berapa kabar.

“Jopie Lasut meninggal tadi….sudah tahu belum?” kata Bang Jus.

Aku kaget. “Belum. Sakitnya apa?”

“Demam berdarah. Sebelumnya kan ia sudah lama stroke.”

Di tengah hiruk pesta dan bunyi keras pelantun suara kami lantas bernostalgia. Aku mengingatkan dia tentang insiden penendangan Volvo Pak Jakob Oetama.

“Saya yang repot kemudian gara-gara itu. Sehari setelah kejadian, saya langsung menemui Pak Jakob. Jam 8 pagi saya sudah di ruangannya,” tutur Bang Jus Sumadipradja.  Ia lantas berkisah.

Ia memutuskan untuk segera menemui Pak Jakob  setelah tahu apa yang terjadi. Tujuannya adalah meredakan suasana. Ia tak ingin anak-anak kru Kompas-Gramedia Grup yang ikut gerakan yang kelak (pada 7 Agustus 1994) dideklarasikan di Desa Sirnagalih, Megamendung, Bogor,  sebagai Aliansi  Jurnalis Independen (AJI),  terdampak aksi Jopie Lasut.

Dia minta ma’af ke Pak Jakob dan menanyakan biaya berbengkel sedan Volvo itu.  “Ternyata Rp 800 ribu. Aku kasih uang pengganti,  tapi Pak Jakob menolak. Permitaannya satu saja: kelakuan Jopie itu jangan diulang lagi,” ungkap wartawan Kompas yang kemudian menjadi ujung tombak koran Indonesia Raya-nya Pak Mochtar Lubis.

Dalam kesemarakan pesta yang menghadirkan biduan Berlian Hutauruk dan komposer Eros Djarot,  kami lantas melanjutkan obrolan tentang keunikan seorang Jopie Lasut, sang pemberontak abadi. Ia mantan pasukan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta) yang kemudian berkarib dengan Soe Hok Gie sebagai sesama mahasiswa Universitas Indonesia, di Jakarta.

Sebagai seorang aktifis, ia aktif dalam penumbangan 2 kepala negara Indonesia yang terhebat: Soekarno dan Soeharto. Kendati telah menjadi wartawan, ia tak pernah jauh dari gerakan pro-demokrasi dan HAM di Tanah Air. Harga yang ia bayar untuk itu mahal. Ia, misalnya,  sempat melarikan diri ke Belanda karena jiwanya terancam.  Itu terjadi tak lama setelah Peristiwa 27 Juli 1996. 

“Jenazah Jopie sekarang di rumah duka…di Rumah Sakit Siloam, dekat Atma Jaya. Habis dari pesta ini aku mau ke sana. Kalau  ada waktu datang, ya,” kata Bang Jus.

“Baik, Bang,” jawabku.

Kujabat tangan sang petarung yang masih saja bersemangat tinggi. Genggamannya erat. Aku tahu ia sedang masygul betul sebab telah ditinggal sobat sejatinya. Perkawanan mereka yang terjalin sangat lama memang sungguh istimewa. (Bersambung)

(P. Hasudungan Sirait\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Komentar