Buka-Bukaan Mochtar Riady di media Jepang

Selasa, 23 Oktober 2018 11:35 WIB
Buka-Bukaan Mochtar Riady di media Jepang

Pendiri Lippo Group Mochtar Riady (foto: Tempo)

Kisah hidup pendiri sekaligus CEO Lippo Group Mochtar Riady muncul secara berseri (30 tulisan) di surat kabar Jepang Nikkei Asian Review pada September lalu. Sejak 1956, media yang bermarkas di Tokyo ini rutin menurunkan kisah hidup “My personal history” para tokoh dunia. Di antara para pesohor yang pernah mengisi rubrik ini antara lain Margaret Thatcher, Suharto, Lee Kuan Yew, Mahathir bin Mohamad, George W.Bush, Alan Greenspan, Seiji Ozawa dan Carlos Ghosn.

Baca juga : James Riady Akui Pernah Ke Rumah Bupati Bekasi Neneng H Yasin

September kemarin, giliran Mochtar Riady. Tulisan pertama terbit pada tanggal 10. Di sini dia banyak bercerita tentang masa muda dan keterlibatannya di era paska kemerdekaan Republik Indonesia 1945.

“Kemerdekaan Indonesia lahir seiring dengan perjalanan hidup saya. Setelah menghabikan waktu sebagai mahasiswa di sebuah universitas di Cina, saya kembali ke Indonesia pada 1950. Sementara itu, Indonesia memperoleh kemerdekaannya pada akhir Desember 1949. Selanjutnya, Indonesia memulai sejarah barunya sebagai negara merdeka,” tulis konglomerat yang memulai kiprahnya sebagai bankir.

Baca juga : Kasus Suap Meikarta, KPK Tahan Kabid Tata Ruang Bekasi

Mochtar memulai bisnis dari usaha dagang sepeda dan toko kelontong di kota Jember dan Malang, Jawa Timur. Kini, kerajaan bisnisnya yang berada di bawah bendera Lippo Group telah menjelma menjadi salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Sebagai pengembang top, Lippo saat ini telah merambah ke sejumlah usaha lain mulai dari shopping malls dan rumah sakit ke perbankan hingga digital teknologi. Kesuksesan Lippo – dengan pendapatan sekitar US$ 7 miliar per tahun – tak bisa lepas dari kepiawaian sang pendiri sekaligus CEO, Mochtar Riady.

Di usianya yang ke-89, mantan eksekutif BCA itu pun blak-blakan berbagi kisah kepada Nikkei Asian Review tentang bagaimana dia membangun bisnisnya yang dirintis dari sebuah usaha kecil di Jawa Timur. Lewat tulisan berjumlah 30 seri ini, Mochtar memulai kisah hidupnya di 1950-an saat ia masih bermukim di kota Malang, Jawa Timur.

Berikut ini tuturan Mochtar seperti dimuat di Nikkei pada 10 September 2018:

Nama saya Mochtar Riady, dan saya pendiri sekaligus chairman Lippo Group. Dengan total sales kira-kira US$ 7 miliar, Lippo Group merupakan satu dari lima konglomerat terbesar keturunan Tionghoa di Indonesia, dengan kegiatan usaha tersebar di Asia dan Amerika Serikat.

Dalam aksara Cina, kata Lippo memiliki dua makna, pertama Li artinya “power/kekuatan”, dan Po yakni “treasure/harta atau modal.” Jadi Lippo adalah kekuatan modal. Jika berkunjung ke Hong Kong atau Shanghai, Anda akan menemukan sejumlah gedung bernama Lippo Center dan Lippo Plaza.

Saya lahir pada 12 Mei, 1929, dan keturunan etnik Tionghoa. Nama Tionghoa saya Lie Mo Tie (Li Wenzheng).

Kisah hidup saya, khususnya kehidupan profesional, sesungguhnya merupakan cerita tentang sejarah Indonesia modern. Untuk artikel berseri ini, saya ingin menuliskan cerita lebih dari sekadar kisah hidup pribadi. Karena itu saya berharap pembaca dapat mengenal lebih baik tentang Indonesia, meski hanya selintas.

Sukses dan berbagai krisis yang saya alami selama manjalankan bisnis merupakan cerminan situasi di Indonesia pada waktu itu. Saya telah melewati berbagai periode selama berbisnis. Kadang mampu menghindari krisis, tetapi tak jarang justru terbawa arus. Namun, saya tetap bertekad menjalankan bisnis dan melewati masa-masa itu. 

Di masa muda, saya pernah terlibat dalam gerakan kemerdekaan. Namun kemudian, saya memilih untuk fokus membangun sebuah bank komersial terbesar di Indonesia, meski kemudian saya pun harus rela melepasnya saat terjadi krisis keuangan di Asia pada akhir 1990. Sebagai catatan: Mochtar adalah pemilik Lippo Bank yang merupakan bank terbesar ke-9 di Indonesia berdasarkan jumlah aset yang dimilikinya.

Setelah itu, saya memilih fokus menggeluti bisnis real estate.

Kini, menjelang usia 90, saya akan banyak mencurahkan hati dan jiwa untuk membangun sebuah kota baru di Indonesia bernama Meikarta yang berlokasi sekitar 40 kilometer sebelah Timur Jakarta. Di sana, saya akan menciptakan kawasan hunian yang terintegrasi dengan fasilitas akademik untuk riset dan membentuk sebuah komunitas baru. Biaya pembangunan kota tersebut diperkirakan mencapai Rp 278 triliun (US$ 19,7 miliar), dan jika proyek ini selesai maka akan ada populasi mencapai satu juta orang di sana. Meikarta sendiri diambil dari nama istri saya yang juga keturunan Tionghoa, Li Limei.

Bos-bos Meikarta (foto: Ist)

Nantinya, di Meikarta tidak hanya akan dibangun komplek hunian dan shopping malls tetapi akan ada juga berbagai fasilitas pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Di sana juga akan dibangun rumah sakit dan lembaga riset untuk IT.

Rumah, pendidikan dan pusat kesehatan merupakan hal penting bagi para penghuni di Meikarta. Untuk itulah Lippo Group hadir dan mengelola semuanya dengan sistem yang kami miliki sendiri. Lewat grup perusahaan dan unit bisnis, kami menyediakan semua layanan komersial, fasilitas publik yang esensial untuk gaya hidup urban, seperti supermarket, department stores, coffee shops, playgrounds, bioskop, sekolah dan rumah sakit.

Sayang, Meikarta kini sedang menghadapi masalah besar. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah menyelidiki kasus suap perizinan proyek Meikarta yang menyeret big boss Lippo Group James Riady yang tak lain adalah putra kedua Mochtar Riady. Setelah menggeledah rumah dan apartemen James, KPK mengatakan akan segera melakukan pemeriksaan terhadap sang putra mahkota Lippo.

“Direncanakan akan dilakukan pemeriksaan kepada sejumlah saksi baik dari pihak pemprov kalau dibutuhkan, yang terutama dari pihak pemkab, termasuk rencana pemeriksaan terhadap James Riyadi tersebut tentu kami perlu menanyakan pengetahuan para saksi terkait dengan perkara ini,” ujar Juru Bicara KPK, Febri Diansyah Jumat (19/10) lalu.

Lalu, bagaimana nasib proyek Meikarta? Semua tergantung pada pemerintah. Namun, instansi terkait diminta tak tutup mata dengan terbongkarnya kasus suap ini. Juru bicara KPK mengatakan,"kalau ada pelanggaran administrasi lain, silakan kepada instansi yang berwenang untuk memproses, apakah akan dibatalkan atau tidak diizinkan.

(Rin Hindryati\Rin Hindryati)
Share:


Berita Terkait

Komentar