Mengenang GM Sudarta

Memvisualisasi Pembredelan Hingga Pribumi dan Non Pribumi

Rabu, 11 Juli 2018 08:12 WIB
Memvisualisasi Pembredelan Hingga Pribumi dan Non Pribumi

Kompas Gramedia menyelenggarakan diskusi sekaligus pameran karya GM Sudarta di Bentara Budaya Jakarta, Selasa (10/7/18) (foto: law-justice.co/ Hartanto Ardi Saputra)

Wafatnya kartunis Indonesia, Gerardus Mayela Sudarta atau lebih dikenal dengan nama GM Sudarta pada Sabtu, (30/6) lalu, meninggalkan banyak kenangan bagi para sahabatnya.

Baca juga : Oom Pasikom dan Kompas dalam Pusaran Politik Indonesia

Wartawan senior harian koran Kompas, Trias Kuncahyono, menceritakan  sosok G.M. Sudarta dalam perjalanan sejarah koran yang didirikan oleh Petrus Kanisius (PK) Ojong itu. Menurut Trias, karya GM Sudarta menjadi pembuka pada halaman depan koran Kompas pasca dibredel rezim Orde Baru (Orba). 

"Jadi pasca dibredel itu, Kompas hanya menampilkan kartun karya GM Sudarta. Baru pertama terbit sesudah dibredel, sudah dipanggil lagi oleh pemerintah Orba karena kartun itu," ujar Trias di Bentara Budaya Jakarta dalam acara "Mengenang Mas GM" Selasa (10/7). 

Baca juga : Seniman Klaten Merasa Kehilangan GM Sudarta 

Pada 21 Januari 1978, larangan terbit menyusul pemberitaan Kompas tentang pencalonan Soeharto sebagai presiden untuk ketiga kalinya. Akibatnya, tujuh media massa yakni harian Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi, dan Pos Sore dilarang terbit melalui perintah Pangkopkamtib Sudomo.

Setelah sekitar tiga bulan dibredel, akhirnya harian Kompas kembali terbit. Pada edisi pertama itu halaman depan koran berupa kertas kosong yang di bagian pokoknya terdapat kartun Sudarta dengan tulisan "Selamat Pagi". 

Baca juga : GM Sudarta Kartunis Pencipta "Om Pasikom" Meninggal

"Nah hanya karena kartun dan tulisan itu, Kompas kembali diundang oleh pemerintah Orba. Ini karya sangat fenomenal dan bersejarah," kenang Trias. 

Sudarta yang dikenal Trias, selalu membuat riset kecil dengan cara berdiskusi jika hendak membuat sebuah gambar. Diskusi itu bisa tentang sosial, politik, korupsi, ekonomi, olahraga, dan perkembangan dunia internasional. 

Sudarta melakukan hal itu agar menghasilkan karya yang bernilai dengan masyarakat luas. Ia selalu merespon topik hangat yang sedang dibicarakan oleh masyarakat. 

Trias menceritakan, suatu saat harian Kompas akan membuat kartun tentang polemik penyebutan pribumi dan non pribumi. Rencana itu perlu kehati-hatian, karena jika salah memvisualkan gagasan, akan menyinggung segolongan masyarakat Indonesia. 

Dengan idenya yang brilian, Sudarta membuat kartun perihal kepribumian itu dengan metafora bergambar kera. Kera, menurut Charles Darwin, adalah salah satu bentuk dari evolusi manusia. 

"Saya tidak menyangka kalau GM Sudarta akan membuat metafora kera sebagai penggambaran pribumi. Itu ide yang mengejutkan," ujarnya. 

Kenangan terhadap Sudarta juga dirasakan oleh Direktur Bentara  Budaya, Frans Sartono. Ia menceritakan bahwa sebelum meninggal dunia, sang kartunis baru saja menyelesaikan menulis sebuah buku berjudul "Berteriak dalam Bisikan". 

Frans mengaku, dirinya menjadi saksi proses pembuatan buku itu. Sampai di ujung hayatnya, kata Frans, Sudarta berjuang menyelesaikan buku meski dalam kondisi fisik kepayahan. 

"Buku itu bener-bener digarap dalam kondisi yang jauh dari sehat. Bahkan kami harus duduk di lantai karena beliau hanya bisa berbaring," kata Frans. 

Frans juga mengungkapkan bahwa Sudarta berkontribusi besar dalam mengambangkan harian Kompas mulai dari awal, hingga tahun 2018. GM Sudarta dalam sejarahnya dibesarkan oleh harian Kompas. Tetapi ia juga ikut membangun harian Kompas. "Keinginannya yang terakhir adalah, ia ingin pulang di sebuah taman kecil, di balik cakrawala," kata Frans. 

Perwakilan kelompok kartunis dari Persatuan Kartunis Indonesia, Jan Praba mengatakan, karya GM Sudarta selalu menjadi acuan dalam tiap perhelatan lomba kartun, karena sangat sedikitnya acuan literasi pegiat kartun di Indonesia. 

Jan Praba melanjutkan, ada pelajaran Sudarta dalam hal seni kartun, yakni bagaimana menampilkan sebuah karya dalam visualisasi yang ceria. Kartun juga dapat digunakan untuk mengkritik, tetapi dengan cara yang cerdas. 

"Sekarang ini kartun hanya media caci maki. Kalau Sudarta itu kartunnya santun, tapi maknanya sangat mengena. Kritik santun tapi pedas," kata Jan Praba. 

Seno Gumira Ajidarma,Rektor Institut Kesenian Jakarta yang juga hadir di acara, mengaku mengikuti dunia kartun Indonesia jauh sebelum reformasi 1998. Kartun, kata Seno, mempunyai tugas memberi tahu situasi sosial pada masyarakat. 

Menurutnya, GM Sudarta berada di posisi yang sulit untuk membuat karya yang kritis dalam situasi rezim otoriter Orde Baru. Oleh sebab itu, karya kartun dalam wujud santun tapi sarat metafora yang penuh kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang cemerlang. 

"Saya bisa bayangkan beban GM Sudarta sebagai kartunis berhadapan langsung dengan represifitas Orde Baru. Tapi ia dapat menemukan bentuknya sendiri," kata Seno. 

Abu almarhum GM Sudarta telah disemayamkan di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) sebelum dimakamkan di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (3/7/18).  

(Hartanto Ardi Saputra\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar