Oleh: Caroline Alexander / BBC Culture

Pelajaran dari Iliad Karya Homeros: Ibadah dan Perang

Selasa, 15 Mei 2018 15:56 WIB
Pelajaran dari Iliad Karya Homeros: Ibadah dan Perang

Ilutrasi, Foto: Rebbeca Hendin

Sebelum membeberkan aramada yang jumlahnya luar biasa ini, Homeros menyampaikan seruan terbuka yang khusus tentang Muses, untuk memastikan bahwa dia mendapatkan fakta-fakta yang benar:

Baca juga : Petuah Pigai Menyoal Bendera Israel Berkibar di Papua

Di awal Iliad, sastra epik karya Homer tentang Perang Troya yang legendaris, ada sesuatu yang begitu dikenal sebagai 'catalogue of ships', yang menyebutkan semua pemimpin dan rombongan Yunani yang datang untuk berperang di Troya.

Katakan padaku sekarang, Muses, yang bersemayam di Olympus -Karena engkau adalah para dewi, dan selalu hadir, dan tahu segalanya, dan kami hanya mendengar kabar burung , juga tidak tahu apa-apa.

Baca juga : Pigai dan Masa Depan Orang-orang Hitam di Indonesia

Bait-bait itu mencerminkan gagasan utama dari puisi epik itu - bahwa melalui inspirasi Muses, anak perempuan Memory, Illiad dapat melestarikan pengetahuan orang-orang dan peristiwa-peristiwa masa lalu - suatu kekuatan perkasa dalam budaya lisan dan non-literasi di mana Iliad muncul.

Iliad disusun sekitar tahun 750-700 SM, tetapi asal-usulnya berasal setidaknya dari lima abad sebelumnya, jauh di era Zaman Perunggu Mycenae - dunia yang secara harfiah dibangkitkan oleh Iliad.

Orang-orang Mycenae sendiri telah mengenal tulisan, tetapi tampaknya hanya menggunakan tulisan untuk keperluan pembukuan birokrasi di istana negara mereka.

Ketika kerajaan mereka runtuh sekitar tahun 1.200 SM, penggunaan tulisan yang terbatas itu pun hilang. Jadi dari akhir Zaman Mycenae sampai era Homeros, para penyair yang menampilkan dan mengadaptasi epik secara lisan tetap mempertahankan tradisi itu agar tetap hidup, dan membawa kenangan atas dunia Mycenaean ke zaman baru.

iliad homerHak atas fotoHULTON ARCHIVE

Image captionDi awal Iliad, puisi epik karya Homer tentang Perang Troya yang legendaris, terdapat penyimpangan terkenal yang disebut sebagai 'catalogue of ships'.

Iliad sangat menyadari perannya sebagai penjaga kenangan, dan kredibiltas merupakan inti dari dongeng tersebut.

Epik tersebut adalah karya fiksi, dan menceritakan peristiwa-peristiwa beberapa minggu di tahun kesepuluh dan terakhir Perang Troya yang berlangsung antara orang-orang Yunani dan Troya, karena Helena, ratu Yunani yang cantik meninggalkan suaminya untuk kawin lari dengan seorang pangeran Troya.

Tokoh-tokohnya tidak hanya para prajurit dan para tawanan dan keluarganya, tetapi juga dewa-dewa Olympia yang abadi, yang melakukan banyak aksi supranatural dalam keterlibatan mereka yang mengharu-biru dalam peristiwa di sekitar Troya.

Fakta atau fiksi?

Namun, terlepas dari keterlibatan hal-hal yang bersifat supranatural yang tidak malu-malu, epik itu berusaha keras untuk terlihat nyata.

Perumpamaan-perumpamaan Homeros yang terkenal, misalnya, membangkitkan alam dunia yang akrab, dapat diverifikasi.

Penjelasan taktik dan luka-luka pertempuran juga bisa dipercaya (jika tidak sepenuhnya akurat secara anatomis), sebagaimana deskripsi yang cermat tentang Troad, suatu wilayah di sekitar Troya.

Di atas segalanya, karakterisasi tokoh utama dalam epik Homeros sepenuhnya dan secara konsisten dapat dipercayai, dicapai melalui kata-kata tokoh itu sendiri - pidato-pidato mereka - yang mencakup lebih dari setengah dari 15.693 baris kalimat dalam Iliad.

Semua itu sangat cocok untuk bahasa Yunani, memungkinkan ekspresi kemarahan, kekesalan, kecongkakan, penyesalan dan kesedihan yang mendalam dan mengalir dalam irama yang alami.

Iliad terkenal sebagai epik yang sangat maskulin, lemah dalam karakter perempuan, tetapi - untuk memilih satu contoh- karakterisasi Homeros tentang Helena sebagai seorang perempuan yang didorong oleh keraguan dan diliputi perasaan bersalah yang mendalam, sama meyakinkannya seperti Anna Karenina karya Leo Tolstoy.

Trojan WarHak atas fotoPASCAL GUYOT/AFP

Image captionParade mengusung Kuda Troya di kota Nimes, Prancis, 28 April 2012, yang menarik turis asing dan lokal.

Ketika yang disebut dengan Abad Kegelapan berakhir, literasi kembali ke Yunani sekitar tahun 750 SM, Homeros, dalam beberapa bentuk atau mode, akhirnya menuliskan epik tersebut.

Sekarang, kisah kepahlawanan dari dunia Mycenae yang telah lenyap itu menjadi viral.

Tidak hanya tokoh-tokohnya, baik fana maupun abadi, mengilhami seni dan sastra lainnya, tetapi mereka diyakini pernah ada.

Perang Troya benar-benar terjadi: Thucydides, menulis pada abad ke 5 SM, secara gamblang mengklaim bahwa perang yang panjang telah membawa ke destabilisasi negara Yunani di akhir Zaman Kegelapan.

Dengan cara ini, Iliad tidak hanya mengarahkan jalannya seni, tetapi juga sejarah sosial.

Kurang dapat dihitung, dan juga lebih menghantui, adalah cara-cara di mana Iliad memaksa para penontonnya, hingga saat ini, untuk menghadapi fakta-fakta mendasar dari pengalaman manusia, seperti kematian dan moral - wilayah-wilaya yang sulit dan gelap yang terbentang di nexus identitas dan agama.

Tumit Achilles

Apa yang saya rasakan untuk diungkapkan, berulangkali Homeros menjelaskan, dan dengan begitu indah sehingga dalam adegan terkenal menjelang akhir Iliad, di mana Raja Priam mendatangi perkemahan Yunani pada malam hari sebagai pemohon kepada Achilles.

Kedua pria itu telah berdoa kepada para dewa Olympia pada waktu yang berbeda dalam epik itu, dan mendapatkan penolakan.

baca teks Iliad karya HomerHak atas fotoLOUISA GOULIAMAKI/AFP

Image captionAnggota teater membacakan naskah Iliad karya Homer di salah-satu sudut di kawasan kuno Acropolis, Athena, Yunani, 14 Maret 2006.

Sekarang tujuan Priam adalah untuk meminta agar tubuh anak kesayangannya, Hector, yang dibunuh Achilles demi membalaskan kematian rekannya sendiri, Patroclus. Di hadapan lutut Achilles, Priam bersimpuh dan memohon:

"Terpujilah para dewa, Achilles, dan kasihanilah aku,

mengingat ayahmu; karena aku lebih menyedihkan lagi,

dan telah mengalami hal-hal yang tidak terjadi pada manusia fana lainnya di atas bumi,

menyentuhkan bibirku ke tangan orang yang telah membunuh anakku"

Ketika Priam berkata; dan dia berpaling untuk meratapi ayahnya sendiri,

dan meraih tangannya yang mendorong dengan lembut orang tua itu untuk pergi.

Dan keduanya ingat, yang satu menangis tanpa henti bagi pembantai Hector ketika dia berbaring meringkuk di kaki Achilles.

dan Achilles menangisi ayahnya, dan juga untukPatroclus; dan suara ratapan mereka bergaung di ruangan itu.

Kekuatan adegan ini bukan hanya berasal dari dongeng jenius, tetapi dari perhatian Iliad terhadap sejarahnya sendiri.

Tradisi epik yang berasal dari daratan Yunani, kemungkinan besar di wilayah utara Thessaly, tetapi setelah runtuhnya peradaban Zaman Perunggu, bermigrasi bersama para penyair yang melakukan perjalanan ke arah timur ke pulau Lesms, dan pantai barat laut Anatolia (sekarang Turki), termasuk wilayah di sekitar Troya: ini berdasarkan penelitian linguistik, arkeologi dan catatan kuno.

patung AchillesHak atas fotoGABRIEL BOUYS/AFP

Image captionDua pengunjung sebuah museum di Malibu, California, AS, melihat patung marmer Achilles dan Thetis, 18 April 2011.

Kemudian, kemungkinan Iliad ditampilkan sebelum sebagian besar penonton Yunani, tetapi lebih dekat ke era Homer para penontonnya juga orang-orang Anatolia, kemungkinan besar karena simpati orang-orang Troya.

Para penyair beradaptasi secara cermat dan salah satu karakter dalam Iliad yang paling menyolok adalah perlakuan yang simpatik dari orang-orang Troya, yang ditampilkan sesama korban perang, bukan hanya musuh.

Bagaimana jika, di sepanjang abad itu, para penyair Yunani yang tampil di Anatolia menolak untuk menyesuaikan epik Yunani dengan kepekaan para penonton yang berubah-ubah?

Bagaimana jika mereka tidak mau tahu tentang sejarah peperangan dan perpindahan yang mereka hadapi?

Bagaimana jika Homer membuat Achilles mengusir Priam tua; menyiksa, mempermalukan atau membunuhnya?

Akankah sejarah benar-benar menjadi berbeda? Mungkin tidak; tetapi sesuatu konsekuensi akan hilang dari dunia.

HomerHak atas fotoHULTON ARCHIVE

Image captionPatung Homer

Tidak hanya adegan monumental, di dalam cerita yang hebat dan bertahan lama, tetapi pernyataan semisal tentang kemanusiaan - menjadi gamblang berkat realisme yang keras dari tradisi lama epik tersebut

Longinus, seorang cendekiawan di abad ke 1 Masehi, menulis "bahwa di dalam catatan saat dia melukai para dewa, pertengkaran, balas dendam, air mata, penahanan dan semua hasrat mereka, Homer telah melakukan yang terbaik untuk membuat orang-orang di Iliad menjadi dewa dan dewa itu manusia."

Adegan antara Achilles dan Priam menampilkan suatu pembalikan, dan mengkristalkan apa yang telah dipelajari para penyair Iliad selama dalam perjalanan epik.

Bahwa dewa-dewa yang kita sembah mungkin tidak menjawab, dan kadang-kadang umat manusia harus bangkit untuk mengisi tempat mereka.

Kemuliaan tidak dapat dipisahkan dari kehancuran yang memilukan. Bahwa pemenang membagi kemanusiaan yang paling rentan dari yang kalah; bahwa tidak ada kemenangan dalam peperangan.


Caroline Alexander adalah perempuan pertama yang menerbitkan penerjemahanEnglish translation of The Iliad secara lengkap (Penguin, 2015).

(BAP79\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar