Fakta di Balik Kisruh Pohon Plastik Jakarta

Minggu, 10 Juni 2018 17:07 WIB
Fakta di Balik Kisruh Pohon Plastik Jakarta

Pohon plastik yang sempat dipasang di Jl MH Thamrin dan viral di medsos karena dinilai menghambat akses pejalan kaki. Foto: tribunnews

Kehadiran 48 pohon plastik di sepanjang jalan Sudirman dan Thamrin Jakarta pada 28-29 Mei lalu menuai beragam respon negatif dari warganet. Sebagian menuding tampilannya kurang estetik dan  menyulitkan mobilitas pejalan kaki karena dipasang di trotoar sempit. Namun tak sedikit pula yang menyoal harganya yang terbilang mahal.

Baca juga : Warga Pulo Asem Utara Menolak Digusur

Anggaran yang dkeluarkan Pemerintah DKI Jakarta untuk membeli salah satu dekorasi ruang publik ini memang simpang siur. Ada yang menyebut Dinas Kehutanan mengelontorkan dana hingga Rp8,1 miliar untuk pengadaan tanaman dan bahan dekorasi. Ada pula yang menyebut biaya pengadaan lampu hias dan pencahayaan kota mencapai Rp2,2 miliar.

Lalu bagaimana faktanya, law-justice.co mencoba melakukan penelusuran dan perbandingan terkait isu pohon plastik yang berkembang di masyarakat.

Baca juga : Anies Baswedan: Transportasi Penunjang Asian Games sudah Siap

Fakta Anggaran

Kepala Suku Dinas Perindustrian dan Energi Jakarta Pusat, Iswandi mengatakan anggaran Rp 2,2 miliar bukan untuk pengadaan pohon plastik, tetapi untuk neon boks Asian Games. Menurut Iswandi pengadaan lampu hias berbentuk pohon plastik juga bukan dilakukan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Melainkan dilakukan pada era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada 2017.

Baca juga : Pemprov Jakarta Bangun Jembatan Multiguna Tanah Abang

Dalam Rekapitulasi Volume dan Nilai Pemasangan Lampu Hias di Enam Suku Dinas Perindustrian dan Energi Kota/Kabupaten, tercatat terdapat pengadaaan 200 Lampu Hias Pohon (Mayang) dengan harga per buah Rp 8.272.150. Adapun total anggaran yang dikucurkan  senilai Rp 1,8 miliar. Sementara untuk Jakarta Pusat sendiri, terdapat 63 unit senilai Rp 573.259.995.

Law-Justice.co mengunjungi sebuah toko pohon plastik di kawasan Jakarta Barat untuk mencari perbandingan dan kepantasan harga. Seorang pedagang bernama Yuyun memberikan penjelasan rinci ihwal harga beragam jenis pohon plastik yang dijualnya. Toko Yuyun menjual produk semacam ini dari ukuran 1,2- 3meter yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.

“Kalau harganya itu menyesuaikan. Yang pasti semakin tinggi pohon harganya semakin mahal. Kalau daunnya rimbun juga harganya semakin tinggi,” kata Yuyun.

Selain itu, ia juga menyebut produk lokal memiliki harga yang lebih murah dibandingkan produk impor yang menggunakan bahan yang berkualitas, seperti lateks. Namun produk lokal dapat didesain sesuai permintaan pembeli.

Pramuniaga lincah ini juga menjelaskan dengan gamblang ihwal jenis-jenis pohon plastik. Untuk ukuran 1,2 -1,5 m harganya berkisar antara Rp400 ribu - Rp900 ribu. Yuyun juga menunjukan pohon palem sikas setinggi 2 meter.

“Kalau yang ini besar dan berat, harganya Rp 1,4 juta,” katanya berpromosi.

Ia juga menunjukan sebuah produk setinggi 1,5 m dengan desain berdahan lurus dengan ujung berbentuk bola yag tersusun atas rangkaian dedaunan yang rimbun.

“Kalau yang ini produk impor, di dalam bulatan itu ada isinya, bahannya lateks,” katanya.

Untuk menebus produk ini, Yuyun menawarkannya dengan harga Rp1,5 juta. Sementara untuk pohon dengan tinggi lebih dari 2 meter harganya pun kian mahal. Untuk sebuah pohon plastik setinggi 3 meter dengan dedaunan yang menjalar harganya mencapai Rp 2,5 juta.

“Tapi kalau mau tambah daun, supaya tambah rimbun, harganya bisa sampai Rp6 juta. Bahkan ada produk sejenis yang harganya mencapai Rp 13 juta.”

“Kemarin baru ada yang pesar barang yang harga Rp 2,5 juta. Orang Semarang, produknya kita kirim pakai ekspedisi. Sebenarnya, kalau beli produk ini, toko kami juga menyediakan jasa survei dan pemasangan yang disesuaikan dengan keinginan pembeli,” kata Yuyun.

Selain telah menjual ke beberapa kota, ia juga mengaku memasarkan produk-produknya ke berbagai perusahaan besar, seperti Net TV dan Bank Central Asia (BCA).

Selain itu, penelusuran juga dilakukan ke beberapa toko daring. Pada laman bukalapak.com, misalnya, harga LED Lampu Pohon Cane dengan tinggi 2,5 m yang menyerupai tampilan pohon plastik milik pemerintah DKI Jakarta harga paling mahal mencapai RP 4.771.500.  Sementara di olx.co.id, produk serupa dengan varian beragam dijual lebih murah Rp 4.500.000.

Seperti diketahui, dalam dokumentasi foto yang tersebar di media massa pohon-pohon plastik yang dimiliki Pemerintah DKI Jakarta memiliki tinggi antara 1,5 - 2 meter. Hal ini terlihat ketika dibandingkan dengan tinggi orang-orang yang lewat di sekitar pohon-pohon itu. Untuk pohon-pohon plastik berwarna-warni dan dilengkapi dengan lampu tingginya sekitar 1,5 meter. Sementara pohon plastik yang menyerupai bambu tingginya sekitar 2 meter.

Pohon plastik setinggi 1,2 meter. Foto: Teguh Vicky Andrew

Jadi berdasarkan perbandingan dan penelusuran yang dilakukan law-justice.co harga pengadaan pemprov DKI Jakarta senilai Rp8,2 juta per pohon masih terbilang mahal. Semestinya harga pohon plastik dengan tingkat kerimbunan dan lampu-lampu tersebut berkisar Rp4 juta hingga Rp5 juta.

Terkait mahalnya harga pohon plastik ini, Ketua Ombudsman Perwakilan Jakarta Raya, Dominikus Dalu mengatakan aparat perlu melakukan pengusutan pengadaan pohon plastic tersebut. Terlebih, kata dia, jika alamat perusahaan pemenang tender tidak benar.

“Kalau ada indikasi fraud, harusnya diusut. Saat ini belum ada yang mengadu. Lagi pula ini dimensi dugaan korupsi, lebih pas penegak hokum,” jelas Dominikus kepada law-justice.co, Rabu (6/6/2018).

Sementara, Anggota Ombudsman RI Dadan Suparjo menggarisbawahi 2 hal lain dalam pengadaan pohon plastik era Ahok ini.

Pertama, kaidah formal yakni dengan memastikan program tersebut sesuai dengan regulasi yang berlaku, mulai aturan pusat hingga aturan daerahnya terpenuhi.

Kedua, kaidah politik dengan memastikan program tersebut merupakan aspirasi publik yang termasuk dalam siklus politik anggaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Artinya mulai dari aspirasi masyarakat, masuk ke Musrembang dan dibawa eksekutif hingga sampai ke DPRD.

“Kaidah inilah yang sering dilewati dan hanya dianggap formalitas. Padahal substansi yang seharusnya diutamakan yaitu esensi aspirasi publik ya harus sesuai kebutuhan publik,” jelas Dadan kepada law-justice.co.

Karena itu, menurut Dadan, pohon-pohon di Jakarta semestinya tidak perlu ditebangi dan diganti tanaman palsu. Hal tersebut, menurutnya sesuai dengan aspirasi masyarakat Jakarta.

Fakta Penebangan Pohon Asli di Sudirman-Thamrin

Pemerintah DKI Jakarta menolak keras tuduhan ihwal penggantian pohon-pohon di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin dengan pohon plastik yang dilengkapi dengan lampu dan sempat dipasang di Jalan Thamrin akhir Mei lalu.

Menurut Kepala Bidang Kehutanan Dinas Kehutanan, Pertamanan, dan Pemakaman DKI Jakarta Jaja Suarja, hal tersebut tidak mungkin dilakukan karena begitu kaya dan berlimpahnya bibit pohon yang dimiliki oleh Dinas Kehutanan DKI Jakarta.

“Saya ajak berantem orang yang ngomong seperti itu. Indonesia kan kaya pohon, jadi untuk apa pakai pohon plastik? Stok bibit pohon punya pemerintah juga masih tersedia banyak,” kata Jaja dengan nada meninggi ketika dihubungi melalui sambungan telepon di Jakarta, Kamis (8/6).

Menurutnya pohon-pohon tersebut hanya dipindahkan karena sedang ada pengerjaan proyek revitalisasi trotoar di kawasan itu yang ditargetkan rampung sebelum perhelatan Asian Games pada pertengahan Agustus 2018. Ia menyebut pemindahan pohon tersebut telah rampung saat ini.

 “Proses pemindahan pohon sudah selesai akhir Mei. Total 530 pohon sudah dipindahkan dan sudah ditanam kembali seluruhnya di kawasan Jakarta Utara,” jelasnya.

Jaja menambahkan dalam proses pemindahannya, terlebih dahulu dilakukan pengurangan ketinggian pohon, pemangkasan ranting-ranting pohon yang telah menua agar tidak membahayakan pengguna jalan, dan pemindahan akar pohon beserta tanah yang menempel bersamanya.

Kata Jaja, proses pemindahan pohon-pohon ini melibatkan berbagai pihak terkait. Namun secara teknis proses pengerjaannya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang mengerjakan proyek revitalisasi trotoar yang merupakan kompensasi pelampauan Kelebihan Lantai Bangunan (KLB).

“Dinas kehutanan juga berperan untuk mengawasi proses pemindahan ini dan penentuan lokasi baru,” tuturnya lagi.

Ia menjamin setelah proyek penataan jalur pedestarian rampung, pemprov Jakarta akan segera melakukan penanaman kembali pohon pengganti. Kepala Bagian Kehutanan itu memastikan akan digunakan bibit pohon-pohon baru dengan beragam varian. Adapun proses pengerjaannya dilakukan serupa dengan proses relokasi pohon yang telah dilakukan.

“Yang melakukan proses penanaman pohon-pohon baru adalah perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam proyek peremajaan trotoar. Dinas Kehutanan akan mengawal proses ini hingga rampung,” kata Jaja.

Menurutnya, proses penanaman kembali pohon-pohon baru itu akan dilakukan segera setelah proyek revitalisasi pedestarian itu rampung. Namun Jaja belum dapat memastikan waktu pasti dimulainya proses penanaman pohon-pohon baru ini.

“Pohon baru akan ditanam setelah proyek itu selesai,” tegasnya lagi.

Namun penebangan pohon tersebut menurut Koalisi Pejalan Kaki tidak perlu dilakukan. Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus mengatakan, perbaikan trotoar bias dilakukan dengan banyak cara tanpa menebang pohon.

“Yang perlu itu pihak-pihak gedung harus mau merelakan pagarnya dibongkar, lalu dijadikan trotoar. Pagar itu kan bisa dibuat tidak permanen, bisa digeser, terpenting masyarakat bisa mengakses. Bagaimana dengan kedutaan-kedutaan yang lain? Ya pemerintah bisa berbicara pada mereka,’’ kata Alfred di Jakarta, Selasa (5/6/2018).

Alfred menambahkan penebangan pohon juga terjadi di sejumlah wilayah Jakarta lainnya. Karena itu, kata dia, meski menolak sejak awal, kata dia, pemprov Jakarta mesti segera mengganti pohon yang ditebang dengan jumlah yang lebih banyak.

“Jakarta masih punya taman-taman kosong, seperti taman BMW. Tidak apa-apa, yang penting itu diganti dan kalau ada tanah-tanah kosong, ya secepatnya Pemprov beli tanah itu. Jadikan sebagai kawasan hijau.”

Reporter: Teguh Vicky Andrew dan Muhammad Mu'alimin

(Tim Liputan News\Sasmito Madrim)
Share:


Berita Terkait

Komentar