Ada Misteri Apa Dibalik Kasus Ratna Sarumpaet, Siapa yang Diuntungkan?

Minggu, 07 Oktober 2018 05:49 WIB
Ada Misteri Apa Dibalik Kasus Ratna Sarumpaet, Siapa yang Diuntungkan?

Hoaks Ratna Sarumpet (Foto: Ist)

Aktivis Ratna Sarumpaet baru-baru ini tersandung masalah karena berita bohong kabar dirinya dianiaya. Kabar tersebut berhembus kencang di media sosial, setelah beredarnya foto wajah Ratna Sarumpaet yang lebam-lebam. Isu yang beredar luka di wajah tersebut karena penganiayaan yang diterima Ratna saat berada di Bandung. Kabarnya Ratna dikeroyok oleh tiga orang pria sebelum akhirnya meninggalkannya di pinggir jalan.

Baca juga : Polisi Panggil Rocky Gerung dan Nanik S Deyang Terkait Hoaks Ratna Sarumpaet

Namun belakangan terbongkar, kabar tersebut ternyata hoax atau kabar bohong semata. Hasil penyelidikan polisi menyebutkan bahwa lebam yang didapatkan oleh Ratna Sarumpaet karena operasi plastik, bukan karena penganiayaan. Keterangan tersebut akhirnya diperkuat dengan pengakuan Ratna  sendiri yang dengan terus terang mengakui kalau dirinya melakukan operasi plastik saat menggelar konferensi pers di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (03/10/2018).

Kabar bohong yang disebar oleh Ratna menjadi semakin ramai karena melibatkan tokoh tokoh oposisi termasuk Capres Prabowo dan tokoh tokoh lainnya seperti Fadli Zon, Sandagai, Amin Rais dan yang lainnya. Bahkan Pengacara Farhat Abbas melaporkan Prabowo dan Sandi ke Bareskrim Polri, Rabu (3/10).  Farhat melaporkan Prabowo lantaran konferensi pers bersama Amien Rais terkait kabar penganiayaan Ratna. Farhat menilai Prabowo telah menggiring opini kasus Ratna adalah kasus pelanggaran HAM.

Baca juga : Polda Metro Jaya: Ratna Sarumpaet Korban Penipuan Uang Simpanan Raja  

Farhat melaporkan Sandiaga lantaran pernyataannya soal Ratna yang ketakutan dan trauma.  Farhat menyebut Prabowo kurang mempelajari dan tidak teliti, sedangkan Sandi tak memahami kasus itu. Mereka dilaporkan atas dugaan pelanggaran tindak pidana ujaran kebencian alias hate speech dan penyebaran berita bohong alias hoaks. Hal ini tercantum dalam Undang Undang 19 tahun 2016 dan Undang Undang nomor 1 tahun 1946.

Peristiwa kebohongan yang di hembuskan oleh Ratna Sarumpaet ini menimbulkan banyak tanda tanya. Orang banyak yang heran dan tidak habis pikir mengapa aktifis yang selama ini berani bersuara lantang menyuarakan kebenaran tiba-tiba melakukan tindakan konyol : harus berbohong ke publik, Sandiwara apa yang sedang ia jalankan ?. Mengapa Prabowo begitu gampang mempercayai omongan nenek Sarumpaet yang katanya dianiaya ?  Keganjilan-keganjilan apa yang terjadi pada kasus ini ?

Baca juga : Hoax Ratna Berefek Positif ke Jokowi

Mengapa Ratna Bersandiwara ?

Ratna Sarumpaet setelah tersudut kasus 'drama pengeroyokan' di Bandara Husein Sastranegara, Bandung (21/9), akhirnya mengaku bahwa ia berbohong karena mendapat bisikan setan sehingga berani berbohong dengan mengatakan dianiaya sekelompok orang. Ratna mengisahkan soal awal kebohongannya. Ia mengaku berbohong kepada anak-anaknya telah dipukul sehingga membuat wajahnya lebam. Sedot lemak yang dijalani Ratna memang sempat membuat wajahnya bengkak.

Cerita yang awalnya hanya untuk keluarga kemudian menjadi berkembang ke publik setelah fotonya menjadi viral. Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga kemudian ikut pasang badan setelah kabar soal penganiayaan muncul. Sampai disini masyarakat di Tanah Air masih  sibuk menerka-nerka, sandiwara macam apa yang tengah dimainkan oleh Ratna Sarumpaet? Hingga pada babak ini, Ratna Sarumpaet tampak melakukan lakonnya dengan apik.

Kubu Prabowo memanfaatkan isu penganiayaan ini untuk dieksploitasi di media sosial. Ramai-ramai publik diajak untuk menyerang pemerintah. Pasalnya, Ratna Sarumpaet dianggap satu barisan. Sejak lama ia dikenal sebagai aktivis oposan. Ia pernah terlibat dalam demonstrasi anti pemerintah. Sesekali, juga terlihat pernah bersama barisan habaib dalam aksi 212.

Hingga pada babak ini pula, para pengamat intelijen manapun bisa terkecoh. Menurut teori guru besar  ilmu intelijen, Sherman Kent, dalam membaca intelijen sebagai sebuah kegiatan ada yang disebut Positif Clandestine Intelligence (PCI). Intelijen Indonesia menyebutnya dengan istilah girah. Singkatan dari kegiatan rahasia. Aktivitas PCI ini ada banyak macamnya: dari mulai sabotase, subversi, provokasi, propaganda hingga kegiatan teror.

Jika kembali kepada ingatan masa lalu. Tak perlu jauh-jauh, kita tarik hingga April 2017 saja misalnya. Memori kita akan mengingat lagi serangan teror terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan. Publik terpantik, jangan-jangan ini Novel Jilid II? Jika kita tarik lagi pada kejadian Juli 2018, jejak digital akan banyak bercerita pada kita soal terbakarnya mobil aktivis #2019GantiPresiden, Neno Warisman. Meski, Neno secara terbuka mengatakan kejadian itu belum tentu ada kaitannya dengan isu politik. Tapi publik punya persepsi masing-masing.

Serangan teror, tindakan sabotase, maupun propaganda palsu seperti munculnya situs skandalsandiaga.com tentu tak bisa dilepaskan dari kegiatan intelijen. Yang sulit bagi masyarakat awam adalah menerka siapa pelakunya. Apakah itu kerjaan intelijen asing, intelijen negara atau agen bayaran? Namun demikian, dari sejumlah kasus tersebut, ada satu benang merah yang bisa kita tarik. Pekerjaan Novel, Neno, Sandiaga dan Ratna mengusik status quo.

Lalu siapa sesungguhnya yang diuntungkan dari kasus kebohongan Ratna Sarumpaet ini? Karena dalam kasus seperti ini pihak yang diuntungkan itulah yang patut diduga sebagai bagian dari pelakunya. Yang jelas  kebohongan penganiayaan Ratna Sarumpaet diprediksi bakal mempengaruhi persepsi publik terhadap calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto. Persepsi yang mungkin muncul, yakni negatif sehingga menggerus elektabilitas pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Kemungkinan munculnya persepsi negatif terhadap Prabowo dilontarkan oleh Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno. Ia menilai terungkapnya kebohongan yang dilakukan Ratna bisa mengurangi simpati untuk Prabowo dan Sandiaga Uno.  “Secara alamiah dan politik, respek publik terhadap Prabowo pasti menurun," ujar Adi saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (4/10). Lalu dengan demikian apakah kebohongan Ratna Sarumpaet ini bagian dari operasi intelijen untuk menjegal Prabowo sebagai Capres mendatang ?

Mengapa Prabowo Mudah Dibohongi ?

Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto jadi salah satu tokoh yang sempat membela Ratna Sarumpaet. Namun Prabowo dan sejumlah tokoh yang sempat membela kini mengaku telah menjadi korban kebohongan. Meskipun demikian publik banyak mempertanyakan mengapa tokoh sekaliber Prabowo begitu mudah dibohongi oleh berita hoaks yang di sebar oleh Ratna Sarumpaet?. Pada hal pemimpin yang mudah dibohongi dinilai tidak pantas untuk menjadi calon pemimpin bangsa ini.

Menurut Sekjen Partai Gerindra  Ahmad Muzani bukan kali pertama ini saja Prabowo dibohongi. “Pak Prabowo sudah biasa berkali-kali menghadapi situasi kayak gini, dikhianati, dibohongi, dikibuli, biasa itu,” kata Muzani. “Menghadapi situasi yang kayak gini bukan yang pertama, nanti ujian lebih berat daripada ini, pemimpin itu harus menghadapi ujian untuk naik kelas."

Apa yang disampaikan oleh Ahmad Muzani kiranya memang tidak mengada ada. Semua orang sudah tahu bagaimana dulu beliau dikhianati oleh Bu Megawati di Perjanjian Batu Tulis. Pengkhianatan selanjutnya datang dari orang yang beliau didik dan dukung jadi Gubernur DKI, maaf saya pikir kita tidak perlu sebut nama karena berbahaya.

Orang ini pernah mengumumkan ke publik tidak akan maju menjadi pemimpin negeri dan akan menyelesaikan amanah selama lima tahun memimpin DKI tapi tidak dipenuhi. Orang ini bukan cuma mengkhianati Pak Prabowo, tapi juga mengkhianati para petani Indonesia karena berjanji akan memuliakan petani tapi kenyataannya berulangkali melakukan aksi impor, mulai dari impor pacul, beras bahkan garam. Orang ini juga mengkhianati rakyat jelata karena mencabut berbagai subsidi untuk rakyat kecil. Mengkhianati janji-janji sendiri karena berjanji tidak akan ngutang lagi tapi hutang malah melonjak berkali-lipat.

Pengkhianatan  paling menyakitkan yang dialami Pak Prabowo adalah pengkhianatan “Dewa Jamban” sesembahan Butet Kertaradjasa. Sebelum “Dewa Jamban” ini dipoles Pak Prabowo, mungkin hanya hitungan jari diantara kita yang mengenalnya. Tapi begitu dipoles mengkilap, si “Dewa Jamban” pun lupa diri dan merasa se-Indonesia cuma “taik”. Syukurlah, Tuhan tidak tidur. Orang pertama yang menerima karmanya adalah si “Dewa Jamban” yang akhirnya keseleo lidah dan masuk Penjara.

Berulangkali dikhianati kawan dan ditikam lawan dari belakang, anehnya Prabowo tetap tersenyum dan tetap menjaga silaturrahmi. Diundang Pak Jokowi beliau datang, diundang Pak SBY beliau juga datang. Saya yakin kalau diundang Bu Mega beliau juga tidak akan menolak. Bagi beliau kepentingan rakyat, bangsa dan negara diatas segalanya.

Tapi Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang-orang baik yang menjaga kehormatannya seperti Pak Prabowo. Tuhan akan mengirimkan tokoh-tokoh yang baik, para ulama yang baik, para pendeta yang baik, para ustadz yang baik, Muslim yang baik, Nasrani yang baik, Hindu yang baik, Budha dan Konghucu yang baik dan semua orang Indonesia yang baik berdiri bersama sekaligus menjaga Pak Prabowo Subianto.

Negara ini tidak akan pernah kekurangan orang-orang pintar dan orang-orang hebat, tapi sangat langka dengan orang-orang yang bisa menjaga kehormatannya. Orang-orang yang menjaga kehormatannya tidak akan pernah berkhianat hanya demi segenggam kekuasaan.Tapi orang-orang yang tidak memiliki kehormatan akan mampu mengkhianati orang yang berjasa kepada mereka, apalagi cuma rakyat-rakyat bodoh korban pencitraan yang tidak pernah belajar membedakan emas dengan suasa.

Sebenarnya seorang tokoh berhasil dibohongi, merupakan peristiwa biasa. Dari sudut yang netral kita bisa mendapat gambaran bahwa Prabowo adalah manusia yang polos. Bukan seorang politisi yang terbiasa hidup dengan kebohongan. Dia selalu melihat orang lain dengan cara positif (positive thinking).

Dulu di zaman Pemerintah ibu Megawati, ada Menteri Agama Said Agil Al Munawar berhasil meyakinkan Presiden Megawati bahwa di Istana Batu Tulis, Bogor  tersimpan banyak harta karun. Harta tersebut bisa untuk membayar utang negara. Said Agil diizinkan melakukan penggalian. Terbukti harta karun itu tidak ada.

Presiden SBY juga pernah terpedaya Joko Suprapto seorang pria asal Nganjuk, Jatim yang mengaku bisa mengubah air menjadi energi listrik. Dia menyebutnya sebagai terobosan teknologi bernama blue energy.

Bagaimana dengan Presiden Jokowi? Ternyata  juga pernah menjadi korban kebohongan. Seorang remaja asal Banyuwangi, Jatim yang dikenal sebagai  Afi Nihaya Faradisa sempat diundang ke istana karena banyak disanjung sebagai penulis hebat. Afi bahkan sempat berselfi ria bersama Jokowi. Belakangan ketahuan tulisannya hasil plagiat.

Presiden Soekarno juga pernah dibohongi tukang becak dan seorang pelacur asal Tegal, yang mengaku sebagai Raja Idrus dan Ratu Markonah. Keduanya mengaku sebagai Raja dan Ratu Suku Anak Dalam dan bisa membantu pembebasan Irian Barat. Karena itu mereka diundang ke istana dan disambut secara resmi. Cerita tentang Gus Dur lain lagi. Tukang pijatnya bernama Suwondo berhasil menipu Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog) dan membobol uang yayasan itu hingga Rp 35 miliar.

Moral cerita yang bisa dipetik,  presiden maupun wakil presiden adalah manusia biasa. Begitu juga halnya dengan capres seperti Prabowo. Mereka bisa saja ditipu, maupun dibohongi. Yang tidak boleh itu,  capres apalagi presiden, berbohong. Presiden model begini secara moral tidak  bisa dipercaya dan tidak layak dipilih.

Kejanggalan-Kejanggalan itu

Selain sulit menguak misteri dibalik pengakuan bohong Ratna atas penganiayaan terhadap dirinya, publik juga disuguhi beberapa peristiwa janggal yang menyertainya. Kejanggalan-kejanggalan ini kadang-kadang membuat orang bertanya-tanya, ada apa sesungguhnya ? Beberapa kejanggalan itu antara lain adalah :

Pertama, Respons Cepat Polri. Terkait dengan kasus kebohongan Ratna, polisi seolah ingin menghapus persepsi masyarakat bahwa polisi Indonesia sama dengan adegan polisi India di film Bollywood. Polisi yang baru datang setelah kejadiannya selesai. Kali ini, polisi bertindak cepat. Hanya dalam semalam, keluarlah laporan penyidikan Polda Metro Jaya.

Pada tanggal 3 Oktober 2018, di grup-grup WA berseliweran file pdf berjudul “Laporan Hasil Penyidikan Viralnya Berita Pengeroyokan Ratna Sarumpaet”. Isinya, sungguh mencengangkan. Dalam semalam, Polisi telah berhasil mewawancarai sejumlah saksi di bandara Husein Satranegara, di RS Khusus Bedah Bina Estetika Jakarta dan melakukan pengecekan di 23 RS di wilayah Bandung. Polisi juga telah mengantongi rekaman CCTV, hasil penjejakan melalui sinyal handphone dan bukti perpindahan uang di rekening putra Ratna Sarumpaet.

Jika boleh berandai-andai. Seandainya performa seperti ini ditunjukkan pula pada penyelidikan kasus Novel Baswedan, kasus HRS, kasus penganiayaan ulama/ustadz  dan lainnya maka berapapun nilai anggaran yang diminta Polri ke DPR, patutlah diloloskan. Uniknya lagi, cepatnya proses itu bukan terbatas pada pencarian alat buktinya saja. Tapi juga kerangka hukum dan analisis yuridis yang telah dilakukan oleh Polda Metro Jaya.

Kedua, Diskualifikasi Capres No. Urut 2. Presidium Garda Nasional Untuk Rakyat (GNR), Muhammad Sayidi melaporkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Kandidat pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 02 itu dituding telah melakukan kampanye hitam lewat penyebaran berita bohong (hoaks) Ratna Sarumpaet. Sayidi meminta Bawaslu memberikan sanksi berupa pendiskualifikasian kandidat capres-cawapres Prabowo- Sandiaga. Dia juga menyayangkan integritas Prabowo dengan ikut menyebar berita bohong soal Ratna Sarumpaet. Upaya yang mendorong diskualifikasi pencapresan Prabowo –Sandi ini terasa janggal karena Prabowo-Sandi sendiri merupakan korban dari kebohongan Ratna Sarumpaet soal penganiayaan yang dialaminya.

Ketiga, Hilangnya HP Ratna. Sebelum kasus kebohongan yang dilakukan oleh aktivis sosial Ratna Sarumpaet terungkap, ternyata mertua aktor Rio Dewanto itu pernah kehilangan ponsel. Tiga bulan lalu, pada Selasa (3/7/2018), pegiat media sosial Mustofa Nahrawardaya pernah memberikan kabar soal pencurian ponsel milik aktivis Ratna Sarumpaet. Pencurian ini terjadi pasca peristiwa cekcok dengan Menteri Koordiantor Maritim, Luhut Binsar Panjaitan.

Mustofa menyebut akan ada fitnah besar yang akan menghampiri Ratna. “Ini sudah seperti modus rutin. Dugaan saya, pelaku adalah “pencuri” terlatih dan punya keahlian khusus,” kata dia lagi. Ia mempersilakan untuk melakukan capture terhadap kicauannya.Tiga bulan setelahnya dikabarkan Ratna mengalami pengeroyokan yang mengakibatkan mukanya babak belur. Namun selang berapa hari ia mengaku telah melakukan kebohongan publik.

Ke empat, Melupakan Masalah Besar Bangsa. Pengamat dan Dosen Universitas Indonesia Ronnie Higuchi Rusli memberikan pendapat terkait dengan drama kebohongan Ratna Sarumpaet yang berhasil menyita perhatian luas publik. Mantan pejabat di Kemenko era Rizal Ramli ini menyebut kasus kebohongan Ratna berhasil membuat rakyat melupakan tiga persoalan besar, yaitu 14 bank ditipu lembaga kredit dengan kerugian mencapai Rp. 14 triliun, penjarahan di Palu sehingga sampai diberitakan oleh media Internasional dan pesta pora acara IMF-World Bank di Bali yang menghabiskan hampir Rp. 1 triliun uang negara. Selain itu juga melupakan sejenak permasalahan ekonomi seperti terpuruknya rupiah dan kenaikan harga-harga yang menyengsarakan rakyat Indonesia.

Penggalan kejanggalan yang barangkali bisa dijadikan bahan renungan untuk melihat kasus kebohongan Ratna Sarumpaet secara lebih jernih. Selain itu sebagai warga bangsa kiranya kita semua  tidak boleh  serta merta menelan informasi yang berseliweran di media sosial saat ini.

Dua kubu pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden harus arif menggunakan materi yang dikampanyekan dengan tak menyerang atau memfitnah satu sama lain.Tidak boleh menggunakan cara kotor dengan menyebar kebencian ataupun fitnah yang membuat kegelisahan di masyarakat.

Bagaimanapun  Indonesia tengah berduka dengan berbagai rentetan bencana gempa bumi dan tsunami. Kepada para penebar hoax kiranya perlu segera menghentikan kreativitasnya dengan turut memikirkan warga Indonesia yang tengah dilanda kedukaan. Duka akibat bencana gempa di NTB, Donggala hingga Palu yang disertai tsunami masih dirasakan masyarakat. Jangan lagi tambah kedukaan itu dengan keresahan akibat pernyataan ataupun infomasi menyesatkan yang dapat membuat masyarakat Indonesia saling curiga satu sama lain.

(Ali Mustofa\Roy T Pakpahan)
Share:


Berita Terkait

Komentar