Jurnalisme investigasi (Tulisan-2)

Karya Indonesialeaks dalam Bingkai Jurnalisme Investigasi Kekinian

Kamis, 18 Oktober 2018 22:03 WIB
Karya Indonesialeaks dalam Bingkai Jurnalisme Investigasi Kekinian

Standar jurnalisme menjadi kata kunci. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Berita itu adalah informasi, tapi informasi belum tentu merupakan berita. Begitu prinsip dalam jurnalisme. Lantas bagaimana hubungan keduanya? Kalau menggunakan pendekatan matematika tingkat SMP,  yang satu menjadi himpunan bagian dari yang lain. Di sini, informasi merupakan induknya.

Baca juga : 500 Hari Mandek, Novel Angkat Bicara Soal Penyiraman Air Keras

Selain berita, dalam informasi tercakup aneka unsur termasuk: kabar bohong (hoax) yang diciptakan semata karena keisengan atau memang disengaja dengan maksud tertentu, tafsir, nujum, prediksi, spekulasi, propaganda, dan fitnah. Beda berita dari yang lain adalah ia merupakan peristiwa yang diwartakan orang ke orang lain, baik individu, kelompok, atau khalayak luas. Perisitiwa sendiri adalah kejadian sungguhan sehingga serba jelas jalan ceritanya (apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana ia berlangsung; sebutannya  5W+1H).

Baca juga : Usman Hamid: Penyitaan Buku Merah Tunjukkan Legitimasi KPK Berkurang

Jurnalis dalam sebuah konferensi pers. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Masih menurut kaidah jurnalisme, kuat tidaknya sebuah berita itu bisa diukur. Nilai berita (news value), parameternya. Apakah besar dampak peristiwa itu terhadap masyarakat luas? Apakah sisi manusiawinya sarat?  Apakah orang-orang tenar ada yang terlibat? Apakah kejadian itu dekat (secara geografis dan psikologis) dengan khalayak sasaran media yang akan memberitakannya? Apakah peristiwa itu baru terjadi? Apakah yang telah berlangsung  itu unik atau langka? Masing-masing jawaban pertanyaan ini disebut unsur berita. Jika seluruh unsur berita dijumlahkan hasilnya disebut nilai berita. Kian besar ia, semakin laik peristiwa itu diwartakan.

Baca juga : Pemimpin KPK Lawan Kesadaran Publik

Ketentuan tentang apakah berita dan seperti apa  berita yang kuat, merupakan bagian dari standar jurnalisme. Sistem nilai ini berlaku universal di dunia profesi berusia  ratusan tahun bersebutan: wartawan atau jurnalis. Ia merupakan buah  terbaik  dari proses belajar kolektif sembari melakoni (learning by doing) sejak media massa berlahiran menyahuti kemajuan teknik percetakan setelah pandai logam bernama  Johannes Gutenberg mengembangkan mesin cetak di tahun 1450-an. Di ‘zaman now’—yang didominas ‘media baru’ yang berbasis internet dan bersajian multi-platform—pun standar ini tetap berlaku se-jagat.

Hal lain yang juga diatur dalam standar jurnalisme  adalah keberbobotan berita. Prinsipnya, berita yang berbobot adalah: selain sudah diverifikasi kebenarannya, ia harus berimbang (mendengar suara semua pihak terkait), imparsial (tidak menguntungkan atau merugikan siapa pun dengan cara apa saja), akurat, lengkap 5W+1H-nya, mendalam tapi fokus, dan sesuai dengan kode etik jurnalistik.

Satu hal lagi, sebagai sebuah sajian tentu ia mesti kuat dan memikat. Sebab itu semua unsur berita (teks, foto, video, infografis, dan ilustrasi) harus saling menopang satu sama lain sebagai bagian yang integral dan diramu sedemikian rupa sehingga menjadi suguhan yang enak untuk dinikmati serta bergizi. Berarti teknik berceritanya juga harus tinggi.

Mewawancarai barulah satu langkah. Masih ada langkah lain. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Standar jurnalisme-lah yang sepatutnya kita gunakan manakala hendak menilai berita apa pun, termasuk sajian kelompok Indonesialeaks yang beberapa hari belakangan  menuai kontroversi. Dengan berprespektifkan standar jurnalisme, tulisan ini akan membicarakan suguhan kolaborasi media yang digagas  Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), Tempo Institute, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, dan Press Unlimited tersebut. Sebagai catatan awal, masing-masing mereka telah bertahun-tahun menjalankan agenda penyemaian jurnalisme investigasi di negeri kita tercinta.

Jurnalisme Investigasi

Perkara lama: suap daging impor sapi yang dilakukan pengusaha Basuki Hariman, yang diangkat kembali oleh Indonesialeaks. Cuma, sudut pandangnya (angle) baru, yakni perobekan halaman buku-keuangan berwarna merah yang mereka yakini telah dilakukan 2 petugas pemeriksa di KPK. Tujuan tindakan pastilah untuk meghilangkan bukti. Angle ini sesuatu yang luput dari perhatian publik selama ini.

Seperti yang disebut dalam tubuh berita masing-masing media yang merupakan bagian dari konsorisum Indonesialeaks, pendekatan yang mereka gunakan dalam pewartawaan kasus ini adalah investigasi. Tentu investigasi oleh media massa bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Di zamannya koran Indonesia Raya yang dipimpin Mochtar Lubis serta surat kabar Sinar Harapan yang dikomandani HG Rorimpandey-Aristides Katoppo di tahun 1970-an itu sudah mereka praktikkan. Kebaruan yang diusung  Indonesialeaks adalah koloborasi antar-tim redaksi. Mereka telah menyisihkan ego masing-masing demi pengungkapan yang bertujuan memaslahatkan orang banyak. Sebelumnya, atas nama  eksklusifitas yang akan memashyurkan nama sendiri, media massa enggan saling bahu-membahu dengan sesama dalam pemberitaan.

Satu lagi yang baru, Indonesialeaks juga mengumumkan ke khalayak luas keterbukaan dirinya menerima informasi dari siapa saja bila memang ada skandal yang perlu diungkap.

Kegigihan menggali informasi menjadi syarat penting bagi seorang jurnalis. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Kalau melihat cara kerjanya, jelas Indonesialeaks penganut mashab jurnalisme data, sebuah jenis jurnalisme investigasi kekinian. Sudah banyak dipraktikkan di pelbagai belahan dunia, termasuk di Thailand dan Jepang, tapi hingga detik ini ia masih saja asing di Indonesia. Prinsipnya, berkolaborasi lintas batas dengan memanfaatkan data dan teknologi, guna mengungkap kejahatan terhadap manusia dan alam.

Karya puncak dari jurnalisme data adalah Panama Papers yang menghebohkan dunia sejak pertama kali diumumkan pada 3 April 2016.  Difasilitasi Concortium of Investigative Journalism (ICIJ), sebelumnya  370 jurnalis dari 107 organisasi media di 80 negara bekerjasama menguak kejahatan keuangan yang melibatkan sebuah firma hukum yang berbasis di Panama. Setelah mengolah data bocoran dan memverifikasi ke sana ke mari, hasil kerja keras kolektif 12 bulan itu pun dipublikasikan. Inti beritanya? Sekian lama telah berlangsung praktik penggelapan dana, penghindaran pajak, pencucian uang, dan penghindaran sanksi internasional. Pelakunya para pimpinan negara, pengusaha, pesohor di dunia hiburan, bos kartel narkoba, mafia, dan yang lain. Mereka bertautan dengan 215.000 perusahaan offshore yang berbasis di 21 negara. Sejumah orang Indonesia terlibat juga dalam skandal ini.

Adapun pewartaan oleh Indonesialeaks, titik tekannya pada penghilangan bukti yang menurut mereka justru dilakukan pemeriksa KPK yang menangani kasus Basuki Hariman. Lembaran-lembaran buku bank yang dihilangkan itu, lanjut mereka, merupaan catatan penting ihwal uang masuk dan keluar dalam bentuk rupiah dan dolar (AS dan Singapura). Dalam setiap transaksi uangnya besar yakni dari puluan juta hingga miliaran rupiah. Penerima uang termasuk sejumlah petinggi di Mabes Polri dan Polda Metro Jaya di masa itu.

Indonesialeaks menyebut, beberapa bulan sebelumnya mereka telah menerima kiriman dokumen dari seseorang. Isinya  ihwal berita acara pemeriksaan  Kumala Dewi Sumartono, di KPK. Mengususi keuangan CV Sumber Laut Perkasa, Kumala adalah orang kepercayaan sang pemilik perusahaan:  Basuki Hariman.

Data kini menjadi semakin penting. (Foto: P. Hasudungan Sirait)

Sebaik beroleh dokumen, mereka pun mengembangkan informasi lewat reportase penyelidikan. Sesuai prosedur tetap dalam liputan invesigasi, mereka lantas berusaha  memverifikasi informasi yang didapatkannya. Orang-orang yang terkait mereka wawancarai termasuk kedua petugas KPK yang diduga merobek halaman buku keuangan. Tapi keduanya tidak sudi berkomentar. Sebelum masa bertugasnya habis perwira polisi bernama Roland dan Harun dikembalikan KPK ke kesatuan asalnya, Mabes Polri. Bukannya terdegradasi, keduanya malah berpromosi di sana. Ke Jenderal Tito Karnavian—namanya termaktub di buku keuangan yang disobek—juga mereka meminta komentar. Namun, menurut Indonesialeaks,  Kapolri hanya mengatakan, “Sudah dijawab Humas.’

Entah mengapa media massa di Tanah Air sedikit saja yang memberitakan temuan Indonesialeaks. Lain betul situasinya saat skandal kebohongan Ratna Sarumpaet terbongkar, misalnya. Mereka sangat bergairah. Atau waktu politisi kawakan, Amien Rais, muncul  di Polda Metro Jaya pada 10 Oktober lalu. Pun, tatkala ditemukan peluru di ruangan DPR pada Senin, 15 Oktober barusan.

Alih-alih memperlihatkan solideritas, sejumlah media massa malah lebih bersemangat memberitakan tuduhan bahwa sajian Indonesialeaks tersebut hoax belaka. Tak habis pikir melihat keganjilan para koleganya, seorang  pemimpin redaksi menyelutuk. “Media masa kita banyak yang sudah masuk angin, rupanya…,” ucap dia sembari menggeleng.

Temuan Indonesialeaks yang memunculkan pro-kontra haruslah dinilai dengan perspektif standar jurnalisme. Sebagai suguhan, cerita ihwal perobekan buku merah itu tinggi nilai beritanya. Soalnya yang disoroti termasuk para petinggi Polri dan otoritas KPK, selain seorang pengusaha besar, Basuki Hariman. Kemudian uang keluar-masuk yang ada di catatan perusahaan importir daging tersebut serba akbar (puluhan juta hingga milyaran rupiah) sekali transaksi. Kalau memang korupsi benar terjadi, dampaknya tentulah besar; pun sisi kemanusiaannya.

Mengingat nilai beritanya yang tinggi, seharusnya media massa kita akan berlomba-lomba menindak lanjutinya. Nyatanya, jauh panggang dari api. Jangankan media yang tak terlibat dalam penyelidikan, 2 anggota konsorsium Indonesialeaks yang aktif sejak awal ternyata memutuskan untuk tidak ikut menurunkan beritanya di hari-H. Mereka adalah CNN TV Indonesia dan Liputan 6. Sebuah ironi sekaligus enigma (tanda tanya besar), tentunya keputusan mereka tersebut.

Sinyalemen pun muncul. Ada yang bilang intervensi dari atas telah memengaruhi. Terbetik juga kabar di kalangan wartawan bahwa operasi senyap sedang berlangsung yang bertujuan menjauhkan media massa dari isu perobekan buku merah. Entah seperti apa kebenaran desas-desus itu!

Sampai hari ini sajian Indonesialeaks masih menjadi perkara. Sebenarnya untuk menilai apakah karya jurnalisme itu emas atau cuma sepuhan,  caranya sederhana. Cukup memeriksanya dengan memakai standar jurnalisme saja. Biarkanlah otoritas pers yang bicara. Jadi, tak perlu dilebarkan ke sana-sini,  termasuk ke ranah politik sehingga menjadi komodiri menjelang tahun politik 2019.   

*) Penulis  adalah Kepala Banking Journalist Academy (sejak 2013) dan penguji di Uji Kompetensi Jurnalis (mulai 2012).

(P. Hasudungan Sirait\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Berita Terkait

Pemimpin KPK Lawan Kesadaran Publik

Komentar