Kompleksitas Masalah Buruh Migran Kita (Tulisan ke-1)

Nestapa Nina, TKI yang Jatuh dari Lantai 2 Apartemen di Singapura

Senin, 14 Mei 2018 16:07 WIB
Nestapa Nina, TKI yang Jatuh dari Lantai 2 Apartemen di Singapura

Buruh Migran kita di Singapura (foto: SuaraBMI)

Mimpinya untuk dapat membantu melunasi utang ayahnya di sebuah bank pemerintah, pupus sudah. Soalnya Nina Dwi Kodriah, 30, TKI asal dusun Winong, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pulang dari negara jiran dalam keadaan cidera serius. Ia jatuh dari apartemen lantai 2 saat hendak melarikan diri dari kediaman seorang agen penyalur TKI di Singapura lantaran tak tahan dikasari dan dihina bertubi-tubi.

Baca juga : PM Singapura Beri Signal Ada Pergantian Presiden Indonesia?

Kami bertemu di rumah orang tuanya  di dusun Winong akhir tahun lalu.  Nina mengatakan  tangan kanannya masih ngilu kalau digerakkan. Pinggulnya juga terasa sakit saat berjalan.

“Tangan ini sakit sekali. Saya nggak bisa kerja apa-apa,” katanya lirih. Ia masih harus bolak-balik kontrol ke rumah sakit. Biayanya tidak sedikit. “Setidaknya perlu uang Rp 700 ribu untuk sekali kontrol. Jadi, kalau lagi ada uang saja  saya kontrol.”

Baca juga : Di Singapura, Jokowi Bertemu Presiden Chile Sebastian Pinera

Kini ia tidak lagi mampu melakoni pekerjaan yang mengandalkan fisik yang prima; bahkan untuk sekadar membersihkan rumah ia tak kuasa. Maka, ia menjadi beban baru keluarga. Padahal dulu niatnya berangkat ke Singapura tak lain dari membantu meringankan beban ekonomi keluarga.

“Di rumah tidak ada apa-apa. Kami punya utang ke BRI,” kata Mukshin, 57, ayah Nina, petani penggarap sawah dan pekerja serabutan. Adapun sang istri, ia kini bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah keluarga di Surabaya, sekitar 200 kilometer dari Ngawi atau 7 jam berkendaraan; pulang tak musti sebulan sekali.

Baca juga : Hadiri KTT ASEAN Ke-33, Jokowi Tiba di Singapura

Pesona Singapura (foto: Kumparan)

“Sebenarnya dulu saya tidak izinkan Nina berangkat, tapi gimana lagi, untuk penuhi kebutuhan,” ucap Mukhsin.

Mengenang nasibnya  Nina  senantiasa bersedih. Airmata ibu dua anak ini jatuh saat kembali berkisah walau sesaat kemudian ia masih dapat tersenyum dan bersyukur dapat pulang dalam keadaan masih bernyawa. “Saya tidak pernah menyangka akan seperti ini. Kasihan Bapak dan suami saya,” katanya lirih.

Suami Nina, Mansyur (41), yang mendampingi kami berbincang, lebih banyak terdiam. Ia hanya bisa membesarkan hati  agar istrinya fokus saja memulihkan kesehatannya sehingga setidaknya dapat mencari pekerjaan di sekitar Ngawi. Sebagai penjaga toko, misalnya, demi meringankan beban keluarga.

Berawal dari sini

Nina pergi meninggalkan Indonesia pada 7 Maret 2016. Kala itu putra bungsunya, Safa Mustajab masih belum genap 3 tahun. “Dia sempat tidak mau dekat ke saya waktu saya baru datang,” kata Nina. Sedangkan putri pertamanya, Mahmudah Ayu Asharari, sudah mulai beranjak remaja. Saat ditinggal ia berusia 10 tahun.

Kesulitan ekonomi keluarga yang membuat Nina berkeras hati mengadu nasib ke Singapura. Proses pemberangkatannya cepat saja sehingga tak cukup waktunya untuk mempersiapkan mental maupun ketrampilan. Semula ia mencari lowongan merawat orang lansia. Namun yang didapatnya adalah pekerjaan sebagai asisten rumah tangga pada sebuah keluarga beranak tiga.

Tiba di Bandara Changi Singapura ia langsung dijemput seseorang yang ia panggil ‘Mam Nora’. Dia adalah agen penyalur tenaga kerja di Singapura yang tentunya bermitra dengan agen di Indonesia. Menurut penelusuran Law-justice.co Nina tidak berangkat melalui perusahaan penyalur tenaga kerja resmi yang terdaftar di Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Indonesia melainkan lewat seseorang yang mengaku agen penyalur TKI. Orang itu adalah veteran buruh migran yang masih berhubungan dengan sejumlah agen di negara penempatan.

Nina menginap semalam di tempat Nora. Keesokan harinya baru dia diantar ke apartemen calon majikan. Segala urusan dokumen—berupa kontrak kerja dan hak-haknya—diteken kemudian di Singapura. Ia mengatakan mendapat salinan kontrak namun dokumen itu hilang saat kejadian tragis yang menimpa dirinya, kemudian.

Mengurus izin kerja baru setelah tiba di negara tujuan merupakan praktik yang lazim bagi  Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Artinya, banyak pekerja Indonesia yang berangkat ke sana menggunakan paspor lawatan (kunjungan wisata); jadi, mereka tidak melengkapi diri dengan dokumen resmi yang disyaratkan untuk setiap pekerja migran. Segala urusan terkait status izin  kerja dapat dibereskan di tempat tujuan. 

