Mega Proyek Lippo Grup di Cikarang (Tulisan ke-1)

Meikarta, Riwayatmu Kini...

Minggu, 27 Mei 2018 13:48 WIB
Meikarta, Riwayatmu Kini...

Suasana proyek pembangunan Meikarta di Cikarang (Foto: Hartanto Ardi Saputra)

Di saat harga rumah semakin membumbung tinggi, siapa yang tidak ngiler ketika ada perusahaan properti dengan nama besar, menawarkan hunian vertikal dengan harga murah dan cicilan bulanan yang super ringan.

Baca juga : Meikarta Digugat Terkait Pembayaran Iklan yang Mandek

Iming-iming booking fee yang dapat dikembalikan, uang muka (down payment/DP) yang cuma lima juta, ditambah pilihan angsuran yang hanya sejutaan per bulan, tak pelak membuat banyak yang tertarik untuk berinvestasi.

Meikarta, mega proyek yang dibangun oleh Grup Lippo menawarkan semua kemudahan itu jika berinvestasi di sana. Sejak  Agustus 2017, perusahaan milik James Riady itu, mulai menjual unit-unit apartemen di  Meikarta melalui iklan besar-besaran di media terkemuka seperti koran Kompas dan Tempo.

Baca juga : Pengerjaan Bangunan Bermasalah, Meikarta Tetap Jualan

Promosi gila-gilaan itu dimuat terus-menerus hingga minggu pertama Oktober 2017 (Remotivi 14/10/17). Bukan hanya itu, iklan lewat talkshow di televisi dan radio swasta juga gencar dilakukan.

Dari awal kemunculannya, Grup Lippo nampak sangat percaya diri kalau mereka akan mampu menjual dan mencapai target. Padahal, berdasarkan survei Bank Indonesia (BI) yang dilansir dari Detik Finance, penjualan properti residensial makin merosot tajam. Pertumbuhan 3,61% (qtq) pada kuartal II-2017 melambat dengan kuartal sebelumnya yang sebesar 4,16% (qtq).

Baca juga : Kontraktor Hentikan Pembangunan Apartemen Meikarta

Kini, memasuki bulan kelima tahun 2018, bagaimana perkembangan mega proyek tersebut? Seiring dengan makin jarangnya iklan Meikarta yang muncul di media massa, berhembus pula kabar yang menyatakan, pembangunan properti di Cikarang itu mandek alias dihentikan.

PT Total Bangun Persada (Total) bahkan telah mengirim surat kepada 15 sub kontraktornya perihal “Penghentian Sementara Pekerjaan Finishing Tower EF”. Lebih lanjut surat bertanggal 28 April 2018 itu menyatakan agar para rekanan yang disebut di dalam surat itu, menghentikan sementara kegiatan di proyek sampai dengan waktu yang akan diinformasikan kemudian.

Dalam surat tidak dijelaskan alasan penghentian pengerjaan finishing tersebut. Hanya dikatakan “menindaklanjuti surat yang sudah kami sampaikan kepada Lippo Cikarang tanggal 23 April 2018. Bahwa sampai saat ini kami belum bisa menemui titik temu mengenai hal tersebut.”

Law-justice.co telah menghubungi Project Manager Total Edwin Rahadijan Widjaja, untuk mengonfirmasi hal tersebut, namun operator telepon perusahaan mengatakan yang bersangkutan sedang “di lapangan” (9/5/18).

Begitupula dengan beberapa sub kontraktor yang dihubungi law-justice.co seperti PT Satria Gesit Perkasa, PT Bumi Graha Perkasa dan PT Rajawali Karya Gemilang, namun tidak mendapat jawaban.

Apa sebenarnya yang terjadi pada Meikarta? Benarkah proyek terhenti dan kontraktor menunda menyelesaikan bangunan? Bagaimana dengan konsumen yang sudah membeli?

Reporter law-justice.co pun mencari tahu dengan mendatangi langsung ke lokasi proyek di Cibatu, Cikarang Selatan, Bekasi, Jawa Barat. Salah satu konsentrasi pembangunan tersebut terletak di tower area B8 nomor 51021, 52021, dan 53021, tepat di pinggir Jalan OC Boulevard.

Di lokasi tidak ada aktivitas pengerjaan proyek. Alat berat untuk pembangunan gedung seperti tower crane  atau alat pemindah vertikal, pile driving alat pemancang tiang pondasi, dan excavator terparkir begitu saja.  

Deretan bedeng-bedeng panjang yang digunakan sebagai tempat istirahat para pekerja, juga sepi tak berpenghuni. Bahkan, pada salah satu dinding bedeng tersebut terdapat coretan dinding menggunakan cat semprot bertuliskan, godbaye (goodbye) Meikarta.

Tulisan "godbaye (goodbye) Meikarta" di bedeng pekerja proyek di Cikarang (Foto: Hartanto Ardi Saputra)

Salah seorang pekerja proyek yang masih berada di lokasi pembangunan, Endar, 40 tahun, menjelaskan bahwa pengerjaan proyek Meikarta di lokasi tersebut telah berhenti sekitar dua bulan silam. Ia yang bekerja pada salah satu sub kontraktor Meikarta yakni PT Selo Mitra Prakarsa (SMP) tetap berada di lokasi proyek karena mendapat tugas untuk mengamankan alat-alat berat.

“Rencananya alat-alat berat milik sub kontraktor tempat kami bekerja akan ditarik dari lokasi proyek. Tapi belum tahu kapan,” ujar Endar, Selasa (22/5) saat ditemui di lokasi proyek.

