Hamid Basyaib

Artidjo, Sebuah Pakta Integritas

Senin, 04 Juni 2018 16:45 WIB
Artidjo, Sebuah Pakta Integritas

Dr. Artidjo Alkostar. Foto: goriau.com

Malam itu, 2 Juni, acara buka bersama di hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, istimewa. Ritual puasa itu sekaligus pelepasan Dr. Artidjo Alkostar yang pensiun setelah 19 tahun menjabat hakim di Mahkamah Agung. Penyelenggara acara adalah firma hukum Ari Yusuf Amir & Erwin M. Singajuru and Partners dan AIL Amir and Associates. 

Baca juga : Ketua MA Lantik Suhadi Gantikan Artidjo Alkostar

Perilaku kedua firma hukum ini terasa cukup aneh, mengingat Artidjo lebih dikenal sebagai hakim yang kurang bersahabat dengan kaum advokat. Tapi perayaan itu lebih personal daripada profesional karena kedekatan hubungan pribadi yang panjang antara para personel kedua firma dengan Artidjo. 

Kebanyakan mereka adalah eks mahasiswa Artidjo  di FH UII Yogyakarta, sekaligus anak-anak spiritual dan ideologisnya; orang-orang yang mendapat banyak inspirasi dari dosen Hukum Pidana itu. Terutama dalam soal integritas dan semangat keras untuk tak takluk pada kekuasaan yang menindas di masa mereka mahasiswa.

Baca juga : Mahkamah Agung Tak Membuka Rekrutmen Calon Hakim 

Buka bersama juga diisi tausiyah Prof. Mahfud MD, yang akhir-akhir ini mengaku gamang memberi ceramah semacam itu, berhubung kontroversi di seputar gaji di BPIP tempat ia menjadi salah satu penasihat. 

Kapolri Tito Karnavian menuturkan cerita yang mengesankan. Ia menyejajarkan Artidjo di MA dengan Pak Hoegeng di Kepolisian dan Baharuddin Lopa di Kejaksaan. "Tokoh-tokoh seperti mereka hampir tak pernah ada lagi di instansi masing-masing," katanya.

Baca juga : Save Meliana

Sebagai perwira di Polres Jakarta Pusat di awal 2000an, Tito menangani tawuran pemuda kampung di Kali Pasir dan Kwitang. Ia kaget ketika seorang warga memberitahu bahwa di salah satu gang kecil di sana, tinggal seorang hakim agung, yang tiap hari naik bajaj.

Saya pernah ke rumah Artidjo yang dimaksud Jenderal Tito, saat ia baru beberapa hari menempati rumah itu. Di dalamnya belum ada meja-kursi tamu, jadi kami duduk menggeletak di lantai berlapis permadani murah.

Meski saya hapal gaya  dan kesederhanaan hidup Bang Artidjo, kondisi rumahnya di gang kecil itu tetap mengejutkan. Setahu saya biaya kontrak rumah itu pun dari seorang mantan mahasiswanya. 

Saya coba mengusik soal rumah itu, mengingat ia adalah hakim agung. "Apakah tidak ada rumah dinas?" 

Jawab Artidjo: "Kabarnya disediakan rumah dinas. Tapi saya tidak mau meminta-minta kepada pejabat yang berwenang dalam urusan itu (dia menyebut nama). Kalau memang jatah rumah itu ada, berikan saja. Tidak perlu diminta." Apa boleh buat, Artidjo masih  seperti yang dulu.

Setelah beberapa tahun, ia akhirnya mendapat jatah apartemen di Kemayoran. Sedikit lebih mewah dibanding kontrakannya di gang Kwitang, yang ia huni sampai pensiun; dan ia tidak "menyimpan" rumah-rumah pribadi di tempat-tempat lain, sambil pura-pura miskin dengan tetap tinggal di apartemen tua pinjaman negara. 

Sekian tahun kemudian ia berhenti berbajaj, dan naik mobil dengan supir pribadi. Sebuah mobil mini bikinan Korea yang sama sekali tidak agung. Apa mau dikata, ia memang tak pernah peduli dengan hal-hal luaran dan tempelan. Artidjo tak pernah sudi meletakkan prestise dan martabat dirinya pada barang-barang konsumsi yang tak bersubstansi.

Terlalu banyak sahabat, murid, bahkan musuhnya yang bisa bersaksi tentang keunikan Artidjo, yang bagi kami sebagai aktifis mahasiswa juniornya merupakan kompas moral, tempat kami menimba inspirasi dan energi perjuangan, terutama di saat situasi terasa kian suram.

Suatu malam saya dan teman-teman berkunjung ke rumahnya, di sebuah kompleks perumahan baru yang sederhana di daerah Godean. Sebelum masuk rumah, saya diseret ke suatu sudut oleh adik kandungnya, "Maulana." 

Ia berbisik-bisik; meminta saya memohon kepada kakaknya agar segera meluluskan dia dari Fakultas Hukum.

"Saya sudah terlalu lama kuliah, sudah sembilan tahun," katanya dengan gundah. "Semua mata kuliah sudah lulus. Tinggal satu saja yang belum lulus, Hukum Pidana II. Tolonglah sampeyan bilang sama kakak saya..."

Saya "terganggu" dengan permintaan itu karena fakta-fakta di belakangnya. "Maulana" bukan hanya tinggal menumpang di rumah kakaknya, tapi juga seluruh biaya kuliah ditanggung oleh sang kakak. 

(Tim Liputan News\Sasmito Madrim)
Share:


Berita Terkait

Ketua MA Lantik Suhadi Gantikan Artidjo Alkostar

Save Meliana

Komentar