“Memang untuk masuk ke Singapura tidak mudah, tapi jika seorang calon TKI sudah masuk lalu majikannya cocok, Singapura akan bisa membuatkan working permit di sana.Jadi, masuknya illegal, di sana nerimanya jadi legal,” kata Soes Hindharno, Direktur Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Kementerian Tenaga Kerja, kepada Law-justice.co.

Tiba di rumah majikan, Nina tak langsung cepat beradaptasi. Rasa kikuk dan tak nyaman segera menyergap. Wajar saja jika dia mengalami  gagap budaya (cultural shock).  Ada lompatan budaya serta  rutinitas, kebiasaan, dan lingkungan yang amat jauh.

Nina yang tinggal di rumah sangat sederhana di sebuah dusun yang dikelilingi sawah dan hutan jati, kini harus berada di tengah keluarga modern yang jauh lebih mapan; latar budayanya  berbeda pula. Maka, pada hari pertama di rumah majikan, dia sudah langsung minta dipindah kerja. Ia kikuk dan bingung mau mengerjakan apa. Oleh majikan ia  dianggap tak mampu bekerja. Akhirnya, menurut penuturan Nina, ibu majikan mengambil alih semua tugas dan ia dicueki.

Di rumah Nina di Desa Wingon hampir tak ada perabot modern. Televisi juga tiada. Bangunan bergaya rumah adat (joglo) dari kayu dan beralas tanah itu hanya memiliki seperangkat kursi tamu sederhana di ruang tamu. Listrik pun terbatas sehingga malam terasa redup dan sunyi saat kami baru tiba pada satu malam. Lampu dengan bohlam kuning dengan watt kecil tak cukup terang menyinari ruang tamu yang hanya berisi kursi tamu kayu dan tikar untuk kami gunakan saat bermalam.

Soes Hindharno (foto: P. Hasudungan Sirait)

Rumah berdinding kayu ini hanya  memiliki jendela kecil, yakni di samping kanan, sehingga minim ventilasi. Di balik ruang tamu ada penyekat triplek berpintu menuju ruangan lain. Di sana ada dua kamar tidur yang posisinya saling berhadapan: satu kamar orang tua dan satu kamar adik laki-laki Nina yang masih bersekolah. Sisanya ruang plong untuk dapur dan sebuah kamar mandi kecil.

Maka ketika Nina kemudian diserahi tugas mengurus rumah yang segala perlengkapannya serba modern, ia mengaku kikuk, bingung dan kerap melakukan kesalahan. Kalau saja beruntung, dia akan mendapat majikan yang sabar mau membimbingnya;  tapi dalam banyak kasus sang majikan tidak mau tahu karena merasa sudah membayar uang muka dengan jumlah yang tidak sedikit. Harapannya,  mereka akan mendapat asisten rumah tangga yang siap kerja.

Selama 3 hari pertama Nina acap dimarahi tuan rumah sehingga pikirannya sangat tertekan. Majikannya tinggal di sebuah apartemen yang memiliki 3 kamar tidur, sebuah dapur, ruang tamu, ruang makan, dan dua kamar mandi. Tugas utama Nina adalah membersihkan rumah, memandikan piaraan, dan mencuci. Setiap hari ia wajib bangun pukul 05.30 untuk mempersiapkan anak-anak majikan yang akan bersekolah, menyetrika, dan memasak. Masalahnya ruang gerak dia betul-betul dibatasi dan ia diawasi ketat. Ia tidak boleh keluar. Di beberapa sudut ruangan terpasang kamera CCTV sehingga ia merasa gerak-geriknya dimonitor selama 24 jam.

Beranak tiga, sang majikan,  di mata Nina,  cerewet. “Kalau membuat kesalahan saya pasti kena marah. Anaknya  juga rewel dan banyak menuntut karena masih ada yang TK dan SD kelas satu.”

Masalah psikologis yang dialami para TKI yang tinggal serumah dengan majikan bukan perkara sepele. Inilah salah satu sumber persoalan mengapa kemudian banyak buruh migran merasa frustrasi bahkan depresi. Masalah ini seharusnya bisa diminimalkan jika saja mereka  dibekali ketrampilan bekerja dan berbahasa asing.

Ekspektasi para majikan di negara penempatan biasanya selalu tinggi karena mereka sudah membayar biaya dimuka. Seorang majikan di Arab Saudi, misalnya, paling sedikit  mentransfer US$ 5.000 ke agen setempat. Dana itu,  oleh agen,  sebagian besar kemudian dikirim ke perusahaan penyalur tenaga kerja di Indonesia.

“Kalau pakai kurs sekarang, Rp. 14.000 per dolar,  berarti yang ditransfer sudah Rp 70 juta. Itu bukan angka yang kecil. Mereka berharap pembantunya bisa berbahasa Arab dan lancar baca Al-Quran. Ternyata yang datang tidak demikian;  orangnya nggak nyambung. Akhirnya marah-marah,” kata Soes Hindharno, Direktur Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Kemenaker.

Di Singapura, sesuai aturan, pekerja rumah tangga wajib tinggal serumah dengan majikan. Benturan perbedaan—kultur, karakter, dan kebiasaan—pun niscaya akan terjadi. Nina orang Jawa. Ia tidak terbiasa berbicara terus terang dan mengungkapkan perasaan secara terbuka meski mengalami ketidakadilan. Dia lebih sering memendam rasa sedih, amarah, dan terhina. Tapi semua ada batasnya. Setelah tak kuasa lagi menanggung derita, kelak ia pun nekad bertindak.  (Bersambung)

(Rin Hindryati\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Berita Terkait

Komentar