Membangun Museum Peranakan Tionghoa

Jihad ala Anak Aceh

Senin, 06 Agustus 2018 10:45 WIB
Jihad ala Anak Aceh

Museum Pustaka Peranakan Tionghoa (foto: Hartanto Ardi Saputra)

Sebuah papan nama berukuran 3x1 meter bertulis “Museum Pustaka Peranakan Tionghoa” menjadi penanda bangunan ruko berlantai dua tempat menyimpan berbagai buku, majalah, koran, komik dan literatur tentang Tionghoa. 

Museum yang dibuka pada 2011 ini digagas oleh Azmi Abubakar, pria berdarah Gayo, Aceh, kelahiran Jakarta. Dibesarkan di lingkungan keluarga muslim yang taat beribadah, tak lantas menyurutkan tekad Azmi untuk mengubah pandangan miring sebagian masyarakat terhadap etnis Tionghoa. Ayahnya, Tengku Haji Abubakar Bintang, adalah pakar bahasa Arab yang berprofesi sebagai dosen Bahasa Arab di IAIN/UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang. 

"Bagi saya mendirikan museum Peranakan Tionghoa ini adalah jihad. Etnis Tionghoa selama ini mendapat stigma negatif, padahal mempunyai jasa yang luar biasa bagi Indoneisa," kata Azmi saat berbincang dengan law-justice akhir bulan lalu di museum yang terletak di kawasan perumahan di Tangerang.

Pria berkulit coklat serta bewok lebat ini menilai etnis Tionghoa kerap menjadi kambing hitam saat bangsa Indonesia mengalami pengalihan kekuasaan seperti pada masa revolusi 1945, atau saat terjadi tragedi pembantaian 1965, dan reformasi 1998.

Azmi juga merasa ada gap antara fakta sejarah dan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Fakta sejarah yang menggambarkan jasa besar sejumlah etnis Tionghoa di Nusantara kerap menjadi kabur tertutup oleh stigma negatif yang beredar di masyarakat.

"Saya ini orang Aceh yang besar di Pasar Senen. Nah, ternyata orang Tionghoa itu sudah hidup di Pasar Senen sejak sekitar 1700an, jauh sebelum orang Aceh, Kalimantan, atau Batak hadir di pasar Senen. Ini ada bukti-buktinya dalam arsip yang saya simpan," ujar Azmi.

Museum Pusaka Peranakan Tionghoa menyimpan kurang lebih 30.000 arsip berupa buku, dokumen, potongan artikel koran, catatan pribadi, komik, foto dan benda lain yang berhasil ia kumpulkan sejak masih remaja. Semuanya tersusun rapih di bangunan berlantai dua tersebut. Selain itu ada juga beberapa papan nama dan patung berunsur Tionghoa. Benda dan arsip itu merupakan hasil buruan Azmi sejak masih remaja.

Sejak kecil Azmi hidup di daerah Kwitang, Kawasan Pasar Senin yang merupakan sentra penjualan buku loak dengan harga murah. Ia pun kemudian akrab dengan tumpukan dagangan berupa buku kuno, surat kabar langka, komik, dan catatan lainnya. Ia bahkan dijuluki si kutu buku sejak remaja.

"Pada awalnya saya belum ada kecendrungan atau fokus tentang naskah-naskah yang berkaitan dengan etnis Tionghoa. Semakin banyak membaca, semakin sadar pula ketidaktahuan selama ini," ujarnya.

Pengalaman Pahit Reformasi 1998

Selain karena minatnya yang tinggi terhadap sejarah, peristiwa kerusuhan 1998 yang disertai kekerasan berbasis prasangka rasial telah menggerakkan hati Azmi untuk menggali peradaban etnis Tionghoa. Azmi yang pada waktu itu masih kuliah di Institut Teknologi Indonesia, jurusan Teknik Sipil ikut bergabung dalam gelombang aksi mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan gerakan Reformasi itu pun berhasil mengakhiri masa kekuasaan Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.

