Devi Asmarani, Seorang Feminis yang ‘Kalem’

Kamis, 04 Oktober 2018 08:00 WIB
Devi Asmarani, Seorang Feminis yang ‘Kalem’

Devi Asmarani. Foto: law-justice.co

Namanya tidak hanya tenar di dalam negeri. Ia sering menulis untuk media luar negeri, menjadi duta besar untuk organisasi perempuan internasional, hingga menjadi konsultan di Unicef. Pengalaman itu memberinya pelajaran, bagaimana seharusnya bertindak taktis untuk memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia.

Baca juga : Banyak Menteri Perempuan Bukan Jaminan Negara Pro Gerakan Feminis

Devi Asmarani memulai karier sebagai seorang jurnalis di The Jakarta Post pada 1996. Empat tahun kemudian, ia pindah menjadi koresponden untuk The Straits Times, sebuah media yang berbasis di Singapura. Di sana, Devi delapan tahun berkecimpung dengan isu-isu politik, terorisme, lingkungan, dan bencana alam.

Karier yang bagus dan pendapatan yang menjanjikan tidak membuat perempuan kelahiran Jakarta itu berpuas diri. Ia tetap merasa ada yang kurang. Seperti, rindu akan sesuatu yang membuatnya bahagia secara lahir dan batin.

Baca juga : Menumpas Ketidakadilan di Tempat Kerja, Pria Harus Mengerti Feminisme

Devi memutuskan keluar dari The Straits Times, untuk menjadi instruktur Yoga dan penulis lepas. Ia juga mulai meniti karier di lembaga-lembaga internasional sebagai editor, konsultan, maupun instruktur menulis.

Selama melakoni pekerjaan lepas itulah Devi belajar banyak tentang gender dan diskriminasi terhadap perempuan. Ia banyak berkenalan dengan perempuan-perempuan penyintas kekerasan seksual. Devi kemudian sadar, harus ada yang ia lakukan untuk memutus mata rantai diskriminasi itu.

Seorang teman lama saat di The Jakarta Post, Hera Diani, kemudian mengajaknya membuat sebuah media yang mampu mengupas isu-isu seputar perempuan, keberagaman, dan toleransi. Setelah lama berwacana, rencana itupun tampak nyata dalam bentuk Magdalene.co pada 2013.

Di tangan keduanya, Magdalene.co hadir menjadi media yang digandrungi anak-anak muda. Memiliki latar belakang sebagai seorang jurnalis, Devi dan Hera paham betul bagaimana mengemas isu feminis dengan gaya pop dan kekinian.

Konsisten dengan apa yang dilakukan di Magdalene.co selama lima tahun, membuat Devi meraih SK Trimurti Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 7 Agustus lalu. Sebuah penghargaan yang juga diberikan setiap tahun kepada perempuan yang konsisten memperjuangkan kesetaraan gender, kebebasan berekspresi, dan arus informasi yang positif. Penghargaan serupa yang pernah didapatkan oleh mantan Komisioner Komnas HAM Masruchah, mantan hakim Mahkamah Konstitusi Maria Farida Indrati, dan Direktur Eksekutif Yayasan Hotline Surabaya Esthi Susanthi Hudiono.

“Aku pikir, Hera juga pantas mendapatkan penghargaan itu,” kata Devi kepada Law-justice.co ketika ditemui di Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (26/9/2018).

Perempuan kelahiran 28 April 1972 itu menerima kami dengan ramah sebelum peluncuran buku baru antologi esai Magdalene. Kami bertanya segala hal tentang perjuangannya selama lima tahun terakhir. Satu hal menarik yang dapat kami tangkap, bahwa ia tidak merasa dirinya sebagai aktivis gender. Ia tetap seorang jurnalis, penulis, dan instruktur  yang memiliki perspektif kesetaraan gender. Hal itu menjadikannya seorang feminis yang ‘kalem’.

Sebagai seorang jurnalis aktif, bagaimana Anda bisa tertarik dengan isu feminisme?

Sebelumnya, saya tidak pernah mengkhususkan diri ke isu-isu perempuan dan gender. Liputan saya isunya umum. Tapi juga sering bersinggungan dengan kasus-kasus ketidakadilan. Termasuk ketidakadilan gender.

Setelah keluar dari The Straits Times, saya mulai mencari apa sih yang harus saya lakukan untuk membuat diri saya bahagia. Terus Hera mengajak saya untuk bikin website. Sempat bingung juga mau bikin apa. Cukup lama berwacananya, akhirnya terbentuknya Magdalene.co pada 2013.

Belajar tentang isu-isu gender dari mana?

Sebagai perempuan yang tinggal di Indonesia, saya merasakan ada perbedaan dalam perlakuan antara laki-laki dan perempuan. Misalnya ketika jalan malam hari, perempuan pasti akan diganggu. Sering digodain. Sampai pelecehan saat bekerja. Mungkin terlihat kecil dan sepele, tapi hal-hal seperti itu tidak akan terjadi pada laki-laki.

Ketika kecil, saya pernah mengalami kekerasan seksual. Saat liputan, saya pernah mendapat pelecehan seksual. Bahkan itu terjadi di masjid, dan saya mengenakan pakaian yang gombrong. Jadi saya ini penyintas.

Saya juga pernah tidak dipercaya untuk menjadi jurnalis politik, karena dianggap kurang maskulin. Padahal saya ingin sekali, dan saya merasa saya mampu.

Jadi, sebetulnya mulai sadar tentang ketidaksetaraan gender sih sudah lama. Tapi saya mulai belajar banyak saat saya terlibat di organisasi internasional. Setelah berhenti bekerja, saya menulis dan menjadi konsultan untuk organisasi-organisasi internasional. Di situlah saya belajar lebih banyak lagi tentang ketidakadilan gender. Saya belajar dampak-dampaknya.

Ketidakadilan gender, misalnya menyebabkan stunting pada anak. Karena pendidikan perempuan kebanyakan lebih rendah daripada laki-laki. Ini akan berdampak pada buruknya generasi di masa depan.

Bisa dibilang, ketertarikan dan pemahaman saya itu seperti akumulasi mulai dari kecil, pengalaman saat bekerja di media, sampai saat menjadi konsultan. Sampai saat ini, di Magdalene saya juga masih terus belajar.

Apa makna feminisme bagi Anda?

Feminisme adalah kepercayaan bahwa perempuan dan laki-laki itu pada hakikatnya adalah setara. Itu basisnya. Bahwa ada perbedaan, memang itu benar. Setiap orang juga berbeda-beda. Setiap orang itu unik.

Tapi kesetaraan ini harusnya masuk ke dalam semua sendi kehidupan, mulai dari akses ke pelayanan, pendidikan, dan kesehatan.

Misalnya begini, mengapa kalau perempuan single (lajang) diperlakukan berbeda dengan laki-laki single. Seakan-akan perempuan itu ada kedaluwarsanya. Dari hal-hal seperti itu saja, kita bisa melihat budaya patriarki itu diciptakan dari konstruksi sosial. Kondisi itu akhirnya mempengaruhi macam-macam.

Jadi, saya pikir simpel saja, kita harus melihat perempuan dan laki-laki itu setara. Tidak berbeda dan tidak dibedakan. Kami ingin melakukan hal yang sama dan diperlakukan sama.

Bagaimana dengan perbedaan fisik?

Kita sebetulnya tidak perlu melihat fisik yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Itu yang menjadi sumber diskriminasi di dunia ini. Kita seharunya bisa beranjak dari diskusi soal perbedaan fisik. Karena perbedaan biologis juga kadang-kadang tidak mutlak.

Tapi, okelah. Kita bisa diskusikan tentang perbedaan fisik. Mungkin ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan. Tapi jangan itu dianggap sebagai sesuatu yang lumrah terjadi. Jangan dianggap bukan isu. Kita sudah terlalu lama berkutat tentang perbedaan fisik.

Bagaimana kondisi budaya patriarki di Indonesia? Kompleksitas apa yang mungkin tidak ditemui di negara lain?

Di Indonesia dan negara-negara Asia, mungkin budaya dan agama. Di sana, laki-laki dan perempuan itu tidak bisa dianggap setara. Padahal, dari segi produktivitas, perempuan bisa menyamai laki-laki. Banyak budaya di Indonesia yang mana perempuannya tidak punya hak untuk menyatakan pendapatnya.

Tapi bukan berarti saya menjelekkan budaya. Banyak orang memandang feminisme sebagai kelompok pemarah, yang akan menggerus laki-laki. Bagaimana mau menggerus, untuk setara saja susah. Di situlah feminisme hadir. Kami ada untuk mengompromikan itu. Kita harus menegosiasikan lagi hal itu.

Mungkin tidak semua hal bisa kita gebrak langsung. Menurut saya ini feminisme yang taktis adalah feminisme yang efektif.

Ada kalanya kita harus turun ke jalan, misalnya untuk mendorong Undang-undang, untuk memprotes RKUHP yang ngawur.

Tapi kalau sifatnya kultural seperti ini, kita harus pelan-pelan untuk mendorongnya. Ikut menegosiasi dan mempertanyakan. Peran feminisme tidak harus menabrakkan. Tapi bisa mempertanyakan ulang. Mengompromikan itu dan mendekonstruksinya kalau bisa.

Seberapa urgen kesetaraan gender di Indonesia harus terus didorong?

Urgensinya kalau itu mempengaruhi relasi antar gender. Melanggengkan praktik-praktik yang berbahaya, misalnya kekerasan dalam rumah tangga. Itu akan mempengaruhi masa depan orang di masyarakat kita.

Bagaimana kondisinya kesadaran gender di Indonesia saat ini?

Sejak reformasi, isu-isu gender sudah mulai dibicarakan dan tampak di permukaan. Pemerintah juga sudah mulai mengeluarkan kebijakan yang ramah bagi perempuan.

Tapi sebenarnya yang penting itu apakah kita punya perspektif gender. Itu yang lebih penting. Kalau tidak ada perspektif, akan kelihatan jomplang antara apa yang dia bicarakan dan apa yang dia lakukan. Akan melihat isu gender sebagai suatu proyek yang harus dikerjakan.

Apa yang bisa membangun perspektif?

Edukasi. Terus berkomunikasi dan memiliki keterbukaan pikiran. Itu susah kalau kita tidak bekerja keras.

Bukankah di setiap perguruan tinggi ada lembaga gender?

Di dunia pendidikan, gender masih dilihat sebagai intellectual exercise. Masih tinggal di menara gading. Selain itu, dunia pendidikan juga sedang sibuk melawan arus konservatisme. Itu juga berbahaya karena bisa menutup ruang-ruang diskusi tentang gender di kampus.

Kelompok itu ingin menempatkan kembali perempuan ke urusan domestik. Di bawah laki-laki. Itu sudah jelas. Meskipun perempuan-perempuan mereka hebat, berkarier, tapi tujuan utamanya itu. Intinya perempuan enggak boleh melewati garis yang sudah ditentukan.

Mereka menganggap feminisme sebagai produk barat. Bagaimana pendapat Anda?

Itu sangat mispersepsi. Feminisme itu kan sebenarnya namanya saja. Hanya label. Tapi esensinya adalah perjuangan perempuan. Itu sudah ada dari dulu. Indonesia sudah ada orang-orang yang punya perhatian dengan itu sejak dulu. Mereka berjuang bersama laki-laki.

Feminisme itu hadir enggak hanya di Indonesia, tapi juga di negara-negara berkembang lainnya. Bahwa yang masuk ke kita itu asosiasinya dengan barat, karena dunia barat lebih jago dalam mengemasnya. Tapi salah banget kalau orang bilang feminisme itu produk barat.

Di Indonesia, pahlawan perempuan kita tereduksi perannya. Kartini misalnya. Dia sebenarnya feminis sejati, tidak hanya memperjuangkan perempuan, tapi juga memperjuangkan kaum-kaum yang termarjinalkan.

Kartini itu nasionalis perempuan dan sudah eksis sebelum Budi Oetomo. Tapi di Indonesia direduksi, terutama zaman Orde Baru perannya direduksi menjadi “putri sejati”. Yang diangkat sisi feminimnya.

Anak-anak sekolah enggak pernah tahu perannya dia apa sih. Tahunya, setiap tahun pas hari Kartini pakai kebaya. Di sekolah-sekolah diadakan fashion show.

Karena kalau ngomongin pahlawan, konotasinya itu fisiknya saja. Padahal pahlawan perempuan itu banyak yang perempuan, tapi tidak berjuang dengan cara bertempur. Kartini itu pahlawan intelektual.

Dengan perkembangan teknologi informasi, tidakkah gerakan feminis terbantu? 

Di satu sisi iya. Kami lebih mudah menyampaikan semangat-semangat feminisme.

Tapi kekhawatiran saya adalah terjadi kemalasan untuk aktif secara personal juga. Banyak orang berpikir, kalau sudah tanda tangan petisi di Change.org, ya sudah begitu saja. Dianggap sudah cukup. Padahal banyak hal yang perlu kita lakukan di luar dunia virtual. Jadi tetap ada tantangan untuk menghadapi netizen.

Apa otokritik Anda untuk gerakan feminis di Indonesia?

Pertama, kita harusnya sadar bahwa feminis itu sebuah gerakan yang hidup dan dinamis. Ketika kata itu baru digunakan sampai sekarang, sudah banyak sekali perubahan. Sesuai dengan generasi dan tuntutan masanya. Perubahan itu kan menyebabkan fokusnya akan berbeda. Itu harus diakui dimengerti.

Kedua, saya melihat banyak perbedaan antar kelompok feminis. Kemudian mereka saling serang dan saling nyinyir. Hal seperti itu harusnya tidak terjadi. Perbedaan itu biasa. Di mana-mana ada pertarungan dan perbedaan. Satu cara untuk mengatasi itu adalah terus berkomunikasi. Berjuang untuk kesetaraan gender di masing-masing bidang.

Ketiga, persoalan gender itu punya irisan-irisan yang sama dengan permasalahan lainnya. Misalnya, saya sebagai perempuan yang juga berasal dari etnis minoritas, sehingga saya akan mengalami lebih banyak tekanan dalam hidup saya. Itu menjadi ciri khas feminisme saat ini.

Karena itu kita juga harus membela kelompok-kelompok minoritas lainnya. Tidak hanya mikirin soal perempuan saja. Tapi kita juga mikirin dampak patriarki ke kelompok-kelompok lain. Semangatnya keberagaman, kita mengakui bahwa diskriminasi itu tidak hanya satu sebab. Ada faktor-faktor lain yang saling beririsan.

Feminisme itu tidak akan berdampak kalau kita tidak memikirkan lingkungan sekitarnya. Apa yang bisa kita lakukan untuk masyarakat yang lebih baik lagi, di luar apa yang menguntungkan untuk perempuan saja.

Makanya saya kagum banget sama mbak Gadis (Arivia), Nursyahbani (Katjasungkana), dan feminis-feminis zaman dulu. Mereka hidup di masa feminis itu masih dianggap setan. Mana ada zaman dulu orang ngomongin feminis. Tapi mereka enggak perlu bilang diri sebagai feminis. Feminisnya ada dalam sikap, dalam kerja, perjuangannya.

Bagaimana Anda menghadirkan feminisme dalam setiap tulisan yang dibuat?

Dalam menulis sesuatu, tentang apa pun itu, saya selalu menghargai keberagaman, saya menghargai kesetaraan, dan saya mempertanyakan ulang segala hal yang menghidupkan diskriminasi. Itu perspektif yang selalu saya pegang ketika menulis.

Menjadi  feminis itu enggak perlu susah-susah baca buku yang berat. Enggak perlu belajar teorinya juga, kecuali ingin mendalami. Banyak sekali buku-buku yang memperlihatkan semangat feminisme, tanpa menunjukkan label.

Mengapa masih banyak jurnalis yang tidak sensitif gender?

Saya pikir masalahnya ada di newsroom yang masih sangat maskulin. Ini terlihat juga dari liputannya, dari bahasanya juga. Misalnya, ngomongin perempuan sering ada kata “cantik”. Atlet cantik, mayat cantik. Mengapa cantik sebagai sesuatu yang penting untuk diekspos?

Berita-berita tentang kekerasan seksual juga. Kadang-kadang tidak berpihak pada korban dan malah menguntungkan pelaku.

Kadang-kadang yang menulis juga perempuan. Jadi sebetulnya bukan salah mereka juga. Enggak sadar dan refleks, karena yang dibacanya setiap hari itu.

Apa tipsnya?

Coba deh lihat bahasamu, apakah penulisan kamu mengobjektivasi perempuan atau enggak? Apakah kamu menuliskan hal yang sama ketika kamu menulis tentang laki-laki? Begitu saja. Kalau enggak, jangan pakai itu, ganti bahasanya.

Kedua, kita harus memikirkan dampaknya kepada korban dan orang-orang yang sudah pernah mengalami hal serupa. Perempuan-perempuan penyintas. Setiap tiga jam, rata-rata ada dua perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Jadi kita harus lebih sensitif dalam penggunaan bahasa.

Kira-kira kapan Indonesia akan mencapai titik ideal tentang kesetaraan gender?

Susah ya untuk memastikannya. Saya melihat, kita maju selangkah tapi mundur dua langkah. Ketika kayaknya sudah oke, ternyata pemimpin yang dia pilih itu jelek. Faktor politik juga, orang-orang masih sibuk dalam pertarungan politik.

Belum lagi ada gelombang konservatisme yang marak sejak lima tahun belakangan. Tapi harus tetap optimis, di Arab Saudi saja orang masih terus berjuang.

(Januardi Husin\Sasmito Madrim)
Share:


Berita Terkait

Komentar