20 Tahun Reformasi [Penggalan ke-1: seri Melawan Lupa]

Di RS Sumber Waras Jenazah 4 Mahasiswa Trisakti Terbujur

Sabtu, 12 Mei 2018 22:20 WIB
Di RS Sumber Waras   Jenazah 4 Mahasiswa Trisakti Terbujur

Peristiwa Trisakti, mengangkat kawan yang disasar peluru (foto: Asiaweek)

Pengantar dari Redaksi

Baca juga : Dollar, UMR, Beras Jelang Reformasi dan Jaman Jokowi

Hari itu Selasa 12 Mei 1998, atau tepat 20 tahun lalu. Aksi unjuk rasa mahasiswa Trisakti yang jauh dari anarkhis ternyata, di luar dugaan banyak kalangan, berakhir sangat dramatis. Hafidin Royan, Heri Hertanto, Elang Mulia Lesmana, dan Hendriawan Sie tersungkur dan kehilangan nyawa diterjang peluru aparat.

Peristiwa mengejutkan ini dan kerusuhan bermuatan SARA yang meluluhlantakkan Jakarta esok dan lusanya menjadi semacam siraman bensin yang mengobarkan perlawanan   hampir seluruh kampus di Tanah Air terhadap rezim otoriter Orde Baru.  Dari jurusan lain manuver juga dilakukan oleh para elit politik dan kaum cerdik-cendekia  dengan cara masing-masing untuk menumbangkan sang penguasa. Jelas, Peristiwa Trisakti merupakan titik anjak dari apa yang kini kita kenal sebagai gerakan reformasi.

Baca juga : Anak Tentara yang Tewas di Ujung Peluru Aparat

Hanya 9 hari setelah pembantaian di kampus Trisakti, Presiden Soeharto yang telah berkuasa 32 tahun akhirnya menyerah dan mengalihkan kekuasaan ke wakilnya, BJ Habibie. Sejak kelengseran jenderal besar di masa krisis moneter yang parah tersebut wajah Indonesia banyak berubah. Secara demokrasi dan HAM negeri kita sudah jauh lebih baik. Namun, pada sisi lain, Republik yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 terus mengalami turbulensi politik; sampai hari ini pun demikian sehingga keadaannya semakin memprihatinkan.

Reformasi yang dimulai para mahasiswa—termasuk Hafidin Royan, Heri Hertanto, Elang Mulia Lesmana, dan Hendriawan Sie—tak terasa sudah berusia 20 tahun. Manfaatnya banyak; pun mudharatnya. Untuk memperingati gerakan tersebut kami mulai hari ini menurunkan serangkaian tulisan pelawan lupa. Berikut ini yang perdana, ihwal Peristiwa Trisakti. Selamat mengikuti.

Baca juga : Rizal Ramli Khawatir Terjadi Gerakan Reformasi Sebelum 2019

***

Aku dan seorang kawan dari majalah D&R, berada di kitaran kampus Trisakti, Grogol, sejak siang 12 Mei 1998. Dua jam lebih kami memantau massa mahasiswa yang tertahan di depan kantor Walikota Jakarta Barat saat mereka hendak long march menuju Gedung MPR-DPR, Senayan.

Berorasi saja mereka. Di saat rasa jenuh mulai menghinggapiku, handphone  Nokia pisangku berbunyi. Fotografer kami menginformasikan bahwa para pendemo dan aparat keamanan berbenturan di  simpang Palmerah. Kami berdua bergegas ke sana dengan naik ojek.

Peluru aparat menembus kaca Trisakti (foto: D&R)

Informasi itu memang benar. Di simpang Palmerah kami melihat massa campuran berkonsolidasi setelah berkonfrontasi dengan aparat.

Satu jam lebih kami menunggu perkembangan di sana. Perbenturan tak berulang; yang terjadi sebatas dorong-dorongan.

Di saat memantau situasi itu handphoneku kembali berbunyi. Teman wartawan memberitahu: aparat menembaki pendemo di kampus Trisakti.  Mahasiswa ada yang meninggal. 

“Sial...kita kehilangan momen,”  kataku. Kami berdua cepat-cepat berlari mencari tukang ojek; mereka inilah andalan kaum peliput aksi unjuk rasa, kala itu.

Tukang ojek kuminta tancap gas. Ternyata jalan sudah diblokir selepas jalan layang Tomang. Kami hanya bisa menggunakan kaki: berlari atau berjalan cepat.

Di jembatan layang Grogol tampak aparat berjaga dengan posisi siap tempur.  Sangar tampang mereka. Kartu pers kami gantungkan di leher. Jalanan di depan kampus Trisakti lengang.

Saat berpapasan, ke seorang fotografer aku bertanya dimana mahasiswa yang ditembak. “Di dalam kampus,” jawabnya.  

Aku dan kawanku dari D&R  menuju kampus. Di mana-mana tampak mahasiswa yang terluka; ada yang ditembak dengan peluru karet, ada pula yang dipentung atau dipopor. Rekan-rekan mereka mencoba membantu dengan mengandalkan betadine, obat merah, plester luka, dan perban. Para mahasiswi menjadi juru rawat dadakan yang bertugas sepenuh hati. Sungguh pemandangan yang menggetarkan.

