Kisah Raja yang Murka dan Putri Tidur di Gua Tham Luang

Rabu, 11 Juli 2018 21:31 WIB
Kisah Raja yang Murka dan Putri Tidur di Gua Tham Luang

Hikayat menyebutkan bahwa gua adalah cerminan dari alat kelamin seorang putri yang bunuh diri. Foto: Getty Images

Setelah sempat tidak terdengar apa pun selama sembilan hari, akhirnya mereka semua berhasil diselamatkan lewat operasi penyelaman yang berbahaya.

Baca juga : Navy SEAL Thailand: Sukses Operasi, Harapan yang Menjadi Kenyataan

Secara bertahap selama tiga hari sejak Minggu (08/07) hingga Selasa (11/07) petugas penyelamat berhasil membawa ke-13 orang itu ke luar dari gua dengan aman walau beberapa anak dan remaja kehilangan berat badan sekitar dua kilogram.

Di balik kisah terperangkapnya mereka dan penyelamatannya, berbagai media melaporkan mitos di balik Tham Luang Nang Non, yang artinya Gua Agung Putri Tidur.

Baca juga : Tim Selam Bersiap Evakuasi 5 Orang yang Tersisa di Gua

Sama seperti budaya-budaya di kawasan Asia lainnya, masyarakat Thailand juga percaya bahwa ada kisah-kisah yang hidup di tempat tertentu, termasuk gua Tham Luang Nang Non, yang menjadi perhatian dunia selama dua pekan belakangan.

Di salah satu gua kawasan itulah yang artinya Gua Agung Putri Tidur, 12 anak anggota klub bola Celeng Liar dan seorang pelatihnya terperangkap banjir pada 23 Juni lalu.

Baca juga : Ini Cara dan Tahapan Tim SAR Evakuasi Remaja yang Terjebak Dalam Gua

Sebagaimana dilansir BBC pada Rabu (11/7), jika dilihat dari jalan utama yang mengarah ke taman nasional, Khun Nam Nang Norn secara samar-samar memang terlihat seperti seseorang yang sedang berbaring.

Seorang perempuan setempat, Khankaew, mengatakan kepada media Australia, Fairfax Media, mengatakan 'semua orang' tahu kisah tentang putri dan gua itu.

"Putri itu sangat cantik dan dia jatuh cinta dengan pria yang bekerja di kandang kuda setempat dan hamil," tutur sukarelawan yang membantu memberi makanan pada tentara dan para petugas penyelamat di Tham Luang Nang Non.

Namun ayah sang putri marah, lanjut Khankaew, dan mengejar pasangan yang melarikan diri itu sampai tentara raja berhasil membunuh pria kekasih putri cantik itu.

Hatinya luluh lantak, dan putri itu bunuh diri, menusuk jantungnya dengan jepitan rambutnya.

Waktu berlalu dan gunung itu membentuk putri yang terbaring meninggal sementara tersebar legenda bahwa air yang menetes ke dalam gua adalah darah sang putri.

Namun seorang sukarelawan lain, Pubess, cuma tersenyum meringis dan menjawab "setengah-setengah" ketika ditanya apakah percaya pada kisah Gua Agung Putri Tidur, seperti dilaporkan koran Australia, The Sydney Morning Herald.

Bagaimanapun mitos selalu punya berbagai versi.

Majalah New Mandala -terbitan Australian National University yang mengulas masalah sosial, politik, dan budaya Asia Tenggara- menulis bahwa seorang putri melarikan ke dalam gua tersebut.

Raja murka karena dia hamil setelah berhubungan dengan orang biasa. Sang putri sembunyi dan istirahat di dalam gua sambil menunggu kekasihnya datang untuk membawa makanan. Namun ternyata kekasihnya sudah dibunuh oleh tentara kerajaan.

Putus asa menanti kekasih yang tak kunjung tiba, putri itu bunuh diri dengan menikam tubuhnya dan darahnya menjadi sungai Mae Nam Mae Sai sementara tubuhnya menjadi gunung Doi Nang Non sedangkan gua sebagai alat kelaminnya.

Kini sang putri menjadi 'penjaga' gua dan para pengunjung disarankan untuk berdoa sebelum masuk gua atau teranam mati kena banjir.

Masih belum jelas apakah 12 anak dan remaja bersama pelatihnya itu sudah berdoa masuk ke dalam gua atau tidak, namun kenyataannya mereka terperangkap banjir dan berhasil diselamatkan keluar gua dalam keadaan hidup.

(Sobri\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar