Korut Batalkan Pembicaraan dengan Korsel, Dan Ancam Gagalkan KTT Trump-Kim

Rabu, 16 Mei 2018 12:32 WIB
Korut Batalkan Pembicaraan dengan Korsel, Dan Ancam Gagalkan KTT Trump-Kim

Latihan Gabungan AS-Korsel Gagalkan Pertemuan Korut (foto: the guardian)

Korea Selatan (Korsel) secara tiba-tiba membatalkan pembicaraan tingkat tinggi dengan Seoul dan mengisyaratkan akan menarik diri dari rencana pertemuan tinggkat tinggi dengan Donald Trump yang dijadwalkan pada 12 Juni mendatang, di Singapura.

Sikap Korut ini merupakan bentuk protes atas digelarnya latihan militer gabungan antara Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS).

Kantor berita resmi Korea Utara KCNA menyebut latihan gabungan AS-Korsel bersandi "Max Thunder" ini merupakan latihan pertempuran udara yang melibatkan pesawat tempur AS dan pesawat pengebom B-52. Kegiatan ini dianggap sebagai bentuk "provokasi" yang tidak sejalan dengan menghangatnya hubungan Utara-Selatan belakangan ini.

Para pengamat mengatakan meski rezim Korut menggunakan bahasa yang lunak saat mengingatkan mitranya, namun ini merupakan pernyataan pertama yang menunjukkan adanya kemunduran sejak pemimpin Korut Kim Jong-un mau membuka ruang diplomatik untuk membicarakan konflik semenanjung Korea di awal tahun ini.

“Tentu ada batasan untuk menunjukkan itikad baik dan membuka kesempatan,” demikian bunyi pernyataan yang dirilis kantor berita Korut, KCNA, saat menanggapi latihan gabungan tentara AS dan Korsel.

“Amerika Serikat juga seharusnya membuat pertimbangan secara hati-hati tentang nasib rencana pertemuan tingkat tinggi Korut-AS ketika hendak melakukan tindakan provokatif bersama dengan pemerintah Korsel.”

Pernyataan tersebut dirilis hanya dua jam sebelum pertemuan yang sedianya berlangsung Rabu (16/5), sembari menambahkan bahwa latihan tempur udara selama dua minggu, dengan sandi Ma xThunder, jelas ditujukan kepada Korut, seperti dilaporkan the Guardian.

Latihan gabungan yang telah dimulai sejak Jumat (11/5) melibatkan sekitar 100 pesawat tempur AS dan Korsel termasuk delapan jet tempur siluman F-22 dan sejumlah pengebom B-52.

Kantor berita Yonhap mengutip seorang nara sumber mengatakan pesawat pengebom B-52, yang belum sempat bergabung dalam latihan tersebut, kemungkinan tidak jadi dilibatkan sebagai konsesi terhadap protes Pyongyang.

Max Thunder merupakan satu dari sejumlah latihan militer gabungan yang rutin dilakukan setiap tahun dengan melibatkan militer AS dan Korsel. Kegiatan ini kerap dikecam Korut yang dianggap sebagai bentuk persiapan untuk melakukan invasi ke Korut.

Menteri Pertahanan Korsel, Song Young-moo, berencana melakukan pertemuan darurat dengan mitranya Jenderal Vincent Brooks, komandan militer AS di Korea, untuk mendiskusikan bagaimana mereka merespon protes Korut.

Bagi Korut sendiri, kehadiran pesawat pembom dalam latihan gabungan militer AS dan Korsel menyulut kenangan menyakitkan saat terjadi perang Korea yang berlangsung pada 1950-53.

Menurut perkiraan angkatan udara AS, serangan bom yang dijatuhkan pesawat pembom AS B-29s pada waktu itu mengakibatkan lebih banyak korban jiwa di pusat-pusat kota selama perang Korea, ketimbang jumlah korban jiwa di Jerman dan Jepang selama PD II. AS memuntahkan 635.000 ton bom hanya di Korea, bandingkan dengan 503.000 ton selama perang pasifik.

Juru bicara Kementerian Unifikasi Korsel, Baik Tae-hyun menyesali keputusan Pyongyang dan menganggapnya berlawanan dengan “spirit dan tujuan” deklarasi Panmunjom yang telah disepakati kedua pemimpin Korea, Kim dan Moon, bulan lalu.

Baik mendesak agar Korut secepatnya kembali ke meja perundingan, tetapi ia menolak berspekulasi apakah langkah Korut tersebut akan memengaruhi rencana pertemuan tingkat tinggi Kim dan Trump.

Pertemuan tingkat tinggi Trump-Kim terancam (foto: cnbc)

KCNA mengatakan menuver tersebut merupakan sikap menantang yang sangat jelas terhadap ‘deklarasi bersama Kim dan Moon saat pertemuang tingkat tinggi dua Korea di Rumah Perdamaian, desa perbatasan Panmunjom pada April lalu.

Pada saat itu, kedua pemimpin sepakat untuk mengakhiri segala bentuk sikap saling bermusuhan baik di darat, udara maupun laut yang selama ini merupakan sumber dari ketegangan politik dan konflik di semenanjung Korea.

Juru bicara kementerian luar negeri AS, Heather Nauert, mengatakan AS belum mendengar secara langsung pernyataan dari pemerintah Korut tentang apakah mereka akan mempertimbangan kembali rencana pertemuan tingkat tinggi Kim dan Trump.

“Apa yang akan kami lanjutkan adalah apa yang telah Kim Jong-un sampaikan sebelumnya, bahwa dia mengerti dan menghargai pentingnya bagi AS untuk melakukan latihan militer gabungan,” kata Nauert.

“Kami akan melanjutkan rencana pertemuan.”

Dalam pernyataan keberatan tentang latihan militer tersebut, rezim Pyongyang menggambarkan tindakan tersebut sebagai tindakan ofensif yang menyasar Korut. Juru bicara Pentagon, Col Rob Manning, mengatakan mereka justru bersikap devensif.

Pejabat AS dan Korsel sebelumnya mengatakan Korut dapat mengerti jika latihan gabungan militer digelar sebelum pertemuan tingkat tinggi dengan Trump.

KTT dua Korea di Panmunjom seharusnya akan diikuti dengan pertemuan lanjutan tingkat pejabat senior dua negara yang sedianya akan digelar Rabu (16/5). Dalam pertemuan tersebut antara lain akan dibahas rencana implementasi sejumlah deklarasi yang telah disampaikan kedua pemimpin korea Moon dan Kim. Agenda pembicaraan termasuk mengakhiri secara formal perang Korea, denuklirisasi dan mempertemukan kembali keluarga yang terpisah akibat perang Korea pada 1950-1953.

“Korea Utara tahu persis bagaimana membuat ancaman secara eksplisit. Untuk standar mereka, ancaman ini terbilang hati-hati,” kata Adam Mount, peneliti senior di Federation of American Scientists. “Ini bisa saja merupakan upaya mereka untuk menaikkan posisi dan melihat bagaimana tim Trump bereaksi.”

Mintaro Oba, mantan staf kementerian luar negeri AS untuk urusan Korea, mengatakan dalam akun tweeter peribadinya:

“Pertanyaannya, apakah mereka mau terus melanjutkan perundingan sampai terselenggaranya pertemmuan tingkat tinggi, atau mereka hanya mencoba menaikkan posisi tawar dan menguji seberapa besar kita menginginkan KTT.”

Sementara itu, foto satelit menujukkan bahwa sejauh ini pemimpin Korut masih memenuhi janjinya untuk menghancurkan lokasi uji coba nuklir di Punggyeri. Foto yang dirilis 38 North, sebuah website yang fokus pada isu Korea, menunjukkan sejumlah bangunan di sekitar lokasi uji coba nuklir Korea yang berada di daerah pegunungan telah diruntuhkan baru-baru ini.  

(Rin Hindryati\Rin Hindryati)
Share:


Komentar