Aku ingin memastikan apakah benar ada mahasiswa yang tewas. Aku  bertanya ke sana ke mari dimana jenazah korban. Ternyata tak satu pun yang kutanya mengetahuinya.

Di saat aku nyaris menanggapnya itu mitos belaka, seorang mahasiswa memberi petunjuk.  “Sudah nggak di kampus. Kayaknya dibawa ke rumah sakit. Coba cek di Sumber Waras,” ucap anak muda yang disrempet peluru karet.

 

Ke rumah sakit Sumber Waras aku bergegas dengan setengah berlari; berada di belakang kampus Trisakti, jaraknya dekat saja. Kawanku entah sudah dimana; baru sadar aku kalau kami sudah berpisah.

Puluhan mahasiswa yang berjaga di pintu masuk RS Sumber Waras menghalau meski  kartu pers sudah kuperlihatkan. Seperti singa atau banteng luka, beringas betul mereka. Sumpah serapah mereka hamburkan. Sempat kaget dan kecewa juga aku melihat perangai mereka. Tapi aku segera menyadari: anak-anak kaum gedongan itu sedang shock berat. 

Meratapi kawan-kawan yang diterjang peluru (foto: Asiaweek)

Aku mundur beberapa langkah sembari terus memutar otak.

Dari jauh aku melihat para perawat bolak-balik mendorong pasien di atas tempat tidur beroda. Saking tergesanya sang perawat, sebuah infus jatuh dari tempat gantungan dan terseret di lantai. Jelas, ia tak menyadari apa yang terjadi. 

Spontan aku menerobos barikade mahasiswa untuk memperbaiki letak cairan asupan tubuh itu. Botol itu kembali ke tempatnya semula: cantelan di tiang. Perempuan itu  berterimakasih singkat ke aku sambil terus bergegas.

Aku menghentikan langkah. Eh...di luar dugaanku ia berpaling, meminta aku terus memegangi infus dan membantu dirinya mencari ruangan. Seketika jadilah kami mitra: ia sopir dan aku keneknya.

Rupanya ruangan penuh saking banyaknya mahasiswa yang terkena tembakan. Petugas yang mencari tempat,  berseliweran. Setelah bolak-balik kami akhirnya mendapatkan bilik lowong untuk si pasien.

Sekeluar dari sana aku menghampiri sekitar 10 mahasiswa yang berjaga di depan sebuah ruangan. Letaknya agak jauh di dalam. Menurut feeling-ku di sanalah jenazah berada.

Kupikir para mahasiswa itu melihat aku juga selama mundar-mandir bersama perawat. Wajar kalau aku berharap akan mereka beri kelonggaran. Aku pun menapak dengan mantap. 

Peran sebagai asisten perawat dadakan itu ternyata bukan tiket terusan bagiku. Tetap saja mereka melarang aku masuk. Kartu pers yang kukalungkan tak berarti di mata mereka.

Duka di acara pemakaman (foto: D&R)

“Siapa pun nggak boleh masuk!” seorang dari mereka membentak. 

Uh....! Begitupun aku tak menyerah. Kalau memang ada, aku harus melihat korban yang tewas. Itu sudah tekadku.

Sontak aku tersadar betapa rapuhnya penjagaan di sana. Cerita tentang banyak jenazah hilang sehabis penembakan di Tanjung Priok terlintas di otakku. Itu juga bisa terjadi di Sumber Waras ini, pikirku. Kembali aku mendekat.

 “Pengamanan di sini terlalu lemah, Mas,” ucapku ke seorang mahasiswa jangkung yang gondrong. Kelihatannya ia merupakan korlap di sana.

“Maksud lo  apa,” jawabnya dengan nada tinggi. Wajah sangar ia pasang. Matanya mendelik.

Teman-temannya mendekat dengan raut muka bengis. Selintas kulihat:  beberapa dari mereka matanya sembab. Semua yang berjaga ini  lagi letih  dan shock  berat.

“Kalau tak dijaga ketat, jenazah kawan-kawan bisa hilang nanti,” ucapku. Kuceritakan sesingkat mungkin kejadian mayat hilang dalam Peristiwa Tanjung Priok [12 September 1984: kerusuhan terjadi sebagai ekor konfrontasi pasukan bersenjata dengan kelompok Amir Biki].

“Tolong kami, Mas...kami lagi bingung banget, nggak bisa mikir  lagi. Kami harus apa?”  kata seorang yang bertampang anak mami.  Raut mukanya sudah berubah menjadi memelas. 

“Perbanyak orang yang berjaga di sini! Panggil kawan-kawan kalian secepatnya,” jawabku dengan nada mengomando.

Mereka patuh. Si gondrong menyuruh temannya menelepon.

Saking stresnya yang disuruh itu rupanya tidak mampu memencet nomor hp. Tangannya gemetaran. “Gua nggak bisa nelepon,” ucapnya sambil menggeleng. 

“Gila…jari gua juga ngaco,” kata temannya sembari memperlihatkan hp yang di tangannya.

Dari seorang mahasiswa itu hp kupinjam. Seketika aku menjadi operator merangkap konsultan mereka. Kutanya siapa saja kawan mereka di luar sana yang perlu dikontak. Setelah nomor kusambungkan aku minta si empunya yang ngomong. Begitu berkali-kali. 

Kuminta mereka menghubungi para kawan dan dosen sebanyaknya; juga sanak saudara. Bala bantuan kemudian mulai datang. Barisan penjaga perlahan membanyak. Sejumlah pengajar ikut merapat.

Tugas sebagai operator kualihkan ke mereka yang baru tiba. Saatnya bagiku menjalankan misi jurnalisme. Ke si gondrong aku minta izin melihat jenazah.

Ia tukar pikiran dengan kawan-kawannya. Tak sampai dua menit ia sudah berucap: “Boleh, Mas, tapi hanya 5 menit.” Jangan tanya betapa leganya aku!

Martir

Jasad korban ditempatkan di sebuah ruangan kecil. Empat tempat tidur disusun dua baris. Celah di sisi kiri dan kanannya paling 40 sentimeter saja. Lorong berluas sekitar 1 meter ada di tengah.  Artinya, ngepas betul tempatnya.  Dua mahasiswi dan satu mahasiswa ada di sana. Mahasiswi yang berdiri di sisi kiri membacakan ayat-ayat Al-Quran seraya berurai air mata. Mahasiswi yang satu lagi terisak-isak dan acap menyeka air mata dengan sapu tangan. Adapun si mahasiswa, ia  tampak lebih tenang. Tapi matanya pun sembab.

Kain kafan menutupi sekujur tubuh terbujur (esoknya baru kutahu mereka itu Hafidin Royan, Heri Hertanto, Elang Mulia Lesmana, dan Hendriawan Sie). Kain putih itu berdarah; kalau tidak di bagian leher atau dada, ya di kepala.

Dari jasad yang satu aku bergerak ke yang lain. Kain kafan kusibak untuk mencermati wajah dan luka. Duh....raut muka mereka manis betul...; pastilah mereka anak-anak baik. Liang oleh perluru itu sungguh tidak pantas ada di tubuh mereka!

Kesedihan yang sangat dan amarah melumat hatiku setiap aku menatap wajah para martir yang kelak dinamai ‘pahlawan reformasi’  ini.  Jauh dari garang mereka. Beda betul dibanding tampang kawanan yang menjadi koncoku kelak:  anak Universitas Bung Karno (UBK) yang bergabung dengan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND):  John, Sisco, ..., petarung jalanan bergaya ‘punk’ yang sangat menikmati sensasi unjuk  rasa berakhir chaos; mereka sering mangkal di bioskop Megaria.

Ketika keluar dari ruangan kulihat barisan penjaga sudah kian menebal.

Sebuah insiden kemudian terjadi. Seorang juru kamera CNN memaksa masuk. Mahasiswa menghadang. Bergeming, si lelaki Filipina bertubuh tinggi besar. Ia malah merangsek. Sambil memundak kamera terarah ia berucap dengan sangat  pede  beberapa kali: “Come on guys….I’am from CNN!”  Kulihat dia tak peduli pada mereka yang menghempang.

Setelah adu mulut, beberapa mahasiswa merenggut kamera besar itu. Tarik menarik terjadi. Aku mencoba melerai. Mahasiswa kuingatkan untuk tidak merusak piranti penyiaran tersebut; kalau mau melarang orangnya masuk boleh-boleh saja.

“Tapi dia arogan, Mas,” ucap seorang mahasiswa.

Dengan berbahasa Inggris  kuingatkan juru kamera itu untuk tidak memaksakan kehendak; dia harus mengerti kejiwaan para mahasiswa yang sedang terguncang.

Aksi akbar mahasiswa (foto: D&R)

Sembari menggerutu dan mengumpat awak CNN itu pun beringsut dan menjauh. Untunglah kameranya tak sampai dirusak kaum muda yang sedang galau betul.

Kejadian serupa hampir menimpa wartawan Antara yang muncul beberapa menit berselang. Lelaki bertubuh agak kecil dan bertampang macam pegawai itu nyelonong  begitu saja dengan memanfaatkan celah di antara dua tubuh mahasiswa yang berjaga. Begitu mendapat bentakan ia kontan mengerut dan berbalik langkah. Jelas, nyali dia tak sebesar milik orang Filipina itu. Kalau awak TV asing itu berucap “I’am from CNN”, biar gagah  awak kantor berita nasional itu sebenarnya perlu juga berujar  “Saya ini dari Antara”.

Saat wartawan itu ngacir aku pun beranjak  dari RS Sakit Sumber Waras. Sudah malam, ternyata. Di perjalanan menuju kantor aku sempat berge-erria dengan mengatakan di dalam hati: bisa jadi akulah wartawan pertama yang menyaksikan jenazah keempat anak Trisakti di ruang sempit tersebut. Kebenarannya? Entahlah. Kalaupun kleru setidaknya waktu itu aku lebih mujur dari juru kamera CNN dan fotografer Antara.

(P. Hasudungan Sirait\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Berita Terkait

Komentar