Pelecehan Seksual Terhadap Jurnalis Perempuan Sepanjang 2018

Selasa, 01 Januari 2019 09:47 WIB
Pelecehan Seksual Terhadap Jurnalis Perempuan Sepanjang 2018

Ilustrasi (pixabay)

Salah satu tantangan yang juga dihadapi jurnalis perempuan di Indonesia adalah menghadapi kasus kekerasan seksual dalam menjalankan profesinya. Ini merupakan problem yang banyak diketahui namun jarang muncul secara terbuka.

Baca juga : Minta Diadakan Pemilu, Warga Bangkok Demo Kecam Rezim Militer

Soal ini diungkap media Asian Correspondent pada 15 Januari 2018 dalam artikel berjudul “Female journalists, male politicians and the epidemic of sexual harassment in Asean.”

Laporan tersebut mengutip cerita dua jurnalis perempuan Malaysia dan seorang jurnalis perempuan Indonesia. Ketiganya berbagi pengalaman serupa tentang terjadinya pelecehan seksual saat menjalankan profesinya sebagai jurnalis. 

Baca juga : Oposisi Melemah, Mantan Capres Singapura Berencana Bentuk Partai Baru

"Tindakan pelecehan itu dilakukan melalui pesan teks, kontak fisik, hingga undangan makan malam ‘khusus.’ Hal yang disesalkan, ada satu fakta yang terungkap bahwa ketika jurnalis perempuan melaporkan kasus pelecehan seksual itu pada editornya, ia justru diminta untuk ‘memanfaatkan’ situasi itu untuk mendapatkan berita yang lebih eksklusif," jelas Ketua Bidang Gender, Anak dan Kelompok Marjinal AJI Indonesia Endah Lismartini.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, Indonesia memang mencatat sejumlah kasus pelecehan seksual terhadap jurnalis perempuan yang mencuat ke permukaan. Tiga kasus yang menonjol adalah yang di Jakarta, Ngawi (Jawa Timur), dan Medan (Sumatera Utara). 

Baca juga : Bebas dari Hukuman Mati, 2 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Pertama, kasus kekerasan seksual terhadap empat perempuan di kantor berita Antara, Jakarta. Kedua, kasus pelecehan seksual yang terjadi pada seorang perempuan reporter magang di Radar Ngawi. Ketiga, kasus pelecehan seksual yang terjadi terhadap seorang reporter di Medan. Dua kasus yang disebut lebih dulu itu dilakukan oleh atasan korban, sedangkan kasus di Medan dilakukan aparat keamanan.

AJI dan NGO di Malaysia, Gerakan Media Merdeka (Geramm), dalam pernyataan sikap bersama pada 19 Januari 2018, mendesak pihak-pihak yang berkepentingan untuk menolak dan terus menolak segala bentuk pelecehan seksual terhadap semua jurnalis, atau dalam kasus khusus ini terhadap jurnalis perempuan.

"Kasus-kasus seperti ini telah lama diabaikan karena dianggap tidak penting, bahkan dianggap hal yang ‘normal’ sebagai bagian dari interaksi sehari-hari antara jurnalis dan sumber berita mereka," tambah Endah. 

AJI dan Geramm menilai munculnya suara dari beberapa jurnalis perempuan yang berani berbagi cerita, berarti ini saatnya bagi kantor media untuk merespons laporan kasus tersebut dengan serius, dan mempertimbangkan membuat kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut. 

Batas kabur antara pelecehan seksual dan hubungan baik dengan narasumber, harus ditarik dengan jelas. Berdasarkan sejumlah catatan itu, semua sumber berita, terlepas dari status mereka, untuk menunjukkan rasa hormat terhadap Jurnalis yang sedang menjalankan tugasnya.

(Sasmito Madrim\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar