Asian Games Tanpa Gairah

Selasa, 07 Agustus 2018 07:41 WIB
Asian Games Tanpa Gairah

Penulis : Sya'roni - Ketua Presidium PRIMA (Perhimpunan Masyarakat Madani) ( foto : harian terbit)

Indonesia untuk kedua kalinya akan dipercaya menjadi tuan rumah Asian Games. Perhelatan kali ini akan digelar di Jakarta dan Palembang dari 18 Agustus 2018 hingga 2 September 2018. Indonesia tidak mematok target yang muluk-muluk, hanya berharap bisa masuk 10 besar.

Baca juga : Indonesia Tergolong Negara Paling Dermawan di Dunia

Melihat target yang ingin dicapai, bisa disimpulkan bahwa kemampuan Indonesia saat ini jauh dari harapan. Target minimalis menunjukkan kapasitas yang terbatas. Sangat jauh dibandingkan Asian Games IV Jakarta 1962, dimana Indonesia mampu bertengger di urutan kedua. Atau bila dibandingkan dengan Thailand pun, Indonesia tidak ada apa-apanya. Pada Asian Games XVII di Korea Selatan 2014, Thailand berhasil menduduki peringkat ke-6, sedangkan Indonesia harus puas di urutan ke-17.

Terpuruknya gairah olah raga Indonesia tidak terlepas dari peran dari kepemimpinan nasional. Bung Karno mampu menjadikan Asian Games IV sebagai alat perjuangan menegakkan martabat bangsa di mata dunia. Tak tanggung-tanggung, dengan kondisi bangsa yang masih dalam transisi kemerdekaan, Bung Karno mampu membangun stadiun super megah di Senayan, Hotel Indonesia dan infrastruktur lainnya untuk menyambut Asian Games. Maka wajar jika saat itu banyak negara dunia terkagum-kagum atas kehebatan Indonesia.

Baca juga : Wastra Indonesia Semarakkan Museum Budaya di Den Haag

Bandingkan dengan sekarang. Tidak ada sarana olah raga baru yang dibangun. Semuanya hanya merenovasi sarana yang sudah ada. Di Jakarta, masih mengandalkan stadiun tua GBK peninggalan Bung Karno. Sementara di Palembang, mengandalkan stadiun bekas PON dan Sea Games.

Dari sini jelas sekali, Asian Games kali ini tidak ada kebanggaan baru yang dibangun. Hanya tambal sulam dan poles seperlunya. Karena tidak ada yang bisa dibanggakan, maka wajar pula jika tidak ada kekaguman dari bangsa-bangsa lain.

Baca juga : Indonesia Miliki Potensi Destinasi Memancing Terbaik di Dunia

Membandingkan sosok Bung Karno dengan Jokowi, bak langit dengan bumi. Bung Karno sukses besar menggelar Asian Games 1962, baik sukses sebagai tuan rumah, prestasi, dan bahkan sukses menggemakan kapasitas kepemimpinan Indonesia di mata dunia.

Bahkan dengan kesuksesan tersebut, setahun kemudian Bung Karno berani menggelar pesta olahraga Games of New Emerging Forces (Ganefo) pada 10 - 22 November 1963 yang diikuti 48 negara anti imperialis dari berbagai belahan dunia, mulai dari Asia, Afrika, Amerika Latin, hingga Eropa Timur. Bisa dibilang Ganefo adalah pesaing Olimpiade.

Kondisi berbeda bisa diamati saat ini, bisa dikatakan tidak ada gairah menyambut Asian Games 2018. Presiden Jokowi pun terkesan setengah hati menjadi tuan rumah. Semuanya diserahkan kepada event organizer (EO). Maka tidak heran kesan yang muncul lebih kepada aroma komersialitas daripada instrumen perjuangan.

Lihat saja harga tiket opening ceremony dipatok setinggi langit, termurah Rp. 750 ribu dan termahal Rp. 5 juta. Dengan harga sebegitu tinggi tidak ada rakyat jelata yang akan mampu membelinya. Maka wajar jika gairah menyambut Asian Games juga sepi-sepi saja, karena pemerintah sendirilah yang sudah menjauhkan Asian Games dari rakyatnya.

Citra Politik Dunia

Pemerintah telah gagal menggairahkan Asian Games di hadapan rakyatnya, maka jangan harap ada negara lain yang akan terkagum-kagum dengan Indonesia. Presiden Jokowi yang diharapkan sebagai penggerak utama, terkesan hanya bergaya simbolik dengan gayanya memakai jaket bertema Asian Games saat menerima atlit-atlit berprestasi.

Sangat jelas sekali, Presiden Jokowi memposisikan Asian Games tidak sebesar gairah Bung Karno. Itu bisa dimaklumi karena selama ini Jokowi tidak mampu menjadi bintang panggung di level dunia. Dalam berbagai pertemuan tingkat regional, hingga multilateral, tidak ada gagasan besar yang berhasil digulirkan oleh Jokowi. Bahkan dalam beberapa kesempatan, presiden lebih memilih mengutus Wapres Jusuf Kalla untuk mewakili dirinya. Artinya, presiden sudah tidak bergairah mengikuti alur dinamika politik dunia.

Perdamaian Dua Korea

Sehingga berlebihan jika berharap Asian Games akan mampu menyatukan dua Korea. Apalagi berharap Indonesia akan menjadi mediatornya. Hubungan Indonesia, baik dengan Korea Utara maupun Korea Selatan, tidak ada yang istimewa. Selama kepemimpinan Jokowi, Indonesia lebih terlihat mesra dengan China.

Adapun bersatunya dua korea dalam cabang olahraga, bukan merupakan yang pertama kalinya. Kedua negara ini sudah lama mencoba rekonsiliasi melalui cabang olahraga. Misalnya, hal tersebut sudah terjadi saat atlet Korea Utara dan Selatan berjalan beriringan di bawah unified flag pada pembukaan Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018. kedua negara itu juga sepakat menggabungkan tim hoki putrinya.

Jika ada upaya yang ingin mencuri panggung atas tampilnya satu Korea dalam 3 cabang olahraga di Asian Games, maka hal tersebut bisa menjadi bahan tertawaan negara-negara lain. Dari pada mencuri panggung orang, lebih baik Indonesia membuat panggung sendiri, sebagaimana dahulu Bung Karno membuat panggungnya sendiri yang kemudian mengundang decak kagum negara-negara lain.

Gairahkan Animo Rakyat

Memang saat ini belum ada yang bisa dibanggakan dalam Asian Games ini, dari mulai sarana pertandingan, wisma atlet, hingga target yang ingin dicapai. Namun jangan pula ada upaya ingin mendompleng pentas bersatunya Korea dalam tiga pertandingan. Biarkanlah rekonsiliasi tersebut berjalan apa adanya.

Indonesia harus membuat panggung sendiri. Satu-satunya peluang adalah menaikkan animo dan gairah rakyat dalam menyambut Asian Games. Opening ceremony masih beberapa hari lagi, masih ada waktu untuk melakukannya. Animo besar dari rakyat juga suatu keunggulan yang bisa mengundang decak kagum dunia.

Penulis : Sya'roni - Ketua Presidium PRIMA (Perhimpunan Masyarakat Madani)

(Imam Rusadi\Editor)
Share:


Berita Terkait

Indonesia Tergolong Negara Paling Dermawan di Dunia

Wastra Indonesia Semarakkan Museum Budaya di Den Haag

Indonesia Miliki Potensi Destinasi Memancing Terbaik di Dunia

Komentar