Nina Moran, CEO GoGirl

Jatuh Bangun Mendirikan Bisnis Selama Delapan Tahun

Selasa, 27 November 2018 14:27 WIB
Jatuh Bangun Mendirikan Bisnis Selama Delapan Tahun

Nita Moran, CEO GoGirl (foto: law-justice.co/ Januardi Husin)

“Kami sama-sama suka baca majalah, lalu ada kesempatan. Aku anak bisnis, Nita anak desain. Kenapa enggak kami mulai bisnis saja? Simple saja,” kata Nina Moran, CEO Majalah GoGirl, menceritakan bagaimana awalnya membangun bisnis majalah untuk perempuan muda itu, pada akhir 2004 lalu.

Baca juga : Bandara Soekarno-Hatta Raih "Best Airport of The Year"

Bersama kedua adiknya, Nina memulai bisnis media di usia muda. Pinjaman modalnya berkali-kali ditolak oleh bank. Tapi ia terus gigih. Bukan sekedar memperjuangkan bisnis dengan pertaruhan modal yang besar. Ia juga berjuang demi kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. 

Tapi kemudian ia sadar, membangun bisnis media tidak sesederhanaitu. Dalam bukunya yang berjudul No One to Someone (2013) Ninabercerita banyak mengenai suka duka duka membangun GoGirl. Lebih banyak dukanya,karena ia harus jatuh bangun, terutama saatmencari investor dalam bisnis yang dirintisnya selama delapan tahun, 

Baca juga : Majalah Aktuil, Media Propaganda Musik Keras Asal Kota Kembang (Tulisan-3)

“Bisnis apa sih yang gampang? Jual mie saja susah. Kalau orang mau bisnis dan berharap akan gampang, kayaknya ada yang salah deh,” ucapnya. 

Benar saja. Dari mula mencari modal, mereka sudah kesusahan. Proposal yang diajukan ke bank guna mencairkan modal ditolak mentah-mentah. Beberapa bank yang menerima pun akhirnya tidak bisa mempertaruhkan uang kepada perempuan muda dengan bisnis yang berisiko gagal. Terlebih lagi, uang yang mereka butuhkan kala itu lebih dari satu miliar rupiah.

Baca juga : Perempuan Harus Berani Berpikir Secara Independen

Beruntung, di tengah kebuntuan, orang tua Nina menawarkan diri untuk meminjamkan tabungannya. Uang yangsebenarnya dipersiapkan untuk bekal hidup di masa depan bagi tiga bersaudara itu. Harta warisan akhirnyadigunakan sebelum waktunya. 

Jalan mulai terbentang, mulailah Moran bersaudara membangun bisnis majalah perempuan bernama GoGirlpada 2005. Nina kala itu berusia 25 tahun. Kedua adiknya, Anita Moran dan Githa Moran, masing-masing berumur 22 dan 18 tahun. 

Siapa sangka, ketigaperempuan muda ini mampu bertahan di tengah ketatnyaarus bisnis media. Kuncinya, kata Nina, terus berinovasi dan berevolusi mengikuti tren zaman. Kiat itu terbukti ampuh. 

Bukan hanya bertahan, Nina bersama GoGirl-nya, terpilih sebagai peraih penghargaan Ernst & Young Indonesia Entrepreneurial Winning Women 2013. Saat itu Nina berhasil menunjukkan bahwa ia meraih keuntungan Rp 10 miliar dalam setahun. 

Kini,GoGirl eksis dengan wajah baru, berupa platform website. Dengan tampilan yang elegan, menyajikan artikel populer mengupas isu-isu anak muda kekinian. Tidak ketinggalan, website ini juga menjual pernak-pernik yang bisa dibeli oleh pembaca.

Sampai saat ini, ia berkesimpulan bahwa perempuan muda tidak sepantasnya dikucilkan dari dunia bisnis. Jika ia mampu, yang lain pun harusnya mampu. Sebab itu, setiap orang harus memiliki kesetaraanyang bisa diwujudkan dengan komunikasi dan saling pengertian. 

Di tengah kesibukannya yang begitu padat, pada Kamis (8/11/2018), ibu tiga anak ini menyempatkan diri berbagi cerita tentang pengalamannya mengembangkan bisnis, kepada Januardi Husin dari law-justice.co. Berikut petikannya:

Apa masalah terberat yang pernah dialami selama memimpin GoGirl?

Masalah pajak. Tahun 2014 kami sempat kesangkut masalah pajak yang sebetulnya terjadi pada 2009. Cuma karena kegulung dan menumpuk, penyelesaiannya jadi sangat sulit karena sebelum 2010 kami belum punya data base yang bagus. Jadi pencatatannya enggak rapi.

Pas lagi pemeriksaan itu kami cek ke agen-agen, dan agen kami dulu catatannya hanya pakai buku doang. Kami sebetulnya punya faktur, tapi sudah hancur karena sudah lama. 

Bisa dibilang masalah itu adalah kelalaian kami, dan mau tidak mau kami harus bayar ke negara. Lumayan, angkanya miliaran waktu itu. Masalahnya, aku lagi hamil anak ketiga. Usia kehamilan sudah sembilanbulan. Jadi berasa capek banget menyelesaikan masalah itu. 

Bagaimana dengan kedua saudara Anda ketika menghadapi masalah itu?

Waktu itu memang sempat tegang. Sudah 10 tahun kami berdiri, belum pernah ada masalah sebesar ini. Penyelesaiannya jadi tambah susah karena kami semua sudah berkeluarga dan punya anak. Sempat khawatir dengan nasib perusahaan. Walau bagaimanapun ini mata pencaharian kami. 

Tapi pada akhirnya kami sadar, bahwa kami ini keluarga yang berbisnis bersama. Bukan partner bisnis yang kebetulan berkeluarga. Jadinya, nomor satu yang harus dijaga adalah hubungan kekeluargaannya. Kalau berantem, diusahakan supaya jangan sampai ada kata-kata yang menyakitkan. Begitu saja, dan semuanya bisa diselesaikan dengan baik.  

Setelah dengan GoGirl apa rencanaAnda berikutnya?

Sejak 2017 aku sedang berusaha mengembangkan platformuntuk pemberdayaan perempuan. Semacam mentoringbagiperempuan-perempuan,supaya bisa menjadi pemimpin dan mencari peluang. Aku ingin lebih mengembangkan itu ke depannya. 

Mengapa selalu tertarik dengan isu-isu perempuan?

Aku seorang feminis yang peduli dengan kesejahteraan perempuan. Aku percaya, setiap perempuan itu boleh dan harusnya bisa menentukan pilihannya sendiri. Apapun itu.

Kalau dia memilih jadi ibu rumah tangga karena memang itu pilihan dia, itu bagus. Kalau dia memilih berkarier atau menjadi seorang pebisnis, atau musisi, atau seniman, itu bagus. Selama itu bukan karena pilihan orang lain. 

Bagaimana situasinya di Indonesia saat ini? Apa masalah yang tengah dihadapi perempuan-perempuan Indonesia? 

Setiap daerah tantangannya berbeda-beda. Di kota, sebagian besar masalahnya ada pada diri sendiri. Masih banyak yang minder dan tidak percaya diri. Enggak punya kemauan untuk mengembangkan diri sendiri. Ingin serba instan dan enggak percaya sama proses. 

Secara kultur, kita memang masih patriarki. Tapi Indonesia punya kultur yang sangat menghormati perempuan. Itu adalah nilai plus, karena di beberapa negara maju belum tentu punya budaya seperti kita. 

Selain itu, kesempatan selalu ada. Aku tidak pernah merasa diri terbatas hanya karena aku perempuan. Laki-laki saat ini sudah mulai punya banyak peranan di rumah tangga, misalnya gantian menjaga anak-anak atau ngambilinraport anak. 

Jadi, kita sudah tidak memiliki masalah dengan kultur yang patriarki? 

Tentu masih bermasalah. Laki-laki dan perempuan belum sepenuhnya setara.Meskipun laki-laki kini banyak juga yang terlibat dalam urusan domestikrumah tangga, perempuan tetap dianggap yang utama. Kaum hawa masih diwajibkan mengatur semua urusan anak, sementara laki-laki tidak.

Misalnya, minggu ini agendanya anak-anak apa saja? Kalau mau acara ini itu, harus tetap ibunya yang ngurusin. Laki-laki enggak terlalu ngurusin yang seperti itu. Berapa banyak bapakyang tahu agenda anaknya selama seminggu ini? 

Jadi perempuan seperti aku ini, yang dipusingkanoleh hal-hal sepertiitu jadi banyak banget. Sesibuk-sibuknya aku dengan pekerjaan, aku masih harus punya tanggung jawab memikirkan keluarga. 

Sebelnyalagi, masih banyak yang tanya, “Kalau kamu kerja, anak-anak sama siapa?Mengapa hal serupa tidak ditanyakan kepada CEO yang laki-laki?”

Bagaimana seharusnya memaknai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan?

Kesetaraan itu artinya saling bekerja sama. Keluarga itu sebuah institusi. Kalau dua-duanya sepakat ingin bekerja, harus kerja sama juga dalam banyak hal untuk mengurus keluarga. 

Untuk bekerja sama, perlu diskusi. Semuanya harus dibicarakan. Setiap pasangan punya aturannya masing-masing. Tapi selama itu dikomunikasikan dan disepakati, enggakmasalah dong

Kesetaraan itu kebutuhan dasar manusia. Bukan hanya untuk membicarakan hubungan laki-laki dan perempuan. Semua manusia ingin didengar dan diakui. Ingin diberi kesempatan.

Misalnya, antara bos dan bawahan. Anak-anak zaman sekarang ingin lebih dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Kalau enggak, rasanya bagaimana? Kan enggakenak juga. 

Kalau Anda setuju dengan itu, Anda juga juga harus mengakui perempuan sebagai pihak yang setara dengan laki-laki. 

Menurut aku, jangan minta kesetaraan (dalam hal-hal lainnya) kalau Anda belum punya pikiran bahwa hal laki-laki dan perempuan itu juga setara. 

Banyak orang menggiatkan kesetaraan gender denganmengangkatperbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan. Bagaiamana menurut Anda?

Sebenarnyaenggak ada perbedaan fisik. Ada laki-laki yang lemes. Ada perempuan yang kuat. Kalau laki-laki enggaksuka olah raga, fisiknya pasti akan lebih lemah dari pada perempuan yang suka olah raga. 

Laki-laki yang tidak bisa menjaga pola hidup sehat, bagaimana mau kuat? Naik dua lantai saja bisa ngos-ngosan. Bandingkan dengan perempuan yang menjaga pola hidup. Sudah pasti fisik perempuan yang lebih kuat. 

Dari segi otot memang laki-laki lebih unggul. Tapi tergantung bagaimana kita mengatur diri kita. Bisa saja ototnya lebih kenceng, tapi dia belum tentu kuat dan sehat. Gampang saja kan?

 

 

(Januardi Husin\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar