Ombudsman Meminta Penyidik Polri Mewawancarai Novel Baswedan

Kamis, 06 Desember 2018 20:30 WIB
Ombudsman Meminta Penyidik Polri Mewawancarai Novel Baswedan

Novel Baswedan. (Foto: Antara)

Ombudsman Republik Indonesia (ORI) melakukan investigasi terhadap Polri dalam melakukan penyidikan mengungkap tindak pidana kekerasan yang menimpa penyidik KPK, Novel Baswedan. Dalam Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan (LAHP), Ombudsman merekomendasikan penyidik dalam hal ini Polda Metro Jaya melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap Novel Baswedan.

Baca juga : Kesaksian Karyawan Minimarket Soal Pembakaran Polsek Ciracas

“Kami meminta Polda Metro Jaya untuk bertanya lagi terhadap Novel Baswedan dalam hal yang berkaitan dengan kasus kekerasan fisik. Semoga kali ini Novel segera kooperatif terhadap penyidik,” ujar anggota Ombudsman ORI, Adrianus Meliala, saat jumpa pers, Kamis (6/12).

Sebelum peristiwa penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, pada Ramadhan 2016 terdapat percobaan penabrakan saat sedang mengendarai sepeda motor menuju kantor KPK. Motor dari arah belakang dengan kecepatan tinggi menendang motor Novel Baswedan di Ja|an Boulevard Kelapa Gading. Kemudian di dekat Apartemen Gading Nias, Novel Baswedan ditabrak oleh sebuah mobil dengan jenis mobil Avanza/Xenia sebanyak 2 (dua) kali hingga Novel Baswedan tejatuh dari sepeda motor.

Baca juga : Polisi Siap Jawab Temuan Ombudsman Terkait Kasus Novel Baswedan

“Hal ini merupakan dugaan percobaan dalam penyerangan terhadap Novel Basweda. Ini masuk dalam aspek pengabaian petunjuk yang bersumber dari kejadian dialamai oleh korban,” ujarnya.

Adrianus menjelaskan, Novel Baswedan dinilai kurang koopratif selama 600 hari proses penyidikan. Statmen yang dikeluarkan Novel Baswedan lebih banyak diungkapkan kepada media, ketimbang kepada penyidik. Oleh sebab itu, Ombudsman meminta agar penyidik terus berusaha mewawancarai Novel.

Baca juga : KPK Tegaskan Penyidik Polri Sudah Periksa Novel Baswedan

“Penyidik harus berusaha lagi meminta keterangan dari Novel. Selama ini Novel lebih banyak ngomong di media. Harusnya omongan itu disampaikan pada penyidik supaya dimasukan dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP),” ujarnya.

Adrianus menjelaskan, laporan akhir hasil pemeriksaan Ombudsman dilakukan selama kurun waktu 5 bulan dengan memriksa beberapa pihak diantaranya penyidik, Polsek Kelapa gading, Polres Metro Jakarta Utara, biro hukum KPK, Kejaksaan Negeri Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan Novel Baswedan. Metode yang ilakukan yakni dengan mewawancarai beberapa nara sumber, memeriksa dokumen-dokumen, dan meninjau langsung lokasi kejadian.

Ombudsman menetapkan pelanggaran maladsminitrasi minor karena melihat keseriusan penyidik kepolisian dalam mengungkap kekerasan fisik pada Novel Baswedan. Kepolisian terbukti melakukan 58 penyidikan yang terekam pada administrasi kegiatan sejak 11 April 2017, diantaranya seperti olah TKP, pemeriksaan saksi, pemeriksaan Labfor, dan lainnya.

Sementara itu, Inspektur Pengawas Daerah Metro Jaya, Kombes Pol Komarul Z datang secara langsung untuk menerima laporan resmi (LAHP), di gedung Ombudsman RI. Ia enggan memberi statmen terkait rekomendasi tersebut.

“Kami akan teliti dan bahas apa yg menjadi temuan Ombudsman ini. Namun saya tidak dapat komentar sekarang. Akan saya berikan ke atasan,” ujar Komarul.

(Hartanto Ardi Saputra\Sasmito Madrim)
Share:


Berita Terkait

Komentar