Obituari

Amos Oz, Sastrawan Utama Israel, Pembela Hak Rakyat Palestina

Minggu, 30 Desember 2018 18:29 WIB
Amos Oz, Sastrawan Utama Israel,  Pembela Hak Rakyat Palestina

Amos Oz. (Foto: The Times of Israel)

Pramoedya Ananta Toer (Pram) dan Amos Oz memiliki sejumlah kesamaan sebagai sastrawan kelas dunia.  Merupakan penulis terbesar di negerinya, keduanya penghasil puluhan karya yang diterjemahkan ke bahasa asing serta berkali-kali dijagokan sebagai pemenang hadiah Nobel sastra.

Pram pernah 14 tahun mendekam di penjara (Nusakambangan dan Pulau Buru, dari 1965 hingga 1979) karena tak disukai penguasa Orde.  Adapun Amos Oz yang berpulang Jumat lalu dalam usia 79 tahun akibat dijangkiti kanker, ia tak pernah membui. Tapi ia pernah bermukim 30 tahun lebih di kibbutz, komunitas yang menjalani kehidupan sosialis sejati, di negerinya, Israel.

Foto: The Paris Review

Seperti Pram yang menjadikan pengalaman batin sebagai sumber ilham dalam pelbagai karya yang dihasilkannya, termasuk tetralogi Pula Buru, Amos Oz pun menambang ide kreatif dari alam kibbutz. Karakter yang muncul dalam novel-novelnya sebagian adalah orang-orang yang dikenalnya di masa hidup dalam komune. Sikap politiknya yang bersimpat terhadap bangsa Palestina yang mencuat kemudian, merupakan pengaruh dari keguyuban yang lebih dari 30 tahun sana.

Latar kehidupan yang getir di masa kecil menoreh jiwa keduanya. Pram tak kunjung berhasil merebut hati ayahnya, Raden Toer, yang sesungguhnya sangat dihormati dan dikaguminya. Masalahnya pencapaiannya buruk di sekolah dasar yang didirikan dan dipimpin ayahnya. Perlu 10 tahun baginya untuk tamat dari sana; artinya ia 4 kali mengulang. Ayahnya sangat  kecewa dan malu.

Pram mengalami luka batin yang dalam akibat merasa disepelekan ayahnya. Seperti yang pernah diceritakannya kepada penulis, tekad untuk memerlihatkan bahwa dirinya memiliki kelebihanlah yang membuat dirinya kemudian menulis. Jadi, ia menulis untuk melawan sekaligus menunjukkan kebernilaian diri.

Hubungan dengan sang ayah—seperti halnya dengan ibunya (Oemi Saidah) dan  neneknya (yang menjadi karakter Gadis Pantai)—memengaruhi  kepribadiannya untuk seterusnya. Itu juga mewarna dalam proses kreatifnya. Amos Oz pun setali tiga uang.  

Amos Oz lahir pada 4 May 1939 di Yerusalem. Orangtuanya sarjana yang beremigrasi dari Eropa (Russia dan Polandia) ke Israel pada awal 1920-an [The Times of Israel].  Masih 12 tahun dia tatkala ibunya,  Fania, bunuh diri. Kejadian memilukan itu sungguh melumatkan hatinya. Itu dituliskannya dalam novel-memoar berjudul A Tale of Love and Darkness. Buku ini difilmkan tahun 2015; sutradaranya Natalie Portman.

Selanjutnya ia hidup bersama Yehuda Klausner, ayahnya yang masih terobsesi dengan kehidupan modern Eropa.  Ingin menjauh dari Yerusalem, pada umur 15 tahun ia pindah ke komunitas pertanian, Kibbutz Hulda. Namanya, Amos Klausner, lantas digantinya menjadi Amos Oz. Kekuatan, itulah arti oz.

Tahun itu juga, di  Kibbutz Hulda, ia berkenalan dengan Nily Zuckerman. Kelak mereka menikah dan berputrakan Daniel serta berputrikan Fania and Gallia. Keluarga mereka harmonis. Beberapa tahun ini Nily mengelola Koloni Artis Internasional di Arad, tempat para artis dari seluruh dunia bermukim dan bekerja selama 8 bulan.

Raksasa Sastra

Perjalanan hidup Amos Oz sangat berwarna. Ia baru meninggalkan kibbutz tahun 1986. Rupanya, pengalaman maha  panjang   di dunia komunal  sangat memengaruhi pandangan dan tingkah-lakunya dalam menjalani hidup. Sosialis, ideologi anutannya. Kemaslahatan bersama menjadi hirauannya. Ini tercermin, misalnya,  dalam penyikapannya terhadap masalah Palestina: ia mengedepankan keadilan bagi semua.

Foto: Tomer Neuberg

Amos Oz pernah menggeluti aneka pekerjaan,  termasuk sopir traktor, petugas patroli keamanan, dan penjaga kantin. Sempat juga dia menjadi tentara. Ia maju ke medan perang sebagai tentara cadangan dalam Pertempuran 6 Hari  di Sinai dan Dataran Tinggi Golan tahun 1967 serta ke Perang Yom Kippur, tahun 1973 [The Paris Review]. 

Seperti ghalibnya orang Yahudi di mana pun,  ia juga mengutamakan pendidikan. Ia mendalami filsafat dan sastra di Universitas Hebrew, Yerusalem. Dirinya memang sejak lama ingin menjadi penulis. Tatkala masih berumur 6 tahun, di pintu kamarnya ia membubuhkan tanda tangan ‘Amos Klausner, pengarang.’

Sebagaimana Pramoedya Ananta Toer, sebagai penulis dia banyak menambang gagasan dari jagat kehidupan sendiri.  Orang-orang yang menjadi kenalannya sewaktu di kibbutz menjadi model karakter yang ia gunakan dalam sejumlah novelnya. Karya awalnya berbahasa Ibrani, termasuk Hadiah untuk Ibu dan aneka puisi (1959). Reputasi internasionalnya terbentuk setelah novelnya diterjemahkan ke bahasa Inggris (1969). Dari semuanya, yang paling dikenal dunia adalah Black Box,  selain  novel otobiografi A Tale of Love and Darkness.

Ia juga penulis non-fiksi yang piawai. Tulisan opininya acap muncul di media terkemuka termasuk Guardian (Inggris) dan The New York Times.  In the Land of Israel  merupakan 1 dari 3 kumpulan esainya ihwal konflik Arab-Israel. Dalam kitab ini dia menghadirkan monolog orang-orang  Yahudi dan Arab dengan menggunakan sudut pandang politik masing-masing.  

Buah penanya telah diterjemahan ke 45 bahasa. Sebagai penulis,  ia  beroleh belasan penghargaan bergengsi termasuk  Chevalier de la Légion d’honneur (1997),  the Bialik prize (1986), the Israel prize for literature (1998),  the Franz Kafka prize (2013), dan Goethe Award.  Hadiah  ini akan paripurna andai saja ia menggondol hadiah Nobel.

Setelah keluar dari kibbutz tahun 1986,  ia aktif mengajar. Dia guru besar di Universitas  Ben Gurion, Negev, Israel  (1987-2005). Ia juga menjadi profesor tamu di Berkeley, Oxford, Boston, dan Princeton. Kerap pula dirinya  menjadi pemateri dalam kuliah dan konferensi internasional.

Pembela Palestina

Tak hanya sarjana-penulis, Amos Oz juga intelektual-aktifis. Sejak lama ia bersimpati ke rakyat Palestina. Ia tak setuju dengan sikap keras pemerintah Israel selama ini terhadap mereka. Dia merupakan salah satu pendiri dan pegiat gerakan Peace Now, yang mengedepankan kompromi Israel-Palestina berdasarkan prinsip:  saling menerima dan bekerjasama serta berbagi wilayah.

Foto: Ilan Assayag

“Titik anjak Zionis saya sederhana. Kami tak sendirian di Israel dan di Yerusalem; pun di Palestina. Kami tak bisa menjadi sebuah keluarga bahagia,” ucap aktifis sayap kiri yang paling vokal di Israel, dalam sebuah wawancara [The Times of Israel]. “Tak ada jalan lain: mereka tak akan ke mana-mana, tak ada tempat bagi mereka untuk pergi; kami juga tak bisa ke mana-mana. Rumah seharusnya dibagi untuk 2 keluarga.”

Selama perang Libanon dan Intifada yang memfrustasikan di penghujung abad ke-20, Amos Oz bersama novelis AB Yehoshua and dramawan  Joshua Sobol menjadi penulis-intelektual  yang rajin menyuarakan damai untuk Israel-Arab. Jadi mereka seperti Bertolt Brecht, Jean-Paul Sartre, dan George Orwell, di masanya. Mereka menolak keras pendudukan Israel di tanah Palestina.

Amos Oz berpulang dalam usia 79 tahun. “Ayah tercinta, Amos Oz, sosok penyayang-keluarga yang luar biasa, penulis, pecintai damai dan kemoderatan, meninggal hari ini setelah bergulat sebentar dengan kanker,” tulis Fania Oz-Salzberger dalam akun Twitter-nya Jumat kemarin. “Dia dikelilingi orang-orang yang mencintainya dan dia tahu itu sampai detik terakhir. Semoga warisannya bisa terus mengubah dunia.”

 

(P. Hasudungan Sirait\P. Hasudungan Sirait)
Share:
Tags:


Komentar