Menelisik Kinerja Telkom Group, Tulisan-3

Aksi Korporasi PT Telkom Justru Membebani dan Kalah Bersaing

Senin, 03 Desember 2018 13:29 WIB
Aksi Korporasi PT Telkom Justru Membebani dan Kalah Bersaing

Gerai Telkom. (Foto: Deni Hardimansyah)

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengharuskan pendaftaran ulang dan validasi setiap kartu subscribe identitiy module (SIM) prabayar. Tenggat waktunya 31 Oktober 2017 hingga 28 Februari 2018. Bila pemegang kartu tak patuh maka seluruh layanan seluler untuknya akan diblokir, termasuk data internet.   Begitu Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Nomor 12  Tahun 2016 berlaku, semua operator—Telkomsel, Indosat Ooredoot, XL-Axiata, Tri, dan Smartfren—langsung meradang. Bagaimana tidak? Di saat menghadapi perang tarif yang berdarah-darah,  mereka harus mengamputasi diri pula.

Indosat Ooredoo, termasuk yang harus menelan pil pahit meski bukan yang tergetir. Laba mereka pada semester I 2018 merosot Rp 4 triliun (dari Rp 15,1 triliun di tahun sebelumnya menjadi Rp 11,1 triliun) terutama akibat ketentuan registrasi kartu prabayar. Sekretaris korporasi mereka, Hadi Susilo, mengungkapkan hal itu kepada media massa Juli lalu.  

Menara Telkom. (Foto: Deni Hardimansyah)

Kinerja keuangan yang memburuk ini niscaya menjadi salah satu sebab utama sehingga Joy Wahjudi mendadak mundur sebagai direktur utama perusahaan yang 65% sahamnya dimiliki Ooredoo (dulu: Qatar Telecom). Belum setahun menjadi orang nomor satu, dia lantas digantikan Chris Kanter, seorang pengusaha yang sejak 2010 telah menjadi komisaris Indosat.

Beberapa hari setelah tak menjadi Dirut, Joy Wahjudi menyatakan bahwa industri telekomunikasi kita sedang mengalami masa sulit akibat ketentuan registrasi kartu SIM dan perang tarif. "Industri telekomunikasi paruh pertama mengalami penurunan 10%. Tidak pernah ada kejadian seperti ini," ujar dia (CNN Indonesia, 18/10/2018). Telco, menurut dia, harus diatur dengan baik agar perang harga yang membuat semua operator berdarah-darah tak berketerusan.

Jika Indosat saja rugi banyak akibat registrasi ulang, apalagi Telkomsel yang merupakan operator terbesar. Dalam laporan tahunannya  pada 2017, mereka menyatakan pelanggannya lebih dari 196,3 juta (yang prabayar 191,6 juta). Sebagai gambaran, sebelum ketentuan registrasi ulang berlaku pelanggan Indosat, XL, Tri, dan Smartfren masing-masing sekitar 110 juta, 53,5 juta, 68,3 juta, 12 juta.

Di  hari terakhir registrasi, menurut Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika Kementerian Kominfo, Ahmad Ramli, ada 70 juta kartu yang tak didaftar ulang. Sebelumnya kartu yang beredar 376 juta. Yang didaftar ulang 305 juta saja yakni Telkomsel 140 juta (dari 191,6 juta; turun 28%), Indosat 101 juta (dari 110 juta; turun 8%), XL 42 juta (dari 53,5 juta; turun 21%), Tri 13 juta (dari  68,3 juta; turun 80%), serta Smartfren 5,8 juta (dari 12 juta; turun 50%).

Penuruan pengguna kartu Indosat  9 juta ‘saja’. Begitupun, laba mereka pada semester I 2018 sudah tergerus Rp 4 triliun. Pelorotan yang terbesar dialami Telkomsel yaitu  50 juta pelanggan.  Bisa kita bayangkan imbas yang terjadi pada mereka kemudian.

Registrasi ulang kartu yang diwajibkan Kemenimfo dengan sendirinya telah menyingkap praktik tidak senonoh yang dilakukan para operator di Tanah Air selama ini. Ternyata mereka menggelembungkan jumlah pelanggan  masing-masing dengan tujuan meninggikan nilai korporasinya  di mata publik. Untuk itu mereka memunculkan dan memegang sendiri nomor-nomor tak berpemilik. Agar kartu itu tetap hidup, mereka rutin mengisinya pulsa. Dengan jurus pembengkakan ini wajarlah kalau sekian lama  jumlah telepon seluler (376 juta)  lebih banyak dari total populasi Indonesia (263 juta). 

“Semua operator seperti itu sejak dulu. Telkom pun di masa Flexi [2003-2014], melakukan hal yang sama,” kata seorang eksekutif Telkom Group yang tak mau disebut jati dirinya.

Seperti telah disebut di artikel sebelumnya,  pendapatan Telkomsel berkurang sekitar seperempat dalam setahun terakhir. Selain registrasi ulang kartu prabayar, penyebabnya adalah tergerusnya layanan suara dan sms setelah kemunculan layanan gratisan yang justru lebih mumpuni: Skype, YouTube, WhatsApp, dan yang lain. Musebab lain adalah Telkomsel masih saja berfokus ke ritel sehingga tarif layanannya untuk korporasi tetap terbilang mahal.

Gawai berfitur terkini. (Foto: Deni Hardimansyah)

Tatkala pasar ritel kian tergerus, Telkomsel akhirnya mulai menoleh segmen korporasi. Langkah yang seharusnya sudah mereka ambil 10 tahun silam, sebenarnya. Tapi tak ada kata terlambat, bukan?  Begitulah, dalam beberapa bulan terakhir ini mereka pun menghadirkan divisi-divisi baru untuk menangani pelanggan korporasi. Masalahnya adalah sang induk, Telkom Group,  sebelumnya sudah memiliki Direktorat Enterprises yang khusus menangani hal serupa. Tumpang tindih, jadinya.  

“Seperti jeruk makan jeruk. Membingungkan. Strategi bisnis grup kami memang agak kacau,” lanjut eksekutif Telkom Group tersebut.

Aksi Agresif

Selama ini Telkomsel menyumbangkan 60%-70% pendapatan Telkom Group. Kemerosotan pendapatan mereka tahun ini tentu saja merupakan hunjaman keras bagi induk dan saudara-saudaranya yang puluhan.

“Dalam 15 tahun terakhir memang penghasilan utama Telkom dari Telkomsel. Sebetulnya tidak bisa menggantungkan diri terus seperti itu. Harus ada anak-anak usaha yang dibangun dengan model bisnis lain agar  bisa setara atau bahkan mengalahkan Telkomsel. Itu yang belum kita lihat,” kata Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi.

Laba bersih mereka turun pada kwartal I, II, dan III tahun 2018. Penyebab utamanya adalah naiknya biaya  operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi. Pada kawartal III, misalnya, laba bersihnya Rp 14,23 triliun, turun 20,59% dari periode yang sama tahun lalu yang Rp 17,92 triliun. Adapun kenaikan beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasinya 23,32%.

Pelemahan rupiah yang sudah hampir 10% sepanjang tahun ini ikut memengaruhi beban operasional ini. Soalnya bahan baku dan barang modal industri telekomunikasi serba impor.  Di sisi lain beban utang mereka membengkak.

Terkait utang, Telkom Group menghadapi dua pukulan. Utang jangka pendeknya meningkat 18%, dari Rp 2,2 triliun pada Desember 2017 menjadi Rp 8,2 triliun pada Juni 2018.. Lantas, utang jangka panjangnya  yang jatuh tempo di tahun ini naik 262,3 %.  “Jadi mereka harus membayar dua utang sekaligus: jangka pendek dan jangka panjang,” jelas ekonom the Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Abra Talattof.

Dalam beberapa tahun belakangan Telkom Group memang banyak meminjam uang. Dana itu dipakai antara lain untuk aksi korporasi yang cukup agresif. Sejumlah perusahaan mereka ambil alih sepenuhnya,  kalau tak dibeli sebagian sahamnya. Tujuannya adalah untuk menjadikan kelompok ini digital telco company.

Pada 2 April 2018, misalnya,  Multimedia Nusantara (Telkom Metra) membeli saham Swadharma Sarana Informatika (SIS). Dengan mengucurkan Rp 397 miliar, mereka kini menguasai 51% saham perusahaan penunjang jasa keuangan di bidang layanan ATM dan yang lain.

Sebelumnya, pada 30 Januari 2018, MetraNet (anak Telkom) melakukan penyertaaan saham di Cellum, perusahaan penyedia solusi mobile payment dan commerce services. Di tahap pertama MetraNet menyetor US$4 juta agar sahamnya menjadi 20,4%. Di tahap kedua US$ 2 juta supaya sahamnya menjadi 30.4%.

Di tahun 2017 juga Telkom Group melakukan sejumlah aksi korporasi. Pada 13 Desember, umpamanya, TelkoMetra mengakuisisi 60% saham Nutech senilai Rp 24 miliar. Nutech bergerak di bidang ICT transportation. Sedangkan pada 24 November Telekomunikasi Indonesia International (Telin) meneken perjanjian untuk mengakuisisi maksimal 70% saham TS Global Network Sendirian Berhad (TSGN), perusahaan terkemuka Malaysia di bidang solusi dan layanan komunikasi satelit. Telin bersedia membayar 108,5 juta ringgit Malaysia dalam 2 tahap.

Memandu konsumen lintas-generasi. (Foto: Deni Hardimansyah)

Kalau saja korporasi yang sahamnya dibeli Telkom Group baik belaka kinerjanya tentu tak ada masalah. Nyatanya, sebagian penyertaan modal ini malah cuma menambah asset saja tanpa menghasilkan pendapatan. Runyamnya, ada pula yang nilai sahamnya malah merosot kemudian. TiPhone, misalnya. Pada Mei 2014 Premisie Integration Service (Pins Indonesia, anak Telkom) membeli 25% saham TiPhone senilai Rp 1,39 triliun. Telesindo (anak usaha TIPhone) merupakan distributor besar yang menangani 12% kartu prabayar dan voucher Telkomsel. Ternyata  setelah dibeli Telkom Group,   nilai saham TiPhone memburuk.

Seorang eksekutit Telkom Group menduga:  prinsip due diligence (uji tuntas) kemungkinan tak dipenuhi saat pengambilalihan. Alhasil, aksi korporasi pun malah menjadi membebani.

Laporan: Januardi Husin, Nikolaus Tolen, dan Teguh Andrew Vicky.

(Rin Hindryati\P. Hasudungan Sirait)
Share:


Komentar