Wartawan Peliput Konflik

Desi Fitriani, Korban Keterbelahan Masyarakat Kita Sekarang

Jumat, 02 Maret 2018 13:25 WIB
Desi Fitriani, Korban Keterbelahan Masyarakat Kita Sekarang

Wartawan peliput konflik, Desi Fitriani (foto: Rin Hindryati P.)

Sabtu, 11 Februari 2017. Sekitar pukul 09.30 ia tiba di Stasiun Djuanda yang sudah sesak oleh massa. Stasiun ini memang salah satu titik kumpul lautan manusia yang datang dari berbagai wilayah sekitar Jabodetabek. Dari sini mereka akan berjalan kaki bersama menuju Masjid Istiqlal yang jaraknya hanya beberapa ratus meter saja.

Sebenarnya sebagian besar massa sudah berhimpun di Masjid Istiqlal sejak malam sebelumnya. Batal turun ke jalan,  aksi yang bersebutan ‘112’  ini kemudian diubah menjadi acara dzikir dan tausyiah nasional yang dipusatkan di Masjid Istiqlal.  Aksi bela Islam yang sudah memasuki jilid ke-sekian,  merupakan rangkaian demonstrasi umat Islam yang digelar sebagai reaksi atas tuduhan pelecehan Surat Al-Maidah oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Seperti hadirin, Desi Fitriani pun berjalan kaki ke halaman utama Istiqlal.  Mengenakan seragam Metro TV berwarna biru dan berselendang abu-abu, dia menggenggam sebuah payung panjang. Pagi itu perempuan Minang berpenampilan tomboy dan tak suka bermake-up, siap bertugas. 

Foto: Rin Hindryati P.

Namun, tak seperti biasanya, mendadak  ia merasa agak  gelisah. “Entah kenapa perasaanku kok nggak enak,” ucapnya sambil mengenang. Karena tidak sempat sarapan-kah? “Aku menentramkan diri. ‘Ah, itu perasaanku saja,’ kataku dalam hati.”

Ia terus menapak bersama seorang juru kamera dan satu asisten sekuriti yang ditugasi Metro TV mengamankan barang-barang perlengkapan liputan. Kegelisahannya berangsur hilang. Apalagi di jalan  banyak orang berbaju koko menyapa dengan santun. Ada pula yang bertanya, “Mbak,  gimana sandera?”

Mereka ternyata mengenal dia sebagai reporter Metro TV yang intens meliput konflik,  termasuk kasus penyanderaan WNI yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina. “Mereka bahkan ada yang minta berfoto selfi,” lanjutnya sembari tersenyum.

Halaman di depan pintu Al Fattah ternyata sesak sudah oleh massa. Juru kamera yang  ditemani sang sekuriti bersiap masuk lobi untuk mengambil gambar suasana di dalam masjid. Desi masih sempat berpesan kepada mereka agar cepat kembali.

Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, masalah mucul. Saat keduanya bersiap menanggalkan sepatu mendadak seorang berteriak teriak, “Eh, ini ada Metro TV… Apa ini Metro TV, ngapain di sini! Usir! Kafir! Kafir!” Suara lantangnya mengundang perhatian massa yang mulai menyemut.

Situasi menjadi tegang. Tak lama kemudian datang tiga anggota lasykar. Ke Desi  salah seorang darinya berucap. “’Mbak kami tidak bisa terima. Silakan keluar.’  Mereka minta kami keluar,” kata Desi.  

Desi masih mencoba bernegosiasi dengan berkata, ”Pak, saya di sini mau liputan, nggak ngapa-ngapain.” Namun anggota lasykar tetap menyuruh dia dan kedua rekannya angkat kaki.

Gagal membujuk, ketiga awak Metro TV tak punya pilihan. Mereka beringsut ke halaman Gereja Katedral yang berseberangan langsung; jaraknya hanya sekitar 400 meter. Awalnya menolak dikawal olah lasykar; tapi karena dipaksa mereka menurut saja.

Baru beberapa langkah menjauh, kekerasan verbal dan fisik telah terjadi. Teriakan bersifat intimidatif, pukulan tangan, tendangan, wadah (plastik) air mineral yang dilemparkan,  hingga benda tumpul, termasuk bambu, yang dilibaskan, harus mereka rasakan. Pula, ludah yang disemburkan dari pelbagai penjuru. 

Kejadian itu begitu cepat. “Sepanjang jalan, ya kami menjadi sasaran pukul. Sedapat dan sekenanya mereka saja,” kenang Desi sambil memperagakan bagaimana para pendemo mencoba mendaratkan pukulan dengan tangan dan sepakan ke arah mereka bertiga.

Sempat juga terpancing emosi Desi. Sebaik berucap, ”Kok ini ada yang mukul!” nyaris saja payung yang dipegangnya sejak pagi dipukulkannya sebagai balasan. Tapi seorang lasykar yang mengawal mencoba menenangkan dengan  ucapan, “Sudah Mbak, jangan diladeni. Bukan Mbak saja yang kena pukul, saya juga kena.”

Kekerasan baru berakhir setelah pasukan marinir yang diminta lasykar menjemput, tiba. Ketiganya digiring ke halaman Katedral. “Di dalam Katedral baru terasa badan sakit. Saat duduk kepala terasa pusing dan pedih,” ucap Desi.

Kalau ‘sekadar’ kekerasan verbal, itu  sudah beberapa dialaminya. Termasuk saat  meliput aksi serupa pada Oktober, November, dan Desember 2016. Biasanya ia akan membalas para penyerang dengan seyuman sambil berujar Alhamdullillah. Kali ini ternyata kekerasan fisik juga. Hal yang tak pernah dibayangkannya, apalagi berlangsung di  halaman Masjid Istiqlal,

“Ini yang bikin gue sedih. Salah gue apa? Kok sesama umat muslim seperti itu. Tapi ya sudahlah, itu risiko gue sebagai wartawan,” katanya lirih saat kami bertemu di suatu sore di sebuah kedai kopi di kawasan Kalibata City.

Foto: Rin Hindryati P.

Jalur hukum

Desi bukan tipe wartawan yang cengeng, mudah terpuruk dan patah arang saat menghadapi situasi sulit di lapangan. “Gue selalu bawa enjoy aja,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

Pada aksi bela Islam November 2016 ia kerap dimaki massa. Tapi sebulan kemudian ia kembali meliput aksi lanjutan.

Kala itu sulung dari lima bersaudara ini juga kembali mendapat makian bahkan didorong-dorong. Ia hanya tersenyum dan mengatakan kepada pendemo, “Saya bukan muhrim.”  Strategi ini rupanya  ampuh. Buktinya banyak pendemo yang kontan menjauh.  

Perempuan yang masih melajang ini pernah menghadapi medan liputan yang lebih berat;  bahkan yang nyaris merenggut nyawanya. Beberapa kali ia hampir celaka. “Tapi ternyata banyak kebetulan dalam hidupku yang menyelamatkan jiwaku,” ujarnya.

Beberapa daerah konflik yang pernah ia liput termasuk Aceh saat operasi militer digelar ABRI/TNI, kawasan bergolak di Timur Tengah seperti Yaman dan Jalur Gaza,  Afghanistan, serta Timor Timur (kini: Timor Leste). Ia bahkan menjalin komunikasi secara intens dengan tentara yang memberontak di Timor Leste,  pimpinan Mayor Alfredo Reinado (sudah almarhum, saat dalam pelarian Mayor Alfredo pernah tampil di Metro TV).

Di Filipina selatan Desi  pernah tinggal bersama kelompok pemberontah Abu Sayyaf. Sedangkan di Papua ia melewatkan beberapa malam di gunung bersama para  pentolan Gerakan Papua Merdeka.

Begitu kenyang pun meliput konflik, ia masih sulit menerima perlakukan para pendemo pada peristiwa Februari 2017.  Itu sebabnya ia memutuskan untuk melaporkan kasus pemukulan dirinya ke polisi. Tujuannya bukan untuk perlindungan diri tapi lebih pada pencegahan agar peristiwa serupa tak terulang lagi. Ia juga mengadukan  kekerasan tersebut ke Dewan Pers.

Keputusannya melapor ke polisi ternyata telah memunculkan puspa komentar negatif. Tak sedikit yang menyebutnya cengeng. Di media sosial, misalnya,  ada orang yang yang mencemooh: katanya wartawan perang, nyatanya pengecut: karena hal sepele saja sudah takut dan harus lapor ke polisi.

Seperti biasa ia  tak terlalu menanggapi komentar miring yang banyak beredar  di medsos. “Ini bukan masalah pengecut, penakut, tapi faktanya ini ada kekerasan yang mereka lakukan. Saya lapor ke polisi bukan untuk perlindungan diri tapi supaya tidak ada lagi wartawan yang jadi korban,” katanya dengan nada bersemangat. ”Saya kan perempuan, terlepas mereka suka atau tidak suka [terhadap Metro TV]. Kalau tidak suka kan ada Dewan Pers, AJI [Aliansi jurnalis Independen] atau IJTI [Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia]; bukan dengan cara hukum rimba.”

Terbelah

Kekerasan yang dialaminya di halaman Masjid Istiqlal membuat Desi Fitriani prihatin dan malu. Pasalnya?  Bangsa Indonesia di matanya sudah semakin tercabik akibat politik.  Memang sejak kasus penistaan agama muncul, masyarakat, khususnya di Jakarta dan sekitarnya, menjadi terbelah. Sebuah survei yang dilakukan Wahid Foundation bekerjasama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) telah menggambarkan keparahannya.

Survei yang melibatkan 1.520 responden memperlihatkan  bahwa 59,9% mengaku memiliki kelompok yang dibenci. Kelompok yang mereka benci antara lain adalah orang dengan latar belakang agama non-Muslim, etnis Tionghoa, dan komunis. Studi ini dilakukan sebelum muncul kasus Nenek Hindun yang jenazahnya ditolak dimandikan oleh para tetangga. Seolah mengamini keadaan masyarakat kita saat ini, survei juga menemukan sebanyak 82,4%  dari yang 59,9% itu  menyatakan tak rela jika anggota kelompok yang dibenci itu menjadi tetangga mereka. Sungguh menyedihkan.

Sentimen berbau suku agama, dan ras ini ternyata berimbas ke  Metro TV, stasiun TV milik Surya Paloh yang juga ketua Partai Nasdem. Stasiun televisi ini dicap oleh sebagian kelompok Islam sebagai media yang tidak netral dan kerap memojokkan Islam dan Umat Islam. Itu sebabnya wartawan Metro TV terus menjadi sasaran massa di berbagai aksi yang melibatkan kelompok Islam.

Teriakan dan caci maki peserta demo yang menyebut Metro TV penipu, kafir, hingga usir Metro TV! selalu muncul saat para awak media itu hadir di tengah-tengah kerumunan massa yang berunjuk rasa. Bahkan di Cirebon koresponden Metro TV, Abdul Jalil Hermawan, diancam keselamatannya. Dan seorang kolega Desi yang masih junior, sekian lama harus menjalani terapi psikologis setelah meliput aksi bela Islam pada November lalu. Mengalami kekerasan verbal saat meliput, ia pun shock dan trauma.

Terkait dengan kejadian-kejadian seperti itu, Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, berseru agar newsroom bebas dari intervensi siapa pun,  termasuk pemilik.

“Yang memegang otoritas pemberitaan adalah wartawan yang memiliki kompetensi dan betul-betul menjaga independensi,” kata Stanley, demikian Yosep Adi biasa dipanggil, menjawab pertanyaan penulis lewat WhatsApp. Ia bahkan mengusulkan agar wartawan yang meliput peristiwa yang melibatkan massa dengan potensi benturan tidak menggunakan atribut yang mudah dicap sebagai media yang secara politis berseberangan dengan para pendemo. Untuk yang satu ini Desi tidak sepaham.

“Saya lebih cinta jujur. Jujur pada profesi. Wartawan Metro TV sejak dulu kan menggunakan seragam, jadi ya harus pakai seragam terus. Lebih baik jujur: ini lho saya wartawan dan saya perempuan,” ucapnya tegas.

Selama ini Desi yang dikenal memiliki militansi tinggi merasa telah menjalankan tugas kewartawanan secara profesional, menjunjung tinggi nilai kebenaran, melaporkan peristiwa sesuai fakta yang ia lihat di lapangan.

Foto: Rin Hindryati P.

Insya Allah dari sekian banyak pemberitaan yang saya laporkan sampai yang terakhir ini, tidak ada yang salah,” katanya yakin. Walaupun ia mengaku tidak berani menjamin 100%  kalau pemberitaan Metro TV bersih, bebas dari kepentingan,  dan netral. “Metro TV kan (siaran) 24 jam, jadi saya hanya menilai apa yang saya laporkan saja. Kantor juga tidak membebani saya harus begini atau begitu.”

Istimewa

Semula cita-cita Desi Fitriani adalah  insiyur pertanian. Gagal masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur Sipenmaru, ia kemudian memutuskan kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun, orangtuanya keras menentang. Akhirnya ia memilih sekolah jurnalistik yang setidaknya masih sesuai dengan hobinya menulis puisi sejak SMA di Bukittinggi, Sumatra Barat.

Ia kemudian hijrah ke Jakarta, kuliah di Institut Ilmu Sosial dan Publisistik (IISP). Lulus, ia melamar ke Media Indonesia Grup. Lolos, ia ditugasi sebagai reporter bidang olah raga di Lampung Post, di Lampung.

Selanjutnya ia malang-melintang di lingkungan kelompok Media Indonesia. Ketika terjadi peristiwa 1998 yang berujung pada jatuhnya pemerintahan Presiden Soeharto  ia sudah bekerja untuk koran Media Indonesia di Jakarta, sampai tahun 2001. Masih di tahun itu ia bergabung dengan Metro TV yang masih sekelompok.

Seorang wartawan  senior yang pernah bekerja di Media Indonesia, Parulian Manullang, punya catatan khusus tentang Desi. Ia menjadi atasan Desi saat mereka menggarap suplemen investigasi di sana. “Desi tangguh sebagai wartawan investigasi. Militansinya tinggi. Menyamar pun ia pandai,” kata Parulian.

Sewaktu menginvestigasi kasus pungutan liar di Pelabuhan Merak, Desi menyamar sebagai seorang pedagang asongan di sana. Dengan begitu ia leluasa bergerak ke sana ke mari. Tampangnya yang ‘kerakyatan’ memang mendukung acting-nya sebagai pengasong. 

Desi Fitriani selalu optimis, dari dulu hingga kini. Lugas bicaranya, penuh percaya diri, tetap santai,  dan selalu tegar menghadapi berbagai situasi, dia. Pengalaman meliput di berbagai kawasan berbahaya kian mematangkan dirinya.  Sangat sedikit jurnalis perempuan kita yang sehebat dia dalam kemampuan teknis maupun kekayaan pengalaman di medan konflik. Jadi, ia memang istimewa. Maka, tak pantas untuk dizolimi, termasuk saat menjalankan tugas profesionalnya, bukan?

(Rin Hindryati\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Komentar