Azmi Abubakar (ilustrasi: Christopher)

Namun, di tengah gegap gempita reformasi, Azmi  merasa etnis Tionghoa telah dikambing hitamkan. Sentimen anti-Cina marak dimana-mana. Mereka dianggap menjadi biang kerok kesenjangan ekonomi saat krisis finansial. Azmi melihat sendiri bagaimana masyarakat mudah terprovokasi untuk mau melakukan tindakan anarkis seperti penjarahan, perusakan bahkan pembakaran terhadap toko-toko serta rumah tinggal milik etnis Tionghoa.

"Kalau ingat reformasi 1998 justru saya tidak bangga tapi sedih. Kenapa etnis Tionghoa harus dikorbankan dalam pergolakan perubahan rezim di negeri ini," cerita Azmi.

Kerusuhan 13-14 Mei 1998 yang merupakan puncak kekerasan anti Tionghoa itulah yang melatarbelakangi Azmi melakukan sebuah tindakan. Menurutnya peristiwa Mei dapat terjadi karena informasi tentang orang-orang Tionghoa yang baik dan berjasa pada Indonesia tidak dapat diakses oleh masyarakat umum. Dia lalu memutuskan membangun museum Pustaka Peranakan Tionghoa, di Serpong, Tangerang, pada 2012.

"Kebodohan itu memang membutakan mata hati manusia. Oleh karena itu saya mendirikan museum ini agar tidak ada lagi diskriminasi terhadap etnis Tionghoa," ujarnya.

Menurut Azmi, ada banyak tokoh peranakan Tionghoa yang berjasa besar pada Indonesia. Seperti Soe Hok Gie, aktivis yang turut andil dalam penurunan kekuasaan Orde Lama, pebulutangkis hebat sepanjang masa Lim Swie King dan Soegija Pranata, uskup pribumi pertama.

Kisah John Lie, Kapten Kapal Heroik

“Ada banyak arsip penting yang ada di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Misalnya arsip surat-surat John Lie Tjeng Tjoan atau yang lebih dikenal dengan nama Laksamana John Lie,” kata Azmi.

John Lie yang berjulukan ‘Hantu Selat Malaka’ adalah satu-satunya milisi Indonesia keturunan Tionghoa yang berhasil meraih pangkat Laksamana Muda dan diberikan gelar pahlawan nasional oleh Pemerintah. Ia merupakan perwira tinggi di Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) yang berdinas pada 1945 hingga 1966.

Laksamana John Lie (foto: sindo)

Azmi berhasil mendapatkan dokumen asli korespondensi antara laksamana John Lie dengan Kepala Staf TNI AL (KASAL) pertama Indonesia Laksamana TNI (Purn) R. Soebijakto. Arsip berupa surat-surat tersebut kini tersimpan rapi di museum. Dari dokumen tersebut Azmi menemukan informasi bahwa Laksamana TNI R. Soebijakto pernah meminta John Lie untuk mengadakan rapat darurat.

Rapat tersebut dimaksudkan untuk membahas rencana pendirian TNI AL pasca revolusi 1945. Dengan demikian, John Lie telah ikut andil dalam merancang konsep pendirian TNI AL pertama kali. Namanya pun telah dijadikan nama kapal perang, KRI John Lie dengan nomor lambung -358.

Dalam arsip surat itu juga ditemukan catatan penting saat Laksamana John Lie menembus blokade Belanda di Selat Malaka dengan kapal yang diberi nama The Outlaw. Lie memimpin misi menembus blokade Belanda bersama sejumlah anak buah. Mereka membawa karet, teh dan hasil bumi lainnya untuk dibawa ke Singapura dan ditukarkan dengan senjata serta kebutuhan pangan lainnya.

Daerah operasi John Lie meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila, dan New Delhi.

"Ada juga surat dari perwakilan pemerintah Indonesia di Singapura isinya memperingatkan agar Lie mengurungkan niat menembus blokade Belanda itu. Tapi faktanya Lie tetap nekat demi Indonesia," ujar Azmi.

Selain arsip korespondensi John Lie, Museum Pustaka Peranakan Tionghoa juga menyimpan buku karya Soe Lie Piet atau Salam Sutrawan. Salam merupakan ayah dari dua orang hebat Indonesia, yakni  Arief Budiman, aktivis '66 serta intelektual yang mumpuni, dan Soe Hok Gie, aktivis dan penggagas Mapala Universitas Indonesia (UI).

Soe Li Piet adalah seorang jurnalis sekaligus sastrawan. Dia bekerja di berbagai koran dan majalah dan aktif mengarang. Pria yang lahir di Tanah Abang pada 1904 itu pernah menjadi wartawan untuk koran Sin Po dan menjabat sebagai editor di koran Han Po.

Semasa hidupnya, Soe Lie Piet beberapa kali menulis novel. Salah satu novelnya berjudul Oelar Jang Tjantik (Ular yang Cantik) kini tersimpan di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa.

Ada juga dokumen berupa surat kabar lawas bernama Sin Po yang diterbitkan pada Oktober 1910 oleh kalangan muda Tionghoa di Jakarta.

Azmi menemukan fakta unik pada koran Sin Po edisi pertengahan Mei 1926. Kata "Indonesia" ternyata sudah ada dalam koran Sin Po dua tahun sebelum kongres Sumpah Pemuda yang digelar pada Oktober 1928.

Memang benar, Sin Po adalah pelopor penggunaan istilah "Indonesia" untuk menggantikan "Nederlandsch Indie", "Hindie Nederlandsch", atau "Hindia Olanda".

 “Bung Karno ketika masih menjadi mahasiswa di ITB (THS, kala itu) memiliki hubungan yang erat dengan penulis Sin Po, Tan Tek Ho, dan juga dengan pencetak serta penyokong Sin Po yang gigih, yakni Liem Soey Tjoan,” kata Azmi.

Arsip penting lainnya, kata Azmi, yakni sebuah papan kayu besar dengan ukuran sekitar 50x100 cm. Dalam papan tersebut terdapat aksara dalam huruf Tionghoa yang merupakan plakat nama sebuah sekolah Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK).

THHK merupakan sebuah organisasi yang didirikan pada 17 Maret 1900 oleh beberapa tokoh keturunan Tionghoa di Jakarta. THHK merupakan tonggak kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya pendidikan. Kini THHK masih ada di Jakarta. Sekolah tersebut telah berubah nama menjadi Sekolah Terpadu Pahoa.

"Dulu waktu membeli papan nama kayu ini belum tahu kalau ini plakat THHK. Kami baru sadar ketika menemukan foto sekolah THHK yang sama dengan plakat papan nama tersebut," ujarnya.

Selain itu, museum Pustaka Peranakan Tionghoa juga menyimpan beragam arsip lainnya seperti komik, almari, kalender, foto-foto dan berbagai benda bersejarah lainnya. Masyarakat dapat mengunjungi museum ini pada jam kunjungan pagi hingga sore.

"Museum ini tidak menerima bantuan berupa dana dari pihak manapun. Ini merupakan bentuk penghargaan bangsa Indonesia terhadap jasa etnis Tionghoa di Nusantara," ujarnya.

Berkat dedikasinya mengarsipkan dokumen peranakan Tionghoa di Indonesia, Azmi kerap diminta menjadi pembicara di luar negeri. Dia mengaku pernah menjadi pemateri di Malaysia dan Singapura.

Menurutnya, orang Tionghoa yang datang ke wilayah Nusantara adalah orang-orang hebat dari Tiongkok. Banyak arsip menunjukkan bahwa orang Tionghoa di Indonesia bergerak dalam banyak disiplin ilmu, baik kesehatan, sosial, kebudayaan, dan ilmu ekonomi.

"Jadi orang Tionghoa di Nusantara ini menjajaki segala bidang. Bukan hanya distigma sebagai pedagang saja," pungkas Azmi.

(Hartanto Ardi Saputra\Rin Hindryati)
Share:


Komentar