Israel Puji Langkah AS Berlakukan Kembali Sanksi Ekonomi Terhadap Iran

Selasa, 06 November 2018 14:29 WIB
Israel Puji Langkah AS Berlakukan Kembali Sanksi Ekonomi Terhadap Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (foto: alaraby)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji keputusan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran. Netanyahu menyebutnya sebagai keputusan berani.

“Hari ini adalah hari bersejarah,” kata Netanyahu di hadapan para anggota legilslatif partai sayap kanan Likud. “Kembali saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas keberaniannya, kebulatan tekadnya dan keputusannya yang sangat penting. Saya rasa hal ini berkontribusi pada stabilitas, keamanan dan perdamaian,” kata Netanyahu, seperti dikutip dari haaretz.com, Selasa (6/11).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya AS telah memutuskan untuk kembali memberlakukan sanksi minyak dan keuangan terhadap Iran. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan sanksi yang berlaku efektif sejak Senin (5/11) tersebut adalah sanksi paling keras yang pernah diterapkan di Republik Islam Iran. Amerika berharap sanksi tersebut dapat menekan Iran untuk mau mengendalikan program pengembangan rudal dan nuklir serta mengurangi keterlibatannya secara politis di kawasan Timur Tengah.

“Iran adalah ancaman terbesar Israel, Timur Tengah dan perdamaian dunia…Ini adalah masalah yang selama ini saya tentang. Untuk itu saya berterimakasih kepada Presiden Trump atas keberanainnya dan keputusan pentingnya,” imbuh Netanyahu.

“Hari ini kita melihat hasil perjuangan panjang tersebut. Jalan ke depan mungkin akan bergelombang, tetapi kita harus menghadapinya lewat sebuah langkah agresif dan sikap yang konsisten secara moral, ekonomi dan keamanan,” kata Netanyahu, dikutip dari haaretz.com.

Dampak dari keputusan Trump mengembargo Iran, pada Senin (5/11), mulai terasa. Sistem perbankan global yang bermarkas di Belgia mengumumkan telah menangguhkan sejumlah akses perbankan Iran di sistem itu. Tidak disebutkan jika alasan penangguhan akses itu karena sanksi dari Amerika Serikat. Hanya disebut demi kepentingan stabilitas dan integritas sistem keuangan global.

(Rin Hindryati\Rin Hindryati)
Share:


Komentar