Kisah Kesatria Airlangga dari Gaza Palestina

Senin, 14 Mei 2018 21:40 WIB
Kisah Kesatria Airlangga dari Gaza Palestina

Ahmed Muhammad Omar Al- Madani. Foto: Facebook

“Hanya ada dua pilihan, aku tetap tinggal di Gaza dengan situasi yang seperti ini atau aku keluar dari Gaza dan membuat hidupku lebih  Baik”. 

Baca juga : Trump Cabut Visa dan Usir Dubes Palestina Beserta Keluarganya

Penggalan kata itulah yang dikatakan Ahmed Muhammad Omar Al- Madani saat menceritakan kisah perjuangan melewati konflik di negaranya, hingga ia berhasil melewati Rafah Borders untuk sampai di Indonesia. 

Konflik Gaza bukan hal mudah bagi dirinya. Namun, karena perjuangan dan doa di tengah suara meriam, ia kini akan mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu sosial.

Baca juga : Orang Palestina Tusuk Pengunjung Mall Hingga Tewas

“Aku tidak pernah terfikir tentang beasiswa yang ada di Indonesia, yang aku tahu beasiswa hanya di Turki, Jerman, dan Amerika. Kalaupun aku mencari di Asia, aku mencari di Malaysia atau China,” jelasnya.

Ahmed bisa dibilang mahasiswa asing yang beda dengan yang lain, sebab latar belakangnya dari negara yang tidak berhenti dari konflik, membuat Ahmed memiliki kesan dan nilai tersendiri. Ahmed tumbuh  besar dengan suara bom dan peluru yang biasa ia lihat berkelibatan diatas rumahnya. Asap dan tangisan anak kecil sudah menjadi hal biasa yang ia hadapi sehari-hari.

Baca juga : AS Hentikan Bantuan Untuk Pengungsi Palestina

Pertemuannya di dunia maya dengan Hamidah merupakan awal perubahan hidupnya. Hamidah merupakan satu-satunya yang ia kenal dari sosial media. Tepatnya di tahun 2013, Hamidah menyarankan untuk mengikuti beasiswa unggulan untuk mahasiswa asing yang diadakan Kemendikbud Indonesia.  Kemudian, Ahmed mencoba mendaftarkan diri pada beasiswa tersebut dan melengkapi administrasi. Selang satu minggu ia mendapat kabar bahwa ia diterima di Universitas Airlangga.

Ahmed seharusnya tiba di Indonesia dan melangsungkan kegiatan perkuliahan pada September 2013. Namun, keadaan yang ada di negaranya membuat ia harus tertahan hingga November 2013. Untuk keluar dari Gaza, Ahmed harus melewati Rafah Border. Rafah Border merupakan pembatas  antara Gaza dan Mesir. Rafah Border selalu tertutup dan hanya orang orang tertentu yang bisa mengaksesnya. Setiap hari Ahmed datang ke Rafah Border untuk melakukan negoisasi pada penjaga disana agar ia bisa keluar dan terbang ke Indonesia. Tepat Bulan November 2013 setelah Negoisasi yang sulit akhirnya Ahmed berhasil melewati Rafah Border dan terbang ke Indonesia.

Tahun Ini adalah Tahun terakhir Ahmed menjalani studi di Universitas Airlangga. banyak kesan yang ia dapatkan selama empat tahun tinggal di Indonesia. Ia mengaku sangat senang bisa tinggal di Indonesia karena jauh dari cerminan Gaza yang setiap hari terdengar suara tembakan, rudal, maupun serangan udara, dan jiwa yang emosi.

“Disini orangnya ramah dan suka senyum, saya merasa senang, beda dengan disana (Gaza) jadi kalau kamu senyum pada orang yang tak dikenal, mereka bukan malah membalas dengan senyumanmu mereka malah memaki maki kamu dan bilang ngapain kamu senyum ke aku,” tandasnya sambal tertawa.

Ditanya mengenai langkahnya kedepan, Ahmed mengatakan bahwa ia tak mungkin kembali ke Gaza. karena keadaan konflik yang belum reda. Ia memilih untuk berkarir di Indonesia atau negara yang lain.  Ahmed memiliki cita-cita sebagai pengajar, selama ia tinggal di Surabaya ia juga sering mengajar Bahasa Inggris di beberapa tempat

“Jika ada kesempatan, saya ingin sekali mengajar di UNAIR untuk mahasiswa ilmu politik S-1 semester awal , saya ingin berbagi dengan mereka ilmu politik yang sudah saya pelajari. Saya juga ingin mengajar mereka menggunakan Bahasa Inggris,” pungkasnya. 

Disadur dari laman Airlangganews

(Sobri\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar