Perkawinan Usia Anak (Tulisan 3)

Gerakan Pro Nikah Muda Baiat 500an Remaja

Selasa, 07 Agustus 2018 19:23 WIB
Gerakan Pro Nikah Muda Baiat 500an Remaja

Ratusan remaja hadir dalam launching Indonesia Tanpa Pacaran Chapter Tangerang. Foto: law-justice.co/rimba

Minggu (29/7) pagi, kesibukan nampak di halaman Masjid Al-Jabar, Karawaci, Tangerang, Provinsi Banten. Sejumlah panitia mondar-mandir menyiapkan beberapa meja untuk pendaftaran ulang peserta launching Indonesia Tanpa Pacaran Cabang Tangerang di pintu masuk masjid.

Baca juga : Penggalan Kisah-kisah Perkawinan Anak di Indonesia

Kekompakan panitia terpancar dari caranya berpakaian. Mereka mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam. Pada bagian depan kaos tersebut bertuliskan Indonesia Tanpa Pacaran.

Mereka berbagi peran. Ada yang menata kendaraan bermotor di area parkir. Ada pula yang menjaga meja pendaftaran, sekaligus menjual buku-buku karangan La Ode Munafar.

Baca juga : Pernikahan Usia Belia, Solusi Hindari Zina?

La Ode Munafar adalah penggagas gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. Rencananya, lelaki asal Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara itu akan memberi ceramah manifesto gerakannya di wilayah Tangerang ini.

Buku-buku La Ode yang dipajang di lapak antara lain berjudul Politik Cinta Lelaki, Indonesia Tanpa Pacaran, dan Suami yang Tertukar. Panitia mematok masing-masing buku dengan harga senilai Rp50 ribu.

Baca juga : Nikah Muda Gerogoti Bonus Demografi Indonesia

Sekitar pukul 08.00 WIB, peserta mulai berdatangan. Ada yang datang orang perorang, adapula yang datang secara rombongan.

Sebagian besar dari mereka menggunakan sepeda motor, dan hanya sedikit yang menggunakan mobil. Kendati begitu, tak satupun dari mereka yang membawa atribut seperti bendera dan pakaian yang menunjukan golongan tertentu.

Sebagian besar peserta perempuan menggunakan pakaian rapih dengan rok ukuran besar yang hampir menyentuh tanah. Adapula peserta yang menggunakan cadar dengan kerudung hingga perut. Bau parfum yang wangi juga tercium dari mereka. Sementara peserta laki-laki, rata-rata mengenakan celana panjang berbahan kain.

Ratusan jumlah peserta pagi itu. Mereka mengantri melakukan pendaftaran ulang di tangga menuju pintu masuk masjid. Mereka merogoh kocek Rp10 ribu untuk pendaftaran. Sebagai gantinya mereka mendapat air mineral kemasan gelas, roti, dan selembar kuesioner. Salah satu dari isi kuesioner itu adalah pertanyaan tentang kesediaan hadir kembali dalam majelis serupa.

Selepas pendaftaran, para peserta bergerak masuk ke ruang utama masjid Al-Jabar, Karawaci. Ruang utama masjid itu tampak megah dengan luas setara lapangan bola, dialasi karpet berwarna merah maroon.

Para peserta lantas duduk secara terpisah antara laki-laki dan perempuan. Dibagi setengah-setengah oleh kain hitam tipis yang sudah dipasang panitia.

Pada pembukaan acara, seorang pembawa acara mengajak seluruh peserta meneriakkan yel-yel secara bersamaan. Apabila pembawa acara berteriak “taat”, maka peserta bersama-sama berteriak “bahagia”. Sedangkan apabila pembawa acara berteriak “maksiat” maka peserta bersama-sama berteriak “sengsara”.

Ketua panitia launching Indonesia Tanpa Pacaran Chapter Tangerang, Faturahman kemudian memberi sambutan kepada peserta. Ia menjelaskan dalam sambutannya bahwa latar belakang penyelenggaraan acara ini karena munculnya fenomena penyalahgunaan taman kota sebagai tempat pacaran.

Menurutnya, pacaran remaja di taman kota cenderung menjurus pada tindakan mesum dan maksiat. Hal itu tidak sejalan dengan fungsi taman kota yang merupakan salah satu elemen Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Banyak taman kota dibangun oleh pemerintah Tangerang tapi disalahgunakan untuk maksiat. Para remaja sering pacaran di taman-taman. Kegelisahan itu membuat kami mencari gerakan untuk memberantas pacaran,” ujar Faturahman dalam sambutannya.

Faturahman menjelaskan, pihaknya berjanji Indonesia Tanpa Pacaran Chapter Tangerang akan menyelenggarakan kajian-kajian agama yang berkaitan dengan penolakan praktik pacaran di kalangan remaja. Sebagai gantinya, anjuran untuk segera menikah adalah solusinya.

“Ada 500 peserta yang kemarin mendaftar via Online. Insyaallah ke depannya akan ada kegiatan yang lebih besar di mana diisi oleh remaja yang ingin berhijrah,” pungkasnya.

Law-justice.co mencoba mewawancarai sejumlah peserta yang mayoritas perempuan berstatus pelajar. Sebagian besar dari mereka berdomisili di Tangerang.

Putri Pratama (17 tahun) mengaku antusias mengikuti launching kegiatan Indonesia Tanpa Pacaran Chapter Tangerang. Putri yang mengenakan baju gamis cokelat, kerudung hitam panjang merupakan siswa kelas 12 IPS SMA Negeri 25 Kabupaten Tangerang.

Sebelumnya ia merupakan anggota komunitas anak muda berbasis keagamaan bernama, Move On Karena Allah. Komunitas ini memiliki media komunikasi grup Whatsapp. Dari grup online tersebut Putri mengetahui informasi adanya peluncuran Indonesia Tanpa Pacaran.

“Awalnya saya diinvite ke dalam grup komunitas Move On Karena Allah. Nah di situ ada info Indonesia Tanpa Pacaran Chapter Tangerang. Kami datang secara rombongan dengan teman naik mobil,” ujar Putri saat diwawancarai di sela-sela acara.

Dalam grup online, kata Putri, terdapat informasi hasil kajian tentang bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis yang sesuai dengan tuntunan agama. Kajian itu misalnya tentang bagaimana cara taaruf (berkenalan) dengan lawan jenis. Selain itu, ada juga panduan cara berpakaian bagi perempuan sesuai dengan adab agama.

“Grup online itu banyak info soal Islam, ada video taaruf sama menutup aurat untuk perempuan. Selain itu ada anjuran menjauhi pacaran dan memilih nikah muda,” ujarnya.

Putri berharap keikutsertaan dirinya dalam acara di Tangerang ini akan membantu menciptakan keluarga harmonis pada masa mendatang. Ia berencana untuk nikah di usia muda dan menghindari pacaran.

“Meskipun saya belum pernah bilang ke orang tua saya soal rencana ini. Orang tua sih inginnya saya kerja dulu soalnya saya anak tunggal,” pungkasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Devina Elvira (12 tahun). Perempuan yang bersekolah di SMP IT Granada, Kabupaten Tangerang itu mengaku mengetahui acara peluncuran Indonesia Tanpa Pacaran Chapter Tangerang dari sebuah komunitas agama di media Instagram.

Devina mengatakan keikutsertaannya dalam acara ini untuk membentengi diri dari perilaku maksiat. Selain itu, Devina ingin memahami bagaimana cara berinteraksi dengan lawan jenis yang sesuai tuntunan agama.

“Saya ingin nikah muda habis lulus SMA. Itu agar terhindar dari maksiat. Selain itu biar tidak digodain cowok-cowok,” ujar Devina yang saat itu mengenakan pakaian gamis abu-abu berumbai.

Berbeda dengan Diah Susanti (22 tahun). Mahasiswa STIKES Widya Dharma Husada, Pamulang, Tangsel itu mengaku kurang setuju dengan pernikahan anak (nikah muda).

Meski menghindari pacaran dan mengutamakan menikah, Diah lebih setuju jika perempuan menikah di atas usia 20 tahun. Hal itu lantaran bidang yang ia tekuni yakni ilmu kesehatan menunjukan bahwa perempuan yang hamil di bawah usia 20 tahun rawan melahirkan bayi prematur. Selain itu, perempuan yang berhubungan seks di bawah usia 20 tahun rawan terserang kanker serviks. 

“karena aku ambil pendidikan keperawatan, kalau kita nikah di bawah usia 20 tahun itu resisten banget kelahirannya banyak yang prematur. Terus kandungannya kurang kuat. Idealnya itu di atas 20 tahun baru menikah,” ujar Diah.

Ceramah La Ode

La Ode Munafar merupakan lelaki yang humoris. Penampilannya sederhana, tidak seperti ulama pada umumnya yang menggunakan sorban putih, peci, dan sarung.

Ia tampil layaknya anak mudia belia yang menjadi peserta peluncuran Indonesia Tanpa Pacaran Chapter Tangerang. Pria berkulit sawo matang itu mengenakan kaos lengan pendek yang bagian depannya terdapat sablon bertuliskan Indonesia Tanpa Pacaran. Ia juga tampil trendi dengan menggunakan topi layaknya generasi milenial.

Pagi itu, pria yang akrab disapa Munafar membuka cerita perihal perjalanannya menuju ke Tangerang. Dengan menggunakan pesawat udara penerbangan paling awal, ia berangkat dari kediamannya di Yogyakarta menuju Bandara Soekarno Hatta.

“Saya sering diundang sebagai pembicara membahas gagasan Indonesia Tanpa Pacaran di beberapa daerah di Indonesia. Saking seringnya, sampai-sampai saya mendapatkan istri karena sering pergi memenuhi undangan atau kata orang Jawa, witeng tresno jalaran soko kulino,” ujarnya yang memicu gelegar tawa peserta.

Dalam penjelasannya, Munafar lebih banyak membahas mengenai latar belakang membuat gerakan Indonesia Tanpa Pacaran. Ia mengaku prihatin atas perilaku pacaran di kalangan anak remaja yang menurutnya menjurus ke perbuatan zina. Sebagai solusinya, Munafar memberikan solusi bagi anak remaja agar tidak berpacaran.

“Dipandang dari sisi manapun bagi saya pacaran itu merusak generasi muda baik dari segi keuangan, kemampuan meraih kesuksesan masa depan, dari waktu yang terbuang sia-sia, dari sisi psikologinya,” ujarnya.

Dalam riset Munafar, anak muda biasanya menghabiskan waktu antara 48-72 jam dalam 1 bulan untuk berpacaran.

“Lihat itu anak kelas 5 SD bisa menghamili yang SMP, kasusnya di Tulungagung, Jawa Timur. Ini menandakan anak SD sudah dewasa secara biologis. Nah karena itu gerakan nikah muda hadir sekaligus sama dengan Indonesia tanpa pacaran hadir visinya sama sebagai media penyadaran untuk menyadarkan generasi muda,” ujarnya.

Selain itu, ia mengapresiasi kerja tim panitia yang berhasil menggaet masa untuk menghadiri peluncuran Indonesia Tanpa Pacaran Chapter Tangerang dengan jumlah yang cukup besar yakni 500 orang. Dengan adanya Indonesia Tanpa Pacaran chapter Tangerang, ia berharap akan ada kajian-kajian terkait bahaya pacaran.

“Nantinya anggota dapat aktif mengkader masa sebanyak mungkin. Insyaallah tergetrnya tahun 2019 ada 1.000 oarang yang menjadi anggota Indonesia Tanpa Pacaran. Mari kita guncang Tangerang dengan gerakan tanpa pacaran,” pungkasnya.

(Hartanto Ardi Saputra\Sasmito Madrim)
Share:


Berita Terkait

Penggalan Kisah-kisah Perkawinan Anak di Indonesia

Pernikahan Usia Belia, Solusi Hindari Zina?

Nikah Muda Gerogoti Bonus Demografi Indonesia

Komentar