Alat-alat berat di lokasi proyek Meikarta (Foto: Hartanto Ardi Saputra)

Pria asal Seragen, Jawa Tengah itu mengaku pasca pemberhentian pembangunan proyek Meikarta, pendapatannya turun drastis. Pekerja otomatis tidak mendapatkan upah lembur dan hanya dibayar ketika ada aktivitas kerja.

Tugas Endar adalah mengerjakan pembangunan Tower area B 8. Pada sesi itu, pembangunan baru memasuki persiapan pembuatan pondasi bangunan. Sayangnya, pada saat hendak dilakukan pengeboran tanah, proyek ini sudah dihentikan.

“Rencananya ini baru mau dibor untuk membuat pondasi bangunan. Tapi kemarin malah sudah dihentikan pengerjaannya,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang pekerja lainnya bernama Parman. Ia menjelaskan bahwa sub kontraktor tempatnya bekerja yakni PT. Jinliya Indonesia Cai Gang memutuskan untuk menghentikan pengerjaan proyek.

Akibatnya, Parman memilih pulang ke kampung halamannya di Garut sejak awal April 2018 lalu. Ia bersama ratusan pekerja lainnya meninggalkan lokasi pengerjaan proyek Meikarta kurang lebih sejak dua bulan silam.

“Sudah dua bulan yang lalu proyek pengerjaan ini berhenti. Makanya kami pulang ke kampung halaman masing-masing,” ujar Parman.

Parman akhirnya mendapat panggilan dari pihak mandor proyek untuk kembali ke lokasi pembangunan Meikarta pada Selasa (22/5). Ia bersama sembilan orang pekerja lainnya diminta untuk membongkar formwork atau bekisting,  sebab, biaya sewa alat itu dalam satu bulan dapat mencapai puluhan juta rupiah.

“Nah sebagian pekerja diminta kembali ke sini untuk membongkar bekisting karena kemarin sebelum pulang belum sempat dicopot,” ujar Parman.

Menurut Parman, saat ini dirinya sedang mengerjakan pembongkaran bekisting di Blok C Tower I. Tower tersebut rencananya akan dibangun apartemen 30 lantai yang diproyeksikan selesai pada 2019. Namun, pembangunan tower itu saat ini baru mencapai empat lantai saja.

 “Perkiraan pemongkaran bekisting akan selesai sebelum lebaran nanti. Setelah itu, belum tahu apakah lanjut dibangun atau tidak,” ujar Parman.

Apa Kata Konsumen

Seorang pembeli unit Apartemen Meikarta, Madsuri, 68 tahun mengaku kecewa dengan progres pembangunan apartemen. Padahal pihak manajemen Meikarta telah berjanji  untuk melakukan serah terima apartemen pada tahun 2019.

“Awalnya saya senang melihat pembangunan Meikarta yang terlihat gencar. Tapi setelah saya amati kok seperti tidak berjalan. Itu sekarang baru empat lantai saja yang dibangun,” ujar Madsuri saat ditemui law-justice.co.

Madsuri membeli unit di apartemen Meikarta pada sekitar bulan Oktober 2017. “Saya sedang di mall Lippo Cikarang, kemudian ada sales promosi yang menawarkan hunian di Meikarta. Harganya kok murah, akhirnya saya kesengsem untuk membeli unit apartemen,” ujarnya.

Show unit apartemen Meikarta di Marketing Gallery di Cikarang (Foto: Hartanto Ardi Saputra)

Karena tertarik dengan iming-iming harga murah, ia memutuskan untuk membeli dua unit tipe B yang letaknya di Tower T dekat universitas dan rumahsakit. Madsuri membeli dua unit kamar tersebut dengan cara pembayaran lunas untuk satu unit dan satu unit lainnya dibayar dengan cara Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

“Totalnya saya sudah mengeluarkan uang sekitar Rp 275 juta untuk dua unit. Semua pembayaran melalui Bank Nobu,” ujarnya.

Progres pembangunan yang dinilai lambat, membuat Madsuri memutuskan untuk meminta kembali uang yang sudah ia setor. Sayangnya, permintaannya itu ditolak oleh pihak bank. “Uang yang Rp. 25 juta itu mau saya tarik kembali. Tapi ternyata susah. Permohonan saya ditolak,” katanya.

Padahal, Direktur Komunikasi Lippo Grup Danang Kemayan Jati, seperti dikutip dari Katadata memastikan, semua uang booking fee atau NUP dapat dikembalikan. “Bila ada calon pembeli yang mengeluh susah refund, kasih saya datanya, akan saya bantu,” janji Danang.

Madsuri khawatir dengan mulai ramainya informasi mengenai proyek pembangunan Meikarta yang bermasalah. Menurutnya, banyak konsumen yang bernasib seperti dirinya.

“Ya untuk sementara saya hanya bisa pasrah sambil menunggu perkembangan selanjutnya,” imbuh Madsuri.

Tidak adanya pengerjaan pembangunan di lokasi proyek Meikarta, tentu menimbulkan banyak tanda tanya. Diantaranya, apakah perusahaan masih terus melakukan penjualan? Bagaimana pihak terkait menyikapi hal ini? Law-justice.co menelusuri masalah tersebut, dan akan menurunkannya dalam tulisan kedua Pengerjaan Bangunan Bermasalah, Meikarta Tetap Jualan .

 

 

 

(Hartanto Ardi Saputra\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Pengerjaan Bangunan Bermasalah, Meikarta Tetap Jualan

Kontraktor Hentikan Pembangunan Apartemen Meikarta

Komentar