Heru Hendratmoko, pengamat

Jokowi - Ma’ruf Amin dan Pertarungan Pemilu 2024

Jumat, 10 Agustus 2018 10:57 WIB
Jokowi - Ma’ruf Amin dan Pertarungan Pemilu 2024

Jokowi akhirnya pilih Ma’ruf Amin jadi cawapres (foto: parlementaria)

Banyak pendukung Jokowi yang kecewa karena ia telah memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Mereka yang kecewa terutama karena sudah sangat yakin Jokowi bakal menggandeng Mahfud MD. Sebagian dari mereka bahkan langsung menyatakan tak bakal datang ke TPS alias Golput.

Baca juga : Ma'ruf Minta Lawan Politik Jangan Politisasi Agama

Kekecewaan yang wajar, karena sejujurnya saya juga termasuk yang kecewa. Kenapa Jokowi memilih pendamping yang sudah tua? Sebegitu besar kekhawatiran terhadap isu keagamaan (baca: Islam) dalam pilpres 2019 sehingga harus memilih ulama sepuh?

Saya jadi ingat sebuah diskusi kecil menjelang pembukaan acara ulang tahun Komunitas Salihara ke-10 kemarin malam. Benar-benar diskusi kecil karena hanya ada 4-5 orang duduk melingkari sebuah meja mungil di bagian kedai lantai atas yang bisa dipakai untuk merokok.

Kurang lebih begini: kalau Mahfud MD yang dipilih menjadi cawapres, dia akan dengan mudah mengambil alih kekuasaan di PKB. Tentu saja situasi ini sama sekali tak diinginkan elit PKB yang kini berada di bawah kendali Muhaimin Iskandar. 

Muhaimin yang juga gencar berkampanye menjadi cawapres tentu tak setuju kalau Jokowi memilih Mahfud. Entah berhubungan atau tidak, isu Mahfud bukan orang NU juga menyebar di media sosial, meski kemudian muncul banyak bantahannya termasuk dari elit partai yang berasal dari keluarga NU.

Itu pertama. Kedua, bagi sebagian anggota koalisi partai politik pendukung Jokowi, memilih Mahfud MD juga dianggap bukan pilihan strategis. Kalau Mahfud jadi wapres, ia bisa menguasai PKB. Dan kalau itu terjadi, Mahfud punya potensi besar untuk jadi capres 2024. Peluang partai-partai lain untuk mengajukan capres alternatif akan mengecil.

Nah, ini yang paling krusial. Tahun 2024 adalah the real battle bagi semua partai politik di Indonesia. Jokowi (kalau menang pada pilpres 2019) tak bakal maju lagi karena konstitusi membatasi hanya sampai 2 periode. Jadi sedapat mungkin pendamping Jokowi pada pemilu 2019 harus bukan dari kalangan partai atau yang potensial menjadi ketua partai. 

Pilihan logis lantas jatuh pada Ma’ruf Amin. Sebagai sesepuh NU dan Ketua MUI, Ma’ruf Amin dinilai ampuh melawan isu anti-Islam yang selama ini dipakai lawan untuk menyerang Jokowi. Pengalaman pilpres 2014 (kasus Obor Rakyat) dan Pilkada DKI 2017 telah memberi pelajaran berharga, betapa mudahnya masyarakat kita diguncang kabar bohong dan fitnah mengatasnamakan agama.

Bagi partai koalisi, pak Ma’ruf juga merupakan pilihan paling aman bagi mereka. Usia pak Ma’ruf sekarang sudah 75 tahun. Pada pilpres 2024 usianya bakal menjadi 81 tahun. Sudah terlalu tua untuk maju sebagai capres (tak usah merujuk kasus Mahathir yang memenangi pemilu di Malaysia pada usia 93 ya — beda konteksnya).

Pada 2024 sebagian elit partai juga bakal pensiun seperti Megawati, SBY dan Prabowo. Kecuali kalau mereka tak ingin melakukan regenerasi.

Artinya, 2024 memang benar-benar bakal menjadi pertarungan bagi semua partai politik untuk merebut kekuasaan nasional. Di sini akan muncul tokoh-tokoh yang lebih muda: Risma, Ganjar, Muhaimin, Rommy, Sri Mulyani, Ridwan Kamil, dll. Juga, suka atau tidak, Anies dan Sandi.

Pilihan Jokowi memang mengecewakan. Tapi bisa dipahami. Tak seperti penampilannya, Jokowi sesungguhnya adalah seorang politisi ulung. Ia tahu, ia bakal kehilangan suara sebagian pendukungnya. Tapi bukan tidak mungkin akan muncul pendukung-pendukung baru dari kalangan yang selama ini tak menyukainya. 

Bukankah pada pilpres 2014 sebagian orang juga kecewa pada pilihan Jokowi yang menggandeng JK — yang juga sudah sepuh? Toh pada saat pencoblosan, mereka tetap berbondong-bondong memilih Jokowi. Penting dicatat, dalam sistem presidensial, kekuasaan presiden adalah yang utama. Bukan wapres. Termasuk ketika nanti harus menyusun tim kabinet — presiden lah sebagai pemegang hak prerogatif. Presiden yang mendapat mandat sepenuhnya.

Jadi saran saya, jangan habiskan seluruh kecewamu hari ini. Cadangkan juga untuk 2024 nanti. Siapa tahu kelak Anies atau Sandi yang muncul sebagai capres. Hari ini saja nama Sandi sudah muncul sebagai cawapresnya Prabowo.

(Rin Hindryati\Editor)
Share:
Tags:


Berita Terkait

Komentar