Budaya Konsumtif dan Reduksi Makna Bulan Suci

Rabu, 13 Juni 2018 21:51 WIB
Budaya Konsumtif dan Reduksi Makna Bulan Suci

Para pedagang mulai berjualan di pasar takjil Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada hari pertama Ramadhan, Kamis (17/5/2018) sore. Setiap tahunnya, pasar takjil rutin digelar di Bendungan Hilir (Foto: law-justice.co/ Robinsar Nainggolan)

Substansi ibadah puasa secara sederhana adalah ritual menahan hawa nafsu. Sayangnya, kultur masyarakat di Indonesia masa kini  dalam praktiknya, terkesan mengabaikan tujuan yang mulia itu. Walhasil , orientasi ibadah saum pun tereduksi menjadi praktik ‘balas dendam’, melampiaskan hawa nafsu yang terpendam sejak Subuh hingga Magrib tiba.

Baca juga : Kalijodo Tempat Berlibur Favorit

Idul Fitri yang sejatinya merupakan simbol kemenangan spiritual atas hawa nafsu  telah berganti menjadi titik kulminasi budaya konsmutif yang materialistis. Tulisan ini merupakan kritik terhadap kultur sosial, bukan dogma teologis, yang mengejala selama bulan suci Ramadan dalam beberapa tahun belakangan.

Setiap tahun umat Muslim di Indonesia berkewajiban menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh. Dalam kurun waktu itu, mereka tak sekadar menahan lapar dan hawa nafsu belaka. Namun sesungguhnya pada saat yang bersamaan  momen ini digunakan untuk mendekatkan diri secara spiritual dengan Ilahi dan berbuat amal terhadap sesama.

Baca juga : Monas Ramai Pengunjung

Karakterisasi  ritual puasa semacam ini  masih dapat dirasakan di wilayah pedesaan sampai saat ini. Dalam arus modernitas yang deras dan membelenggu, masyarakat pedesaan masih setia dengan orientasi puasa yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tak heran bila mereka masih rutin berpuasa di luar bulan Ramadan.  Istilah 'mutih' atau puasa Senin dan Kamis, misalnya, menjadi bukti bagaimana ritual ini dihayati sebagai pemenuhan atas kebutuhan spiritualnya.

Sebenarnya inti dari kultur  puasa semacam ini adalah kesederhanaan. Bila ditelusuri, mutih adalah sebuah kebiasaan yang bersumber dari salah satu aspek agraris masyarakat desa, yaitu subsisten.  Aspek inilah yang mengesankan masyarakat desa gaya hidup yang bersahaja, sederhana, dan tak bergelimang harta.

Baca juga : 9 Tradisi Puasa dan Lebaran yang Hanya Ada di Indonesia

Sifat ini  diperlihatkan  secara gamblang dalam hal bercocok tanam. Orientasi bertani bagi masyarakat pedesaan tradisional adalah sekedar memenuhi kebutuhan pribadi atau komunal, tanpa tujuan untuk mencari keuntungan. Hal ini terlihat ketika hasil panen yang berlebih disimpan dalam lumbung desa yang pengelolaannya bersifat  kolektif.

Mekanisme semacam ini sesungguhnya dengan prinsip subsiten,  yang mengambil hasil panen sesuai kebutuhan sehari-hari. Bila pun  ada kelebihan baru dijual ke pasar. Namun praktik semacam ini tidak ditujukan untuk menumpuk kekayaan, tetapi sekedar penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan harian yang mendesak.

Balas Dendam

Pemaknaan ritual puasa yang bersesuaian dengan gaya hidup masyarakat pedesaan bertolak belakang dengan praktik yang dilakukan di kawasan perkotaan. Kaum urban tampaknya memaknai puasa  seturut dominasi budaya populer yang identik dengan praktik konsumtif. Itulah sebabnya nilai spiritual saum yang seharusnya menonjol berganti menjadi simbolisme material.

Tengok saja setiap sore menjelang waktu berbuka puasa. Orang-orang kota menunggu waktu berbuka puasa, ngabuburit dengan mengerubuti para pedagang makanan dadakan yang menjajakan takjil hingga makanan berat dari pinggiran gang dan  perempatan jalan yang membuat jalur-jalur yang biasanya lenggang, menjadi tersendat, bahkan macet—nyaris tak bergerak.

Selain itu, acara buka bersama yang seharusnya menjadi ajang silahturahmi, pun beralih  menjadi praktik konsumtif yang berlebihan. Misalnya, sejumlah makanan dipesan dan seringkali berlebihan sehingga tidak habis dimamah. Fenomena ini bukan saja memakan biaya yang cukup besar, tetapi juga tidak meresapi makna mulia di balik ibadah itu. Ritual saum, bagi kaum urban, telah tereduksi menjadi praktik ‘balas dendam’ yang sangat  materialistis.

Titik Puncak

Hal lain yang cukup mencengangkan adalah persiapan untuk menyambut Idul Fitri sudah dilakukan jauh hari sebelumnya. Dalam hal ini, persiapan yang tampak menonjol justru bukan dari lingkup spiritual, tetapi lebih cenderung pada perspektif material.

Dengan begitu, Lebaran bagi kaum urban, lebih dimaknai sebagai tujuan instan dari Ibadah Puasa, bukan proses menahan keinginan dan berbuat kebaikan untuk menjadi manusia yang baru di hari kemenangan. Dalam konteks ini, dapat dikatakan  Idul Fitri menjadi titik puncak budaya konsumtif masyarakat perkotaan.

Secara kasat mata, praktik-praktik semacam ini terlihat melalui  kebiasaan kaum urban untuk membeli barang-barang konsumsi secara berlebihan. Peribahasa 'Besar Pasak daripada Tiang' menggejala di sebagian masyarakat perkotaan. Pasar tradisional sampai pusat perbelanjaan menjadi objek penderita untuk melampiaskan nafsu, yang ironisnya terjadi di bulan suci, dengan alasan menyemarakkan suasana Idul Fitri.

Para pelakunya pun melibatkan kalangan lintas usia. Mulai dari  anak kecil hingga manusia lanjut usia berhasrat untuk membeli busana  lebaran, suatu istilah yang bermakna pakaian serba baru yang dibeli untuk menyambut Hari Idul Fitri.  

Mereka juga melampiaskan belenggu hawa nafsu itu melalui pembelanjaan berbagai perangkat elektronik tersier dan kendaraan bermotor, seperti kulkas, telepon gengam, televisi, komputer, motor dan mobil bermerek dengan harga yang mahal. Ironisnya semua itu dibeli  tanpa tujuan yang jelas, kecuali menjaga gengsi di hari kemenangan.

Praktik-praktik semacam itu, diakui atau tidak, pada akhirnya sekadar menghasilkan mudarat belaka. Pasalnya untuk memenuhi nafsu itu, tidak jarang kaum urban menguras habis  tabungannya, berhutang ke sana-sini, bahkan yang lebih parah menggadai harta benda ke pengadaian. Akibatnya, pasca lebaran, bahkan selama setahun ke depan, masyarakat perkotaan sibuk melunasi cicilan, kalau tidak menjual barang itu kembali dengan harga yang lebih murah.

Gejala lain yang biasannya muncul berelasi dengan tradisi mudik. Setiap kaum urban yang masih memiliki sanak keluarga di pedesaan memiliki kecenderungan untuk bersilahturahmi dengan segenap handai-taulan . Namun demikian, misi baik di bali Idul Fitri ini, kini, lebih banyak dibumbui dengan aksi pamer.

Tujuannya bukan sekadar meningkatkan status sosial individu dan keluarganya, tetapi terutama karena gengsi dengan saudara, tetangga, dan teman.  Orientasi pembelian barang-barang konsumsi pun cenderung dipenuhi oleh kepentingan memamerkan kekayaan, untuk menunjukkan kesuksesan, yang seringkali bermakna  semu demi tujuan yang imanjiner: gengsi.

Dalam situasi seperti ini, kaum urban merasa lebih terhormat, misalnya, bila pulang dengan kendaraan sendiri daripada menumpang kendaraan umum. Dengan begitu, Idul Fitri bukan lagi menjadi media untuk mempererat tali persaudaraan yang renggang, tetapi menjadi media yang paling potensial bagi pelampiasan hawa  nafsu material melalui simbol kebendaan, di kampung halaman.

Reduksi Makna

Melalui beberapa fenomena yang telah dicontohkan  di atas, dapat terefleksi pemahaman dan orientasi Ibadah Puasa mulai bergeser ke arah yang salah. Kultur masyarakat yang dipengaruhi oleh  budaya populer, telah membelokkan makna di balik Ibadah Puasa dan Idul Fitri.

Ironisnya, fenomena ini terjadi dalam masyarakat perkotaan yang identik dengan pola pikir yang lebih terbuka dan rasional. Namun pada kenyataannya, kini  ritual suci ini hanya menjadi instrumen penunggang nafsu material yang menggelora.

Tentu saja, praktik-praktik semacam ini harus segera dipupus dan dikembalikan ke makna ritual Puasa dan Idul Fitri yang sesungguhnya. Ibarat sebuah proses, ibadah saum dan perayaan merupakan penanda sebuah peralihan dalam kehidupan umat manusia yang lebih baik.

Dengan demikian, tentunya pemaknaan yang utama bukan sekadar simbol-simbol material yang dangkal, Sebaliknya, keduanya harus dilihart sebagai sebuah kebutuhan spiritual manusia yang merelasikannya dengan Sang Pencipta, dan umat manusia.

Ketika seseorang berhasil melewati ujian dalam ibadah puasa, dan merayakan kemenangannya di hari Idul Fitri, sesungguhnya peristiwa itu menjelma menjadi titik awal untuk menjadi pribadi yang baru dan lebih baik dari sebelumnya. 

 

 

 

 

 

(Teguh Vicky Andrew\Reko Alum)
Share:
Tags:


Berita Terkait

Kalijodo Tempat Berlibur Favorit

Monas Ramai Pengunjung

9 Tradisi Puasa dan Lebaran yang Hanya Ada di Indonesia

Komentar